প্রথম 200টি লাইন।
Ya, Pak, aku paham.
Tolong beri waktu sedikit lagi, Pak.
Aku belum bisa bayar cicilannya.
Ya, Pak. Aku tahu memang sudah tiga bulan,
tapi sekarang ini, dananya masih belum ada, Pak.
Tolong beri sedikit waktu.
Baik, Pak. Terima kasih banyak, Pak.
Terima kasih.
Mau sampai kapan kita dikejar utang begini?
Sekarang, bukan hanya pinjol dan utang bank saja,
penagih utang juga terus mengejar kita.
Ya, aku juga sedang terus berusaha.
Nanti aku ada wawancara kerja.
Wawancara tidak menghasilkan uang.
Kalau kau tidak bisa selesaikan masalah ini,
aku pulang saja ke tempat Ibu.
Sayang.
Sebenarnya kelebihanku adalah aku pekerja keras,
selalu ingin mencoba hal yang baru,
cepat menyesuaikan diri,
dan tidak cepat menyerah meski dalam keadaan yang penuh tekanan.
Tapi kalau aku lihat pengalamanmu di CV,
kau itu lebih banyak pengalaman di bidang akuntansi dan keuangan.
Suatu hal yang baru biasanya jadi tantangan untukku,
dan potensi terbaikku bisa terlihat meski dalam keadaan yang penuh tekanan.
Mas!
Boleh tolong mundurkan mobil ini juga?
Mobilku tidak bisa keluar.
Terima kasih, ya.
Aku tahu keadaanmu sulit,
tapi pinjam uang dari orang lain setiap bulan bukan solusinya.
Kau justru terkubur dalam utangmu.
Mau gimana lagi?
Sudah setahun lebih, aku ke mana-mana, tidak dapat pekerjaan.
Tidak bisa instan juga, Malik.
Lagi pula, segala sesuatu yang instan pasti berujung tidak baik.
Aku merasa gagal sebagai suami
karena menganggur.
Begini,
aku berikan uang, tidak perlu dikembalikan.
Aku ingin kau pulang lewat Jalan Surabaya,
banyak pegadaian di sana.
Jual jam tanganmu, gadai ponselmu, cincin kawinmu.
Kalau perlu, jual mobilmu.
- Permisi, Pak. - Selamat malam, Pak.
Aku ingin gadaikan jam dan cincin.
Boleh, Pak.
- Tunggu sebentar ya, Pak. - Ya.
Pak! Ada yang bisa aku bantu?
Ban mobil aku bocor, Pak. Sedang coba diganti.
Sepertinya tidak mungkin ganti ban dalam kondisi hujan begini.
Justru jadi bahaya kalau tidak diganti sempurna.
Tapi tidak mungkin aku tinggalkan di sini!
Kunci saja mobilnya. Ini sudah di pinggir jalan.
Biar aku antar Bapak. Mobilnya pasti aman.
Ayo, Pak.
- Sudah dikunci? - Sudah.
- Aku Arief. - Malik.
Taruh tasnya di belakang.
Ya, Pak.
Maaf, jadi merepotkan.
Tidak apa-apa, aku juga pernah mengalami masalah seperti itu.
Tapi dulu tidak ada yang menolong,
jadi, aku selalu teringat momen itu.
Aku turun di tempat yang bisa cari taksi saja.
Tidak usah, nanti aku antar sampai tujuan.
Jadi tidak enak.
Kasih tahu saja arahnya, aku tidak hafal daerah sini.
Ya, Pak, nanti aku arahkan jalannya.
Mobil kau mana?
Banku bocor di pinggir jalan.
Tadi, coba ganti ban, tapi sulit sekali. Hujannya deras.
Tidak apa-apa.
Sayang, aku tidak enak sama dia. Kita ajak masuk dulu, ya?
Kita tidak punya apa-apa, mau suguhkan apa?
Tersangka pengedaran narkoba di Surabaya, Diaz Hartono,
masuk persidangan minggu ini.
Diaz Hartono, pengusaha yang dikenal sebagai "Macan Surabaya",
adalah sosok yang disegani di Kota Surabaya
karena kedekatannya dengan beberapa ormas dan pejabat tinggi Kota Surabaya.
- Permisi, ya. - Nanti gulanya jangan banyak-banyak.
- Sedikit saja. - Oke.
- Ini, Pak. - Terima kasih.
Sudah lama, aku tidak lihat TV seperti ini.
TV lama, Pak. Tapi masih bagus.
Sebenarnya, sudah lama aku minta ganti, tapi masih belum juga.
Bagiku, selama masih bisa menyala, itu cukup.
Istriku kalau masak mi instan enak banget, Pak.
Dia olah lagi. Jadi, rasanya beda.
