ആദ്യത്തെ 190 വരികൾ.
Sebelumnya di Ghostwriter...
Aku Ruben. Anak baru.
"Berkumpul Bersama."
- Apakah ada lagi yang lihat? - Ya. Chevon.
- Apa artinya? - Ini hantu.
Mungkin kita berhalusinasi.
Maaf. Kau tahu pukul berapa?
Ada kelinci bicara yang cuma dilihat kita.
Alice's Adventures in Wonderland, salah satu buku kesukaan nenekmu.
Kurasa kelinci dari buku ini lolos.
- Jadi kita menangani... - Penulis hantu. - Jadi kita menangani... - Penulis hantu.
Kejutan!
Siapa kau?
Siapa aku?
Kurasa pertanyaan lebih baik itu, "Apa aku seperti perkiraanku?"
Itu tak masuk akal.
Ya atau tidak.
- Tidak. - Atau ya?
Maaf. Ratu yang mengutusmu?
Ratu? Bukan.
Jadi kalian tak diundang dan kasar.
Masuklah.
Isi cangkirnya.
GURU TERBAIK SEDUNIA!
Aku tak ada waktu untuk ini.
Ini pukul 18.00. Waktu minum teh.
Ini pukul 18.00. Aku harus temukan ratu.
Bukan pukul 18.00. Sebenarnya 15.30.
Paham? Cuma waktu.
Rambutmu, ingin dipotong.
Hei. Kenapa kau?
Aku gila tentu saja!
Jangan cemas, kita semua gila di sini.
Aku jelas jadi gila.
Jadi, apa acaranya?
Kita merayakan akhirnya lolos dari cengkeraman ratu.
Aku tak tahu di mana ini. Tetapi aku tahu tempat ratu tak ada.
Asal tahu saja, aku tak merayakan,
cuma menunggu hingga ratu kembali.
Dia memimpin seluruh Negeri Ajaib.
Ini bukan Negeri Ajaib. Ini SMP.
Astaga. Aku harus segera ke Negeri Ajaib.
Baiklah. Seka mulutku.
Ini dia.
Tidak sebelum kau minum teh.
Tetapi aku sudah minum teh.
Apa? Aku...
Hei, kau menipunya.
Aku bukan bertanya "di mana" tetapi "kenapa."
Maka aku bertanya, kenapa kau di sini?
Pasti ada cara lebih mudah untuk menanyakan itu.
Kami tak yakin. Itu misteri.
Misteri? Aku suka misteri! Kita perlu petunjuk.
Hei, kau tak bisa ambil barang yang bukan milikmu.
- Itu... - Bacakan dongeng.
Baik. "Cara kerja benak manusia telah memukau..."
- Membosankan! - Baiklah.
- Petunjuk lagi. - Hei, berikan itu.
Kataku, kembalikan.
Ayolah. Itu ulanganku.
Ayolah. Aku perlu itu.
Kumohon. Astaga.
- Aku perlu itu. - Ini sia-sia.
Mungkin kita harus pergi.
Kita tak pergi ke mana-mana.
Aku tak pernah lihat Kepala Sekolah Fong marah.
Sungguh? Dia selalu marah.
Ya, tetapi tak pernah denganku.
Maaf. Sedang apa kau?
Aku mengunduh Alice's Adventures in Wonderland.
Buku ini sangat aneh.
Dan lihatlah.
Ada pesta teh.
Itu pria yang berkata dia gila.
Dia memang gila. Dia Mad Hatter.
- Aku tak pernah baca buku ini. - Aku juga.
Kita harus baca. Dengan begitu kita pecahkan misteri ini.
Kalau begitu, bangun. Aku pembaca yang cepat.
Baik. Intinya, ada gadis bernama Alice
yang jatuh ke lubang kelinci, bertemu semua tokoh aneh ini,
lalu menyadari semua itu mimpi.
Aku melewatkan sesuatu?
Lebih dari itu. Intinya jadi dewasa tetapi tetap berjiwa anak.
Misalnya, tak kehilangan bagian diri kita yang bisa bayangkan hal gila.
Benar. Tentu. Itu juga.
Aku suka Alice. Aku akan berteman dengannya.
Bagus, Donna. Kenapa Penulis Hantu lepaskan para tokoh ini dari buku?
Harus kita tanya.
Penulis Hantu, kau bisa dengar kami?
Hantu tak bisa, seluruh kota bisa.
Hantu cuma bisa berkomunikasi dengan tulisan.
Ada yang punya dua dolar?
Terima kasih.
Kau lakukan apa?
