ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Natal di depan mata,
musim 2020/2021 mendekati setengah putaran.
Juventus berada di tengah-tengah pembaruan,
tetapi kekalahan buruk
menunjukkan tim perlu menemukan identitas.
Fiorentina unggul.
3-0, di Turin.
Klub menaruh kepercayaan kepada para pemain muda,
yang terbayar dengan gol melawan tim pemuncak.
McKennie!
Akankah strategi ini menjadi kunci kesuksesan?
Pertandingan pun berakhir.
Hanya sisa musim yang bisa menjawabnya.
SEGALANYA ATAU TIDAK SAMA SEKALI JUVENTUS
Ini awal Januari, dan Juventus melawan Genoa
di pertandingan pertama Piala Italia
untuk mengincar kemenangan keempat beruntun mereka.
Ini dua gelandang.
Oper ke daerah mereka. Kencang dan melebar.
Ke samping, kau. Kontrol dan oper ke depan.
Setelah absen 12 pertandingan karena cedera,
kapten Giorgio Chiellini kembali ke lapangan.
TURIN 13 JANUARI 2021
Kompetisi baru, awal yang baru.
Saat memulai, Juventus ingin mendominasi
Piala Italia 2020/2021.
Eliminasi tunggal, babak 16 besar, pemenangnya lolos.
Yang kalah terhenti.
Targetnya sama seperti biasanya, tampil maksimal.
Inilah pertandingan Juventus-Genoa.
Lebih cepat!
Chiellini. Mengumpan ke Kulusevski.
Kulusevski! Juventus memimpin!
Bagi Chiellini, tak ada yang berbeda.
Sembilan puluh detik, dia merancang gol Kulusevski.
Umpan matang dari Chiellini!
1-0, Juventus!
Ini Kulusevski, ingin mencetak gol, tendangan ke Morata, Morata!
Álvaro Morata!
2-0, menit ke-23,
tandem ofensif Juventus berhasil.
Namun, Genoa tidak menyerah.
Genoa mencetak gol.
Bola masuk ke gawang.
Hasilnya imbang,
memaksa Juventus ke perpanjangan waktu.
Pada momen sulit ini, secara mengejutkan,
Pirlo memutuskan memasukkan pendatang baru U-23, Hamza Rafia.
Pergantian pemain Juventus. Nomor 50, Hamza Rafia, masuk.
Melebar ke Morata
yang langsung menyambar, umpan silang, Rafia!
Rafia!
Gol Hamza Rafia dalam debutnya!
Juventus 3, Genoa 2.
Pemain Tunisia berusia 21 tahun membawa Juventus lolos ke perempat final.
Kontribusi anak-anak muda bagi kemenangan tim
adalah hasil kerja hebat yang dilakukan oleh Juventus di Vinovo Center.
Aku mengelola rutinitas harian tim inti,
bertanggung jawab mengelola tim-tim di bawahnya...
DIREKTUR SEPAK BOLA
...tim U-23, tim junior, dan tim wanita.
Pemain muda berlatih di sini
untuk menjadi juara Juventus masa depan.
Aku tersentuh melihat anak-anak usia 12 dan 13 tahun,
dan mungkin melihat mereka beberapa tahun kemudian
sebagai pemain mapan yang mungkin bermain di seri A.
JTC CONTINASSA PUSAT PELATIHAN TIM INTI
Laga mereka berikutnya salah satu yang tersulit.
Juventus akan menghadapi Inter dan Antonio Conte,
mantan pemain dan pelatih Juventus.
Bagi Pirlo dan pemain veteran, Conte lawan yang harus diatasi
dan ancaman perburuan scudetto.
Sebelum bertemu media,
Pirlo berbicara dengan Kepala Kantor Media, Gabriella Ravizzotti,
Pejabat Media Tim Utama Riccardo Coli,
dan Kepala Pejabat Sepak Bola Fabio Paratici.
Conte sudah berbicara dua menit yang lalu.
Mereka pasti akan menekankan tentang bagaimana rasanya menghadapi
orang yang menginspirasi keputusanmu
dan memiliki hubungan spesial denganmu lebih dari pelatih yang lain.
Kurasa susunan pemain juga, karena dia mengutamakan
kualitas susunan pemain, itu temanya juga.
Kita sedikit lebih tinggi.
Dua susunan pemain yang sangat...
Kita dengan pemain muda, mereka dengan pemain berpengalaman.
-Dua susunan yang sangat berbeda. -Benar.
Mereka telah membuat pilihan...
...untuk saat ini. Kita menyiapkan mereka untuk masa depan.
Bertemu Conte sebagai pelatih rasanya aneh,
karena, belum lama ini, dia pelatihku.
Dia tetap menjadi orang yang spesial bagiku.
Malam sebelum pertandingan, Pirlo dan Pelatih Teknis Roberto Baronio
menganalisis permainan Inter sepanjang musim ini.
Kau pernah bilang,
"Jika aku pelatih, akan kutiru yang Antonio lakukan."
Ya, tetapi tidak kulakukan.
