প্রথম 200টি লাইন।
BU LOPEZ
Tamu di kamar 307 akan tiba pukul 18.00
dan ingin kamar mandi mereka disiapkan.
Terima kasih.
Benar. Batalkan balkon untuk orkestra.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Terima kasih, Isis.
Di sana. Baris kedua di orkestra, sesuai permintaanmu.
Terima kasih, Pak.
Silakan tanyakan pada kami untuk reservasi.
Terima kasih.
- Ya, aku bisa menanganinya. - Tentu saja.
- Kenapa keamanan ingin menemuimu? - Apa?
Jika kau melakukan sesuatu, katakan sekarang.
Apa maksudmu? Apa kata mereka?
Kolonel meneleponku. Sepertinya serius.
Kau tak tahu kenapa?
Adele, aku bisa membantumu, tapi untuk itu, aku harus tahu.
Beri tahu aku.
Sudah kubilang, aku tak melakukan apa pun.
Bu Charki, silakan ikuti aku.
- Boleh aku tahu alasannya? - Silakan ikuti aku.
- Ini dia. Di sini. - Terima kasih.
Apa yang terjadi?
Entahlah.
Bisa jelaskan apa yang kulakukan di sini?
Seseorang mengambil foto tanpa izin di lantai tujuh. Kau ingat?
Sama sekali tidak.
Tapi kau ada di sana saat foto diambil.
Aku tidak bisa bilang, aku tidak tahu kapan itu terjadi.
Aku menyuruh seseorang menganalisis data
waktu, lokasi, dan model yang mengambilnya.
Semuanya cocok denganmu.
Sungguh? Apa itu penyelidikannya?
Ponsel kita semua sama.
Lalu aku di lantai tujuh untuk bekerja.
Tunjukkan kepadaku. Ponselmu.
- Kodemu? - Kodenya 20-34.
Apa itu nomor selmu?
Kau sudah selesai?
Apa kau tahu Mossad menemukan bahwa setiap kali kau memotret
ponsel selalu meninggalkan jejak?
Seperti peluru dari senjata.
Lihat sensor di sini? Selalu ada cacat kecil.
Tidak terlihat mata telanjang, tapi jika kubandingkan kedua foto
aku bisa tahu apakah itu berasal dari ponsel yang sama.
Jadi, aku harus bagaimana? Kulakukan atau tidak?
Ya, tolong.
Sudah kubilang, aku tak ada hubungannya dengan cerita ini.
Kita lihat saja nanti.
Aku sangat kecewa.
Bisa tinggalkan kami?
Kolonel, Pak Fethani ingin menginterogasinya sendiri
tapi dia ingin bicara denganmu dahulu.
Tapi aku tidak akan lama.
Ya, tapi dia menunggumu sekarang.
Bu Charki, kami membantumu, dan ini caramu berterima kasih.
Apa masalahnya? Apa yang terjadi?
Apa yang kau katakan pada mereka? Apa yang mereka tahu?
Aku tak bilang apa-apa. Aku menghapus semua fotonya.
Dia berpura-pura tahu dari ponsel mana asalnya.
Baik, dia panik, itu bagus. Wajar jika dia mencurigaimu.
Kau baru di lingkaran Reem
dan maaf, tapi masa lalumu tak membantu.
Tidak, bukan itu yang kucemaskan. Yang kucemaskan adalah
hanya kau yang diinterogasi.
Jadi, aku harus bagaimana?
Katakan bahwa Amal Fethani
pemilik hotel, yang memintamu mengambil foto-foto itu, paham?
Apa maksudmu? Kau mau aku mengadukan Amal?
- Kau... - Tunggu, fokus.
Apa kataku saat kau tiba di sini?
Saat diminta, kau patuh.
Tamu melindungimu, ingat? Ya, itu harus datang dari atas.
Ini harus tetap menjadi masalah keluarga.
Jangan sebut aku.
Dengan begitu, aku bisa membela pegawaiku dengan bilang tidak adil
dia harus menanggung risiko atas kemauan bos.
Bagaimana kau bisa yakin dia tidak akan bicara
dan bilang kau juga terlibat?
Dia tidak akan pernah melakukan itu.
- Aku tidak yakin. Entahlah. - Percayalah kepadaku!
Kita pergi sekarang?
Baiklah.
Adele, benar?
Ya.
Sudah berapa lama kau bersama kami, Adele?
Aku sudah tiga bulan di sini.
Aku mulai di ruang koper, sekarang aku di kantor pramutamu.
Kau akhirnya menjadi salah satu favorit putriku?
Kau cepat belajar.
Kau mengambil foto paspor?
Aku bertanya padamu.
Ya.
Boleh kami tahu alasannya?
Lalu, untuk siapa?
Bu Amal Fethani memintaku
mengumpulkan informasi tentang Pak Pepo.
