প্রথম 200টি লাইন।
SAYANGI RAMBUTMU
- Bagaimana sengatannya, Patience? - Lebih baik.
Entah bagaimana lebah bisa masuk ke roti lapis sarapanku.
- Ya. - Baiklah, aku pergi.
Kau bermain golf lagi.
Tidak, dan tolong berhenti menanyakan itu, Val.
Tidak, aku tak bermain golf, aku akan pergi ke Burning Man
dan hanya ini yang terpikir untuk kupakai di pesawat.
Kurasa aku akan telanjang saat di sana, jadi...
Aku bercanda, Val, aku membawa celana pendek.
Mark, mereka mengumumkan acara ini ditayangkan
dan aku ada Zoom pemasaran pukul 09.00.
Kau masuk ke sini untuk bilang.
"Aku akan ke Burning Man," di pukul 08.57?
Aku berharap meminimalkan jumlah drama
dengan batas waktu yang diberlakukan.
Jadi, ini akan terjadi, bukan?
Kau akan ke Burning Man dengan penjaga pintu kita?
Ya, aku sudah memberitahumu tiga pekan lalu.
Baik, kupikir itu seperti, "Aku akan mulai panjat tebing."
- Tidak akan pernah terjadi. - Val, aku harus pergi.
- Dengar... - Aku tak bisa menemukannya.
Jika kau ingin bepergian, kenapa tak pergi ke Pantai Timur?
Kunjungi Francesca.
Aku sudah menafkahi mereka
tak ada yang bisa kutawarkan secara emosional.
- Kau punya dua cucu. - Mereka tak menyukaiku.
Usia mereka dua dan lima tahun, Mark.
Tidak, maksudku Francesca dan Omar.
Ya, itu karena dia pikir kau tak merestui suaminya.
Memang tidak.
Mungkin itu sesuatu yang bisa kuatasi dengan bantuan ayahuasca.
- Baiklah. - Kau pernah memakai ayahuasca, Jane?
- Aku yakin begitu. - Dia belum pernah.
Ya, pernah.
- Lalu? - Luar biasa.
Itu tak membantu, Jane. Mark, kau seorang kakek.
Kakek-kakek tak pergi ke Burning Man.
Yang ini pergi. Lihat waktunya, pukul 09.00.
- Baiklah. - Aku mencintaimu.
Baiklah. Sampai jumpa. Tolong jangan mati.
Acaranya berjalan lancar, jangan mati sekarang.
"Pertunjukan berjalan lancar" lebih penting daripada kematianku.
Kau tahu itu tidak benar.
Sampai jumpa.
Jika memakai ayahuasca, dia mungkin hanya akan muntah selama tiga hari.
Baiklah. Terima kasih, Jane. Itu membantu.
Mulai.
- Halo! - Selamat pagi!
Aku sedang menonton potongan episode ketiga sekarang!
Benar juga. Sekarang?
- Ya! - Dia terus mengirimiku pesan.
- Arbor terobsesi. - Maksudku, ekspresi wajahmu, Val
saat tamu penginapan bilang.
"Ini tak seperti Eggs Benedict," lalu kau bilang...
"Ini Eggs Beth Benedict
- jadi, bagaimana?" - "Jadi, bagaimana?"
- Kau lebih tahu daripada aku. - Astaga, itu lucu.
Allassist benar-benar belajar, ya?
Sebenarnya, bukan, itu Evan.
Itu pria pendukung teknologi Allassist.
- Lucu, pintar. Ya, temuan bagus. - Baiklah. Siapa?
Ya, dia yang menulis lelucon itu
lelucon Eggs Beth Benedict yang kau suka
jadi, kurasa kita harus mencoba memasukkannya ke Writers Guild.
Kau tahu? Itu akan sangat bagus.
Aku hanya pemberi ide, tapi ini sebenarnya rapat pemasaran.
Jadi, aku yakin, Ridley, kau ada jadwal rapat, 'kan?
- Ya. Kampanye iklan. - Baiklah.
Aku tahu ini sudah 11 jam
tapi aku punya ide dan maaf, aku jatuh cinta dengan itu.
Mengerti? Jadi, ini dia, aku bendera, dan aku ditiup ke samping
bergantung di tiang bendera penginapan. Benar?
Manis sekali, seperti kaki yang menjulur, tertiup angin.
Seperti bendera negara bagian New England.
Kau di sana? Apa kau membeku atau...
Tidak, kami di sini. Itu bagus. Tapi ini yang kami pikirkan.
- Biarkan aku berbagi layarku. - Baiklah.
Baiklah, ya! Tidak, itu dia! Itu dia.
Jauh lebih baik, ya. Lupakan apa yang aku...
- Aku tak ingat berpose untuk itu. - Itu kecerdasan buatan.
Pada dasarnya itu poster Under the Tuscan.
Tubuh Diane Lane, tapi dengan wajahmu. Dan kami menyukainya.
- Kau tampak luar biasa. - Ya, bagus sekali.
Entah kenapa semua orang takut pada kecerdasan buatan.
Selesai! Berhasil! Aku menyukainya!
Billy di sini? Ya, aku tahu kantor ini.
Sangat membosankan. Wajah serius, Semuanya.
Lagi pula, kita terlambat. Memindai lebih lama dari dugaanku.
Menurutmu kenapa mereka ingin memindai citramu di kubah digital?
Entahlah. Seandainya ada pemeran pengganti? Kau tahu?
Pemeran pengganti melakukannya, lalu mereka... Tunggu.
Billy Stanton, 1205. Baiklah.
