Clika

Clika

Indonesian সাবটাইটেল ডাউনলোড করুন

রিলিজ তথ্য

[𝗖𝗼𝗳𝗳𝗲𝗲𝗣𝗿𝗶𝘀𝗼𝗻] 𝗖𝗟𝗜𝗞𝗔 𝟮𝟬𝟮𝟲 𝗡𝗙𝗫 𝗪𝗘𝗕
ভাষ্য লিখেছেন Coffee_Prison
𝑫𝒖𝒓𝒂𝒔𝒊 : 𝟎𝟏:𝟐𝟐:𝟒𝟑 || 𝑺𝒖𝒃𝒕𝒊𝒕𝒍𝒆 𝑹𝒆𝒕𝒂𝒊𝒍 𝑵𝑬𝑻𝑭𝑳𝑰𝑿 || *ડ౿ᥣɑოɑ𝗍 𝖬౿𐓣𝗈𐓣𝗍𝗈𐓣

ট্যাগ

webdl
official_release
netflix_synced
প্রকাশিত: 2026-05-03
ডাউনলোড: 94
শ্রবণপ্রতিবন্ধীদের জন্য: No
FPS: 25

Indonesian সাবটাইটেল প্রিভিউ

প্রথম 200টি লাইন।

SELAMAT DATANG DI KOTA YUBA

Di Kota Yuba, panen mungkin berubah, tapi orang-orangnya selalu sama.

Janggut merahku ini dari kakekku.

Dia pekerja migran.

Memetik buah seumur hidupnya.

Dia mengajariku semua yang kutahu.

Ayo, kau tertinggal, Kawan.

- Berapa kantong itu? - Empat, Bodoh.

Ini yang kelima.

Kami pekerja kontrak.

Dibayar untuk setiap kotak.

Makin cepat kami mengisi sepuluh kotak, makin cepat kami selesai.

Aku berusaha keluar dari sini.

Si bodoh selalu berusaha pergi. Ini belum makan siang.

Berhenti berkhayal. Ayo ambil uang ini.

Benar.

Hari ini akan panas.

Truk pergi dua kali sehari dengan 50 kotak,

dan semua persik itu dipetik dengan tangan.

Kapan mau bicara dengannya?

Kau membuatnya sial. Berengsek.

- Kau takut. - Persetan kalian berdua.

Pergilah, ambil uang kalian.

Tak perlu disuruh.

- Ayo. - Aku akan menyusul kalian.

Mau kubantu sebelum terlalu panas?

- Benarkah? - Ya. Aku akan membantu.

Tuhan memberkatimu, Sayang.

- Terima kasih. - Tidak masalah, Bos.

- Kau tahu itu? - Aku mual.

Aku merasa mual setelah itu…

Apa yang kalian tahu soal lagu itu?

Lagu lama yang biasa kami mainkan.

Ya, kini kami buat corrido sendiri.

Boleh kami mainkan sesuatu?

- Ayo lihat kemampuanmu. - Mainkan, Flaco.

Hei, jangan. Berhenti.

- Apa? - Apa itu?

Apa maksudmu? Ini corrido baru.

- Itu bukan corrido. - Apa? Persetan denganmu, Pak Tua.

Kau tak tahu apa-apa.

- Si bodoh. - Itu cara berpikir orang kuno.

Orang bodoh tak tahu. Jangan dipikirkan.

Kita jelas keren. Si bodoh itu sama sekali tak keren.

- Keren. - Baiklah.

Keren sekali.

- Kau ikut? - Baiklah.

Paman, aku melihatmu. Kapan kau membeli yang ini?

- Sudah selama itu? - Apa kabar?

- Sudah lama. - Apa kabar?

- Astaga, Paman. Kau naik kelas. - Sedikit, Blunt.

- Kalian sudah memanen persik? - Baru pulang kerja.

- Turun dari pengangkut. - Sepertinya

kalian sudah bekerja keras.

Biar kutunjukkan apa yang kupanen.

- Astaga, keren. - Boleh kulihat?

- Baunya menembus kantong. - Pastinya.

Itu milikmu. Isap itu.

Astaga, Jagoan. Baiklah. Terima kasih. Itulah cinta.

- Sampai jumpa lagi. - Baiklah.

Baiklah.

- Senang bertemu denganmu. - Dah.

- Ada apa? - Kapan aku boleh mengirimkan?

Ibumu akan membunuhku jika dia tahu kita membicarakan ini.

Bagaimana keadaannya?

Dia bekerja?

Dia sudah berbulan-bulan tidak bekerja. Dan bank mengirim surat.

- Kau tak membayar hipoteknya? - Keadaannya buruk.

Masuklah.

Nak, aku menyiapkan makanan untukmu.

Bagaimana harimu?

Bagaimana pekerjaanmu?

Baik.

Rabu hari liburku.

Serta Kamis, Sabtu, Minggu, dan Senin.

Lelucon buruk.

Sudah.

Aku kemari bukan untuk bertengkar.

- Aku mau membantu. - Aku tak butuh bantuanmu.

Kau yakin soal itu?

- Hei, Ibu. Lama tidak bertemu, Paman. - Apa kabar? Lihat dirimu.

- Sekolahmu? - Hampir lulus.

Bagus. Setelah selesai, temui aku, dan aku punya sesuatu untukmu. Mengerti?

Baiklah.

Kakak. Terima kasih.

Rumah ini wangi, bukan?

Ibumu seperti bosku.

Jika kau tak memetik panen orang lain,

jika kau tak memetik buah di ladang,

kau bahkan tak bekerja.

Siapa peduli?

