ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Ga?
Arga?
Itu sepupunya pada beli gulali.
Pura-pura tidur lagi.
Ayo, nanti kehabisan.
- Ayo, ini bawa uangnya. - Ya.
- Jangan lari. - Asalamualaikum.
Alaikum salam.
Alaikum salam.
Arga.
Eh, kau naik kelas tidak?
Ha? Hei!
Terakhir, alhamdulillah.
Laris manis, dagangan laris.
Yah, habis, Dik.
Bisa bikin lagi tidak, Bang?
Tidak bisa, kau terlambat.
- Yah, tidak dapat. - Yah.
Tidak dapat.
Bu?
Kenapa, Sayang?
Gulalinya habis, Bu.
Yah, kau sih
tadi bukannya main sama yang lain.
Kehabisan deh.
Tak apa, ya? Tak apa.
- Rit? - Pintar. Ya, tak apa, Kak. Di situ saja.
Kenapa?
Cengeng nih.
Tidak boleh cengeng.
Kalau cengeng, tidak punya teman.
Ayo, main sama yang lain. Cengeng, tidak boleh cengeng.
Nih, akhirnya.
Eh, ini yang ditunggu-tunggu.
Kok lama sih?
Ya, Kak, banyak yang pulang kampung.
Arga?
Ambilkan mangkuk, Sayang, delapan.
- Bisa tidak? - Sudah, biar Bapak saja, ya.
Dia cengeng, tidak bisa.
Arga, jadi laki-laki tidak boleh cengeng.
Kalau cengeng, nanti Tante Yuli jadi monster lagi.
Si cengeng.
Si cengeng! Aku minum air matamu!
Aku minum!
Hei!
- Ya Allah, Arga! - Arga.
Itu berantakan. Lagi lebaran ini, dapur lagi, aduh.
Yudi, anaknya diatur.
Tak apa.
Alma!
- Sayang. - Bu, ini es krimnya buat aku, bukan?
Buat Dik Alma, ya? Jangan menangis.
Tak apa mengalah, ya?
Nih.
Titip anak-anak, ya?
Aku masih harus beres-beres di dalam.
Ya, Kak.
Jaga adik, ya.
Arga?
Ini nilaimu ada merahnya!
Eh, kabur lagi!
Arga, bangun.
Arga, bangun.
Arga! Kau salat Id tidak sih?
Salat, Tante.
Bangun, ayo.
Kau keluar, itu saudara-saudara sedang mengobrol tentang kuliah.
Biar kecipratan ilmunya, Arga. Bangun.
Hei!
Bangun!
Ini dicipratkan Tante, bukan kecipratan.
- Tadi subuh beres-beres rumah. - Alasan saja kau tuh.
Ayo, bangun.
Tante siram sekalian, ya, biar Yanto sekalian jadi pepes, mau?
Ya.
Sudah bangun kok.
Sabar ya, Yanto, kau kena kuman-kumannya Yuli.
Ya, Sayang, sudah di mana?
- Aku sudah di depan nih. - Oke.
Oke.
Hei.
Tante kirim pesan tak pernah dibalas.
Kau blokir nomor Tante?
Blokir? Tidak, Tante.
Berisik ah, berisik, Yuli berisik.
BLOKIR TANTE YULI
- Bohong? - Tidak, tidak diblokir.
- Sudah dapat kerja belum? - Sedang proses.
Sedang proses terus.
Kau tidak malu?
Sudah sebesar ini kau tak pernah kasih THR ke keponakan-keponakan, Arga.
Sudah kirim-kirim lamaran,
ini tunggu panggilan.
Panggilan apa? Panggilan Tuhan?
- Astagfirullah, Tante bicaranya. - Asalamualaikum.
- Alaikum salam. - Alaikum salam.
Aduh, cantik, Andin.
- Halo, Tante, minal aidin. - Sama-sama, aduh.
Kau cantik banget.
Tante masih heran kok kau mau sama Arga?
Tante Yuli, nanti kalau tidak sama Arga, aku tidak ketemu Tante dong?
Tapi kan dia belum kerja,
dia masih menunggu panggilan.
Sama Dwiki saja, bagaimana?
- Pak? - Ya.
Dwiki?
