ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Theo, Siapakah aku di mata kebanyakan orang?
Hanya untuk sekali ini, semua baik-baik saja bagi Vincent van Gogh.
Dia baru saja menjual lukisan untuk pertama kalinya
dan ia dipuji para kritikus sebagai jenius masa depan.
Dia melukis seperti kesetanan, sehari satu lukisan.
Salah satunya, ini, 'Wheatfield with Crows', sebuah karya yang revolusioner.
Ini adalah lukisan yang memulai seni modern.
Namun, hanya dalam beberapa minggu, orang berprestasi itu bunuh diri.
Lalu , mengapa ia tega melakukan hal itu?
Sepanjang hidupnya, Vincent punya keyakinan seperti anak kecil bahwa revolusi seninya
akan disaksikan oleh semua orang.
Jadi, apakah 'The Wheatfield' merupakan tangisan frustrasi yang menyedihkan
sebab ia tidak pernah bisa mewujudkan visinya dalam lukisan,
ataukah itu teriakan kemenangan atas sesuatu yang akhirnya berhasil dia kerjakan?
Dan jenis lukisan seperti ini, bergolak, mentah, teramat emosional,
merupakan seni baru bagi masyarakat?
Tanyakan siapa saja, siapa menurut anda seniman yang hidupnya tersiksa, jenius tapi gila?
Kemungkinan anda akan dapat satu jawaban, dan hanya satu jawaban,
Vincent Van Gogh.
Yang mengiris telinganya sendiri, bukan?
Yah, tidak, sebenarnya, dia tidak melakukannya.
Yang dia lakukan adalah memotong bagian berdaging dari daun telinganya.
Oh, saya paham, saya paham, itu sudah cukup untuk menunjukkan dia sinting, bukan?
Dan ketika ia akhirnya menembak dirinya sendiri, semua bersatu dalam paduan suara,
"Nah, ya, dia, kan?"
Merah muda lembut. merah muda lembut dan merah darah.
merah muda lembut dan merah darah,
hijau Louis XV lembut dan biru-hijau kasar.
Sebuah tungku neraka.
Bagaimana seorang pria seperti itu mampu membuat karya seni yang menakjubkan seperti ini?
Apa yang orang diagnosis sebagai penyakit mental,
pemikiran Vincent adalah sebuah pencerahan,
visi baru tentang kemampuan seni.
Sebuah wahyu dari langit, di atas bumi ini.
Dia menganggap dirinya seorang nabi, jika demikian.
Tapi juga, seorang pemikir.
Pikiran-pikiran itu mengucur lewat aliran kata-kata.
Halaman demi halaman, hari demi hari.
Yang harus anda lakukan untuk menemukan van Gogh yang sebenarnya,
adalah dengan membaca surat-suratnya,
ratusan diantaranya, dituliskannya buat adiknya Theo
anda akan saksikan sendiri, itu sama sekali tidak terlihat bodoh, tapi bijaksana, jeli.
Yang terkasih Theo, Tuhan, betapa indah Shakespeare itu.
Bahasanya dan metodenya seperti sebuah kuas
gemetar dengan kegembiraan dan ekstasi.
Menemui van Gogh yang seperti ini, dia sama sekali bukan makhluk naluriah yang buta,
tapi seorang kutu buku yang tak pernah terpuaskan.
Saya pernah membuat setidaknya sebuah studi yang serius tentang Victor Hugo
dan Dickens, dan baru-baru ini Aeschylus dan beberapa 'minor masters'.
Baiklah, hal yang menakutkan yang akan membuat anda bungkam di publik tapi menggedor terus-menerus
dari karya George Eliot dan Charles Dickens,
dan membuat anda mundur dari bau yang mengerikan.
Nah, kau tahu bahwa Fabricius dan Bieder termasuk di antara 'minor masters'?
Bieder? Bieder?
Jadi, di balik wajah kurapan dan jaket bolong-bolongnya,
Vincent menjalani kehidupan seorang pemikir.
Sudah sejak lama, seni bukanlah yang utama, yang paling penting adalah mencari 'penyelamatan'.
Itu ada dalam darahnya.
Ayahnya, pendeta Theodorus van Gogh,
adalah seorang pastor di sebuah desa di Belanda selatan.
Jadi, bahkan ketika ia diselamatkan dari ajaran sesat para Kalvinis Belanda oleh pamannya
dan dikirim ke London menjadi pedagang seni, dia tampil 'menyelamatkan jiwa-jiwa'.
Itu di masa-masa lampu gas Victoria Vincent yang sesungguhnya mulai muncul.
Di tengah debu dan pasir Disraeli London,
Pemuda Belanda lusuh menemukan kembali Yesus.
Ini adalah kepercayaan lama. Ini kepercayaan lama dan ini kepercayaan yang baik.
Hidup kita adalah perjalanan seorang peziarah, dan hidup kita, ee...
Ini adalah kepercayaan lama dan ini adalah kepercayaan baik dimana hidup kita...
