প্রথম 200টি লাইন।
THE APARTMENT JOB
Pak Hae-kang, maaf, mulai besok aku tak bisa bekerja.
Aku repot jika mendadak begini.
Waktu itu, kau juga memecat mendadak.
Kau sudah terima sisa uang. Harus bertanggung jawab.
Apa gunanya jadi istri palsu dua pekan?
Yang penting kau sudah menjadi ketua penghuni sesuai keinginanmu.
Keluarga kami membutuhkanmu.
Lagi pula, keluargamu itu
keluarga palsu.
Apa?
Palsu?
Ya Tuhan!
Sebentar.
Jadi, kalian
adalah keluarga palsu?
Begitu rupanya.
Astaga, aku paham sekarang.
Pantas aneh.
Ada anak-anak mau memenggal tangan ayahnya
dan ibu yang menyuruh anak memanggil "kakak".
Aku sempat heran ada keluarga sekacau ini.
Ternyata itu alasannya.
Kalian palsu rupanya.
Siapa bilang palsu?
Kau salah dengar.
Palu.
Aku sedang mencari palu dan bertanya kepadanya.
Benar, Sayang.
Aku lupa palunya di mana.
- Palu. - Benar, palu.
Ya, palu.
Masa bodoh.
Aku jelas dengar dengan dua telingaku ini,
"Lagi pula, itu keluarga palsu."
Kau salah dengar.
Mana mungkin?
Buat apa kami berbohong?
Itu dia. Kenapa, ya?
Ini masalah serius.
Kalian menipu
seluruh penghuni.
Bukan begitu, Bu.
Namun,
kenapa kau ingin jadi ketua
sampai buat keluarga palsu?
Pasti ada niat terselubung. Apa niatmu?
- Aku tak peduli. - Bu…
Pak Ketua. Ralat. Pak Park,
lekas mundur
dari jabatanmu.
Aku tak bisa tinggal diam.
Aku akan mengumumkannya di forum penghuni.
- Minggir. - Liftnya rusak.
Lift sialan. Rusak melulu.
Dasar penipu.
Bu Jang…
Gawat darurat!
Bu Jang Suk-jin tahu kita keluarga palsu.
Apa?
Dia bersikeras mengumumkan di forum.
Harus kita cegah.
Kenapa ini?
Ya ampun.
Kenapa internet mendadak mati?
Ada apa dengan apartemen ini?
Kenapa liftnya
berhenti di lantai 29?
Aku tak sanggup lagi.
Ya Tuhan.
Kenapa ini?
Maafkan aku, Bu.
Pintunya terkunci. Ya Tuhan.
Ada apa ini?
Yang benar saja!
Apartemen sialan.
Aku tak tahan lagi!
KANTOR MANAJEMEN
Krim tangan Prancis memang beda. Wangi sekali.
Aku belum pernah pakai ini.
Repot-repot beli oleh-olehku.
Itu hadiah perpisahan.
Aku selalu gugup tiap kau mengatakannya.
Aku sudah sering bilang.
Pak Seo juga
minta bantuan hanya sampai masa jabatannya selesai.
Karena itu, kau langsung pulang?
Ya.
Pak Seo
kelabakan akibat kalah pemilu.
Siapa sangka dia akan gagal jadi ketua?
Aku akan coba
cari kesempatan untuk bicara kepadanya.
Sementara tolong bantu dulu.
Kami repot bila posisimu mendadak kosong.
Kakak.
Tadi itu salah paham.
Dia anak klien kami dan minta bantuanku mengasuh.
Itu termasuk tugas pengacara? Sampai ke rumah klien?
Kenapa dia panggil "ibu"?
Anak baru bisa apa?
Hanya bisa menurut.
Dia juga lebih suka aku daripada ibunya.
Kadang memanggilku "ibu".
Aku hanya sedih kau susah payah belajar,
tapi malah mengerjakan tugas macam itu.
Aku sudah minta berhenti.
Omong-omong, kenapa kau pulang secepat ini?
Ada masalah di kantor.
Begitu? Kenapa tak bilang agar aku bisa bersiap?
Bersiap apa?
Apa?
Maksudku, aku bisa menjemput ke bandara.
Biar kubawakan. Pasti berat.
Prancis bagaimana?
Seru, tapi aku ingin makanan pedas.
Sungguh tipikal orang baru pulang dari luar negeri. Kampungan.
Ingat, kan?
Awal bertemu, perpus Ciuman pertama, lampu jalan.
Penutupan klub buku, dipertemukan takdir.
Kemarin dipastikan Bu Jang pulang
usai bergelut dengan pintu.
Sesaat lagi dia akan olahraga pagi.
Baik.
Sementara kuberi kelonggaran kontak fisik sebab ini kondisi darurat.
Itu dia.
Ayo, Sayang.
Hati-hati terluka, Sayang.
Kau tinggal menjagaku.
Aku sudah menjagamu.
- Ayo. - Ya.
Yang benar saja.
Kentara sekali.
Kalian jelas palsu.
Mana ada pasutri lari semesra itu?
Dasar. Ada-ada saja.
Kami anggota klub buku.
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama di perpus.
Ciuman pertama kami di dekat lampu jalan.
Ciuman pertama…
Aku tak peduli. Tidak mau tahu.
Masa bodoh!
- Bu Jang! - Bu Jang!
Sepekan.
Bisa tolong beri waktu sepekan?
Sepekan?
Kau mau apa selama sepekan?
Beri aku kesempatan
untuk mengembalikan kepercayaan.
Ingat tempat ini?
Cut!
Terlalu hampa.
Kenapa kaku sekali?
Harus lebih tulus. Ulang!
Tulus?
Ingat tempat ini?
Di sini, kita bersatu,
berteriak bersama penuh semangat demi sebuah tujuan.
Kenangan indah perjuangan kita yang membuahkan hasil.
Aku selalu mengenangnya di lubuk hati terdalam.
Baiklah.
Itu juga kenangan indah bagiku.
Berkat itu, harga apartemen naik.
Kuakui itu berkatmu.
Akan tetapi,
pasti ada alasan kenapa kau
sampai membuat keluarga palsu…
Demi menjadi ketua!
Kami bukan keluarga palsu.
Aku sungguh menyayangi…
Istriku.
Sayang dari mana?
Kau harus tulus menganggap
aku milikmu dan mencintai sepenuh hati. Ulang!
Benar.
Aku sungguh menyayangi istriku.
Menyayangi istriku!
Menyayangi istriku!
Menyayangi istriku, tambah gerakan.
- Menyayangi istriku! - Menyayangi istriku!
Gerakannya. Menyayangi istriku!
Menyayangi istriku!
Aku menyayangi istriku.
Kami menikah karena cinta hingga punya anak.
Baiklah, aku jujur saja.
Ibuku dan adik-adikku berbeda.
Astaga. Ketiganya?
Waktu masih muda, kehidupan asmara Ayah amat kacau.
Pantas aneh.
Kalian sama sekali tak mirip.
Apalagi Ayah
sampai terjerumus ke perjudian.
Ya Tuhan.
Walau amat kecewa pada Ayah,
kami berusaha memperbaiki hubungan dengan tinggal serumah.
Begitu, ya?
- Kasihan. - Bagus.
Baiklah. Anggap semua itu benar.
Namun,
berdasarkan mahadata yang kukumpulkan seumur hidupku,
No comments yet. Be the first to leave one.