Astaga! Itu konyol!
Itu benar-benar absurd!
Kenapa putriku memintamu melakukan itu?
Entahlah, aku tak bertanya. Aku melakukan yang dia minta.
Itu tugasku, itu saja.
Tidak, Ayah, itu salah. Bisa kita serius sebentar?
- Untuk apa kulakukan itu? - Aku tak tahu.
Buat Reem melawanku
menghancurkan pernikahanku, mempertahankan hotel.
Jangan terburu-buru menyimpulkan.
Najib, dengan segala hormat, aku akan menyimpulkan sesukaku.
Bisa langsung ke intinya? Haruskah kucemaskan kesepakatan kita?
Tentu tidak.
Maaf, kesepakatan apa?
Kesepakatan apa?
Amal, kumohon.
Nona, siapa lagi yang tahu soal ini?
Tak ada lagi.
Baiklah, terima kasih.
Apa Reem tahu tentang kesepakatanmu?
Tugasku adalah menjagamu dan kepentingan keluarga ini.
Terima kasih banyak, Edouard, atas bantuanmu.
Aku bisa mengandalkanmu untuk merahasiakan percakapan ini?
Tentu saja, Pak Fethani, aku akan berusaha semampuku
untuk memastikan nona ini tetap diam dalam hal ini.
Sedang apa kita di sini?
- Kami menggeledah lokermu. - Kenapa?
- Ini prosedur standar. - Apa kau diizinkan?
- Aku menemukan ini. - Terima kasih.
Itu bukan milikku. Aku belum pernah melihat ini.
Sudah kubilang, itu bukan milikku.
Tolong hubungi manajer umum.
Dia sudah tahu soal ini.
- Polisi akan mengambil alih. - Tidak.
- Mereka akan datang. - Aku belum pernah melihat ini.
- Benarkah? - Seseorang menaruhnya di lokerku.
Katakan itu kepada polisi.
Tapi itu bukan milikku! Itu sengaja ditaruh!
- Itu bukan... - Tenang, Nona.
- Berengsek, itu dia, tunggu! - Astaga!
- Akan kuberi tahu. Boleh kujelaskan? - Tidak apa-apa. Ya?
Manajer Umum memintaku memotret.
Aku bersumpah. Pak, percayalah kepadaku.
- Dia memintamu? - Ya.
Aku tak mengerti. Pertama kau, lalu bukan kau.
Lalu Bu Fethani. Sekarang Pak Galzain.
Kau pikir aku anak kemarin sore? Aku sibuk.
- Kuberi tahu... - Cukup.
Aku sudah membuang banyak waktu.
- Tapi bukan aku. - Ayolah.
Bukan aku! Jangan lakukan ini kepadaku.
Ayo.
Lepaskan aku.
Sial!
Tangkap dia!
Permisi.
Kau ke sana!
Menutuplah! Ayo!
- Ayolah! - Sial!
Ya, daftarnya lebih panjang dari sebelumnya.
Ada dua lukisan baru.
Biayanya masih cukup besar.
- Maaf, aku harus menjawab ini. - Ya, tentu.
Halo?
Ya? Maafkan aku. Apa?
Apa maksudmu dia kabur?
Tapi bagaimana bisa dia melakukan itu?
Selamat. Atas pernikahannya.
Baiklah.
Ada yang bisa menjelaskan?
Pertama, aku bertanggung jawab penuh...
Tentu saja. Aku memastikan itu salahmu.
Kau sudah menemukannya?
Belum, tapi semua anak buahku mencarinya
ada orang di setiap jalan keluar.
Kolonel, gadis ini berbahaya.
Dia tak boleh bicara dengan siapa pun.
Keamanan.
Permisi sebentar.
Kau melihat seorang wanita muda?
Aman, lanjut ke yang berikutnya.
Halo, Bu, protokol keamanan.
Tolong periksa tangganya.
Keamanan.
- Keamanan. - Apa yang terjadi?
Apa kami harus selalu di belakang kalian?
- Aman. - Sungguh?
- Protokol keamanan. - Ini bukan kamar 203?
- Bukan. - Maafkan aku. Silakan selesaikan.
Ayo, cepat, mereka akan tiba dua menit lagi.
- Hai! - Kau mau ke mana?
- Kau mengenalku! - Berhenti! Kau tak bisa...
- Reem! - Maafkan aku.
- Tidak. Berhenti, Bu! - Ada apa?
Reem, aku perlu bicara. Aku tak akan datang jika tak penting.
Tolong dengarkan aku.
Tunggu, apa yang terjadi?
Ayahmu, Mark, saudarimu, mereka berbohong kepadamu.
- Semua orang berbohong kepadamu. - Ayahku?
- Apa dia di sini? - Kumohon.
Beri aku lima menit saja.
Tutup pintunya.
No comments yet. Be the first to leave one.