ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Dasar bodoh.
Guru.
Lagi-lagi berlatih sepagi ini?
Maafkan aku. Apa aku membangunkanmu?
Tidak.
Jangan berlebihan. Tanganmu terluka.
Guru.
Maaf mengganggu, tapi...
Aku akan berterima kasih atas instruksimu.
Apa maksudmu?
Kau sudah cukup kuat.
Tidak ada lagi yang bisa kuajarkan.
Kau satu-satunya guruku, Nagakura Shinpachi.
Hentikan. Jangan memujiku.
Ini bukan sanjungan.
Kau menerima kurangnya bakat alamimu
dan mengatasinya hanya dengan kerja keras.
Caramu menjadi sekuat ini...
Kau inspirasiku, Guru.
Tidak berbakat? Kau berani sekali.
Aku tidak tahu kau memuji atau menghinaku.
Maafkan aku.
Terserah. Lagi pula, itu yang sebenarnya.
Kau makin pandai dalam teknik melucuti senjata itu.
Semua berkat kau, Guru.
Ayo.
Senior "tidak berbakat" ini akan memberimu pelajaran.
Terima kasih banyak.
"Pukul 18.30. Aku akan menunggu di Kuil Shinkenji."
Tebak siapa?
KODE KORPS
Ayolah, Shimada. Ada apa?
Lebih bersemangat lagi.
Maaf, Wakil Komandan.
Hijikata tak menahan diri.
Hadapi semua lawan dengan segenap kemampuanmu.
Itu satu-satunya cara menunjukkan rasa hormat kepada lawanmu.
Namun, mereka semua terintimidasi.
Dia terlalu kuat.
Dia membuat Shimada terlihat seperti anak kecil.
Minggir!
Heisuke, kami sedang berlatih.
Ini bukan saatnya untuk itu!
Aijiro...
Aijiro dibunuh!
Mundur.
Mundur. Ayolah.
Hei!
Kau yakin itu Aijiro?
Ya.
Menurut kantor hakim, ada banyak luka pedang di tubuhnya.
Mereka bilang luka fatalnya menembus dari belakang ke perut.
Apa Shinpachi tahu?
Entahlah.
Aku belum melihat Nagakura di dojo hari ini.
Kau tahu siapa pelakunya?
Entahlah.
Kantor hakim berpikir mungkin perampok
karena barang-barangnya diambil.
Perampok?
Tak mungkin dia dibunuh oleh pencuri biasa.
Aku masuk.
Apa maumu, Niimi?
Kudengar salah satu anak buah kalian terbunuh.
Rupanya berita cepat menyebar.
Faksi kami penuh dengan orang baru.
Jangan sampai mereka kehilangan semangat karena hal sepele.
Sepele?
Cara dia mati.
Yang benar saja.
Namanya Sasaki Aijiro.
Tidak ada orang di korps ini yang bernama "orang yang terbunuh".
Kudengar dia dibunuh oleh pencuri biasa.
Orang lemah seperti itu bahkan tak pantas diketahui namanya.
Berengsek.
Beraninya kau menghina rekan yang gugur.
Satu!
Jika kau gagal membunuh dan punggungmu terluka
lakukan seppuku .
Sasaki ini, siapa pun namanya, ditikam saat berbalik.
Kalaupun selamat, dia harus melakukan seppuku.
Itu Kode Korps, kan?
Kondo.
Salah satu anak buahmu telah mempermalukan nama Mibu Roshigumi.
Bagaimana kau akan menjawab ini?
Hei, Niimi.
Hentikan, Toshi.
Shinpachi.
Ucapannya omong kosong.
Tidak mungkin Aijiro berpaling dari pencuri biasa.
Kalau begitu, menurutmu siapa pelakunya?
Entahlah, tapi aku akan menemukan siapa pun itu.
Aku akan menemukan bajingan itu
dan menghabisinya.
KODE KORPS
SATU, JIKA KAU GAGAL MEMBUNUH DAN PUNGGUNGMU TERLUKA
LAKUKAN SEPPUKU.
Hai.
Sampai jumpa.
Tidak bisa menahan diri untuk membuat masalah, ya?
Menurutmu aku berlebihan?
Tidak ada yang lebih baik daripada mengganggu yang lemah, kan?