Kalian masih nongkrong di tempat itu?

Ya, kau akan datang?

Entahlah, tapi akan kuberi tahu.

Dia tahu soal rumah.

- Itu urusan keluarga. - Bukankah dia keluarga?

Tidak lagi.

- Ibu, itu legal. - Tetap saja narkoba.

Itu panen. Aku memetik persik, mereka memetik kuncup.

- Kakek menghabiskan hidupnya… - Kau ingin menjadi pria seperti itu.

Apa impian Kakek memetik buah?

Impian Kakek adalah membesarkan keluarga di rumah miliknya.

Tak ada jalan pintas untuk impianmu, Nak.

Aku akan membuat kopi untuk Chuy.

Pekerja migran melakukan hal yang orang lain tak inginkan.

Mentalitas itu dipaksakan kepada kami sejak lahir.

Kapan kami mulai melakukannya untuk diri sendiri?

Kapan kami bisa menjalani impian Amerika kita?

Apa kabar? Apa yang terjadi?

- Ada apa? - Apa kabar?

Hei, kabarku baik. Sial.

Senang bertemu denganmu. Apa kabar?

Lihat kalian.

- Apa kabar? - Hei.

- Apa kabar? - Apa kabar?

- Baik, Paman. - Ya, kabar kami baik.

- Ada apa? - Apa kabar?

- Kau sudah siap? - Aku selalu siap.

- Kami tampak seperti amatir bagimu? - Kau jelas terlihat seperti amatir.

Persetan denganmu. Bersulang.

- Aku belum pernah melihatmu di sini. - Aku jarang keluar.

- Pacarmu mengurungmu? - Tidak. Aku kuliah kedokteran hewan.

Jadi, kau pintar.

Kurasa begitu.

- Hei, aku harus pergi. - Baiklah. Omong-omong, aku Chito.

Aku tahu.

Kapan kita bisa bertemu?

Minggu. Gereja.

Gereja.

PEMBERITAHUAN PENYITAAN

MUSIK INI AKAN BERHASIL?

DATANGLAH BESOK, KAWAN

Harganya 100 dolar per buah di Amazon,

tapi aku pergi ke Meek's, menemukan ini seharga delapan dolar.

- Ini sama. Pelindung talang air. - Kita butuh mikrofon.

Kita tak perlakukan bilik vokal kita secara akustik,

mikrofon termahal pun akan terdengar buruk.

- "Perlakukan bilik vokal secara akustik"? - Aku mempelajarinya di YouTube.

Flaco, itu bagus. Sudah bagus.

Ini lemari.

Kau harus melihat gambaran yang lebih besar.

Begitu kita punya kabel XLR, tempat telur, tiang mikrofon,

mikrofon, penyuara jemala, ini adalah bilik vokal.

Persetan. Aku keluar.

Kau harus melihat gambaran yang lebih besar.

Sial.

Sial. Ayolah.

Membuat musik adalah impianku.

Tapi bank tidak peduli dengan impianku.

Aku harus mengurus ibuku.

Jadi, aku menunda impianku.

Sial! Paman jadi seperti ini?

Tidak. Itu bagus jika benar.

Ini milik Angelo.

Mobil adalah perpanjangan dari karakter pria.

Seperti truk Kakek. Aku ingat hari pertama dia bawa pulang.

Dia baru kembali dari Meksiko hari itu.

Kemeja baru, topi baru, truk baru.

Semuanya buatan Meksiko.

Dia bangga.

Kau datang bukan untuk mengenang Kakek. Bicaralah. Ada apa?

Sebaiknya bukan soal tugas itu.

- Kenapa tidak? - Selama kau…

Dengarkan. Kita akan kehilangan rumah Kakek.

Sebaiknya mulai memetik lebih banyak persik.

Aku bekerja keras, tapi tak cukup.

- Kau pikir aku tak mengerti? - Biarkan aku yang kirim.

Itu tak akan terjadi, Chito.

Kita keluarga.

Kuberi tahu tentang keluarga. Mereka yang pertama akan menghancurkanmu.

Kau pikir aku tak bisa membayar rumahnya sekarang?

Ibumu tak akan membiarkanku melakukan itu.

Terserah.

Dengar…

Ambil ini. Simpan. Jangan sampai ibumu melihatnya.

Chito, jangan beri tahu ibumu aku memberimu itu.

Sial!

Apa-apaan ini?

Aku takkan bohong, Sayang. Kau salah melakukan itu.

Kau tahu kau akan menjadi calon istriku kelak, 'kan?

Hei, itu berbunyi.

Seharusnya sudah siap.

- Chaka. Kau belum siap. - Coba kulihat.

Bung, hasilnya bagus sekali!

Aku tak bohong. Kupikir takkan berhasil. Kau tak suka?

- Kami akan kehilangan rumah. - Tidak.

Astaga, kau serius?

Tapi aku menanyakan Paman soal pengiriman.

Kau takkan pernah melakukan pengiriman dengannya.

- Itu legal sekarang. - Bukan itu yang Tio lakukan.

Terserah. Dia tak mengizinkanku.

Bodoh. Aku berjanji.

Kau berbakat, kau termotivasi.

Caramu bercerita, tak ada yang melakukan itu, sungguh.

Aku serius.

Kita baru membangun studio sendiri.

Aku berjanji. Aku bersumpah. Aku berjanji.

Kita akan dapat kontrak. Percaya saja. Percayalah pada prosesnya.

- Kau punya impian. Kuakui itu. - Aku serius.

TEMUI AKU DI TEMPAT BIASA

More Indonesian subtitles for Clika

মন্তব্যসমূহ

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left