ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Hei
Pengurus Jenazah 2.
Kucing kecilku kini t'lah pergi.
Meninggalkanku dengan rasa sedih.
Kini aku hanya hidup sendiri...
Lagi-lagi kau dan aku ini.
Duo pengurus jenazah.
Katanya mau jadi pengacara, kawan.
Tidak lulus ujian.
Sekarang sedang luang, lebih baik
daripada diam saja, makanya ini dulu.
Ya sudah baguslah.
Kenapa menangis separah itu?
Ini cuma kucing mati, lho.
Aku di sini, ayahmu di sini, kau menangisi ayahmu?
Cuma kucing mati saja.
Hanya tersisa kenangannya saja.
Meong.
Ayahku pernah mengajariku.
Entah itu manusia atau hewan.
Jika kita sudah punya ikatan.
Coba kau pikir, jika ibumu mati.
Apa kau akan sedih?
Ya, sedih.
Sedih seperti saat ayahmu mati.
Bakar saja, Nak.
Baik.
Keren.
Suara keras dan jelas.
Satu, dua, tiga.
Jika ada... ulang lagi.
Satu, dua, tiga.
Jika ada yang berhenti bernapas, bisa panggil kami.
Terima kasih.
Terima kasih.
Ada waktu luang, disuruh latihan malah tidak mau.
Aduh, kenapa terbang tinggi sekali?
Mas.
Kalian berdua pengurus jenazah ya?
Sebenarnya kami ini pengurus hantu.
Kau ini lucu.
Kalian pengurus jenazah kan? / Ada apa?
Tolong urus jenazah istri saya.
Wah, kondisinya.
Sebelum kami mengurus jenazah istrimu.
Apa kau tidak mau ke dokter dulu?
Ya.
Ya, baik.
Kalau begitu, kendarai mobil di depan.
Terima kasih, Mas.
Ya.
Sampai mana?
Baik, ayo masukkan ke peti.
Hei.
Kau ini.
Aduh, kalau aku bisa angkat sendiri, sudah kulakukan.
Angkat jenazah ke peti.
Hm, tutup peti matinya.
Baik.
Nah, taruh saja di sini.
Apa yang kau lakukan, Jerd?
Ini kan jenazah mati tidak wajar.
Mati hari Sabtu, bakar hari Selasa.
Atau hari besar keagamaan.
Kebanyakan orang akan menguburnya secara simbolis.
Hah, untuk apa?
Hantu mati tidak wajar itu kuat, harus begini.
Nanti dia kalah sama pengurus jenazah.
Oh.
Kenapa dilempar, kawan?
Itu ritual.
Ayahku dulu melakukannya / Baik.
Berapa biaya pengurusan jenazahnya?
Biasanya cuma seratus untuk bensin.
Peti ini masukkan saja dua ratus ke kotak amal.
Tidak apa, aku tidak mau / Ya.
Temanku tidak butuh uang, bodoh.
Terima kasih, Mas.
Tidak apa.
Terima kasih.
Boleh aku bertanya sesuatu padamu?
Ya.
Kau yang mengendarai mobil putih itu?
Ya, benar.
Menurutmu, apa kau mengemudi terlalu cepat?
Sepertinya begitu.
Sepertinya cepat.
Kau juga membawa jerami, kan?
Ya / Jelas sekali.
Jelas sekali.
Kau menyerempetku.
Kakiku jadi begini karenamu.
Kalian berdua ada tujuan lain?
Kenapa kau tanya?
Jika kalian tidak ada tujuan.
Bisa temani aku tidak?
Aku kesepian.
Kenapa bilang padaku?
Boleh aku minum bersama kalian?
Boleh saja.
Siapkan asuransi kelas satu ya.
Ini benar atau tidak?
Kami disuruh minum dan makan daging panggang?
Tidak ada camilan lain?
Tuan rumah harusnya begini.
Tuan rumah ya.
Bukannya dagingku sudah gosong?
Benar-benar gosong, sialan.
Wah.
Jerd.
Harusnya aku tidak bertanya.
Hidangan penutup / Ya, terima kasih.
Hidangan penutup.
Aku makan hidangan penutup dengan alkohol / Sialan.
Sialan.
Istriku suka ayam masak air.
Istrimu suka, apa aku akan suka?
Tenang, Jerd.
Hampir saja jatuh.
Jerd.
Aku tidak mau minum bersamamu.
Lucu sekali kau.
Kau tinggal dengan siapa?
Hah.
Sendirian.
Sendirian / Ya.
Siapa namamu?
Namaku Thup.
Thup / Ya.
Siapa namamu tadi? / Jerd.
Hah / Tuan Jerd.
Apa katamu?
Tuan Jerd / Jerd, Jerd, Jerd.
Aku Ciang.
Halo, Mas / Ya, Nak, hm.
Lalu...
Orang tuamu di mana?
Sudah meninggal semua.
Aduh, malangnya.
Lalu kerabatmu?
Paman, bibi, saudara.
Kerabat dekat, marga sama, golongan darah sama.
Sudah tidak ada semua.
Istrimu juga baru saja meninggal.
Sedih sekali, kawan.
Ayo, makan / Bersulang.
Oh, menyinggung masalah pribadi.
Itu hal biasa, ada pertemuan ada perpisahan.
Ciang.
Maaf, saya minta maaf karena berbicara keras.
Yang datang ke sini.
Apa saja yang dibawa, atau hanya mampir, atau tidak bawa apa-apa?
Ayo, yang dibeli, daging, minyak, alkohol, ada?
Sudah bawa.
Cangkul dan pisau, ada?
Bawa banyak sekali.
Barang yang tidak membawa keberuntungan ada?
Tidak ada, tidak ada.
Cukup, berhenti / Tidak ada.
Cuci untuk nenek.
Cuci untuk nenek.
Hambar, hambar, hambar.
Kenapa banyak sekali bumbunya?
Ini dia, makin banyak makin enak.
Ini Mas, daging cincang matang.
Coba kau cicipi ini.
Aduh kalian ini.
Aduh.
Apa kau tidak melihat temanmu?
Ada lagi yang mau dimakan?
Rokok / Tidak ada.
Gelap.
Nenekmu, kenapa asin sekali?
Nenek datang, nenek datang.
Sampai jumpa, Joy.
Sampai jumpa besok, dadah.
Sudah tua kenapa tidak diam saja?
Kenapa?
Melakukan ini itu.
Bagaimana bisa tidak melakukan apa-apa?
Kalau aku tidak bekerja, apa aku punya uang...
Untuk bangun rumah?
Jangan bicara keras-keras.
Memangnya kenapa?
Kalau aku tidak bekerja, mau makan apa?
Jangan banyak mengeluh.
Tidak mengeluh, mau ke mana kalian? Santai sekali.
Ya, nanti aku cari kerja.
Pergi saja, sudah berapa hari menganggur?
Ya, aku akan pergi.
- Tunggu anak lahir, baru pergi. - Kau sudah bicara itu seratus kali.
Apa kau pernah pergi sekali saja?
Ya, akan pergi / Kalau aku tidak cari uang.
Pakai uang apa beli makan?
Makan kotoran saja sana.
Kau saja yang makan.
Biar nenek saja yang makan.
Eh.
Kenapa duduk di depan pintu?
Ibu hamil tidak boleh duduk di pintu.
No comments yet. Be the first to leave one.