Aku sangat menyukainya.
Terserah.
Astaga.
Kau yakin aku harus dapat sebanyak ini untuk hal sekecil itu?
Namun, kau yakin soal ini?
Sebenarnya, aku diperintahkan membunuh Kondo Isami
jadi aku menyamar di antara mereka.
Tidak perlu mengkhawatirkan itu.
Benar.
Jadi, apa selanjutnya?
Sudah cukup.
Serius?
Kau pikir menyingkirkan satu prajurit cukup untuk menjatuhkan Kondo?
Kau ahli strategi sejati, Niimi. Sesuai dugaanku.
Kurasa aku akan memakai uang ini untuk merayakan.
Tentu saja
kau tidak mengacau, bukan?
Tentu saja tidak.
Kau mendengarkan, bukan, Yamazaki?
Uang!
Awasi dia.
Ya.
Minggir.
Selamat datang.
Hei.
Melewatkan patroli untuk pergi minum? Pasti menyenangkan.
Gawat. Aku ketahuan.
Kau bahkan tidak memakai mantelmu.
Kau tidak menganggap ini serius?
Tidak, tentu saja aku serius!
Nagakura, kau datang jauh-jauh kemari.
Jadi, bukankah kau juga bermalas-malas?
Mau minum denganku?
Lupakan itu. Saeki...
Ini tentang Aijiro.
Kudengar dia dibunuh oleh preman, bukan?
Ini.
Terima kasih.
Aku melihat jasadnya.
Satu serangan fatal dari belakang ke perut.
Gaya serangan pedangnya adalah aliran Shindo Munen.
Itu gayamu juga, kan?
Terlebih lagi, kau dari Choshu.
Mubazir sekali!
Kau yang membunuh Aijiro.
Kenapa tiba-tiba membahas ini?
Untuk apa aku membunuh salah satu rekan kita?
Lagi pula, pasti ada seribu ahli pedang di Kyo
yang memakai gaya itu.
Termasuk kau, bukan, Nagakura?
Lagi pula, aku sudah meninggalkan klan Choshu.
Jarimu kenapa?
Seorang gadis menggigitku di distrik hiburan.
Kau memakai belat hanya karena gigitan kecil di kelingkingmu?
Aijiro mematahkannya dengan teknik melucutinya, bukan?
Jangan bergerak.
Kau berencana bertarung dengan tangan itu?
Bahkan kau bisa lihat perbedaan besar di antara kita, bukan?
Kau tahu
kau akan dihancurkan, kenapa tidak lari?
Guru dan murid sama saja, ya? Lucu sekali.
Biar aku yang bertanya.
Ada satu hal yang tidak kupahami.
Kenapa kau harus membunuh Aijiro dengan cara yang begitu brutal?
Pria dengan keahlianmu...
Kau bisa saja menghabisinya dengan satu serangan.
Kurasa orang bodoh sepertimu tidak akan mengerti.
Membunuh seseorang dalam kemenangan telak
terasa lebih baik daripada meniduri wanita.
Berengsek!
Apa-apaan itu?
Mencoba membuatku mati tertawa?
Jangan mengejekku!
Itu dia. Kemenangan mutlak.
Ini menyenangkan.
Terlalu mudah.
Aku tak tahan lagi.
Maaf, tapi ini dia!
Apa kau tahu, Saeki?
Sensasi sesungguhnya datang
saat kau menghancurkan seseorang yang melampaui kemampuanmu.
Tunggu! Nagakura, kumohon!
Kau punya bukti bahwa aku yang membunuh Aijiro?
Kau tak punya, kan?
Aku tidak ceroboh dengan hal seperti itu.
Jika kau menghabisiku sekarang
kebenaran bahwa aku pembunuhnya akan hilang.
Jadi, dengar! Aku akan bekerja sama!
Aku akan pergi ke kantor hakim atau ke mana pun kau mau.
Aku bersumpah akan memberitahumu semua yang kuketahui.
Kumohon! Ampuni aku!
Begitu rupanya.
Baiklah.
Terima kasih!
Terima kasih banyak.
Aku akan berutang kepadamu seumur hidupku.
Apa?
Kau benar-benar sampah yang mudah ditebak.
No comments yet. Be the first to leave one.