Dia menentukan dirinya sendiri sebagai misionaris bagi yang berpunya.
Dan saat ia keluar mengenakan sepatu kulit, berderap melewati yang terampas, pemabuk dan pelacur,
Vincent tumbuh untuk membenci kekerdilan dunia galeri.
Yang dia inginkan adalah menjadi seorang pengkhotbah.
Ini adalah kepercayaan lama dan ini adalah kepercayaan yang baik.
Hidup kita adalah perjalanan seorang peziarah, bahwa kita adalah orang asing di bumi ini.
Tapi, meskipun begitu, kita tidak sendirian selama Bapa bersama kita.
Bapa bersama kita. Bersama kita.
Kita adalah para peziarah, dan hidup kita...
Kita adalah para peziarah, dan hidup kita...
Maka Santo Vincent yang Baik ditinggalkan di hamparan karpet merah,
dan berangkat memenuhi rasa lapar akan cahaya yang memenjarakannya.
Terowongan penambang batubara di Belgia selatan.
Kemiskinan yang kotor dan, setahu Vincent, benar-benar membutuhkan 'penyelamatan'.
Pengkhotbah muda awam itu mengambil Alkitab kumalnya
dan semangat naluri penunjuk jalannya memperhatikan jalan-jalan yang kotor
dimana para perempuan mengangkut karung batubara, dan ia melakukannya sebaik mungkin.
Dan hidup kita adalah jalan panjang dari bumi ke surga.
Jalan panjang dari bumi ke surga.
Tapi itu masih belum cukup.
Setelah masa percobaan,
kelompok misionaris yang membayarnya murah menyingkirkan dia.
Semangatnya berlebihan, rupanya.
Tapi anda tidak bisa menyingkirkan Vincent van Gogh dengan gampang.
Dia punya cara yang berbeda untuk berkhotbah,
ia akan melukis.
Ini akan menjadi 'panggilan' baru bagi Vincent.
Dan ini luar biasa.
Dia hampir berusia 30, dia tidak lebih bisa dari hanya mengambil kuas,
tidak pernah ikut pelatihan formal apapun.
Tapi Vincent tidak merasa terganggu, ini adalah saat-saat 'jalan menuju Damaskus'-nya.
Di satu sisi, aku senang belum pernah belajar melukis.
Aku yakin bahwa melukis sudah ada di sumsum tulangku.
Aku menginginkan gambar-gambar yang akan menyentuh orang.
Aku ingin mencapai ke titik dimana... dimana orang berbicara tentang cara kerjaku,
orang itu, orang itu merasakan dengan mendalam,
orang itu merasakan dengan tajam.
Seni akan mencapai keberhasilan di mana Gereja telah menemui kegagalan.
Ini akan membawa keselamatan dan kenyamanan.
pelayanannya adalah untuk membuka mata semua orang, terutama orang miskin,
kepada kekuatan ajaib dalam hidup.
Persis dengan pandangan bahwa mereka sama sekali terpisahkan
dari kesibukan sehari-hari yang tanpa belas kasih.
Aku hanya berharap bahwa ada lebih banyak
dan peluang yang lebih baik dan pameran yang menyuguhkan seni untuk rakyat.
Maksudku, jauh dari keinginan untuk menyembunyikan cahaya di bawah gantang,
Aku akan membiarkannya dilihat.
Dan jika ia hendak memberi orang sebuah perasaan bahwa surga itu ada dalam hal-hal sederhana,
tangan yang kapalan, kelopak bunga,
anda lebih baik menjadikan diri seorang buruh, pikir Vincent,
dan anda akan lebih baik tundukkan kepala lebih rendah, dan hidup bersama mereka, juga.
Dan anda tidak jauh lebih rendah dari orang yang tinggal bersama pelacur patah hati,
punya kebiasan minum, radang tenggorokan berat, 'single mother', anak-anak yang sakit-sakitan,
satu lagi dari jalanan.
Clasina Hoornik, Sien begitu Vincent menyebutnya yang diajakya ke rumah,
yang dijadikannya semacam gundik.
riwayat Sien atas penderitaan bisa ditandai pada tubuhnya.
Payudara yang melorot dan rambut semrawut menjadi makanan dari inspirasi Vincent.
Tidak ada yang seperti seorang wanita tua, ia menulis kepada Theo.
Dan di dalam paparan garis penuh cinta dari tubuh loakan, anda dapat lihat apa yang ia maksud.
Theo tercinta.
Aku ingin sekali melihat kesan apa yang dibuat Sien padamu.
Dia... tak ada yang istimewa dengannya. Dia hanya seorang perempuan biasa di masyarakat,
yang menggenggam sesuatu yang luhur bagiku.
Tidak mengherankan, ini bukan gagasan yang cemerlang bagi anak seorang pendeta.
Theo, tidak merasa malu, juga tidak terlalu peduli dengan itu,
tapi itu tidak menghentikannya untuk tetap mendukung karir terbaru saudaranya.
