Az első 200 sor.
Aku tak merasakan apa pun.
Ayolah, ini wisuda.
Sudah baca tulisan Pak Carroll di buku tahunanku?
Dia mengejekku sepanjang tahun, lalu menulis,
"Kau mencerahkan suasana. Salam sayang, Pak Carroll."
Itu palsu sekali.
Dia mau mengakhirinya dengan baik.
Saat Pak Carroll menggunakan kata "cinta", aku mencari kata baru.
Lloyd, dia rewel.
- Aku akan mengajak Diane Court lagi. - Itu tak biasa.
Apakah bioskop cocok untuk kencan kedua?
Kencan pertama pun belum.
Sudah. Aku duduk di seberangnya di mal. Kami makan.
Itu makan, berbagi kejadian fisik penting.
Itu bahkan bukan indehoi.
- Apa itu indehoi? - Nongkrong sebagai teman.
Bukan. Indehoi itu bermesraan.
- Lalu apa itu kencan? - Kalau kencan?
Kencan itu sudah direncanakan, dengan kemungkinan adanya cinta.
- Lalu apa itu cinta? - Aku akan meneleponnya.
Diane Court tak mengencani anak sepertimu. Otaknya encer.
Dengan tubuh seperti hostes acara permainan.
Diane Court tak menyadari dia sangat cantik.
Itu bagus. Itu yang keren darinya.
Otak encer bersama otak encer.
Itu bisa kacau dan gen mereka akan membentuk hal yang sama.
Sebaiknya tak terlalu berharap, Lloyd.
Maaf. Kau lelaki yang sangat baik.
Kami cuma tak mau kau sakit hati.
Aku mau sakit hati!
"Ini hampir berakhir.
Kita sudah bersekolah bersama selama tiga tahun."
Mungkin kucoret saja.
Kenapa? Tak apa. Itu bagus.
SELAMAT DATANG DI SEATTLE SEHARI ATAU SEUMUR HIDUP
"Setelah mengikuti beberapa kelas di universitas tahun ini,
aku melihat sekilas masa depan kita, dan aku cuma bisa mengatakan,
'Kembali.'"
"Kembali." Ucapan yang bagus!
- Ayah suka? - Ya.
Kukira tak ada yang paham.
Tidak. Itu bagus.
- Ya? - Tenang saja.
Kau sangat lucu.
"Kembali," bagus!
Cukup. Sisanya untuk nanti.
Baiklah.
Aku sayang kalian!
Terima kasih.
Pesta di rumah Vahlere. Ada delapan tong.
- Sampai jumpa. - Terima kasih, Joe.
Joe!
Terima kasih.
Terima kasih, Joe.
Sekarang waktunya.
Aku tak bisa memperkenalkan orang ini tanpa mengatakan...
Sejarah. Oseanografi.
Menulis Kreatif.
Biokimia.
Kurasa kalian tahu siapa orangnya.
Kita akan mengingat murid ini yang mengatakan,
"Hei, Dunia! Lihat aku."
Memberi pidato berjudul, "Terbang Tinggi."
Nona Diane Court.
Terima kasih.
Dunia nyata...
Lihat matanya.
Kita semua akan memasuki dunia nyata.
Itu kata semua orang.
Tapi kebanyakan dari kita sudah lama ada di dunia nyata.
Tapi ada yang mau kusampaikan.
Aku melihat sekilas masa depan kita dan aku cuma bisa mengatakan,
"Kembali."
Ini hampir berakhir.
Kita sudah bersekolah bersama selama tiga tahun
dan kita melalui banyak hal.
Tapi karena kini dukungan dari SMA kita tidak ada lagi,
apa yang akan terjadi kepada kita?
Kita semua tahu jawabannya.
Kita mau bahagia, kuliah,
bekerja keras, mungkin berkeluarga.
Tapi bagaimana jika tak terwujud?
Aku harus jujur.
Harapan dan ambisiku sangat besar.
Tapi saat memikirkan masa depan...
sejujurnya,
aku sangat...
takut.
Baiklah. Siap.
Ya! Baiklah.
- Sampai jumpa di rumah. - Baik.
Demi kebaikan dirimu dan semua orang yang menyayangimu...
Baiklah, Bu.
- Jangan bicara dengan Joe. - Bu.
Hentikan. Paham?
- Dah. - Sampai jumpa, Bu Flood.
- Dah. - Dah, Bu Flood.
Baiklah.
- Lihat matanya. - Lloyd, menyerah saja.
