ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
"Reborn Rookie."
Sekarang kamu percaya padaku?
Aku takut.
Aku masih tidak percaya meski sudah melihatnya sendiri.
Apa ini masuk akal?
Kenapa kamu ini? Ini baru permulaan.
Kamu harus menepati janji ayahmu.
Ayo kita rebut Choiseong dari Kang Jae Gyeong dan Jae Seong.
Bersamaku.
Ini aku yang simpan.
Karena kita butuh bendahara.
Jadi, sekarang kita satu tim?
Aku akan terus mengawasimu. Jangan lengah.
Sifatnya yang pencuriga menurun dariku.
Kata Komisaris An, jasad Direktur Song tidak ditemukan di mobil,
alat peledaknya sudah diamankan,
dan kasusnya akan ditutup sebagai kecelakaan mobil rusak.
Song Nam Hun si berengsek nekat itu berani-beraninya menipuku?
Akan kuperiksa.
Apa Direktur Song bertindak sendiri, atau suamiku juga terlibat.
Anjing yang biasa hidup di kandang takkan pergi jauh meski dilepaskan.
Jangan meremehkannya, kecuali dia punya kalung baru.
Suamimu mungkin terlihat naif, tapi dia keturunan Kang Yong Ho.
Manajer, pembukuan menumpuk, tapi kedua pegawai baru cuti.
Kami bekerja keras di sini, kenapa malah mereka yang berlibur?
- Benar. - Tolong marahi mereka, Pak Manajer.
- Pak Manajer. - Pak Manajer.
-Tolonglah. -Pak Manajer.
Baiklah.
Hwang Jun Hyeon, dasar anak itu! Karena kumanjakan, dia jadi begini?
Dia berpengaruh buruk pada Casey. Benar.
- Benar-benar membuat marah. - Benar.
- Benar. - Apa yang kalian lakukan?
- Kami... - Selamat siang, Pak Direktur.
Direktur, ada apa kemari?
Manajemen perusahaan alih daya
akan menjadi tanggung jawab Divisi Dukungan kita.
Jumlah personel juga akan ditambah.
- Kerja bagus, Tim Material! - Terima kasih.
Terima kasih.
- Kerja bagus, Manajer Park. - Ya, terima kasih.
Kalian sudah lama tidak makan daging, 'kan?
Tentu saja kami sangat senang.
- Asyik. - Tapi, mana biang keladinya?
- Dia sedang ke toilet sebentar. - Nanti pastikan dia datang.
- Tentu saja. - Dia itu barang langka.
Bina dia dengan baik agar tidak direbut orang lain.
Hwang Jun Hyeon sangat patuh pada perkataanku.
- Baik, sampai jumpa nanti. - Baik, silakan, Pak.
- Silakan, Pak. - Kalau begitu, silakan.
- Pak Manajer. - Tidak bisa.
- Aku tidak berminat. - Apa kita harus pergi?
Ayo kita makan-makan!
Kalau dia tahu uang yang susah payah kurebut itu hilang,
pasti ekspresi Na Byeong Mo akan menarik untuk dilihat.
"Manajer Park Bong Gi."
Aduh, ada apa lagi.
"Manajer Park Bong Gi."
- Ada apa? Hari ini aku cuti. - Cuti apanya!
- Cepat kemari. Ada makan malam tim. - Bagaimana? Aku tak tahu di mana.
Halo?
Halo?
Aduh.
- Di sini. - Hei, kamu sudah datang?
Sini, sini, sini.
Baiklah.
Aku yang traktir, jadi makanlah sepuas kalian.
- Akan kami nikmati. - Akan kami nikmati.
Pesan daging sapi!
Dan tolong penuhi meja ini dengan samgyeopsal berkualitas.
Ya, tolong berikan! Aku akan makan dengan nikmat.
- Samgyeopsal seperti daging sapi... - Samgyeopsal lagi.
Aku benci sekali makan malam tim wajib seperti ini.
Kalian semua sudah bekerja keras mengosongkan gudang.
- Ayo, isi semua gelasnya. - Baik, baik, aku...
Ya, tolong tuangkan untukku.
Kang Somaek.
Aku dengar racikanmu yang paling enak?
Aku memang jago meraciknya.
Memang hebat.
Akan aku lakukan sekali lagi.
- Bersulang! - Bersulang!
Sungguh kebanggaan keluarga.
- Somaek lagi. - Ya, tunggu sebentar.
Soju, soju, cepat, cepat.
Teruslah seperti ini saja. Aku akan mendukungmu habis-habisan.
Ini.
Apa ini? Nanti lengan Direktur bisa pegal.
Aku juga jago sekali memanggang daging.
Somaek ini enak.
Hei "Somaek", gelasmu sudah kosong.
Acara makan kantor juga bagian dari pekerjaan, tahu?
Baru diangkat jadi pegawai tetap sudah mulai mengendur.
Baik, akan aku camkan.
Ayo, lebih cepat lagi. Kalau begini, kapan ronde kedua?
- Percepat! - Ayo, kita percepat.
Percepat!
Ayo.
Sebaiknya kita menuang minuman kita sendiri.
Apa semua orang tidak punya tangan atau kaki?
Memangnya dia bekerja di sini untuk memanggang dan menuang minum?