Tidak peduli seberapa cemberut, tak terduga atau tak tahu berterima-kasihnya Vincent,
setiap bulan, teratur seperti jam, subsidi persaudaraan terus mengalir.
Sebagai imbalan untuk menjaganya tetap 'terapung',
Vincent menyuplai Theo, sekarang dirinya seorang 'art dealer' di Paris,
dengan beberapa lukisan untuk dijual.
Masalahnya, menurut Theo, lukisan-lukisan itu tak bisa dijual,
padat, bergumpal, lukisan yang 'lethek' (Jawa: keruh).
Theo tercinta, Theo tercinta, Theo tercinta,
yang sangat bertentangan tentangmu adalah bahwa,
seseorang mengirimimu sesuatu dan seseorang itu tak mendengar balasan apa-apa,
dan kamu tidak mau mengulurkan tanganmu!
Tapi orang tidak boleh mengatakan, "Kau tidak bisa mengelola uang."
Dan aku ingin tambahkan bahwa aku tidak akan meminta padamu
apakah kamu setuju atau menolak apa pun yang aku lakukan.
Tapi si adik percaya, dan terjebak oleh bantahan Vincent yang bersemangat.
Tidak semua orang yang terlibat dengannya berpikir untuk jangka panjang.
Sien mulai bosan dengan 'kampanye' Vincent untuk mengubah dirinya menjadi 'ibu rumah tangga' Belanda yang baik,
dan menghilang kembali ke dalam gemerlap lampu gas Hague.
Yang meninggalkan Vincent dimana, tepatnya ia harus berada?
Dia berusia 30 tahun tetapi, seperti katanya, keriputnya membuat dia terlihat lebih seperti 40 tahun.
Uang, dia sepenuhnya tergantung pada saudaranya, Theo.
Seks dan cinta, dia berpindah dari 'yang tidak cocok' menuju 'yang mustahil'.
Dan usahanya menjalani profesi barunya yang agak terlambat,
yah, mereka boleh digambarkan tidak punya kecocokan.
Jadi ketika ia kembali ke rumah orang tuanya, dia diterima sebagai anak yang tidak mereka inginkan.
Aku rasa apa yang Ayah dan Ibu pikirkan tentangku itu instingtif.
Aku bilang itu bukan intelijentif.
Mereka urung menuntunku masuk ke dalam rumah,
seperti menyambut anjing berbulu besar dengan kaki-kakinya yang basah.
"Dia akan menempuh jalan semua orang, dan gonggongannya sangat keras.
"Pendeknya,
"Dia adalah binatang kotor."
Dan kemudian, hal itu terjadi.
'The Potato Eaters' adalah mahakarya pertamanya yang menohok.
Ini adalah catatan dari segala yang dia rasa dan pikir hingga saat itu.
Segala yang akan membuatnya jadi artis revolusioner sudah di depan mata.
warna-warna gelap, tebal dipilih bukan cuma buat efek gambar,
tetapi anda bisa katakan, secara filosofis, untuk mengungkapkan sesuatu.
Dan sesuatu yang tidak dimaksudkan jadi panorama pedesaan yang memesona.
Maksud saya, 'seberapa coklat' bisa anda peroleh?
Itu coklat pupuk, cokelat abu-abu, seperti yang ia jelaskan,
dari kentang berdebu sebelum mereka dibilas.
Larut dalam penghayatan total, van Gogh melukis seperti orang mencangkul.
Dengan kuas penuh gumpalan cat, ia melakukan kerja buruh dengan caranya sendiri.
Lukisannya tampak seperti disekop dan digali, bukannya dicat.
Ada penyatuan total antara pelukis dan subjeknya.
Semua ada di genggaman.
Aku mencoba mengungkap gagasan bahwa
orang-orang ini, makan kentang dengan diterangi cahaya lampu mereka,
menggali tanah dengan tangan yang sama dengan yang mereka gunakan untuk menaruh makanan ke dalam piring.
Kerja manual, memperoleh makanan dengan jujur.
Siapa pun yang ingin melukis petani ia harus merendahkan dirinya serendah-rendahnya.
Ini seolah-olah dia harus bersopan-sopan dengan warna 'sienna' dan 'burnt umber'
untuk lukisan ruang tamu yang harus ia jual ke Den Haag dan London.
Ini jauh dari bersantap yang dirahmati.
Perjamuan kentang mereka, persekutuan suci kelas pekerja.
Dia sadar dia melakukan sesuatu yang penuh sesak dengan kekuatan, magis.
Jadi dengan bersemangat dia kirimkan lukisan itu ke Theo,
yang selalu mengeluh tentang betapa sulitnya menjual lukisan-lukisan kelam Vincent,
ketika di Paris semuanya cerah.
Theo,
semua menjadi sangat jelas bagiku
bahwa kau tak peduli dengan lukisanku.
Apa aku pernah menentangmu tahun-tahun ini kita menemui semacam
rasa hormat dingin yang mulai kambuh,
No comments yet. Be the first to leave one.