Foto aku bersamanya.
- Lloyd. - Lakukan saja.
- Ayolah, itu memalukan. - Kumohon?
Baiklah.
Baiklah. Sini.
Tunggu sampai aku di depan...
Baiklah. Aku paham.
Hadiah wisudamu diparkir di sana.
Ayah serius? Itu?
- Lloyd? - Hei, Kak.
Maaf. Sam menyuruhku mengurus mahkota gigi baru,
ada tiga perawatan saluran akar gigi, dan Jason sakit tenggorokan.
Kau wisuda, tapi tak ada yang datang.
Tak apa-apa. Aku menelepon Ibu dan Ayah di Jerman.
- Rasanya seperti mereka hadir. - Harap maklum.
Hei, kau sakit tenggorokan, J-man?
Ya.
Ya, suara "Ya!"-nya tak bertenaga.
Kasihan.
Kenapa kau makan itu? Itu tidak ada nutrisinya.
Jangan terlalu keras. Batasnya garis merah itu.
Dari mana kau tahu harus gambar garisnya di mana?
Ini sudah cukup keras dan tetangga tidak mengeluh,
dari sanalah aku tahu.
Untungnya kau tak punya garis merah, J-man.
- Ya! - Ya!
Dia kembali!
Hei, Kawan, boleh pinjam Hey Soul Classics milikmu?
Tidak boleh, Kawan, kau harus beli sendiri.
Coba tinju. Ayo.
Bisakah kau menjadi pamannya, bukan teman bermainnya?
Astaga.
- Apa? - Gembiralah sedikit.
Seberapa sulit sedikit gembira,
lalu jadi gembira?
Astaga. Itu mudah.
Maaf Ibu dan Ayah menyuruhmu menampungku.
Jika merepotkan, aku akan pergi.
Tapi ingat ini, dulu kau seru.
Dulu kau gila, aneh, dan lucu.
Semua dalam maksud positif. Itu pujian.
Aku turut bersedih
karena T-I-M meninggalkanmu.
Tapi aku bukan T-I-M.
Dulu aku lucu, 'kan?
Ya.
Aku masih lucu.
Ayah, ajari persneling manual akhir pekan nanti.
Baik, janji. Jangan naik dulu.
Kemari sebentar. Ayah mau tunjukkan sesuatu.
- Ayah sedang apa? - Karena Ayah bukan cuma ayahmu,
tapi sekaligus temanmu... Ayah harus berikan dua hadiah.
Astaga. Ini berlebihan.
Cuma ini pemberian ibumu yang Ayah simpan.
Sekarang ini milikmu.
Silakan, bukalah.
Astaga. Aku tak butuh semua hadiah ini.
Aku tak tahu apa ada anak lain yang dapat mobil...
Astaga.
Ini indah.
Mereka bertepuk tangan untukmu, Nak.
Aku berdiri di sana menatap semua orang,
merasa mereka tak mengenalku.
Mungkin seharusnya aku tak ikut semua kelas itu di sekolah karena...
semua orang pikir aku...
- Sudahlah. - Tidak, sebentar. Tunggu.
Orang pikir kau apa?
Orang pikir aku kaku.
Diane, meski sejuta tahun berlalu, kau tak akan pernah kaku.
Semua perjalananmu lancar, Nak. Kau paham?
Semuanya lancar, seperti rencana kita.
Bertahun-tahun sekolah musim panas,
liburan yang kau lewatkan, semuanya lancar
- seperti rencana kita. - Hentikan.
Maaf.
Aku sayang Ayah.
Ayah juga menyayangimu.
Diane! Court!
Rasakan!
Ayo, J. Tendang.
Tendangan bagus. Kawanku. Ayo.
Kau akan ke penitipan anak, Nak.
Yang kuat, J-man.
Dia berantakan!
Aku akan ke kantorku.
Ibu baru cuci bajumu, 'kan?
Ya!
Tolong jangan berteriak.
Jangan ke telinga Ibu.
Jim Court.
Halo. Boleh bicara dengan Diane?
Maaf, Diane sedang tidak ada.
Baiklah.
Kau yang naik mobil Mustang itu?
- Bukan. - Naik Datsun?
- Bukan... - Naik truk?
Bukan, tidak juga. Sebenarnya, kau tak mengenalku.
Aku teman putrimu.
Aku duduk bersamanya kemarin di mal.
Aku mengendarai Chevy Malibu biru.
Aku tak pandai melakukan ini,
No comments yet. Be the first to leave one.