প্রথম 200টি লাইন।
SEMUA TOKOH, PERISTIWA, DAN TEMPAT DALAM FILM INI ADALAH FIKSI.
KESAMAAN APA PUN DENGAN ORANG ATAU PERISTIWA NYATA HANYA KEBETULAN.
SEBUAH PRODUKSI DARI 89S GROUP, DIDISTRIBUSIKAN OLEH CGV
Dahulu kala,
nenek moyang kita bertugas sebagai prajurit angkatan laut Dinasti Tay Son.
Ketika Tay Son runtuh, mereka mencari perlindungan di Vietnam Selatan.
Saat mengungsi, mereka tiba-tiba diterjang badai dahsyat.
Ketika harapan hampir sirna,
seekor paus raksasa muncul membawa perahu mereka
menembus lautan yang bergelombang.
Ketika paus itu berhasil membawa semua orang ke tepi pantai, ia mati.
Untuk menghormatinya, nenek moyang kita membangun sebuah kuil,
lalu menetap di sini hingga sekarang.
Saat tulang-tulangnya dibawa ke kuil,
sebuah batu besar beraroma ditemukan di sisa-sisanya.
Katanya itu jiwa paus yang berubah wujud.
Jadi, mereka ukir jadi patung kecil, diletakkan bersama tulangnya di kuil.
DEWA PAUS
Kemudian,
batu itu dikenal sebagai ambergris, harta karun yang tak ternilai harganya.
Orang-orang serakah coba mencurinya.
Sejak hari itu, kuil dan ambergris itu tidak pernah dibiarkan tanpa penjagaan
dari zaman ke zaman.
Thien, guruku, adalah salah satu penjaganya.
Ternyata gurumu sehebat itu!
Memang! Dia super kuat!
Lalu, bajak laut membawa 20 orang lagi!
Apa?
Mereka mau merebut ambergris.
Lagi?
Guruku sudah tak berdaya karena dia
melempar tongkatnya!
Para bajak laut bersenjata siap menyerang.
Menyerang, tahu?
Kita harus apa?
Baik, ayo bertarung!
Pegang lengannya, tendang tulang rusuknya,
putar lengannya ke belakang…
Ialu serang lututnya.
Satu per satu, mereka kalah!
Pertarungannya berlangsung tiga hari tiga malam!
Aku hampir lupa!
Guruku juga memukul tenggorokan seorang bajak laut!
Hei.
Sudah mau selesai?
Aku tak tahan.
Belum! Masih panjang!
Cukup cerita bohongnya, Hoang.
Ayahku hanya memukul beberapa preman, bukan 20.
Tiga hari tiga malam?
Ayolah. Harus agak berlebihan
agar mereka tertarik dan mau berlatih.
Pak Tam!
Jangan merasa lebih rendah. Kau bisa lawan berapa orang?
Astaga.
Aku punya saran untuk kalian.
Jangan dengarkan Pak Hoang, ya?
Seni bela diri itu untuk kebugaran dan pertahanan diri,
bukan untuk berkelahi.
- Paham? - Ya!
Lalu, bagaimana jika ada yang mau merebut ambergrisnya?
Lapor polisi!
Kau benar!
Hei!
Cepat bantu angkat ikan. Mereka bawa banyak.
Ayo!
Hei!
Ayo!
Cepat!
DESA NELAYAN AN HAI, 2000
Tangkapan ikan hari ini banyak, ya?
Ikannya segar-segar!
Ayo bantu!
Kau dapat banyak ikan!
Seperti hari-hari biasa.
Ya!
Tarik!
Taruh di sini. Bagus.
Hoang! Biarkan!
Bantu perbaiki perahu di sana yang menabrak karang.
Bagaimana bisa mereka pakai ini?
Dua, tiga, tarik! Ayo. Dua, tiga, tarik!
- Ayo kemari! - Taruh di situ!
- Tambahkan garam ke keranjang ini juga. - Tentu.
- Hei, Tam. - Ya?
Tuan sudah setahun di Saigon, kenapa belum pulang?
Mungkin dia sibuk.
Sibuk pun tetap harus pulang.
Jangan menghilang.
Saat pertama ke kota, dia masih menelepon dan mengirim barang.
Tapi tak lama kemudian, dia hilang.
Apa dia menelepon?
Aku sudah tunggu, tapi tak pernah menelepon.
Dasar tak punya perasaan.
