Sounds of Winter

Sounds of Winter (冬のなんかさ、春のなんかね)

Indonesian সাবটাইটেল ডাউনলোড করুন

সিজন 1

রিলিজ তথ্য

[𝐂𝐨𝐟𝐟𝐞𝐞𝐏𝐫𝐢𝐬𝐨𝐧] 𝐒𝐎𝐔𝐍𝐃𝐒 𝐎𝐅 𝐖𝐈𝐍𝐓𝐄𝐑 𝐒𝟎𝟏𝐄𝟎𝟑 𝐍𝐅 𝐖𝐄𝐁
ভাষ্য লিখেছেন Coffee_Prison
𝑫𝒖𝒓𝒂𝒔𝒊 : 𝟓𝟎:𝟏𝟕 || 𝑺𝒖𝒃𝒕𝒊𝒕𝒍𝒆 𝑹𝒆𝒕𝒂𝒊𝒍 𝑵𝑬𝑻𝑭𝑳𝑰𝑿 || *𝑪𝒓𝒆𝒅𝒊𝒕 𝒕𝒐 𝘐𝘯𝘥𝘳𝘢 𝘕𝘶𝘨𝘳𝘢𝘩𝘢 𝘗𝘶𝘵𝘳𝘢 (𝑷𝒆𝒏𝒆𝒓𝒋𝒆𝒎𝒂𝒉) || ડ౿ᥣɑოɑ𝗍 𝖬౿𐓣𝗈𐓣𝗍𝗈𐓣

ট্যাগ

webdl
প্রকাশিত: 2026-02-07
ডাউনলোড: 10
শ্রবণপ্রতিবন্ধীদের জন্য: No
FPS: 25

Indonesian সাবটাইটেল প্রিভিউ

প্রথম 200টি লাইন।

STASIUN TOYAMA

Hei.

Ada apa?

Ibu yang memilih warna mobilnya, bukan aku.

Merah muda.

Diam.

- Aku saja. - Terima kasih.

TSUCHIDA

Aku pulang.

- Di mana Ibu? - Hawaii.

Hawaii?

Memangnya dia artis?

Apa hubungannya artis dan Hawaii? Itu sudah kuno.

Dia rupanya menang undian RT.

Undian RT itu yang sudah kuno.

Sudah mudik jauh-jauh, ternyata hanya kau yang ada di rumah?

- Ada Nana juga. - Ya, si anjing.

- Jangan panggil dia anjing. - Anjing. Aku pulang, Anjing.

Nana.

- Kau baik-baik saja? - Kau senang dia pulang, 'kan, Nana?

Kau sehat-sehat saja? Nana.

Tokyo Banana.

Kemarilah.

Anjing pintar.

Terima kasih.

Aku mau pergi minum malam ini.

Dengan teman SMA atau SMP?

SMA.

Wah…

Berarti Shibasaki akan datang juga?

Entahlah. Mungkin saja.

Hore.

Dasar bodoh.

Hore.

Apa?

Tehnya panas.

Menyebalkan.

Terima kasih sudah menunggu.

Ini telur gulungnya.

Terima kasih.

Terima kasih.

Silakan.

Omong-omong, dia akan datang?

- Shibasaki? - Ya.

Dia bilang akan sedikit terlambat.

Baiklah.

Kau belum pernah bertemu dia lagi sejak lulus?

Kurasa begitu.

Berarti sudah hampir sepuluh tahun.

Kau masih 18 tahun saat itu, sekarang sudah 28.

Benar juga.

Aku tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.

Kenapa kau putus dengan Shibasaki?

Bodoh! Jangan bertanya seperti itu.

Benar juga. Lebih baik tunggu sampai mereka bertemu di sini, 'kan?

Itu malah lebih buruk.

Tidak apa-apa. Aku tak keberatan.

Kau tak apa-apa membicarakannya?

Memangnya itu hal yang tabu?

Kami dulu memang berpacaran.

Jadi, wajar saja jika kami putus, 'kan?

- Benar juga. - Ya.

Dengar itu? Kau sendiri yang terlalu khawatir.

Lagi pula, Shibasaki sudah tiga tahun ini berpacaran dengan Saki.

Kau tak tahu, ya?

Mungkin itu memang hal yang tabu.

- Benar, 'kan? - Tidak, aku tahu itu.

Takuya mengabariku semuanya,

padahal aku tak pernah bertanya apa-apa.

Takuya? Sudah lama sekali. Bagaimana kabarnya?

- Dia baik-baik saja. - Benarkah?

- Maaf, aku terlambat. - Hei.

- Syukurlah kau bisa datang. - Terima kasih.

Akhirnya datang juga.

Duduklah.

- Kau terlambat. - Sangat terlambat.

Mau minum apa?

- Bir saja. - Bir.

Maaf.

