ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
BAGIAN I KAPOL
- Issa, ada yang nelpon. - Bentar.
Bicaralah.
Ya.
Dan?
Hei, semuanya!
Aku tak pandai bersulang,
jadi mari kita minum atas promosi yang layak disandang.
Sangat jarang, tapi benar terjadi.
Berpangkat Letnan Kolonel. Menakjubkan!
Tapi apa maksudnya?
Ada dua bintang di pundaknya, tapi yang terpenting....
dia pantas menerimanya.
Bukan begitu? Ayo kita minum!
Yah.
Silahkan!
Dimana Isa? Aku tak minum sama dia.
TERJEMAHAN | YOYONG MASAMBA
Mereka dipenjara. Kau dipromosikan.
Apa yang kita rayakan?
Dia yang selamat. Seorang saksi.
Sampai sekarang kami cuma bisa temukan mayat.
Teman-teman, ayolah. Minumanmu sudah dituangkan.
- Kami akan datang. - Sebentar.
Jadi kau berbuat salah?
Menghabiskan 10 tahun?
Biarkan semuanya kembali normal.
Issa, kami tunggu, kemarilah makan roti bakar!
- Bentar. - Ya.
- Cepatlah. - Tunggu sebentar.
Apa kau akan menemuinya?
"Dia" tak ada.
Lupakan saja. Percayalah, demi kita.
Aku tak punya pilihan, aku pergi.
Maka aku juga tak punya pilihan. Aku mau ajukan cerai.
Tenanglah.
Aku pasti menyelesaikannya.
Kembali.
Kita akan ke gunung.
Sangat indah di sana. Udaranya segar.
Kau bisa melihat matahari...
begitu dekat saat matahari terbit.
Ada air terjun juga.
Kita semua tetap bersama.
Tapi sekarang, biarkan aku pergi.
Biarkan aku pergi.
Dia mau cari tumpangan, ada mobil putih berhenti.
Dia tak bisa ingat modelnya.
Pria itu tampak tak berbahaya. Bicaranya sopan.
Dia tertidur di dalam mobil.
Terbangun di sebuah "rumah di hutan, tidak ada orang lain disana".
Saat itulah dia mencurigai sesuatu.
Kapol, artinya kita telah...
menghukum orang yang salah?
Mengerjakan kasus yang salah?
Bukan kita yang menghukumnya.
Itu urusan pengadilan.
Kita cuma menyelidiki.
Semua yang kita lakukan sudah benar.
Kau sudah memenjarakan orang yang salah!
Diam!
Dia memukulku...
dan..
menyeretku keluar dari mobil.
Menarik rambutku.
Dia ada di atasku...
memasukkan kotoran ke dalam mulutku.
Aku....
berusaha melindungi diri.
Dia hantam bagian belakang kepalaku.
Aku berusaha berdiri, dia...
tikam kaki-ku.
Aku merasa...
kedinginan.
Batu.
Aku memukulnya dengan batu.
Apa dia mengikutimu?
Entahlah.
Aku bahkan tak menoleh padanya.
Aku tak mau mati.
Wajahmu seperti pernah kulihat.
Kau ada di pemakaman adik-ku.
Tolong beritahu ciri-cirinya.
Dia tinggi...
dan...
kurus.
Matanya...
seperti kaca...
- Jadi, kita masuk dari sebelah sini. - Baik.
Mengepungnya dari luar.
- Siapkan anjing pelacak. - Ya.
Sekali lagi, ini penjahat yang sangat berbahaya.
Tidak ada catatan resmi senjata api,
tapi dia punya badik.
Setelah ditangkap, area tersebut harus digeledah oleh forensik.
Kita belum temukan mayat dalam 3 tahun, mungkin ada di tempat ini.
- Itu saja dariku. - Oke.
Baiklah.
- Semuanya dengarkan? - Ya.
- Semoga berhasil. - Ayo pergi.
Ivan Savelyevich.
- Semuanya sudah bersiap! - Belum.
Kawan-kawan,
perintah baru: tinggalkan semua senjata otomatis di sini.
Apa kita mau membujuknya datang?
Tutup mulutmu!
Kapol, boleh aku bicara?
Dengar, akan kutangkap bajingan ini.
Tapi kita tidak punya taring.
Apa bisa dilakukan persuasif jika dia menikam-mu.