Suamimu benar. Mi instan buatanmu benar-benar enak.
Tidak kalah dengan rawon nguling Surabaya.
Dari dulu kami ingin mencoba rawon nguling, tapi belum terwujud.
Harus coba. Itu khas Surabaya.
Dari dulu sampai sekarang, aku tidak bosan.
Istriku memang hobi kuliner.
Tidak, Pak. Suka mencoba saja, lebih tepatnya.
Kalau keluar kota begini,
keluarga bagaimana, Pak?
Ditinggal?
Aku tidak punya keluarga.
Kalian sudah berapa lama menikahnya?
Masuk tahun ketiga, ya?
Sebentar lagi hari jadi kami.
Selamat.
Belum, Pak. Beberapa hari lagi.
Aku pinjam asbak.
Ya, Pak.
Maaf.
Tidak apa-apa, Pak. Lanjutkan.
Aku biasanya tidak pernah, Pak.
Tenang, aku tidak akan bilang ke istrimu.
Semua akan baik-baik saja.
Hidup terkadang di atas, di bawah.
Sekarang, tinggal belajar cara menikmati hidup saat di atas
dan berani hadapi kehidupan saat di bawah.
Jangan, Pak. Harga mi tidak seberapa.
Aku mau bantu kau.
Tidak apa-apa, Pak.
Aman.
Sayang,
hujannya tidak berhenti.
Apa tidak kita tawarkan dia menginap malam ini?
Yang benar saja. Kita tidak tahu siapa dia.
Tadi dia mau memberiku uang.
Jumlahnya tidak kecil. Dia orang baik, kok.
Baik dari mana? Kau baru bertemu sekali dengannya.
Bagaimana kalau kita ada di posisinya?
Kau bantu nyalakan mobil saja. Jangan suruh menginap.
Mobilnya tidak bisa menyala, Pak?
Ya, mendadak tidak bisa.
Coba sambil digas mungkin, Pak.
Bensinnya tidak naik, mungkin pompanya?
Sayang, hujan makin deras!
Pak Arief, menginap dulu saja, Pak.
- Biar aku bantu, Pak. - Jangan!
Aku sudah banyak merepotkan.
Aku percaya, Pak. Setiap pertemuan pasti ada maknanya.
Aku juga percaya.
Tapi aku makin tidak enak kalau tidak bantu kalian.
Pak Arief.
Kami mau coba rawon nguling.
Nanti kalau Bapak pulang ke Surabaya,
kirimkan ke sini, ya?
Ini alamatnya.
Aku janji.
- Aku ke kamar dulu. - Oke.
- Mari. - Mari, Pak.
Kau yakin, tidak butuh bantuan dari orang tuaku?
Kita terlalu sering dibantu oleh orang tuamu.
Kalau terus begitu, aku malu.
Ya, tapi kita harus gimana lagi?
Tidak gimana-gimana.
Aku cuma mau kau percaya sama aku.
Bu, telurnya empat butir, ya.
Tumben bukan istrinya yang belanja.
- Sebentar. - Ya.
Butuh sekardus mi instan?
Tidak, Bu. Masih ada.
Berapa, Bu?
Sekalian bon-bon yang lalu?
- Maksudnya? - Istrimu juga utang untuk belanjaan.
Ini, totalnya Rp735.000.
Lupa, Bu.
Bawa saja dulu telurnya.
Dompet tertinggal di rumah.
- Maaf. - Tidak apa.
Kalau bisa, minggu ini dibereskan.
Ibu butuh modal untuk dagang.
Ya, pasti, Bu.
- Terima kasih, Bu. - Ya.
Pak Arief.
Aku sedang siapkan sarapan. Bapak ingin disiapkan kopi atau teh?
Pak Arief.
Ini, Sayang.
Aku ketuk pintunya, tapi dia tidak bangun.
Dia terlalu nyenyak.
Semalam, kehujanan, kelelahan.
Mengisap agak banyak.
Jangan marah dulu.
Yang kulihat hanya selinting.
Coba bangunkan saja.
Pagi, Pak Arief.
Pak Arief.
Pak?
Kuncinya tersangkut di dalam. Tidak bisa dibuka.
Masih tidur.
Bangunkan!
Masa aku membangunkan orang yang tidur pulas?
Jangan.
Biar dia bangun.
Biarkan saja dia tidur.
Kita mau menunggu sampai kapan?
Sudah, tidak apa-apa, Sayang.
Kau saja sering marah jika kubangunkan saat sedang tidur.
Tapi sudah terlalu lama.
Dia harus lanjutkan perjalanan, bukan?
Yang jelas, aku tidak nyaman ada orang tidur di rumah kita.
Ya sudah.
Kita dobrak saja pintunya?
Dia kaget, tidak?
No comments yet. Be the first to leave one.