- Ya? - Boleh pesan segelas bir…

- Dua. - Dua gelas bir.

Aku mau wiski campur.

Tiga gelas bir dan segelas wiski campur.

Tiga gelas bir dan segelas wiski campur.

- Baik. - Terima kasih.

- Kau terlambat. - Maaf.

Baiklah.

Shibasaki sudah datang. Jadi, ayo kita bersulang.

Bersulang.

Sepertinya kau sibuk seperti biasa.

Ya, untunglah.

Kau tahu apa kesibukan Shibasaki sekarang?

- Ya, dia bekerja sebagai arsitek, 'kan? - Ya.

Kau sudah tahu, ya?

Dari mana kau tahu? Pasti Takuya.

Dia mengabariku semuanya tanpa kutanya.

Begitu, ya?

Kami kadang-kadang masih bermain sepak bola bersama.

- Dia juga bilang begitu. - Ya.

Berarti apa kau juga tahu…

Tahu apa?

Pekerjaan Ayana?

Kau novelis, 'kan?

Aku pernah lihat novelmu di toko buku dekat stasiun. Hebat.

Biasa saja.

Aku masih bekerja paruh waktu di toko pakaian bekas.

- Benarkah? - Ya.

Aku ingat.

Sebenarnya, aku mau memintanya nanti saja,

tapi aku mungkin lupa jika mabuk, jadi…

Apa?

Boleh tanda tangani ini?

Memalukan.

- Kau membeli novelku? - Tentu saja!

- Terima kasih. - Boleh tanda tangani bukuku juga?

Bukuku juga, ya?

Apa?

Sebentar. Jadi, hanya aku saja

yang tak punya novelnya?

- Maaf. - Tidak apa-apa.

Kau tak membelinya?

Seharusnya kau bilang dulu padaku.

Untuk apa bilang padamu?

Ya, untuk apa bilang padamu?

- Wah. - Hebat.

Keren.

AYANA TSUCHIDA

Hebat!

Tanda tangan pertamaku.

Ya, benar.

Maaf, tunggu sebentar.

Tersisa ruangan kecil saja.

Jangan, cari tempat lain saja.

Terima kasih, tapi kami cari tempat lain saja.

Terima kasih sudah menungguku. Hawanya dingin sekali.

- Ya. Sangat dingin. - Serasa beku.

Bagaimana kalau di tempat yang di atas arena boling itu saja?

Kami mau pergi berkaraoke. Mau ikut?

- Mau. - Baiklah.

Kau mau ikut, Shibasaki?

- Boleh juga. - Bagus.

Semuanya ikut.

- Baiklah. - Masih ada ruangan?

- Masih buka? - Benarkah?

Ya.

Untuk lima orang.

Ya.

Baik, terima kasih.

Ya.

Ya, kami ke sana sekarang.

Terima kasih.

Bagus.

- Mantap. - Bagus.

Ayo kita bernyanyi bersama-sama.

- Bagaimana kalau lagu ini? - Ya.

- Jadi… - Atau lagu ini?

Kenapa kalian putus?

Apa harus sekarang menanyakannya?

Siapa yang peduli kenapa mereka putus?

Kalian mau tahu?

Mau.

Boleh kuceritakan?

Boleh saja.

Kau saja yang bercerita, Masao.

Apa? Aku?

Kau tahu cerita lengkapnya, 'kan?

Ya, aku tahu, tapi…

Kurasa aku bukan orang yang tepat untuk bercerita,

apalagi kalian berdua ada di sini.

Baiklah, tapi betulkan aku jika aku keliru,

karena ini mungkin hanya sudut pandangku.

Ya.

Begini, alasan mereka putus itu

sebenarnya sederhana saja.

Saat Ayana masuk kuliah, dia pindah ke Tokyo

sehingga mereka berhubungan jarak jauh.

Lalu?

Begitulah.

Apa? Kenapa? Apa maksudmu?

Shibasaki rupanya takut.

Takut apa?

Takut Tokyo dan jarak di antara mereka.

Sudahlah, jelaskan saja sendiri!

Dia benar. Aku memang takut dengan jarak di antara kami.

Itu saja.

- Lucu, 'kan? - Tidak.

Ada yang mau kau tambahkan?

Kutambahkan?

Kupikirkan dulu.

Secara pribadi,

aku sebenarnya berniat mempertahankan hubungan kami,

meski harus kuliah dan tinggal beda kota.

Tapi Shibasaki bilang

dia mungkin tak sanggup jika harus berhubungan jarak jauh.

Aku bingung kenapa.

Jadi, kami membicarakannya…

Kita membicarakannya panjang lebar, 'kan?

Ya. Panjang lebar.

Lalu, kami putuskan untuk berpisah saja.

Kurasa begitu ceritanya.

Sounds of Winter subtitles in other languages

মন্তব্যসমূহ

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left