Tunjukkan alat persuasifmu, Kapten.
Lebih merasa yakin dengan senjatamu?
Perintahku sudah final. Aku membutuhkannya hidup-hidup.
Aku tak mau ada yang menembak.
Tiarap, bajingan.
Rasakan itu, keparat!
Berbaring, bajingan!
Nama, nama belakang.
Andrey Valita.
Bacalah perintahnya.
Aku tidak bisa, tak bisa lihat apa-apa.
Bersihkan muka sialanmu dan bacalah!
Tolong jangan.
Jangan beraki dirimu, takkan menggigitmu kecuali kami suruh.
Berhenti merengek, bangsat.
Tolong, tidak!
Tutup mulutmu.
Ini memalukan.
Kau dapat apartemen baru, promosi, tapi menghukum orang tak bersalah?
Kau menuntut tersangka. Sudah kuberikan.
Pengadilan yang menjatuhkan hukuman.
Publik menekan jaksa, meminta darahmu dan darahku.
Aku akan interogasi di sini.
Jauh dari para penguping.
Mereka siapkan wartawan seadanya.
Kita harus selesaikan dengan tenang, di sini.
Dengan resiko sendiri.
Tentu saja itu urusanmu.
Aku mau setiap mayat dipertanggungjawabkan.
Jadi tak ada yang berani menuding kita lagi.
Siapa namamu? "Bos"?
Kau belum jadi bos.
"Komandan"? Kau tak akan memerintahku.
Jujur saja soal ini.
Panggil aku "Penyelidik".
- Jadi, dia menyukaiku. - Savelich, Mikhail mau menemuimu.
Ya, ayo.
Foto-foto dengan ibu semuanya rusak.
Terima kasih.
- Vitaliy, Pak, halo. - Galina.
Tamu kita dari ibukota.
Ditugaskan membantu melanjutkan kasus ini.
Kami akan mengurus diri kami tapi para petinggi suka mendesak.
Tapi Tn. Davidov sangat pengalaman.
- Menangkap "pemain catur". - Ya, aku tahu.
Kekuatannya jauh diluar. Berwewenang penuh.
Aku sudah baca perintahnya. Apa kita akan menemukannya?
Harusnya.
Buktinya kacau.
Beberapa barang penting telah disingkirkan.
Teori yang menjurus ke arah fiksi:
setan impoten makan rahim untuk menyembuhkan dirinya sendiri,
adanya ahli bedah transplantasi rahasia.
Lihatlah mayat-mayat itu.
Menurutmu orang waras yang melakukan ini?
Orang. Sendirian.
Cukup waras untuk tidak ketahuan.
Orang-orangku menyelidiki kasus ini sepanjang waktu.
Dan kami telah letakkan beberapa pondasi, bukan cuma fiksi.
Jadi, Kapol, kau boleh pergi.
Itu yang bisa kau lakukan.
Kau tahu kenapa?
Tiga tahun pembunuhan terjadi di bawah pengawasanmu?
Dan kau tidak bernyali untuk menyatukan kasus.
Bagian terburuk dari pekerjaan detektif adalah kebiasaan dalam bekerja.
Giliranmu sekarang menyusuri, Kapol.
Rekaman pemerasan?
Tidak.
Kurang lebih perekaman langka.
Oke, penulis sejarah.
Masuklah.
Jadi gulungan film ini punyamu?
- Belum jadi. - Kenapa?
- Dari TKP, kan? - Tidak ada dana untuk menyelesaikannya.
- Mereka bilang fotonya sudah cukup. - Kami akan danai.
Lagi bersih-bersih ya?
Membersihkan ruang untuk kasus ini.
Akan kami taruh kembali lukisannya setelah diselesaikan.
Butuh 3 hari.
Selesaikan sampai besok.
Ya, Pak.
Mulai sekarang, kita hadiri pada setiap pemakaman korban...
untuk mengingatkan...
kalau ini suatu pribadi, bukan berkas kasus.
Aku sudah baca berkasnya, kurang berguna.
Di sini ada dua berkas. 1979 dan 1980.
Belum ditemukan pembunuh berantai-nya. Perlu evaluasi ulang.
Shevchuk... Dia tercekik, bukan ditikam.
Tapi mulutnya penuh dengan kotoran, perutnya terkoyak.
Ini pembunuhan bagi kami.
No comments yet. Be the first to leave one.