Esimesed 200 rida.
Sebelumnya Dalam Agatha All Along...
Kalian tahu, awalnya kita saling membenci.
Namun, sekarang...
Namun, sekarang?
Lilia, pikiranmu pergi ke mana?
Kau tidak apa-apa, Bu?
Waktu aku diusir dari setiap desa yang kulewati
karena memprediksi tragedi secara akurat?
"Jinakkan rasa takutmu."
Itu yang kita hadapi. Mimpi terburuk kita.
Dia mati! Mereka semua mati!
Mau lihat ke masa lalu atau masa depan?
Garis hidupmu bercabang dua.
- Apa? - Tarot Menara Terbalik.
Itu pasti tidak bagus.
Tommy!
Wanda dan Vision punya anak?
Si kecil pelari cepat
dan saudara pembaca pikiran.
Kalau kau bukan William Kaplan,
siapa kau?
Aku Billy Maximoff.
Tolong aku!
Tidak!
Apa yang terjadi? Tidak!
Kematian mendatangi kita semua.
"Kugandeng Tangan Kematian"
Kau bisa mimisan kalau berusaha sekeras itu membaca pikiranku.
Aku tak baca pikiranmu.
Baiklah.
Ajukan saja pertanyaanmu. Keras-keras.
Baiklah, di mana Rio?
Bukan pertanyaan itu.
Ada pertanyaan lain untuk pengasuh lamamu?
Itu alasanmu ikut Jalan Penyihir, bukan?
Aku mantan sahabat ibumu.
Akan kudapat yang kumau di akhir Jalan ini.
Dia bukan ibuku. Aku sudah punya ibu.
Apa Wanda Maximoff sungguh tiada?
Ya.
Tidak. Mungkin.
Kau lihat mayatnya?
Ya, lihat.
Ada lagi yang lihat?
Sulit dipastikan.
Jika mau jawaban jujur, tanya wanita jujur.
Itu berbeda.
Jalan selalu berubah-ubah.
Komentar ambigu lagi. Terima kasih.
- Dari pengalamanku, yang aku... - Dari pengalamanmu?
Tadinya aku yakin pengalamanmu akan jadi kunci kesuksesan kita.
Kita masih hidup!
Sukses!
Kini kuragu apa kau pernah ke Jalan Penyihir.
Klasik.
Tokoh ini berdasarkan aku.
Buktikan.
Kau tampak senang dengan penampilanmu.
Ya, kalau tulang pipinya cocok...
Menurutmu ini penting?
"Jalanmu kehabisan waktu."
Ini Tarot. Aku tahu ini, kurang lebih.
Aku akan meramal untukmu, kurasa.
Yang paling pas, ya sekarang.
Kereta Yang Ditarik...
- Kereta Kuda? - ...Kuda.
Ini tertulis di kartunya.
Benar. Jadi, jelas, kau meninggalkan suatu tempat,
dan kau membawa sphinx-sphinx yang mewakili...
Kemisteriusanmu.
Kau benar-benar berbakat.
Kartu ini jarang muncul untukku, jadi...
Aku akan coba kartu lain.
Tujuh Pedang.
Setidaknya kau sesuai tema.
Aku tahu yang ini, tentang penipuan dan pengkhianatan.
Benar dua-duanya.
Namun, ini terbalik.
Jadi, itu berarti sebaliknya.
Kau jujur?
Itu tidak mungkin benar.
Giliranku.
Tarot juga penipuan, sama sepertilainnya.
Tak ada sihirnya. Tak perlu keahlian.
Itu tak benar.
Ini soal intuisi. Tahu harus menarik kartu yang mana.
Ini tentang interpretasi, meramalkan maknanya.
Cap-cip-cup kembang kuncup!
- Pelan-pelan! Apa masalahmu? - Tidak!
- Giliranmu lancar sekali. - Ini permainan angka.
Kita lanjutkan sampai dapat kartu yang tepat di tempat yang tepat
atau pedangnya habis.
Entah sampai mana kau belajar Matematika di Salem, tetapi itu butuh waktu lama.
Kita masih punya waktu.
Andai Lilia di sini.
Aku tadi jatuh.
Kita berdua jatuh.
Kita di mana?
Kau jelas bilang kita harus mengikuti terowongan menjijikkan ini dan cari rak.
Rak?
Aku tak tahu artinya itu.
