ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
WAVE TEKNOLOGI EMPAT TAK.
Orang selalu bertanya
apa serunya mengendarai motor.
Dengan bisingnya.
Bahayanya.
Apa yang diinginkan pembalap jalanan?
Apa yang kami cari?
Apa yang kami inginkan?
Apa kami tak takut mati?
Apa tak bosan membuat keributan?
Bagiku, jawabannya…
Tidak. Kami tidak bosan.
Cinta pertamaku adalah kecepatan.
Setelah menarik gas sampai tanganmu kebas,
setelah kau melihat bagaimana dunia menjadi kabur…
Semua masalahmu
akan hilang.
Kalau kau tak senang, mulailah balapan!
Beri tahu bos bodohmu, Boy,
jangan kirim anak buahnya menggangguku malam-malam.
Sombong sekali, ya? Kau Azam, 'kan?
Kalau motormu sehebat itu, tunggu apa lagi?
Apa aku terlihat ketakutan?
Tunggu saja.
Tunggu?
Kau yang penakut, Dasar Bodoh!
Bodoh.
Berdiri di tengah jalan? Apa kau buta?
Ya, aku buta. Kenapa?
TAMAN SULTAN ISMAIL
Kau benar tinggal di sini?
Aku buta. Tidak bisa lihat.
Bagaimana kau tahu ini flatmu?
Bagaimana kalau aku membawamu ke tempat lain?
Kalau aku menjualmu? Kau tak akan tahu.
Di sana ada parkir motor, 'kan?
Di atas situ ada bendera.
Kalau siang aku bisa lihat sedikit.
Malam lebih sulit.
Kau yang rugi.
Kau tak bisa melihat wajah tampanku.
Hei.
Maaf tadi aku hampir menabrakmu.
Tidak apa-apa.
Terima kasih kau mengantarku pulang.
Hei!
Kau…
Hampir saja.
Pulang kerja?
Ya. Di toko perkakas di dekat sini.
Tapi kenapa kau mengikutiku?
Tidak apa-apa. Aku tidak mau kau jatuh.
Aku memakai tangga ini setiap hari.
Orang buta bisa bekerja di toko perkakas?
Apa? Apa kami hanya bisa jadi tukang pijat?
Aku cuma bertanya.
Ratna? Kau pulang terlambat hari ini.
Siapa ini?
Temanku, Kak Milah. Tadi dia kecelakaan.
Astaga. Tunggu. Aku ambilkan obat.
Masuklah.
Tidak, terima kasih. Aku harus pergi.
Masuk saja. Kau bukan pembunuh, 'kan?
Bukan.
Namaku Azam.
Ratna.
Ratna…
Jangan bergerak.
Orang tuamu tak ada di rumah?
Ayahku di Johor Bahru.
Ibuku sudah meninggal.
Kau tak takut sendirian?
Mungkin ada hantu. Atau Orang Minyak.
Baiklah. Selesai.
Terima kasih.
Jimmy. Ada apa?
Tak bisakah kau angkat telepon?
Pipanya sudah terpasang. Selesai malam ini.
Serius?
- Cepatlah! - Tunggu. Aku segera ke sana.
Ratna.
Aku harus pergi sekarang.
Terima kasih.
Kau sudah mengobatiku dan semuanya.
Ya. Terima kasih.
Asalamualaikum.
Azam!
Ada apa?
Bukan apa-apa.
- Nol satu tujuh… - Tunggu!
Dua tujuh tujuh, nenek jatuh dari surga.
Ayolah.
- Tidak usah. - Mau atau tidak?
Tentu saja mau.
Baiklah. Hari ini akan jadi
hari terakhir dan final untuk obral knalpot Red Leo.
Perhatikan baik-baik. Akan kutunjukkan padamu.
Satu hal lagi. Kalau kalian membeli hari ini,
dapat stiker gratis.
Besok tidak ada lagi.
- HABISLAH KAU! - KALAU BERANI BALAPAN!