Apa ada yang menuangkan minuman untuk Casey di sini?
Kenapa kamu ini?
Jun Hyeon, kamu mabuk?
Ada apa dengan kalian berdua?
Baru masuk kerja sudah saling lirik. Tidak boleh begitu.
Dia hanya bertindak berlebihan karena kami rekan seangkatan.
Diamlah, sungguh.
- Direktur Kwon. - Ya.
Acara ini mulai membosankan. Bagaimana kalau kita adu minum saja?
Yang menang akan dikabulkan satu permintaannya.
Permintaan? Boleh juga.
Baiklah, mau bertanding pakai apa?
Baiklah, dengan ini, Direktur kita, Kwon Beom Sik,
dan penantang kita, Hwang Jun Hyeon!
Kita akan memulai permainan mengabulkan permintaan.
Bagus!
Bagus sekali.
Kalau begitu, apa permintaan Direktur Kwon?
Jika aku menang,
mulai sekarang, tiap makan malam wajib ikut ronde ketiga denganku.
Ronde ketiga! Asyik!
Bagus sekali.
Kalau begitu, apa permintaanmu, Jun Hyeon?
Mulai sekarang, acara makan kantor dilarang.
Apa?
Satu jam makan samgyeopsal murah dan mendengarkan cerita golf.
Maksudku, jika terus seperti ini, lebih baik makan malam ditiadakan.
Atau lebih baik berikan saja uangnya.
Benar-benar...
Generasi MZ sekarang mengerikan. Berani menatap dan blak-blakan.
Kalian, berdiri di belakang orang yang kalian pikir akan menang.
Aku akan berikan bonus tunai untuk tim pemenang.
Level Direktur kita beda. Kalian dengar? Sudah putuskan?
Ya, silakan ke belakang orang yang menurut kalian akan menang.
Silakan ke belakang orang yang kalian rasa akan menang,
lalu berdiri di sana.
Direktur Kwon itu jago minum. Tak ada yang bisa mengalahkannya.
Astaga, dia langsung habiskan satu botol.
Kwon Beom Sik, menangkanlah!
Kamu yakin tidak apa-apa?
Beom Sik kita sudah besar rupanya.
- Namamu Kwon Beom Sik? - Ya, Pak Pimpinan.
Dia baru saja dipromosikan menjadi Direktur Mulsan, Ayah.
- Pak Pimpinan. - Ambil gelasku. Minumlah.
Suatu kehormatan, Pak Pimpinan.
Kenapa tidak ada satu pun orang yang becus?
Hebat sekali dia. Rona wajahnya tak berubah.
Orang pilihan memang berbeda.
Aku baru pertama kali melihat Direktur mabuk.
- Mau tambah sebotol lagi? - Hwang Jun Hyeon...
Kurang ajar kamu.
Ada apa ini?
- Hwang Jun Hyeon! Hwang Jun Hyeon! - Hwang Jun Hyeon! Hwang Jun Hyeon!
Baiklah, yang mau minum lagi silakan lanjut minum,
dan yang mau pulang, silakan. Ya? Mari kita sudahi. Ayo.
- Apa boleh boleh pulang? - Tentu, boleh pulang.
- Katanya boleh pulang. Ayo. - Boleh pulang.
Sudah cukup, bukan?
- Apa Direktur baik-baik saja? - Direktur.
Sekali lagi kamu ikut campur, habis kamu.
Kepala, kepala, awas kepalanya.
Ya.
- Mohon bantuannya. - Awas kakimu.
- Bu Direktur, hati-hati di jalan. - Aduh. Ayo.
- Kerja bagus. - Silakan pulang.
Sungguh - Selamat jalan.
Ya.
Pak Manajer! Sadarlah!
Pak Kepala!
Mau coba berdiri sambil berpegangan padaku?
- Coba berdiri begini. - Aku tidak apa-apa.
Di mana rumahnya?
- Mana kutahu. - Coba telepon istrinya.
Istri dan anak-anaknya di luar negeri.
Kalau begitu, tinggalkan saja dia.
Dia bisa mati kedinginan.
Pak Kepala. Ya ampun.
Jun Hyeon.
Bapak sudah sadar?
Apa yang terjadi?
Tempat apa ini? Bagus sekali. Ini di mana?
Karena aku tidak tahu rumah Bapak, aku membawa Bapak ke tempatku.
Kamu?
Kamu tinggal di sini?
Sungguh?
Jun Hyeon. Kamu tidak boleh begini.
Aku tak tahu berapa kompensasimu dari Choiseong,
tapi kalau kamu boros seperti ini, uang itu akan habis sekejap.
Hidup ini banyak sekali urusannya. Nanti kamu menikah, punya anak...
Memiliki anak itu memang sebuah berkah,
tapi biayanya sangat besar. Kamu harus berhemat, mengerti?
Kamu harus sadar dan berpikir jernih.
Sekarang juga kemasi barangmu.
Keluargaku di luar negeri, semua kamar di rumahku kosong.
Tinggallah di sana. Biayanya 400 dolar sebulan.
Baiklah, 300 dollars sebulan. Tidak bisa kurang lagi.
Gantinya, tagihan kita bagi dua. Setuju?
Ayo, cepat kemasi barangmu.
Tempat ini milikku.
No comments yet. Be the first to leave one.