Seperti di toko buku. Penulis Hantu gunakan jus Donna untuk tulis pesan.
Ayo. Lakukan sesuatu.
Aku kehabisan ide.
Kau berutang dua dolar.
Kami tahu Penulis Hantu lepaskan tokoh dari buku.
Harus cari cara untuk kembalikan mereka.
Kita harus cari Alice.
Perhatikan, Donna. Tak ada Alice di sini.
Ini disebut Alice's Adventures in Wonderland.
Dia pahlawan buku. Dia pasti ada di sekitar sini.
- Aku tak bisa urus ini. - Ayo. Ini ide bagus.
- Dia benar. - Tidak.
- Dia benar. - Aku yang pintar di keluarga.
Cukup. Pulanglah.
- Ayolah. - Tak mau.
Kata Ibu aku memimpin, aku tak bisa urus kau saat ini. Pergi!
Aku terlambat. Kenapa selalu begitu?
LAB ILMIAH
Di mana itu?
Hei. Jangan begitu. Kau merusak tanaman.
Aku mencari jalan pulang. Aku terlambat.
Ya, aku tahu. Kau beri tahu sejuta kali.
Juga, aku baca bukunya.
Buku apa?
Sudahlah. Kau mencari lubang kelinci
agar bisa temui ratu sebelum dia berteriak, "Kupenggal kau."
Astaga.
Kau kira dia akan memenggalku karena terlambat?
- Tidak. Aku tak berniat membuatmu kesal. - Aku harus... Sudah waktunya...
Halo?
Aku di bawah sini. Halo?
Kau bisa melihatku? Tolong aku. Halo!
Halo. Tolong aku.
Tolong!
Itu Alice.
Aku tak bisa mendengarmu. Bicaralah.
Aku tak tahu agar bisa besar.
Cobalah berteriak keras-keras.
Sudah.
Tunggu. Di buku, Alice gunakan kipas agar jadi kecil.
Halo. Namaku Alice.
Aku tahu siapa kau. Tunggu. Apa katamu tadi?
Aku tak tahu cara jadi besar.
Benar.
TOKO BUKU BARU & BEKAS - TUA & LANGKA
BUKU VILLAGE DIDIRIKAN 1972
Ya, tetapi dia masih adikmu. Kau jangan jahat dengannya.
Kau tak paham. Donna sulit diatur.
Aku yakin kau sempurna.
Ayah. Maksudku bukan renovasi lengkap.
Maksudku kita bisa memperbaiki di sini.
Hai. Seperti kursi tua bobrok ini.
Sudah di sini sejak aku seusia Ruben. Harus disingkirkan.
Ini tokoku, aku yang putuskan perubahannya.
Kursi tetap di sini.
Asal tahu saja, ibumu benar. Kursi itu menjijikkan.
TINGGALKAN PESAN!
Lihat.
Ini asyik.
Kau tampak seperti perkiraanku. Kecuali lebih kecil.
Kau sangat aneh, Donna. Tetapi aku menyukaimu.
Aku pun menyukaimu.
Bagaimana kita keluar dari sini?
Biasanya kakakku mencariku.
Kini dia tak mau bicara denganku.
Dia tak menjawab.
Kau tanya ibumu? Donna tak pulang?
Tidak. Harus karang kisah agar ibuku tak cemas...
Tak perlu cemas, bukan?
Serius? Tentu harus cemas.
Kenapa hantu tulis "Donna" lima kali?
Benar, aku paham.
Ada cara kau bisa melacak telepon adikmu?
Sebenarnya, ya.
Ponselnya sering hilang, orang tuaku pasang aplikasi lokasi.
- Dia di sekolah. - Ayo ke sana.
- Orang aneh lainnya. - Itu kakakku.
Curtis!
Dia tak bisa melihat kita. Lari!
Ini telepon Donna.
Ya. Tetapi di mana Donna?
Tak bagus.
Semuanya, ke kantorku. Sekarang.
Bagaimana kakakmu selamatkan kita?
Kurasa dia tak bisa.
Ratu?
"Ratu" keterlaluan, Chevon. Jangan coba menipu agar lolos.
Aku mau tahu siapa yang gali tanaman.
Aku?
- Ruben yang salah? - Bukan. Dia tunjuk kelinci.
Benar.
Kurasa maksudnya mungkin kelinci
menyelinap ke ruang ilmiah untuk mencari wortel.
Aku coba temukan ratu. Ratu terbaik di seluruh negeri.
Sudahlah. Kau memalukan.
Ada yang punya kisah lebih baik daripada kelinci?
No comments yet. Be the first to leave one.