ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Selamat pagi, Ayah.
Jadi, kau sudah minum obatnya?
Ya, aku tersedak sedikit, itu sebabnya aku batuk.
Kemana saja kau, Ilyana?
Dari pasar, Ayah.
Yang dekat dermaga. Aku membeli makanan untuk makan siang kita.
Tapi kau pulang lebih cepat hari ini. Kenapa kau lama sekali?
Jangan bilang...
Kau membawa perahuku lagi, kan?
- Bukankah sudah kubilang... - Ayah...
Jika aku tidak membawa perahu itu, kita akan mati kelaparan.
Aku perlu mendapatkan uang
agar bisa membeli makanan
dan obatmu saat kau masih sakit.
Jangan khawatir. Setelah kau lebih sehat,
kau bisa membawa perahu itu keluar lagi.
Aku tidak menghentikanmu dalam mencari uang.
Aku hanya mau kau mencari pekerjaan lain.
Bukan jadi tukang perahu.
Di manakah itu, Ayah?
Di Manila?
Di suatu tempat yang jauh?
Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu saat aku sedang bekerja?
Jangan khawatirkan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.
Kau terus mengatakan itu.
Aku lebih suka tinggal di sini agar aku bisa menjagamu.
Osang, ayahku makin sulit diatur akhir-akhir ini.
Begitulah keadaan orang tua pada umumnya.
Setidaknya ayahmu belum pikun.
Ilyana, Gabo datang.
Ilyana, aku akan mampir ke tempatmu sore ini.
Ayahku mau aku memberikan sesuatu untuk ayahmu.
Gabo, makan singkong dulu.
Ini lembut dan renyah.
Tidak, terima kasih. Aku mau ke dermaga untuk memperbaiki perahuku.
Sampai jumpa, nona-nona.
Apa yang tidak kau sukai dari Gabo?
Lihat, dia punya tubuh yang bagus, wajah yang tampan,
aku yakin dia wangi setelah mandi.
Dia baik, sopan dan penyayang.
Apa lagi yang kau inginkan?
Tapi, dia tidak merayuku.
Apa maksudmu?
Dia terus datang ke rumahmu
dan selalu membawa sesuatu untuk ayahmu, kan?
Mungkin dia tertarik pada ayahku, bukan aku.
Tapi serius,
kita berjuang dalam hidup
kita masih merawat orang tua kita.
Apa yang akan terjadi jika kita punya pasangan?
Kau dan standar tinggimu.
Hati-hati, jangan terlalu pilih-pilih.
Kau bisa tidak dapat siapa pun.
- Pak Roden? - Gabo, masuk.
Ayahku mau memberikan ini padamu.
Sampaikan terima kasih. Katakan dia seharusnya tidak perlu repot-repot.
Ilyana, tolong ambil.
- Yang ini untukmu, Ilyana. - Terima kasih.
Silakan duduk dulu, agar kita bisa ngobrol.
Terima kasih.
Bagaimana kabar orang tuamu? Mereka baik-baik saja?
- Untungnya, mereka baik-baik saja. - Syukurlah.
Sementara aku, selalu sakit dan mudah lelah.
Asalkan kau makan dengan benar dan tepat waktu.
Dan beristirahatlah secukupnya saat kau lelah,
kesehatanmu akan kembali.
Jika saja aku bisa beristirahat sepuasnya.
Jika aku tidak bekerja, kami tidak akan punya apa pun untuk dimakan
Bahkan ayahku sudah lelah menjadi tukang perahu,
Jadi, dia membiarkanku mengambil perahunya.
Ilyana, kau belum selesai? Hiburlah Gabo.
Masih banyak yang harus kucuci dan simpan, Ayah.
Tidak apa-apa, Pak Roden. Istirahatlah. Aku akan pergi.
Aku akan mampir lagi.
Kau yakin? Kau belum sempat bicara dengan Ilyana.
Selalu ada waktu berikutnya. Aku akan pergi.
- Oke, terima kasih lagi. - Ilyana...
Sampaikan terima kasih pada ayahmu.
Katakan padanya aku akan menebusnya lain kali.
Tentu saja. Terima kasih.
Kenapa kau tidak menghibur Gabo?
Dia tidak pernah berbuat apa-apa, hanya bersikap baik padamu.
Ayah, kau tidak menyadarinya?
Gabo bicara padamu saat dia ada di sini.
Saat dia bersamaku, dia hampir tak bicara sepatah kata pun.
Itu karena saat dia ada di sini,
kau tidak memberinya kesempatan
untuk melakukan percakapan yang tepat.
Dia merayumu, tapi kau terus menghindarinya.
Kau selalu sibuk dengan hal lain.
Ayah, jika dia benar-benar merayuku,
dia bisa saja mengatakan terus terang.
Tapi tidak pernah.
Bagaimana dia bisa memberitahumu jika kau tidak mau menghadapinya?
