প্রথম 200টি লাইন।
Ayah sedang apa?
Ayah tak akan menyakitinya.
Hanya menakuti sedikit.
Ayah!
Anjingnya hampir kena!
Ayah memang seharusnya operasi katarak.
Ayo, ambil itu.
Bulan lalu ada kaki.
Pekan lalu, lengan. Sekarang, ini…
Positif. Di lokasi ini.
Tidak mungkin semua potongan tubuh ini berasal dari satu orang.
Patroli Jalan Raya sudah dikabari.
Mereka sedang ke sini.
Ayo amankan area. Nanti mereka yang akan urus.
Ada potongan tubuh lagi di sini.
Yang satunya.
Baunya sangat busuk.
Terima kasih.
Terima kasih, Sersan.
- Bu, terima kasih. Hati-hati. - Terima kasih.
Sepertinya dikubur terburu-buru.
Makanya ditemukan anjing.
Bukan urusan kita.
Ini bukan kasus kita.
Potongannya rapi.
Perkakas listrik seperti sebelumnya.
Hentikan.
Ayah tak mau Asero bertanya.
Ini kelompok yang sama.
Ayah, aku yakin, jika telusuri jalan raya lama,
kita akan temukan potongan lagi di kota terdekat.
Mungkin dikubur seperti ini.
Pasti didalangi sindikat.
Korbannya terpotong-potong, sulit diidentifikasi.
Mengapa kita tidak
hubungi kantor polisi sebelah?
Tanya saja.
Apa ada kejadian serupa.
Agar kita bisa selidiki bersama.
Semua terhubung oleh jalan yang sama.
Jules.
Kita tak akan terlibat dalam hal ini.
Ayah…
Aku tahu ini ranah Patroli Jalan Raya.
Namun, kita tahu ini tak akan diusut oleh mereka.
Tak akan ada yang ditahan.
Kita punya wilayah sendiri. Kasus kita sendiri.
Kau buang-buang tenaga jika melakukan semuanya.
Lihat sekelilingmu.
Tak ada yang menyelidiki ke sini.
Karena korban bukan warga sini, diabaikan saja?
Lalu korban berikutnya? Kita abaikan juga?
Sudah. Ayo pergi.
Kita sudah selesai di sini.
Apa?
Ayah biarkan saja?
Jaga mulutmu.
Aku bukan hanya ayahmu, tapi seniormu.
Maaf, Sersan. Namun, aku tak mau pindah ke Puerto.
Jules, itu sudah selesai.
Beberapa hari lagi, dokumen mutasimu akan keluar.
Kau akan promosi. Sudah Ayah urus.
Ada posisi untukmu di kantor pusat.
Aku tak mau jadi polisi di belakang meja, Ayah.
Berhenti mengeluh.
Kita pindah ke Puerto
begitu Ayah pensiun.
Siapa yang akan menjaga di sini?
Espanto?
Garin?
- Ayah serius? - Morales!
Jangan sampai Ayah menskorsmu. Cukup.
Maaf, Sersan.
Namun, aku tak akan pergi tanpa mencari tahu pelakunya.
Kau tahu alasan Ayah tak bisa biarkan dirimu?
Kau tak mematuhi protokol.
Begitu juga pelakunya!
Kita tak seperti mereka.
Kita bukan penjahat.
Jika kita biarkan mereka kabur, kita sama jahatnya.
Ini terlalu pagi.
Ayolah, Sersan.
Letnan belum minum kopi.
Maaf.
Aku tak mau TKP diacak-acak. Maka kuhubungi pagi-pagi.
Kenapa tak ikut pesta ulang tahun Wakil Wali Kota?
Wali Kota menanyakan dirimu.
Ya, Pak. Maaf.
Aku sakit kepala. Kurasa tekanan darahku.
Namun, aku kirim pesan.
Kukirimkan anggur mahal.
Untuk Wali Kota,
tentu saja, semur kambing favoritnya.
Semur kambing, ya?
