ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
RAMA KRISHNAN
KATANYA KAU SUDAH PERGI.
KAMI TIDAK PERCAYA. KAU JUGA TIDAK PERCAYA.
CINTA ITU TUHAN
CINTA ITU KEPUASAN
CINTA ITU TERSEMBUNYI
CINTA ITU KEBENARAN SEJATI
Ada apa, Kak?
Kau belum pulang dan tidur di sini!
Apa kau mau masuk dan tidur bersamaku di gudang?
Akan kuberi pelepah daun kelapa.
Kau tanya padanya.
Saat pertama ke sini, ia hanya bayi!
Dulu ia tak sampai sebahumu.
Kini kau hanya setinggi bahunya.
Aku beri ia makan segalanya untuk menjadikannya setinggi ini.
Apa katamu, Bayi?
Bayi gendutku!
Bayi gendut!
Kakek, bawa dia dan pergilah. Ini sudah malam.
Ia pasti lapar.
Pergilah, Sayang.
Ayo, mari pergi!
Ayo…
- Kakek. - Ayo.
Kami akan tinggalkan kota ini.
Kami kehilangan rumah kami!
Hei! Mozhi!
Hei!
Kenapa dia berjalan pergi tanpa menjawab?
Hei, ambil ini. Ambil ini.
Aku akan pergi! Aku akan pergi!
Sebagai tulang belulang belaka Aku akan pergi!
Menuju jalan yang menyiksa, aku pergi!
Ke tempat jiwa kecilku yang bebas Menari dalam suka cita abadi!
Dari kampung halamanku, aku dipisahkan!
Dari rumah Yang dibangun dan dilindungi leluhurku
Aku dipisahkan!
Aku akan pergi! Aku akan pergi!
Sebagai tulang belulang belaka Aku akan pergi!
Menuju jalan yang menyiksa
Aku pergi!
Dari mana saja kau?
Kau bocorkan sesuatu pada orang lain?
Pak, kenapa kau pergi pada jam seperti ini
tanpa memberitahuku?
- Paman, kapan kau tiba? - Aku tiba beberapa saat yang lalu.
Kau dari mana?
Harta dan rumah kami sudah hilang.
Saat itu bukan lagi milik kami… Percuma…
Kenapa harus tinggalkan kampung halaman?
- Kau bisa menyewa… - Kau pikir, aku…
Kami sudah tinggal tiga generasi di rumah ini.
Lupakan saja, hal-hal tertentu tak bisa dijelaskan.
Bukan aku tak paham, Pak.
Tapi meninggalkan rumah ini adalah pukulan yang jauh lebih besar baginya.
Jaga dia baik-baik, Pak.
Mozhi,
aku akan mengajak Bhuvana ke Needamangalam.
Kenapa?
Tidak bisa tinggal di sini, 'kan?
Aku sudah menamatkan sekolah di sana, sesuai rekomendasi ayahmu.
Oh waktu apa kau bersikap adil?
Apa mataku menyaksikan ilusi?
Dosa apa yang sudah aku perbuat?
Hidupku dikelilingi tipu daya!
Pangkuan ibu yang menenangkan
Tercabik-cabik Oleh keserakahan sanak saudara
Segenap masa depan
Hancur berantakan!
Layang-layang yang menari Bersama benangnya!
Kini aku hilang arah Dengan benang yang putus!
Seperti pohon bunga yang tercerabut
Aku menjadi pemandangan tragis!
Seperti sungai Yang mengalir jauh di dalam hutan
Aku hilang arah!
Seperti burung yang berhenti Tinggal di sarangnya sendiri
Aku menjadi seorang pengungsi!
Aku akan pergi! Aku akan pergi!
Sebagai tulang belulang belaka Aku akan pergi!
Menuju jalan yang menyiksa
Aku pergi!
Apa yang akan kukatakan?
Bagaimana aku akan menghibur diri?
Kutukan maut ini!
Bagaimana aku akan mengubahnya?
Jalan persekongkolan ini
Yang penuh dengan kegelapan
Bagaimana aku akan meneranginya?
Aku pergi hari ini!
Tapi kapan aku akan kembali?
Saat aku pulang ke ambang pintuku sendiri?
Untuk menolongku pulang
Kapan aku akan menemukan jiwa yang jujur?
Tanpa orang-orang dari negeriku
Bagaimana aku akan hidup?
Aku seperti gelembung kesepian
Yang tak pernah mengalir bersama air!
Kau yang gembok.
Berikan pada mereka, Kak.
Penjahat busuk!
Aku kutuk mereka!