Baiklah. Aku harus pergi.
Kalau ada apa-apa, DM aku.
Langsung saja!
Sudah cukup dengan itu.
Hei.
Kau hanya kuli di bengkel ini.
Bantu perbaiki motor ini.
Azam.
Anak buah Boy marah. Kau bilang apa pada Kutu?
Aku lihat komentar di siaran langsungku.
Biarkan mereka berkata apa pun.
Apa yang kita tunggu?
Ayo.
- Bersedia? - Tunjukkan.
Mengumumkan kedatangan Yang Mulia…
Astaga!
Azam.
Kau yakin mau balapan dengan ini?
Sayang sekali.
Kalau kau menjualnya, bisa dapat sekitar RM20.000 sampai RM30.000.
Kau tahu betapa buruk balap ilegal ini, 'kan?
Kalau terjadi apa-apa, kau akan mati.
Ayolah.
Bilang saja kau mau balapan.
Dasar botak!
Diamlah.
Jimmy.
Aku tak akan mati selama kita belum mencapai target.
Berapa lama kau akan memakai Kriss milik ibumu?
Melakukan pengiriman sepanjang hari dan ke bengkel di malam hari.
Memperbaiki motor.
Mau berapa lama?
Jimmy, biaya kuliah adik perempuannya
hampir RM40.000. Mahal sekali!
Bukankah kau pernah bilang padaku suatu hari nanti
kau akan punya bengkelmu sendiri?
Mat Jet Motorsport.
Berapa lama kau mau bekerja sebagai mekanik di sini, Mat Jet?
Intinya, kalau kita memulai balapan,
kita hanya perlu memenangkan RM20.000 tiga hingga empat kali.
Aku yakin semua masalahmu
dan masalah Mat Jet akan selesai.
Bahkan masalahku juga.
Jadi,
itulah target kita.
Percayalah padaku.
Motor ini…
Akan mengubah hidup kita.
Percayalah.
Mat Jet, bantulah Jimmy.
PERMATA PIALA PRIX HARAPAN MALAYSIA
Along, apa yang kau lakukan? Bangun.
Bangunlah!
Bangunlah. Duduk di sana.
Kenapa kau makan seperti ini.
Duduk di sini.
Apa ini? Kau membuat berantakan.
Sudah kubilang, kalau mau makan beri tahu aku.
Akan aku ambilkan.
Angah.
Angah, apa kau tak punya uang?
Apa pun?
Apa maksudmu?
Pinjami aku uang, Angah.
Sedikit saja.
Kalau kau mau membeli narkoba,
kau bisa minta padaku seribu kali,
atau menangis darah sekalipun, tak akan kuberi.
Angah.
Angah.
Karena aku kasihan padamu
aku berjanji padamu
kita akan pergi dari sini.
Arash baik-baik saja?
Siapa yang tahu? Aku tak mau memikirkannya.
Itu melelahkan.
Tidak usah dipikirkan. Kita pikirkan saja ini.
Dari mana kau dapat ini?
Ibu menemukannya.
- Kau terlihat sama saja. - Tidak menua.
Azam.
Kalau kau benar-benar mau balapan dengan motor itu,
bagaimana kalau aku ikut kau?
Maksudku, kalau kita balapan bersama,
makin cepat kita mencapai target.
Kau masih kurang hati-hati saat injak kopling.
Aku bukan mengkritikmu. Kau tahu kau belum mahir melakukannya.
Kau tahu bahayanya itu. Tidak usah.
Hanya saja, kau melakukan semuanya sendiri.
Ingat ucapan kita dulu?
Kita akan menaklukkan KL bersama.
Tapi itu zaman kita balapan sepeda.
Ayolah, Bung. Sampai besok.
Dadah.
MAAF AKU BUTA, TEKAN BEL UNTUK BAYAR
- Berapa? - Semuanya RM40.
Tunggu.
Diterima. RM40.
- Terima kasih. - Sama-sama.
No comments yet. Be the first to leave one.