Mungkin kau punya dua konsep yang berbeda.
Dialah yang membuatku berpikir,
"Dengan semua yang dia katakan di video, aku juga bisa melatih."
Dia memberi tahu setiap detailnya,
semua menjadi lebih mudah.
Dia tangguh saat bermain.
-Ya. -Dia juga sebagai pelatih...
-Saat bermain, dia adalah palu. -Ya.
Harimau kecil!
Aku mau tidur, Ayah.
-Selamat malam! -Mau tidur?
Mau ucapkan selamat malam.
Sepatu yang bagus.
Sandal bagus.
Perut buncit!
MILAN 17 JANUARI 2021
Selamat datang di derbi Italia,
satu pertandingan terbesar sepak bola Italia,
salah satu tantangan terbesar.
Andrea Pirlo versus Antonio Conte.
Banyak duel di dalam pertandingan ini.
Target jangka panjangnya scudetto.
Target jangka pendek, tiga poin.
Puglia tempat yang penuh gairah.
Di sini, penggemar Juventus belum memaafkan sesama Apulian, Antonio Conte
karena menjadi pelatih musuh bebuyutan Inter.
Derbi Italia juga ada di kedai piza kami.
Fan Juventus melawan fan Inter. Giuseppe!
Pembuat piza fan Inter, itu dia.
Aku pemilik restoran. Fan Juventus datang ke sini
dari mana-mana karena aku cukup terkenal.
Ini persaingan daya tarik dan gairah,
agonisme dan karisma. Ayo, Juventus.
Tujuh poin memisahkan kedua tim untuk keunggulan Inter.
Bagi Pirlo, ini kesempatan meyakinkan
dan menguji dirinya melawan teman dan mentornya.
Conte dan Pirlo berpelukan, Giuseppe.
Murid akan mengalahkan gurunya malam ini.
Kita lihat saja.
Lapangan dan persahabatan dua hal berbeda.
Di lapangan, kita bisa bertarung, mungkin berdebat.
Dia sangat energik.
Aku lebih pendiam dan tenang, tetapi untuk sepak bola,
kami berdua tergila-gila dengannya
dan ingin meraih kemenangan sebisa mungkin.
Seperti Conte, Vidal, sekarang bersama Inter,
akan menghadapi bekas timnya malam ini.
Lihat, ciuman, lihat!
Astaga, Vidal salah satu dari kami! Sudah pasti.
Semoga itu ciuman Judas,
pengkhianatan seragam itu.
Ketegangan meningkat. Ini dia.
Ini dia Inter-Juventus, Seri A, hari ke-18. Chiellini.
Frabotta, oper ke Hakimi, ke belakang.
-Ke Lukaku, sundulan. -Ayo, Fede.
Chiesa.
Nomor 22 lagi, menyisir sayap, umpan silang, Morata menguasai bola,
ditekan oleh de Vrij, Morata lagi, oper ke Rabiot, dia menendang!
Diblok, umpan ke gawang, Ronaldo!
Gol!
CR7 offside.
Hakim garis mengangkat bendera.
Gol Juventus dianulir.
Fokus, Fede!
Di pinggir kotak penalti ke Vidal, hook, melebar ke Barella,
Barella ke kotak penalti, umpan silang, disundul.
Masuk.
Vidal, yang mematahkan hati fan Juventus,
membawa Inter memimpin.
Juventus sekarang harus
bisa bangkit.
Adri, di sana.
Fede!
Lari, Leo!
Ikuti dia!
Umpan tajam ke Barella, sangat akurat.
Barella, lihatlah, dia menendang!
Gol. Inter menggandakan skor.
Seolah-olah mereka sudah memenangkan scudetto.
Pertandingan berakhir.
Inter mengalahkan Juventus 2-0.
Kau harus mencetak gol hari ini, bukan?
Harus ada kritik sekarang.
Aku bisa menghentikannya hanya dengan kerja keras dan hasil bagus
yang harus dilakukan oleh tim.
Kita harus melawan dan bergerak cepat.
Juventus dibantai mantan pemainnya, Conte dan Vidal.
Juventus ini tidak mati. Mereka tak pernah mati.
Ini adalah upaya, yang sedang dijalankan, yang tidak berhasil sekarang.
Hasil negatif melawan Inter memicu keraguan
Juventus mungkin tak akan bisa meraih scudetto kesepuluh.
Kemarin pertama kalinya aku merasakan
dalam 10 tahun, sebuah tim liga Italia bisa mengalahkan kita.
Kita bisa menang.
Tak ada waktu untuk berpikir.
Dalam dua hari, Juventus menghadapi Napoli di final Piala Super.
Ini peluang pertama mereka untuk mengangkat trofi.
Pagi. Kita harus kembali tegakkan kepala.
Mari lupakan permainan tempo hari.
Sikap kita tidak benar. Kita terlalu takut.
Sepuluh menit pertama berjalan baik,
lalu kita berantakan.
Kini ada pertandingan final.
Final bukan dimainkan, tetapi dimenangkan.
No comments yet. Be the first to leave one.