প্রথম 200টি লাইন।
MY ROYAL NEMESIS
Kalian ingat bintang pembawa sial, bukan?
Komet yang datang bersama gerhana matahari tiga bulan lalu
masih melayang di langit malam.
Sepertinya aku akan merindukannya jika itu tiba-tiba hilang.
Jadi, ambillah foto sekarang.
Tidak seperti bintang jatuh atau meteor
yang muncul dan hilang dalam sekejap,
komet ini muncul tanpa suara.
Suatu saat,
komet ini bisa pergi tanpa pertanda.
EPISODE 10 HARAPAN, KEPUTUSASAAN, DAN KERINDUAN
Maaf, tetapi Ketua sedang tidur.
Aku tak bisa membukakan pintu sekarang.
Aku akan memberitahunya bahwa kau mampir saat dia bangun.
Baiklah.
Jadi, aku Pangeran Agung yang diasingkan,
dan kau dayang istana itu?
Benar.
Jadi, itu bukan mimpi bualan.
Aku sedang melihat kehidupan lampau?
Kurasa begitu.
Lalu bagaimana denganmu?
Itu seperti time slip?
"Time…"
Bukan begitu.
Jiwaku
melampaui ruang dan waktu.
Itu sama saja.
Bahasa Inggrismu memang buruk.
Tetap saja ini bukan The X-Files.
Apa ini masuk akal?
Katamu kau percaya.
Ya.
Aku masih belum paham,
tetapi tak bisa menyangkal situasi di hadapanku.
Kucoba menerimanya.
Namun, kita mungkin perlu ke dokter…
Dokter?
Mungkin saja kita gila bersamaan.
Pemeriksaan menyeluruh mungkin akan…
Mungkin tidak.
Jadi, apakah artinya…
Cek ombak sudah selesai?
Apa harus bertanya? Kau ingin membuatku malu?
Aku hanya berpikir
mungkin aku yang terlalu jauh.
Setelah tabrakan bibir itu?
Jika masih cek ombak, aku tak tahu malu.
Baiklah.
Jadi, kurasa inilah hari
kita benar-benar resmi?
Berjanjilah satu hal.
Mulai sekarang, tak ada…
Tak ada rahasia di antara kita.
Benar, itu.
Lalu jika Choi Mun-do…
Jika dia bergerak, aku beri tahu.
Ya, aku sangat pencemburu.
Persetan Choi Mun-do.
Jangan bicara dengan pria mana pun. Jangan akrab.
Bahkan jangan bertemu.
Hei.
Lalu bagaimana aku bekerja?
Setengah dunia adalah pria.
Kau ingin aku mengurung diri?
Tidak, aku hanya bilang.
Kalau begitu…
Bagaimana jika kita masuk
dan menyelesaikan percakapan kita?
- Sial. - Astaga!
Siapa yang meninggalkan ini di sini?
Tunggu.
Berapa lama kau di sana…
Aku hanya menyiram tanaman
dan belum sempat pergi.
Silakan lanjutkan yang kalian lakukan.
Kenapa bicaramu jadi formal…
Aku bisa menyiram besok.
Tidak boleh menginap.
Manajer Gu, kenapa vulgar sekali?
Tidak boleh?
Menurutmu?
Benar.
Pasti terdengar nakal bagi wanita Joseon.
Tidak. Aku bukan wanita Joseon lagi.
Memendam perasaan dan merana?
Cukup sudah bertindak bodoh.
Kini aku akan habis-habisan.
Berikan lagi.
Panaskan dan minum dua kali sehari sesudah makan.
Berapa kali harus kubilang ini tipuan?
Tipuan atau apa pun, simpan komentar pintarmu.
Pastikan kau minum.
Apa-apaan…
Dia bisa baca pikiran?
Anggap ini rasa suka yang tulus dari hatiku.
Itu saja.
"Suka"?
Baiklah. Akan kuminum demi kau.
Kuhabiskan satu kantong.
Aku akan sangat murah hati.
Menghabiskan uang tanpa ragu
dan memberikan hatiku tanpa ragu.
Memberikannya begitu saja?
Ini.
Nenek, katakan.
Ada yang Nenek inginkan? Baju baru?
Belilah baju untukmu dahulu.
Kau menyia-nyiakan masa muda.
Ya.
Akan sia-sia.
Waktu yang berlalu tak akan kembali.
Aku harus hidup tanpa sesal.
Aku akan hidup sungguh-sungguh.
Sebarkan banyak kebaikan.
Begitulah harusnya hidup.
Wah!
Apelnya manis.
Apel yang terkena salju lebih manis.
Gadis manisku.
APEL MADU
Ya. Bahkan apel akan busuk jika disimpan terlalu lama.
Gunakan atau hilang.
Ini, ambillah.
Tiba-tiba apel?
Apel kena salju dijual murah,
jadi kubeli banyak.
Meski kena salju, apelnya sangat manis.
Apa-apaan… Mungkin beracun?
Lucu sekali.
- Astaga! - Manajer Gu!
Kau mengagetkanku.
Kau membantuku dapat tempat,
dan menerima paketku.
Aku ingin berterima kasih dengan pantas.
Tak ada manajer gedung sepertimu di dunia.
Semoga persahabatan kita abadi.
Aku penasaran kau ke mana.
Ternyata Gwang-nam kita sibuk menjemur.
"Gwang-nam kita"?
Ini, makan apel ini.
Sangat manis.
Aku boleh makan ini? Gratis?
Tentu. Apa mungkin aku memintamu membayar?
Kau pikir aku pelit?
Kenapa tiba-tiba murah hati? Kau tak cocok.
Baik salah, jahat salah.
Kenapa aku tak cocok?
Selama mulutku diam,
orang bilang aku seperti malaikat.
- Siapa bilang? Siapa? - Wanita penjual buah.
Biar kutebak. Dia juga bilang hatimu semurni emas?
Lihat semua ini.
Sudah kuduga. Bawahnya beku dan rusak.
Apa? Beku dan rusak?
- Apa… - Lihat.
Di tempat asalku, kami bahkan tak memetik ini.
Sial. Aku bahkan mengirim satu kardus.
CHA SE-GYE APEL MADU
Pak Son.
Adakah yang mau mengirim apel untuk Pak Cha?
Ada beberapa.
Kardus apel mengingatkan tentang…
Korupsi, suap, dan kolusi.
Tak diragukan lagi.
- Kau akan buka? - Mundur, Bu Kim.
Mungkin saja bom.
Panggil petugas keamanan dahulu.
Jangan cemas.
Meski tak tampak, aku dulu bertugas di Divisi Marinir 1.
Aku Katak Panah Beracun.
Astaga.
Jangan sentuh itu.
Mundur, Pak.
Kubilang jangan sentuh. Itu milikku.
Ya, benar. Shin Seo-ri.
Ini hadiah kedua darinya.
Kedua?
- Apa yang pertama? - Obat herbal.
Dia buatkan untukku kemarin.
Tampaknya…
Dia menyukaiku atau semacamnya.
Kau tahu,
saat perasaan mulai tumbuh,
akan diikuti dengan rasa khawatir.
Itu bukan perasaan yang tumbuh. Kurasa dia benar-benar khawatir.
- Soal apa? - Kesehatanmu.
Khususnya…
Staminamu?
Ya, kurasa dia mengkhawatirkan itu.
Stamina?
Pak, omong-omong, perawat itu…
Ya, perawat itu.
Ada apa dengannya?
Kita sudah mengamankannya. Saat semua mereda,
dia akan serahkan diri.
Baiklah.
Mari minimalkan kerugian.
Setenang mungkin.
No comments yet. Be the first to leave one.