ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Musim lalu di Vikings...
Rakyat Kattegat, serukan Raja baru kalian!
Aku ingin merebut Kattegat dari kuasa Ivar.
- Kau tak punya pasukan. - Raja Harald punya.
Bjorn Ironside, takdir mempertemukan kita lagi.
Kita harus serang Kattegat, bersama-sama.
Para Dewa mengistimewakanmu. Melebihi semua pria.
Kau tahu betul bahwa kau bukanlah Dewa.
- Bjorn Ironside sudah mengklaimmu. - Tak ada pria yang bisa demikian.
Tidakkah kau punya impian, Raja Harald?
Kita semua selalu sama.
Kita cuma berpura-pura berubah.
Aku nyaris mati, tetapi dilahirkan kembali.
Satu-satunya hal yang aku pelajari
hidup hanyalah penderitaan.
Mereka berbisik-bisik bahwa aku adalah musuh.
Merekalah yang musuh.
Di era kekuasaan Ragnar, semua orang bebas.
Dia tak pernah memaksa orang untuk menyembahnya.
Thora sudah mati. Ivar membakarnya hidup-hidup.
Raja Olaf, saya datang untuk meminta Anda menyerang Ivar
dan menggulingkannya sebagai Raja Kattegat.
Takdirku adalah membunuh Ivar.
Kami melihat dua pasukan bergerak bersama-sama.
Satunya dipimpin Bjorn Ironside dan Raja Harald Finehair.
- Dan pasukan satunya? - Oleh Raja yang tidak kami kenal.
- Tetapi seseorang melakukannya. - Kakakku Hvitserk.
Datang dan lihatlah!
Datang dan lihatlah kematian umat manusia!
Dia adalah monster. Kalian harus mengentikannya.
Rakyat Kattegat! Kami di sini membebaskan kalian!
Aku yang memasukkan mereka.
Hidup Raja Bjorn,
Raja Kattegat.
- Hidup Raja Bjorn! - Hidup Raja Bjorn!
Tak ada yang akan lupa nama dari Bjorn Ironside.
Tetapi perang belumlah usai.
Instagram: @acilibr Twitter: @cilebus Facebook: Acil Ibrahim.
VIKINGS... Season 6 Episode 1 - New Beginnings -
JALUR SUTRA
RUS KIEV
Kenapa si bodoh bermata satu itu terus menatapku?
Dia bekelana bersama kita sudah berminggu-minggu.
Aku tidak suka.
Suruh satu orang kita cari tempat yang cocok
dan bunuh dia.
Mereka cuma prajurit bayaran.
Aku enggan memercayai mereka untuk melakukannya.
Kalau begitu, kau yang lakukan sendiri.
Tentu.
Bjorn!
Rakyat Kattegat.
Sudah kukatakan bahwa kalau aku menjadi Raja,
pemerintahanku akan jauh berbeda dari Ivar.
Dan aku serius menepati janji itu.
Ivar membangun dinding di sekeliling kota kita.
Dia menakut-nakuti orang asing, melarang kebebasan berpendapat,
dan tidak sepaham dengan rakyat kita sendiri.
Kattegat hanya bisa bertahan dan sejahtera melalui perdagangan,
bukan penaklukan. Itulah yang aku yankini.
Ini pertemuan kalian, segala halnya kalian.
Kesempatan kalian mengaduku
dengan apa pun mau kalian, dan aku siap mendengar.
Aku pelayan ramah kalian.
Raja Bjorn!
Siapa orang-orang ini?
Aku kenal mereka.
Mereka semua ini sukarela bekerja sama dengan rezim Ivar.
Mereka menjadi pengawalnya.
Mereka menuruti perintahnya, entah apa pun itu.
Entah kejamnya, entah bejatnya.
Mereka melaksanakannya tanpa rasa penyesalan,
tanpa pikir-pikir meski pada keluarga sendiri.
Mereka membakar hidup-hidup orang yang menentang mereka,
dan membakar hidup-hidup seorang gadis muda
bernama Thora,
gadis yang aku cintai.
Bukan begitu?
Apa orang-orang ini bersalah?
- Ya! - Ya!
Lalu, aku harus apakan mereka?
Bawa orang-orang ini.
Ingatlah, anakku,
penuhi tanggung jawabmu sebagai Raja.
Semua orang-orang ini bersalah.
Mereka melakukan kejahatan terhadap rakyatnya sendiri,
terhadap kalian.
Aku tahu kalian berpikir mereka pantas mati.
Tapi ada sesuatu yang jauh lebih buruk daripada mati.
