Le prime 200 righe.
Karakter, tindakan, tempat, pekerjaan, dan kejadian dalam serial ini hanyalah fiksi dan dibuat semata-mata untuk hiburan.
Tidak ada maksud untuk mendorong atau mempromosikan perilaku apa pun yang ditampilkan dalam serial ini.
Harap menonton dengan kebijaksanaan masing-masing.
Menurutku kalian harus memberi tahu orang-orang.
Cinta kalian tidak menyakiti siapa pun.
Keponakanku memang paling menggemaskan.
Sepertinya sekarang kamu sudah punya pasangan.
Tunggu.
Kenapa sekarang malah mundur?
Aku nggak bisa terus-terusan bohong sama Dokrak.
Terima kasih sudah mau bermain denganku.
Nenek! Nenek!
Rak.
Gimana keadaan Nenek?
Kami belum tahu, Pam.
Dia masih di ruang gawat darurat.
Jadi…
Apa yang terjadi?
Aku dan Nenek sedang main catur,
lalu tiba-tiba dia pingsan.
Titang langsung menelepon ambulans,
dan aku menghubungi Kawi.
Aku benar-benar minta maaf, Pam.
Ini salahku…
karena nggak menjaga Nenek dengan baik.
Maaf, Pam.
PERMOHONAN MAAF
Nenek.
Nenek.
Hm?
Aku sudah bicara dengan dokter yang menangani beliau.
Sejauh ini, tidak ada indikasi bahwa pingsannya disebabkan oleh
penyakit jantung koroner atau stroke iskemik.
Jadi untuk sementara ini tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan.
Syukurlah. Aku tadi sangat khawatir.
Tapi kalau begitu, kenapa beliau bisa pingsan?
Hasil pemeriksaan menunjukkan beliau mengalami anemia,
mungkin itu yang menyebabkan tubuhnya lemas.
Ada banyak kemungkinan penyebabnya,
jadi sebaiknya beliau menginap satu malam lagi untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Baik, kita lakukan saja.
Tidak perlu.
Aku hanya pingsan sebentar.
Sekarang aku sudah baik-baik saja.
Tidak, Nek, belum tentu.
Nenek tadi pingsan.
Tolong biarkan dokter memeriksa lebih lanjut.
Tolong, ya.
Nanti saja.
Aku benar-benar baik-baik saja.
Tapi kita harus memastikan, Nek.
Tidak mau.
Itu hanya buang-buang uang.
Aku nggak mau diperiksa, Pam.
Jangan khawatir soal biaya.
Aku bisa bayar.
Yang penting Nenek sehat.
Tolong, ya.
Jalani pemeriksaannya.
Aku mohon.
Baiklah, aku akan menjalani tesnya.
Asal kamu jangan menangis, Pam.
Kamu satu-satunya yang aku punya.
Aku nggak mau kehilangan kamu.
Aku nggak punya siapa-siapa lagi.
Tolong tetap sehat, Nek.
Tentu.
Tolong jaga beliau, Kawi.
Tentu.
Aku pastikan beliau mendapat perawatan terbaik.
Istirahatlah dulu.
Kawi, Nenek bakal baik-baik saja, kan?
Untuk sekarang, kita perlu terus pantau kondisinya.
Kalau ada perubahan, aku pasti kasih tahu.
Tolong jaga dia ya.
Untuk biaya pemeriksaan dan pengobatan,
biar aku yang urus.
Kamu yakin itu ide yang bagus?
Aku rasa Pam nggak bakal setuju.
Kalau kamu ada di posisiku,
kamu pasti juga bakal melakukan hal yang sama.
Setidaknya, biarkan aku membantu lebih banyak.
Dan jangan bilang ke Pam, ya? Ngerti?
Ini.
Makan lagi, ya.
Aku sudah kenyang, Pam.
Kenyang gimana?
Baru makan sedikit.
Ayo, tambah sedikit lagi.
Ini.
Nggak.