Festival Pemujaan Paus sebentar lagi, dia seharusnya bantu-bantu.
Jika pulang, akan kuhajar dia.
Mungkin dia sibuk.
- Jangan terlalu keras kepadanya. - Dasar.
Kau selalu membela dia.
- Ayo. - - Baik! Terima kasih!
Hei! Hoang! Mau minum nanti malam? Ada dua botol di sini.
Kita minum sepuasnya!
Bagaimana kau bisa sampai merusak perahunya?
Astaga! Tak akan ada yang bisa menghindari batu besar itu!
Astaga! Awas!
Anak-anak itu! Astaga!
Ya Tuhan!
Kalian tak apa-apa?
Kau buat masalah apa lagi, Hoang?
- Kau tak apa, Nak? - Bukan aku! Mereka!
Kau baik-baik saja?
Aku tak apa, Bu.
Terima kasih, Tam.
Dua putraku berutang budi kepadamu.
Jangan khawatir. Yang penting mereka selamat.
Terima kasih.
- Terima kasih. - Terima kasih, Tam.
- Pulanglah. - Astaga! Kau terluka, Tam?
Ya, aku baik-baik saja.
Selalu ada masalah jika ada kalian berdua.
- Kau tak apa? - Tak apa, Ayah.
Astaga!
Berhati-hatilah, ya?
Ya.
Astaga… Tuan hebat.
Dia juga tampan!
Kenapa kau terus meneleponku?
Memang tak bisa tanpa aku?
Astaga, aku hanya pulang beberapa hari, nanti juga kembali.
- Semuanya! Tuan di sini! - Kau urus, ya?
Hei! Kau tampan!
- Tuan kembali! - Tuan kembali!
Ini mudah.
Baiklah.
- Sialan, kamu bau Saigon. - Tolong saya, ya?
Ini benar?
Astaga, kenapa rumit sekali?
Baiklah, bagus. Kau menyebalkan.
Baik.
Astaga. Tuan!
Kak! Kak Hoang!
Halo, Pak Hai dan Bu Hai.
- Kawanku! Tuan! - Dari mana saja?
Kukira kau pergi selamanya.
Tidak akan.
Aku sibuk bekerja.
Aku harus mengatur jadwal agar bisa ikut festival bersama kalian.
Sudah kubilang, dia hanya sibuk.
Kukira kau mati.
Jangan asal bicara. Dia baru pulang, jangan menyumpahi.
Baru setahun berjualan ikan, tapi sudah sehebat ini.
Berjualan ikan? Sudah tidak.
Aku sudah punya bisnis sendiri.
Ya.
Astaga.
Dia hebat!
Kalian tinggal berdua, harus saling jaga.
Minumanmu.
Terima kasih.
Hei!
Kau bercanda, 'kan?
- Apa? - Ada yang lupa?
Aku sudah bayar, 'kan? Terima kasih sekali lagi.
Dia bodoh atau pura-pura?
Ini minumannya!
Astaga.
Kau pasti lelah setelah perjalanan, tapi masih mau minum-minum?
Aku baik-baik saja, Pak Hai.
Kita jarang bisa berkumpul seperti ini.
Hei, Tuan!
Tuan!
Ada apa, Kawan?
Apa ada yang lupa?
Minumannya sudah dibayar!
- Kau lupakan kami! - Ya!
Pak Hai!
Bagaimana bisa empat orang menghabiskan 2,5 galon minuman?
Tapi kami bisa bantu.
Baiklah, kemari.
Kalian sudah dengar. Ayo.
Hei! Tunggu!
Ini kumpul-kumpul keluarga.
Nanti kita bertemu.
Ya?
Biarkan mereka ikut, agar lebih ramai.
Mereka lucu saat mabuk.
Masa?
Sepertinya salah satu dari kalian mengantuk.
Sebaiknya istirahat saja. Kita minum kapan-kapan.
- Ya. Lain kali lagi, ya? - Ya? Ya.
Sana.
Sakitnya. Ya.
Dia jadi sombong setelah dari kota.
Ayo cari minuman lagi.
Astaga.
Baiklah, bersulang.
- Bersulang! - Minum, Pak Hai.
Hei! Tadi pagi kulihat kau memakai ponsel. Boleh kucoba?
Mewahnya!
Itu ponsel untuk pekerjaan, tak boleh kau pakai.
No comments yet. Be the first to leave one.