- Mereka tak akan tenang! - Sokkalingam!
Kami hanya kehilangan harta kami.
Kalian mendukung kami.
Lupakan saja. Kami akan menemukan cara.
Hal yang kau katakan mungkin benar!
Apa pun yang terjadi, mereka saudara kandungku.
Itu kutukan wanita, mereka hanya ikuti orang lain!
Mana bisa kita kutuk mereka?
Kakak, kau orang berpendidikan.
Aku tak bisa sedewasa dirimu.
Lupakan tentang diriku! Lupakan tentang dirimu!
Bagaimana dengannya?
Rumah ini adalah dunianya… Kota ini adalah segalanya bagi dia!
Kini tiba-tiba,
apa yang akan terjadi pada anakku?
Hei…
Kenapa, Kakak?
- Simpanlah. - Aku punya uang.
Untuk ongkos bus dan belikan dia sesuatu.
Apa kau marah padaku karena kita kehilangan rumah?
Tidak, Kakak.
Kalau kau di sini, aku akan mencari alasan dan datang menemuimu sepekan sekali.
Aku ragu apa bisa melakukannya.
Itu yang membuatku sedih.
Bhuvana.
Sayangku…
Apa aku harus pergi?
Tidak, aku akan ikut denganmu.
Kakakmu akan pergi ke Madras, Sayang.
Aku juga akan ikut.
Besok kau harus berangkat sekolah, jadi ikutlah dengan Ayah.
Saat aku pulang,
aku akan belikan kalian banyak cokelat dan baju dan kunjungi kalian, ya?
Aku tak mau cokelat.
Aku juga mau ikut denganmu.
Pasti ada sekolah di Madras,
kau dan aku bisa berangkat naik sepeda bersama.
Sini, Sayangku.
- Sini. - Ikutlah Ayah.
- Bhuvana… - Aku mau ikut Kakak…
- Kemarilah. - Aku mau ikut Kakak.
- Jangan menangis, Sayang… - Aku mau ikut Kakak.
Baiklah, Sayang.
Arul, kau berangkat dengan truk dan bawa semua barang.
Ibu, Kakak dan Ayah akan naik bus.
- Kau sudah memuat semua? - Ya, Pak.
- Periksa sekali lagi. - Baik, Pak.
Kami tak bisa ke sini lagi.
- Baik. - Berhenti jika perlu.
- Mau air atau sesuatu? - Kak.
Pak, kami lupa memuat sepeda putramu.
Sepeda?
Arul, kau membutuhkannya?
Kau akan menaikinya?
- Tidak, Ayah. - Tunggu.
Berikan itu pada yang butuh.
Tidak, biarkan saja.
Kakak,
kau ambillah ini atau berikan pada orang lain.
Kita berangkat?
- Ya, berangkatlah. - Baik.
K. SELVI
Hati-hati di jalan! Jangan berkecil hati!
Jangan berkecil hati, Nak!
Untukmu, kami akan menunggu!
Hati-hati di jalan Dan pastikan kau pulang!
Hati-hati di jalan! Pulanglah kapan saja kau mau, Nak!
Untukmu, kami akan menunggu!
Hati-hati di jalan Dan pastikan kau pulang!
UJUNG PERBATASAN THANJAVUR
Aku akan ke luar kota sehari.
Aku akan pulang besok pagi.
Dia akan beri makan kalian, ya?
Sebenarnya aku tak mau pergi,
tapi aku harus pergi!
Ini hanya sehari. Aku akan pulang besok.
Ya?
Hei!
Sudah siang, bukankah mau pergi?
Aku ragu harus pergi atau tidak.
Tidak apa-apa kalau suamiku tak pergi.
Aku senang dia ambil cuti.
Aku akan masak makanan favoritnya dan duduk mengaguminya!
Tapi kau kakak Bhuvana,
kau harus pergi.
Selama 20 tahun, kau menutup diri dari siapa pun,
kini mereka satu-satunya yang bisa kita sebut keluarga.
Bisa-bisanya kau bimbang untuk pergi ke acara mereka?
Ini bukan masalah bagimu.
Bahkan setelah ini, kau akan tetap sama…
Sendirian
dan marah.
Tidak ada yang salah,
tapi kau punya putri, semoga kau ingat itu.
Dia tak akan punya bibi, paman, dan sepupu kelak.
Hanya akan ada kita, kau tak keberatan dengan itu?
Ada anjing, kucing, kakaktua, dan masih banyak lagi, 'kan?
Apa kau takut pulang ke kampung halamanmu?
No comments yet. Be the first to leave one.