- Ada Andin. - Hei, Andin!
Ada sasaran empuk.
- Maaf lahir batin, Din. - Maaf lahir batin.
- Maaf lahir batin. - Sama-sama, Cantik.
Maaf lahir batin juga, ya.
- Minal aidin, Bu. - Minal aidin.
- Aduh, ini Andin cantiknya awet banget. - Ya.
Kayak pakai formalin.
Ini kalau cantiknya kayak begini sih,
cocoknya pasangannya yang level manajer.
Ya, 'kan? Bukan yang belum ada kerja.
Ya, Dwiki hebat sudah jadi manajer.
Kalau Arga masih cari kerja. Susah, ya?
Arga kan masih menunggu panggilan.
Din, sini!
- Sayang, aku ke sana. - Dwiki kerja di mana sekarang, Kak?
Dwiki itu sekarang kerja di…
SCDB.
SCBD, Tante.
Kau kan masih menunggu panggilan,
kau tidak tahu kantor SCDB itu.
Salah kali, Kak, SCBD.
Dwiki sayang?
Kau di SCDB itu kerjanya di mana?
- Di BSD. - Tuh kan.
- BSD? - PT. BSD di SCDB.
Beda, Kak, BSD itu ada di Tangsel.
- SCBD di Jaksel. - Kantornya BSD?
Bukan, daerahnya BSD.
Oh, ya?
Mama panggil aku ke sini cuma mau tanya itu doang?
Andin, ada Andin.
Sudah, Kak.
Itu juga bisa dipakai naik gunung,
kalau kau lebaran mau naik gunung.
Ini antilecek.
- Di BSD. - Oh, ya.
Bagaimana liburanmu ke Eropa, Ki?
Aku kan sudah sering banget ke Eropa, jadi kayak agak bosan.
- Beda sama Jepang, aku tidak bosan. - Setuju.
Tapi aku bingung kalau kuliah mending Amerika atau Inggris?
- Inggris. - Inggris sih.
- Kau akan baik-baik saja di Inggris, oke? - Oke.
Sebenarnya agak mahal saja sih.
Cuma yang masalah buat aku kayak sistem pendidikannya.
Main apa tuh?
Lagi main Roblox, Bang.
Tidak masalah sebenarnya.
Tapi yang jadi masalah buatku…
BERSAMA SEPUPU-SEPUPUKU
Yang?
Bella ajak minum kopi di Senopati, kau ikut tidak?
Sepertinya kau saja sama yang lain.
Kau tidak mau ikut? Sekalian antar aku pulang?
Tidak enak, Yang, masih banyak tamu. Ya?
- Ya sudah, kalau aku ikut tak apa? - Tak apa.
Hati-hati, ya.
Cari kerja!
Sekarang!
Menunggu panggilan terus.
Yul…
Kok bisa ya anak orang dari bayi diperlakukan begitu terus?
Aku jadi kau, aku ajak hati ke hati tuh.
Ya wajarlah, Ga.
Kau sudah menganggur setahun.
Pasti ditanya terus, Ga.
Tapi kan aku tidak diam saja, Fan. Ya, 'kan, Cak?
Tante Yuli…
Dia tidak tahu ya,
beban anak pertama kayak bagaimana.
Tapi tak apa.
Kita mesti jadi contoh.
Buat adik-adik kita.
- Kita mesti cepat kawin. - Benar.
Ada tuh istilah katanya, generasi burger.
- Roti lapis. - Roti lapis.
Roti lapis.
Lalu, baru bulan keempat dalam kandungan nih,
baru juga ditiupkan tuh rohnya,
beban sudah berat banget, padahal pundak kita masih lembek.
Harapan bukan sih, bukan beban?
Fan…
Kau juga nih cewek-cewek puitis.
Kok bisa yang tadinya beban menjadi harapan bagimu?
Ya, memang benar?
Aku sudah kirim lamaran, tapi belum dipanggil saja.
Wah, sudah kirim berapa?
Satu.
Arga…
- Kau tahu bodoh, tidak? - Kok bodoh?
Ya, benar.
Kirim lamaran satu, kalau ditolak,
kirim lagi deh satu yang lain.
No comments yet. Be the first to leave one.