Mungkin sebenarnya dia mengejarmu, bukan aku.
Ilyana, jangan sok pintar.
Pergilah ke kamarmu dan istirahatlah.
Berhentilah membuat dirimu stres pada hal yang tidak penting, Ayah.
Itu bukan hal yang tidak penting. Itu hidupmu.
Kau tidak mau menikah?
Menikah?
Tak ada seorang pun yang merayuku.
Bagaimana mungkin ada orang yang merayumu jika kau sendiri tidak memperhatikan?
Kaulah yang disukai Gabo, bukan aku.
Kau perempuan keras kepala...
Kau datang dari tempat Ilyana lagi, kan?
Yang tidak aku mengerti adalah aku sudah mendekatinya dengan benar.
Kenapa dia tidak memberiku kesempatan
mengatakan bagaimana perasaanku sebenarnya?
Mungkin dia tidak menyukai gayamu.
Kau melakukan seperti yang dilakukan orang-orang dulu.
Aku menghormati Ilyana dan Pak Roden.
Mungkin rasa hormat bukanlah yang dicarinya dari seorang lelaki.
Mungkin dia menyukai lelaki yang sedikit kasar.
Dia bukan perempuan tipe seperti itu.
Perempuan macam apa dia?
Dia tidak sepertimu.
Kenapa? Perempuan macam apa aku?
Permisi, Nona. Di mana tukang perahunya?
Dia pulang sebentar untuk makan.
Dia akan segera kembali.
Bagaimana dengan yang ini?
60 peso pulang pergi per orang. Ada berapa orang?
Hanya aku.
Bisa dicarter?
Tentu. Biayanya 600 peso untuk perjalanan pulang pergi.
Aku hanya jalan satu arah. Berapa biayanya?
Oke, 400 peso kalau begitu.
Baiklah.
Nona, di mana tukang perahunya?
- Aku. - Kau?
Kau serius?
Jika kau tidak mau ikut denganku,
kau bisa menunggu tukang perahu lainnya. Dia lelaki.
Tidak, Nona.
Aku belum terbiasa. Ini pertama kalinya aku bertemu tukang perahu perempuan.
Perahumu tidak akan terbalik, kan?
Sepertinya kau bisa berenang.
Sudah lama kau jadi tukang perahu?
Tidak, aku hanya mengganti saja.
Ini sebenarnya perahu ayahku.
Kebetulan dia sedang sakit jadi dia tidak bisa bekerja.
Jadi, untuk sementara, aku yang mengambil alih.
Kau warga sini?
Ya, aku lahir dan besar di sini.
Tapi ibuku berasal dari Mindanao.
Di sanalah orang tuaku bertemu saat ayahku ditugaskan kerja di sana.
Ayahku membawanya ke sini setelah mereka menikah.
Boleh aku menampilkanmu dalam videoku?
Kau akan membayarku?
Ke mana aku harus membawamu?
Ke pondok di Sapang Dalag.
Kau tahu di mana itu?
Tentu saja, dekat dengan tempat tinggalku.
Aku akan antar ke pondokmu. Kau bisa tersesat.
Terima kasih.
- Itu jalan menuju Sapang Dalag. Ayo. - Sebentar.
Aku sudah menanyakan banyak hal,
tapi aku belum menanyakan namamu.
Ngomong-ngomong, namaku Levi.
- Aku Ilyana. - Ilyana?
Ayo.
Ayo.
Di sini.
Di sini menyenangkan, begitu damai.
Ini
toko temanku.
Jika kau membutuhkan sesuatu,
kau bisa membelinya di sini.
- Nanti aku... - Di sini enak sekali.
Ngomong-ngomong, kenapa kau mengunjungi tempat kami?
Tempatmu populer di media sosial.
Aku seorang vlogger, lho.
Aku mau berbagi pengalamanku di sini pada orang lain.
Kuharap ada sesuatu yang unik di sini.
Jadi itu kenapa kau membawa kamera.
Kenapa kau tidak membawa kawan-kawanmu?
Atau cewekmu agar lebih menyenangkan?
Aku tidak punya cewek.
Cowok?
Aku sudah jomblo lebih dari setahun.
Mantanku tidak menyukai perjalanan seperti ini.
Dia tidak suka panas,
tempat yang cerah, atau lembab.
Dia suka mengunjungi tempat ber-AC
seperti mal, restoran,
atau bioskop.
Mungkin itu sebabnya dia memutuskanku.
Bagaimana denganmu, kau punya cowok?
Atau mungkin
cewek?
Kau tidak punya siapa-siapa?
Perempuan cantik sepertimu?
Para lelaki jomblo di tempat ini pasti semuanya buta.
Permisi.
Halo?
Ilyana, ayahmu...
Oke, aku pulang.
Levi, maaf. Aku harus pergi. Ayahku...
Aku ikut.
No comments yet. Be the first to leave one.