Las primeras 200 líneas.
PARA PEMBUAT FILM BERTERIMA KASIH PADA ANGKATAN LAUT DAN KEMENTERIAN PERANG
ATAS SARAN DAN BANTUAN MEREKA.
MEREKA JUGA INGIN MENYAMPAIKAN PENGHARGAAN KHUSUS KEPADA
ANGKATAN DARAT, LAUT, DAN UDARA KERAJAAN YUNANI
SERTA KEPADA BANYAK DEPARTEMEN PEMERINTAHAN YUNANI LAINNYA
DAN KEPADA RAKYAT YUNANI, ATAS KERJA SAMA MEREKA,
KERAMAHAN, SERTA PERSAHABATAN SELAMA BERBAGAI ASPEK PRODUKSI DI YUNANI.
Yunani dan pulau-pulau di Laut Aegea
telah melahirkan banyak mitos dan legenda perang serta petualangan.
Batu-batu yang dulunya megah ini,
kuil-kuil hancur dan remuk ini,
menjadi saksi peradaban yang berkembang dan kemudian mati di sini...
dan para setengah dewa serta pahlawan yang mengilhami semua legenda itu
di laut dan pulau-pulau ini.
Namun, meskipun panggungnya sama,
kita punya legenda dari zaman kita sendiri,
pahlawannya bukan setengah dewa, melainkan orang biasa.
Pada tahun 1943, begini kisahnya,
2.000 tentara Inggris terdampar di pulau kecil Kheros,
kelelahan dan tak berdaya.
Mereka hanya punya seminggu untuk hidup.
Karena di Berlin, Markas Blok Poros
telah memutuskan untuk menunjukkan kekuatan di Laut Aegea
untuk mengintimidasi Turki yang netral agar mau berperang di pihak mereka.
Lokasi demonstrasi itu adalah Kheros,
yang tak punya nilai militer,
tapi hanya beberapa mil dari pesisir Turki.
Pasukan elite mesin perang Jerman, yang sudah beristirahat dan siap,
akan jadi ujung tombak serangan.
Pasukan di Kheros sudah pasti mati,
kecuali mereka dievakuasi sebelum serangan kilat.
Namun, satu-satunya jalur ke Kheros
dijaga dan dihadang oleh dua meriam besar rancangan baru yang dikendalikan radar
di pulau terdekat, Navarone.
Meriam yang terlalu kuat dan akurat untuk dilawan
kapal Sekutu mana pun di Aegea.
Intelijen Sekutu mengetahui rencana serangan kilat itu
hanya satu minggu sebelum tanggal serangan.
Kejadian di enam hari berikutnya menjadi legenda Navarone.
HARI PERTAMA PUKUL 02.00
PANGKALAN UDARA SEKUTU DI SUATU TEMPAT DI TIMUR TENGAH
Ya?
Maaf. Aku sedang mencari Komodor Jensen.
Aku Jensen.
Masuk, Mallory.
Kau terlambat.
Maafkan aku.
Pesawat kami diserang sejam lepas Kreta
dan kami mendarat di Alex dengan satu mesin, Pak.
Kudengar Jerman menaikkan harga buronmu
dan Andrea Stavros jadi 10.000 paun.
Apa kau merasa terhormat?
- Tidak, Pak. Bagaimana kau tahu itu? - Aku atasanmu.
Kau sudah bekerja 18 bulan untukku.
Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu.
Apa mereka bilang kau akan cuti?
Ya, Pak.
Maaf. Sayangnya itu tak benar.
Setidaknya belum.
Ini teman lamamu.
Sebaiknya kau menyapanya.
Halo, Keith. Kau tak berubah sejak Athena.
Halo, Roy.
Mari, Tuan-Tuan.
Barnsby,
mereka punya pendapat soal Navarone.
Kami mendengarmu di radio,
tapi sekarang kau bisa lebih jelas.
Akan kuperjelas.
Seperti yang terlihat, situasinya buruk.
Komandan Skuadron Barnsby, Australia.
Namun, kita mau kembali, bukan?
- Tentu! - Sesegera mungkin, tapi...
Hanya dengan satu syarat,
kami mau orang yang merencanakan ini
ikut bersama kami.
Lalu saat kami tiba,
kami akan mendorongnya dari ketinggian 3.000 meter tanpa parasut.
Benar sekali.
- Separah itu? - Parah?
Itu mustahil dilakukan.
Setidaknya dari udara.
Kau yakin soal itu, Komandan Skuadron?
- Ini penting. - Nyawaku juga!
Setidaknya bagiku.
Juga nyawa mereka
dan 18 orang yang mati malam ini.
Dengar, Pak,
pertama,
kau punya benteng tua di atas tebing sial itu.
Lalu tebing yang tinggi.
Bahkan guanya tak terlihat, apa lagi meriamnya.
Lagi pula, kita tak punya bom yang cukup besar
untuk menghancurkan batu itu.
Begitulah faktanya, Pak.