Pemeran pengganti melakukannya
lalu mereka menaruhku atau kulitku di atasnya.
Begitulah cara mereka melakukannya di film saat ini.
Mungkin mereka ingin memasukkanku ke film
dan mereka hanya berpikir ke depan.
Apa ada pemeran pengganti di sitkom?
Terkadang, ya.
Berjalan melewati pintu kaca, atau menjatuhkan kue
terpeleset lapisan gula.
Tapi menurutmu kenapa mereka tak mengizinkan kamera kita masuk
untuk merekam proses pemindaian?
Jangan sekarang, Jane. Aku terlambat rapat dengan Billy.
Hei, hati-hati! Aku di tangga.
Kau melakukan banyak hal di sini, Billy.
Apa itu kertas dinding dan lis dinding?
Aku sudah menunggumu selama tujuh menit.
Maaf, aku sedang dipindai di kubah digital.
Kenapa aku tak dipindai di kubah digital?
Entahlah.
Itu karena studio tak bisa untung dari mengeksploitasi citramu.
Baiklah, Jane. Begitu suram dan malapetaka.
Omong-omong. Jadi, di sinilah aku!
Agar kita bisa bicarakan hubungan kita, seperti pesan suaramu.
- Pesan suaramu, aku datang. - Kau mau air?
Apa, Sayang? Aku tak bisa... Aku sedang bicara.
- Dia tak mau air. - Ya.
- Ada yang mau air? - Tak ada yang mau air, Willa.
- Kurasa aku mau. - Baiklah.
Jane, ini pribadi. Mengerti?
Jadi, bisakah kau dan kamera tidak masuk?
Ini pribadi.
- Terima kasih. - Baiklah.
Kenapa kau harus memanggil mereka?
- Valerie Cherish? - Ya.
- Ini David Berkus. - Hai.
Aku meminta David melakukan sesi dengan kita.
David adalah terapis pasangan yang brilian.
Dan punya kamera.
Aku memproduseri episode perdananya sendiri.
Konten terapi pasangan sangat populer sekarang.
Benarkah? Ya, Billy, kau tak bisa tiba-tiba
menempatkanku di depan terapis... Dan berharap aku bicara.
Di acaranya.
Kau melakukan segalanya di depan kamera
tapi tiba-tiba tidak
saat itu menguntungkan kesehatan mental atau karierku.
Kau lihat? Ini yang kumaksud.
Maafkan aku. Siapa namamu tadi, Pak?
David Berkus?
Berkus, dekorator Oprah. Ya.
Tidak. Berkus, seperti aku, terapis.
Benar, ya. Kau tahu? Jane.
Mereka punya kamera.
Aku juga punya kamera.
- Bagus? Sudah siap? Bagus? Ya. - Ya.
Billy, aku tak punya waktu untuk ini.
Baik, kupikir kita hanya akan bicara sebentar...
Sebelum kau harus pergi ke sesi pengaturan waktu warna pukul 13.00.
Aku tak tahu apa pun soal pengaturan waktu warna pukul 13.00.
Kau ada di surel.
Produser eksekutif harus menandatangani potongan pilot
dan aku sedang latihan.
Jadi, itu sebabnya tak ada waktu. Jika kita punya waktu, kita bisa...
Kita bisa membahas ini.
Bagaimana Billy tampaknya kesulitan maju sebagai produser eksekutif.
Tak pernah membaca surel atau mendengarkan pesan suara.
Tak ada yang mendengarkan pesan suara.
- Agar jelas... - Bisa biarkan terapis bicara?
Aku ingin dengar Billy bicara tanpa diganggu.
Baiklah, semua orang sudah direkam.
Kalau begitu, suruh dia menjauh dari zonaku.
- Kau baik-baik saja? - Kau baik-baik saja? Baiklah.
Kita di tengah. Dan kita tenang.
Baiklah, kau bisa bangun?
Kau tak bisa merekamku dari sudut itu.
Val, ada hal-hal yang harus kau dengar.
Aku tahu, dan bicara sangat penting bagimu.
Itu sebabnya kita harus melakukan ini di siniarku.
Saat kita bisa mendapatkan sesuatu dari itu, untuk kita berdua.
Tapi sekarang kau harus menjadi produser eksekutif.
Aku tak bisa pergi.
Aku memesan Willa dan pacarnya setelah kita.
- Aku hanya punya air untuk kru kita. - Apa dia menelepon kita?
Ya, baiklah, tak apa-apa. Biar aku saja.
Aku akan mengatur waktu warnanya. Jadi...
Apa itu waktu warna?
Itu di mana mereka menghitung waktunya.
Baik!
Boleh kuberi tahu sesuatu? Kau karakter favoritku.
Dengar, Semuanya, maaf aku tidak datang kemarin.
Tapi aku harus mengatur waktu warna agar acara ini terlihat bagus.
- Kau tahu? - Baiklah.
Semuanya tolong tinggalkan ruangan kecuali para aktor.
Kamera juga.
- Ada apa ini? - Bisnis aktor.
Kau tidak perlu menyuruhku dua kali.
- Ayo, Semuanya. - Sudah pasti, yang paling berbakat.
Terima kasih.
Kau harus meninggalkan ruangan.
Baiklah. Cepat. Ayo cepat.
Kurasa kita semua bisa merasakan ada sesuatu yang tidak dikatakan
tentang bagaimana acara ini dibuat.
Aku tahu apa itu.
- Benarkah? - Ya.
Aku pernah tampil di acara seperti ini
dan itu tidak berhasil.
Ada acara kecerdasan buatan lain? Kau pernah tampil di sana?
No comments yet. Be the first to leave one.