Aku ini sudah tua, bukan anak kecil.
Nenek nggak tua.
Masih muda kok.
Ayo, makan lagi ya.
Ya?
Satu suap lagi aja.
Ya?
Nggak, Pam.
Beneran, nggak bisa makan lagi.
Kawi.
Gimana rasanya pagi ini?
Jauh lebih baik, Dokter Kawi.
Kapan aku bisa pulang?
Kita tunggu sampai sore, ya.
Kalau semuanya baik-baik saja,
Nenek bisa pulang.
Untuk sekarang, istirahat dulu, makan,
dan minum obat yang kami berikan.
Dengar itu, Nek?
Dokter bilang harus makan.
Tapi aku nggak bisa makan banyak.
Perut rasanya begah.
Coba makan semampunya ya,
soalnya harus minum obat.
Iya, dokter.
Pam, boleh bicara sebentar?
Tentu.
Aku sebentar aja ya, Nek.
Biar aku cek tekanan darahnya.
Baiklah.
Kawi, ada yang harus aku khawatirkan?
Hasil CT scan-nya sudah keluar.
Kami menemukan tumor di pankreasnya.
Kemungkinan besar kanker.
Tumor kanker?
Maksudmu…
Nenek kena kanker?
Kita masih perlu pemeriksaan lanjutan dari spesialis buat memastikan.
Dokrak, kamu sakit, sayang?
Pam, kamu baik-baik saja?
Ada yang mengganggumu?
Terima kasih, Aek, sudah mengerti.
Aku bakal kasih kabar nanti.
Tentu.
Aku bakal bilang ke Pam,
kalau kamu sangat peduli padanya.
Mm.
Sampai nanti.
Dokrak.
Kenapa kamu di rumah sakit?
Kamu sakit?
Aku baik-baik saja.
Aku hanya datang menjenguk neneknya Pam.
Pam?
Ibu...
Ada sesuatu yang ingin aku katakan.
Apa itu, Nak?
Sebenarnya...
Aku dan Pam...
kami berpacaran.
Maaf kalau aku mengecewakan Ibu.
Kenapa kamu minta maaf, Rak?
Kamu tidak melakukan apa pun yang mengecewakan Ibu.
Ibu tidak keberatan...
kalau aku menyukai perempuan?
Rak...
Ibu...
Ibu ada janji dengan pasien.
Kita bicara lagi lain kali, ya.
Ibu ingin ngobrol lebih banyak.
Bilang ke Pam juga,
supaya Ibu bisa lebih mengenalnya.
Tentu, Bu.
Aku harus pergi sekarang.
Ibu, tunggu.
Maaf ya, Nak.
Kenapa minta maaf?
Ibu minta maaf...
karena...
tidak sering memelukmu seperti ini.
Maafkan Ibu.
Kenapa dia lama sekali?
Ada apa, Ayah?
Kenapa Ayah memanggilku ke sini?
Apa lagi kalau bukan soal itu?
Dia masih membuat masalah?
Kali ini soal anak itu.
Jadi, Ayah benar-benar tidak mau bicara dengan adikku?
Ayah masih ingat hari ini hari apa?
Ini ulang tahunnya.
Bukankah sudah kubilang?
Anak itu mungkin bukan anak Ayah.
Dan ingat,
kamu hanya punya satu adik, dan itu Dokrak.
Ayah masih memberikan uang untuk anak itu,
hanya karena kamu yang meminta.
Tapi kalau kamu mau berhenti peduli,
Ayah tidak masalah.
Ayah akan langsung mengirim uang kepadanya.
Dengan satu syarat.
Dia harus menjauh dari Ayah.
Jangan datang menemui Ayah.
Ayah tidak mau mengenalnya.
Baik, Ayah. Aku akan urus.
Ada yang lain?
Tunggu.
Kamu masih berhubungan dengan Dokrak?
Iya.
Bagaimana keadaannya?
No comments yet. Be the first to leave one.