- Aku tahu cara mengenai meriam itu, Pak. - Masa?
Ya, Pak.
Kau isi pesawat dengan TNT,
lalu menabrak bunuh diri tepat ke gua itu.
Hanya ada satu masalah, Pak.
Menemukan pilotnya.
Aku mengerti.
Mungkin kau bisa pertimbangkan.
Terima kasih, Komandan Skuadron, dan Semuanya.
Aku tahu kalian sudah berusaha maksimal.
Maafkan aku.
Mungkin seperti dugaanmu, Mallory,
akulah bajingan yang mereka mau lempar dari ketinggian 3.000 meter.
Aku tak bisa menyalahkan mereka.
Aku tahu dari awal itu sia-sia, tapi harus dicoba.
Bagaimanapun, ini alasanmu dipanggil dari Kreta.
Jangan hilangkan, ya?
Baik, Pak.
Baik, waktu kita terbatas. Mari, Tuan-Tuan.
- Ada pertanyaan? - Hanya satu.
Kenapa aku?
Kau butuh marinir.
Pasti ada banyak orang yang sama baiknya denganku.
Ya, tapi kau punya kualifikasi khusus.
Franklin akan menjelaskannya. Ini idenya.
Pertama, kau bisa berbahasa Yunani dan Jerman.
Kedua, kau bisa bertahan hidup di wilayah musuh
satu setengah tahun.
Lalu, sebelum perang,
kau adalah pendaki gunung terhebat di dunia.
"Keith Mallory, si manusia lalat."
Langsung saja, Roy.
Intinya, kontak Pasukan Perlawanan kami di Navarone
mengatakan hanya ada satu titik
di sepanjang pantai yang tak diawasi Jerman.
Itu Tebing Selatan,
setinggi 120 meter dan tak bisa didaki manusia atau hewan.
Di situlah kau berperan.
- Itu juga idemu, 'kan? - Benar.
Aku mau kau membawaku dan timku ke sana,
ke puncak tebing itu.
Setelah itu, kau bisa memutar kapalmu,
mengambil cutimu,
dan kenaikan pangkat yang tertunda.
Baiklah.
Kau bisa lakukan?
Tidak. Dengan hormat kepada Mayor Franklin,
kurasa operasi ini gila.
Namun, itu bukan urusanku.
Urusanku adalah mendaki
dan sudah lima tahun aku tak mendaki.
Itu cukup lama.
Terlalu lama untuk tebing ini.
Lalu kau minta kulakukan di malam hari.
Aku bahkan tak mau coba di siang hari.
Baik, kalau begitu aku coba sendiri.
- Aku pernah mendaki. - Jangan bodoh.
Bahkan dengan keberuntunganmu, kau akan mati
- begitu juga timmu. - Jadi, operasi dibatalkan?
Tidak. Tak bisa dibatalkan.
Tak sekarang.
Mallory...
Ini harapan terakhir kita.
Jerman tak akan menduga
kita mengirim tim kecil selambat ini.
Rabu pagi depan, 2.000 orang di Kheros akan mati,
kecuali seseorang mendaki tebing itu.
Tak ada orang yang bisa kita dapatkan. Tepat waktu.
Jika ada, kau tak akan di sini sekarang.
Kurasa sudah terlambat memanggil Andrea Stravos dari Kreta untuk membantu.
Justru sebaliknya.
Kurasa kau akan menemukannya menunggu di hotelmu saat ini.
Kau memikirkan semuanya, ya, Pak?
Aku harus. Itu pekerjaanku.
Terima kasih, Keith.
Dengan senang hati.
Tak ada yang lebih kusukai daripada jebakan rapi.
Kau pasti mau tahu tentang timnya.
Sydney, bisakah kau bawakan kopi lagi?
Franklin menganggapnya sebagai tim terbaik.
Aku setuju dengannya.
Dia sangat ideal untuk tugas ini.
Dia sangat berpengalaman dan mahir.
Jangan malu, Roy.
Kau dan dia beruntung, bukan, Roy?
Jika kau bilang begitu.
Ya. Sungguh.
Bukankah Napoleon berkata,
saat seseorang diusulkan naik pangkat,
"Ya, aku tahu dia cemerlang. Namun, apa dia beruntung?"
Kaisar paham nilai keberuntungan
dan Roy tampaknya punya.
Maka jadikan aku jenderal.
Sabar, Anak Muda.
Ini Kopral Miller.
Profesor kimia, di kehidupan sipil.
Genius mutlak dalam bahan peledak.
Dialah yang meledakkan markas Rommel di Tobruk
tanpa merusak jendela panti asuhan di sebelahnya.
Dia yang terbaik.
Kami coba menjadikannya perwira, tapi ditolak.
Lalu "Si Tukang Jagal" Brown, mekanik kami.
Dia genius dalam mesin, peralatan, radio, dan sebagainya.
Dia juga yang terbaik dalam memakai pisau.
Dilatih di Spanyol saat perang saudara.
No comments yet. Be the first to leave one.