Aku mengasingkan mereka seumur hidup.
Mereka akan menjadi pelanggar hukum, Skogarmaors ,
kaum hutan, selamanya dilaknat untuk hidup di hutan
dan tempat-tempat pengasingan lainnya.
Properti mereka akan disita.
Mereka akan dicap sebagai Skogarmaors ,
dan mereka bisa dibunuh dengan sesuka hati.
Ini jauh lebih buruk daripada kematian.
Mereka tidak hidup layaknya manusia, melainkan hantu.
Di luar kehidupan masyarakat.
Setiap hari dipenuhi penyesalan dan mengingat keputusan mereka,
dan kejahatan mereka,
meski tak akan dapat ditebus.
Begitulah keputusanku. Kalau setuju, katakan "Aye."
Aye!
Maka sudah diputuskan.
Ayo! Bunuh aku!
Kalian akan melakukan mauku!
Keputusanmu sudah tepat.
Kuharap demikian.
Ivar tak akan membebaskan mereka.
Aku bukan Ivar.
Penerjemah: Acil Ibrahim... a.k.a CILEBUS.
Siapa ini?
Dia bangsa Viking.
Namanya Ivar.
Suatu malam dia mabuk
dan mengaku dirinya Raja.
Rupanya tak seperti Raja,
bahkan tidak berkelana seperti Raja!
Dia bilang apa?
Kita bawa dia ke Kiev.
Bayar dulu informasi yang kuberikan.
Siapa mereka?
Bangsa Rus.
Murah sekali!
Tampaknya
mereka membayar kurang.
Ke mana mereka membawaku?
Ke ibu kota mereka,
sebuah tempat bernama Kiev.
Siapa penguasa mereka?
Pangeran Oleg,
Sang Nabi.
Sang Nabi?
Mengapa Sang Nabi?
Naiklah ke kuda!
Kau ikut kami.
Kau ini kenapa?
Dia cacat.
Seseorang yang cacat,
juga seorang Raja!
Kini sudah kulihat segalanya!
Ada apa?
Pangeran,
kami ada tawanan yang menarik.
Seorang Raja, begitulah yang dia kata
berkelana melalui Jalur Sutra.
Seorang Raja?
Dari mana?
Dari Norwegia.
Seorang bangsa Viking.
Kau tak bisa jalan.
Apa kau terluka?
Tidak,
aku cacat.
Dari lahir.
Kau berbicara bahasaku!
Itu dulunya adalah bahasa rakyatku juga.
Kami adalah bangsa Rus Viking.
Mereka memanggilmu apa?
Namaku Ivar.
Mereka memanggilku...
Ivar, Si Lumpuh.
Pernah kudengar mengenaimu.
Ivar.
Si Lumpuh.
Ketenaranmu sudah melintasi Jalur Sutra.
Seperti madu, lilin lebah, kulit, dan budak.
Tapi kenapa kau berkelana melalui jalur itu baru sekarang?
Tanpa memaparkan dirimu?
Seperti pencuri saja?
Aku kehilangan kerajaanku pada kakak-kakakku.
Aku bukan siapa-siapa.
Dan aku tak bisa menawarkan apa-apa padamu, Pangeran Oleg.
Bukan niatku membahayakanmu dengan kehadiranku.
Lalu, ke mana kau pergi?
Tidak ke mana-mana. Aku tak tahu harus apa lagi.
Aku hanya melarikan diri dari pembalasan kakak-kakakku.
Kau di sini sekarang.
Siapa yang tahu kehadiranmu dapat membahayakanku.
Kita lihat saja nanti.
Kita telah memulai cara hidup yang baru di sini.
Dan itu menjadi komitmenku sebagai seorang Raja.
Membangun stasiun perdagangan paling sukses di Skandinavia.
Tapi aku butuh dukungan kalian.
Aku butuh keluarga.
Ibu?
Semoga usahamu berhasil, anakku tersayang.
Dan Ibu yakin kau pasti berhasil.
Tapi di masa mendatang, kau harus melakukannya tanpa Ibu.
Aku tidak mengerti.
Mengapa Ibu tidak tinggal?
Ibu sudah melihat banyak perang.
Ibu sudah melihat banyak kematian.
Ibu sangat banyak kehilangan.
Ibu tak mau lagi menjadi sosok di mata publik.
Ibu tak mau bertanggung jawab.
Ibu menginginkan hidup yang sama sekali berbeda.
Bagaimana bisa?
Ibu berencana membangun sebuah ladang pertanian.
No comments yet. Be the first to leave one.