Semuanya.
Belajarlah dari Sersan.
Dia bergaul dengan semua orang,
bermain cantik,
dan menaati perintah.
- Ya, Pak. - Jadi, saat pensiun,
dia akan nyaman menikmati pensiunnya.
Benar, 'kan, Sersan?
Kurasa begitu.
Pak, kami akan pamit.
Jules, ayo.
Aku jadi ingat.
Selamat atas promosinya, Nak.
Selamat!
Kau beruntung dia ayahmu.
Dia selalu menjagamu.
Morales, tunggu.
Pak?
Bukan kau. Putramu.
Apa itu? Berikan kepadaku!
Hei!
Si berengsek ini!
- Dia mengambil bukti! - Coba saja!
Berikan kepadaku!
Coba saja ambil!
Turunkan pistolmu, serahkan itu!
Kau tak bisa kabur!
- Jangan ikut campur! - Berengsek!
Anakmu gila, Sersan!
Suruh dia turunkan pistolnya, Sersan.
Akan kutembak dia.
Kau mau mati di sini?
Turunkan pistolnya!
Turunkan!
- Tunggu! - Dengar itu.
Kita di pihak yang sama.
Sial, Morales!
- Dia keras kepala, Letnan. - Jules!
- Sial! - Tembak dia!
Turunkan!
Investigasi akan mandek di tangan mereka!
Kau gila? Hei! Sersan, kendalikan putramu.
Mau semua jadi kacau?
Ini kasus ketiga.
Dua kasus sebelumnya bahkan tak diusut.
Entah mengapa kalian mengabaikannya!
Jika tidak mau, biar aku yang usut!
Apa maksudmu?
Akan kami usut, Letnan.
Ada sidik jari di sini.
Kami bisa cari tahu tangan siapa ini.
Mungkin ini kunci untuk identifikasi korban lain!
Haruskah kutembak, Letnan?
Coba saja! Pasti akan ada masalah!
Masalahnya itu kau, Nak!
Kau kalah jumlah.
Kepalaku sakit, aku belum tidur,
dan sial, aku bahkan belum minum kopi!
- Urus putramu! - Pak…
Garin…
- Galvez. - Bujuk anakmu!
- Ayah? - Pak, tolong!
Turunkan pistolmu.
Sial, turunkan pistolmu, Jules.
- Kembalikan buktinya! - Serius?
- Keparat! - Hei!
Hei!
Tenang!
Tenang!
- Tenang! - Morales!
Dua pekan.
Kau diskors dua pekan.
Itu keputusan Ayah?
Atau perintah Letnan?
Mereka menghalangi promosimu.
Aku tak peduli dengan promosi.
Jalanmu masih panjang. Kau masih bisa jadi perwira.
Jangan sia-siakan. Jangan jadi seperti Ayah.
Sudah kubilang.
Aku jadi polisi bukan untuk sekadar bekerja di belakang meja.
Melawan mereka itu tak ada gunanya.
Persetan mereka!
Ayah, mereka pasti berniat jahat.
Ada yang janggal dan aku tahu Ayah juga tahu itu.
Ayah tak mau membesar-besarkan ini.
Pistol dan lencanamu.
Ada apa dengan Ayah?
Kapan Ayah menyerah?
Ayah bukan menyerah.
Hanya tahu harus perjuangkan apa.
Lihat ini, Ayah.
Yang ini. "Diberikan kepada Ernesto Morales,
atas keberanian dan komitmennya yang luar biasa…"
Jules
"mempertaruhkan nyawanya dalam menjalankan tugas."
Ini Ayah, 'kan?
Jules.
"Atas dedikasi terhadap tugas…"
- Ayah, apa yang terjadi? - Jules!
Berikan pistol dan lencanamu.
Lagi pula, aku tak butuh itu untuk menyelidiki kasus ini.
Jules.
POS POLISI
Bos.
Ya?
Bagaimana?
No comments yet. Be the first to leave one.