Aku juga, tetapi aku mendengarkanmu.
Mana Agatha? Mana Rio?
- Kau bilang mereka... - Jaka mengusir kita dari Jalan Penyihir.
Putra Scarlet Witch mengusir kita dari Jalan Penyihir.
Apa?
Jaka adalah putra Scarlet Witch? Bagaimana kau tahu?
Aku yang beri tahu kau.
Ya.
- Aku kotor. - Kau kotor.
Ya. Bagusnya, kita melakukan obrolan dari hati ke hati yang tulus.
Kita? Benarkah?
Baiklah, tidak sopan.
Lilia lima menit lalu takkan katakan itu.
Kau bilang ini bisa terjadi, tetapi sikapmu sangat jenaka.
Jenaka?
Eksentrik.
Jadi yang mana? Aku kelihatan jenaka atau eksentrik?
Agak kedua-duanya, kalau boleh jujur.
Alice, jangan.
Coba selamatkan Agatha.
Ya, aku suka rencana ini.
Namun, kita harus temukan bahan-bahannya dahulu, bukan?
Lilia, apa yang kau lihat?
Aku mengerti...
Kau sedang berkunjung.
Sudah berapa lama?
Berabad-abad.
Lama sekali. Bagimu.
Kita sedang belajar?
Pelajaran pertamamu.
Membaca daun teh.
Aku payah membaca daun teh.
Jangan konyol.
Ini kebohongan yang kau katakan dan terus katakan pada dirimu sendiri.
Karena itu benar.
Pilihan yang mudah.
Apa yang kau lihat, Lilia?
Kau bingung lagi. Tak apa-apa.
Aku tidak...
bingung.
Baik.
Tenang. Aku belum dengar mereka sejak stasiun kereta bawah tanah.
- Maksudku Salem Seven. - Aku tahu.
Kau pikir aku gila, ya?
Kau memandangku dan kau lihat nenek pikun tertatih-tatih.
Katakan apa lagi yang perlu kulihat.
Tidak, aku serius.
Katakan.
Kau menyebutkan celah dalam ingatanmu?
Aliran waktu adalah ilusi, Jen. Kebanyakan orang tidak tahu itu.
Saat aku kecil, aku mengalami hidupku tidak berurutan.
Aku sering mengalami penglihatan sekilas. Celah ingatan...
Sekarang terjadi lagi, dan ini...
Ini makin memburuk.
Kedengarannya gawat.
Kenapa memburuk?
Mungkin karena aku mendekati akhir.
Akhir Jalan Penyihir?
Karena kekuatan penuhmu kembali?
Aku tidak yakin ingin kekuatanku...
Kembali!
Agatha? Apa yang kau lakukan?
Kau tidak lihat nyaris tertimpa pedang di masa depanmu?
- Lilia, aku berusaha membantumu! - Apa? Ya...
Kau tidak apa-apa?
Aku kira kita baik-baik saja!
Kita tidak baik-baik saja, Jejaka.
Astaga, dia memakai nama lengkapnya.
Maafkan aku.
Seharusnya aku tak lampiaskan padamu. Kau tak layak di...
Aku tak sembunyikan sihirku darimu.
Aku tidak tahu aku bisa...
Aku tak membohongimu. Aku juga terkejut.
Andai aku tahu, aku pasti...
Ya,
tentu saja,
pasti kugunakan untuk menolong Alice.
Kau membaca pikiranku.
Hanya karena suaranya sangat keras. Jangan tersinggung.
Aku ingat kau sekarang.
Acara bar mitzvah-mu.
Lilia, tenanglah.
Jen, apa kau tidak marah?
Selalu. Namun, secara kolektif kita sudah lanjut.
Atas anjuranmu, Dory.
Mundur, Agatha. Harinya sedang buruk.
Aliran waktu adalah ilusi, benar?
Jadi, percayalah saat kubilang kau tak marah lagi pada anak itu.
Apa yang kau kenakan?
- Aku tak mau bahas. - Apa yang kukenakan?
- Ini merendahkan sekali. - Hei.
Fokus, Calderu. Tersinggungnya nanti saja.
Aku sedang membaca nasibmu.
Benar.
Di mana salahnya?
Entahlah, ramalanmu sepertinya tepat.
Aku senang kau di sini.
Karena kau membutuhkanku.
Penyihir sekali, bukan?
No comments yet. Be the first to leave one.