ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Setelah Olimpiade ke-31 di Brasil,
Menteri Olahraga Vishnu Kanth Tiwari
menyuarakan kekecewaan atas perolehan medali India.
Dalam rapat tingkat tinggi dengan pejabat Olimpiade India
di Markas Olahraga Kolkata,
menteri menuntut reformasi besar dalam seleksi dan pelatihan atlet.
Duduk, duduk.
Duduk.
Selamat, Pak.
Kali ini kita menang dua medali!
Duduk!
Kau harusnya malu.
Kita harus menunduk untuk mencari India di tabel medali.
Kapan kita...
Bisa tegakkan kepala?
Negara kita punya 1,3 miliar penduduk.
Dan kita cuma dapat dua medali?
Butuh seluruh usaha kita...
Untuk melahirkan dua juara saja.
Kita sudah habiskan dana besar untuk olahraga.
Kita sudah bangun banyak akademi.
Lalu apa yang salah?
Pak...
Kami sudah beri atlet akademi pelatihan yang layak.
Dan fasilitas yang layak.
Pertama, generasi ini tak ada yang minat olahraga.
Tanya olahraga favorit mereka,
satu bilang, "Temple Run."
Yang lain bilang, "Candy Crush."
Saat seluruh lapangan...
Muat di telapak tanganmu,
siapa yang mau repot latihan, Pak?
Apa yang dilakukan putramu, Tuan Baiswal?
Dia tingkat akhir Elektro di IIT Bombay.
Bagaimana dengan anak-anakmu?
Putriku kuliah Kedokteran di AIIMS, Delhi.
Putraku sedang S2 di Amerika.
Kita sendiri tak ada yang berolahraga.
Kita bahkan tak dorong anak kita bermain.
Namun, kita di sini
menentukan nasib olahraga dan atlet kita.
Wah!
Aku tak mau diam.
Jika kau tak datang ke rapat berikutnya dengan solusi,
semua akademi di negara ini akan ditutup.
Tanahnya akan disewakan ke perusahaan.
Dan anggaran olahraga
akan dialihkan ke pertahanan dan pertanian.
Tuan Baiswal.
Kekalahan di lapangan
bukan cuma kekalahan pemain.
Ini kekalahan bangsa.
Ini orang-orang yang harus menang di Olimpiade?
Satu, dua, tiga, empat...
Seingatku, orang India cuma jago satu olahraga.
Menambah populasi.
Bagus sekali!
Apa, Pak?
- Kau bermain bagus. - Kau pikir begitu?
- Ikuti bus itu. - Baik, Pak.
Apa yang terjadi di sini?
Kompetisi olahraga, Pak.
Ramai sekali!
Pemuda di sini gila olahraga, Pak.
Seleksi Kabaddi sedang berlangsung di sini.
Ini seleksi tim kriket U-19.
- Nama? - Shiva.
- Usia? - Sembilan belas.
Baik.
- Nama? - Appanna Tendulkar.
- Usia? - Sembilan belas.
Appanna, Tendulkar favoritmu?
Ya, Pak. Makanya saya pakai namanya.
Bagus.
- Nama? - Venkat.
- Usia? - Enam belas.
Favorit saya Dhoni, Pak.
- Nama? - Govind.
- Usia? - Tujuh belas.
Baik.
- Govind. - Pak?
Kau tak punya pemain kriket favorit?
Punya, Pak!
Pemain kriket favorit saya...
Adalah Peddi!
- Peddi? - Ya, Pak. Peddi!
- Nama? - Nama saya Viswak.
Pemain favorit saya Dara Singh, Pak.
- Nama? - Saya Vasu.
Pegulat favorit saya...
- Adalah Peddi! - Wah!
Peddi lagi?
- Peddi! - Peddi!
- Peddi! - Peddi!
- Peddi! - Peddi, Pak!
Peddi. Peddi.
Nama saya Arun Kumar. Pelari favorit saya Peddi, Pak.
Peddi. Peddi.
Pelari favorit saya Peddi!
Peddi.
Pemain favorit saya Peddi.
- Peddi. - Peddi.
- Peddi, Pak. - Peddi, Pak.
- Peddi... - Peddi, Pak!
Salam, Pak. Ambillah ini.
Siapa pun yang kutanya,
olahraganya berbeda, tapi pemain favoritnya tetap sama.
Peddi.
Apa itu nama dewa di sini?
Batu yang kau duduki pun dinamai Peddi, Pak.
Benar.
Saat Peddi pukul bola enam,
jatuhnya di sini. Jadi kami menamainya untuknya.
Bola dari lapangan ini biasanya jatuh di sini, ya?
Pak! Dia tak memukulnya dari lapangan ini.
Lapangan itu.
Yang itu!
Yang di baliknya!
Dia memukulnya dari tiga lapangan jauhnya.
Aku sudah lihat banyak olahraga.
Tak pernah lihat orang main sebanyak ini.
Satu orang...
Memainkan semua olahraga ini?
Di desa seperti ini pula?
Kenapa?
Kebutuhan menjadikannya atlet.
Bagi pemuda di sini, Peddi bukan dewa di kuil.
Dia dewa di lapangan.
Aku ingin...
Tahu lebih soal Peddi.
Kalau mau tahu soal Peddi, mobil tak bisa membawamu ke sana.
Kau harus jalan kaki, Pak.
Ayo pergi.
Kita harus melewati bukit-bukit itu.
Di tanah Vizianagaram, tempat lahir Kodi Rammurthy Naidu,
gulat mulai kehilangan tempatnya
dan kriket dari negeri jauh mulai berakar.
KODI RAMMURTHY NAIDU (1885 - 1942) "HERKULES INDIA"
Di desa-desa sekitar, kriket dimainkan seperti sabung ayam.
Dengan taruhan besar untuk mengimbanginya.
Taruhan sedikit, kau menang. Taruhan lebih, kau kalah.
Hei, Rambujji!
Kau ganti "Royal"di"Royal Enfield"jadi"Rambujji"?
Sebelum kubeli, itu nama mereka.
Saat kubayar, itu jadi milikku.
Pergi sana.
Bro, namaku bukan Loud Sesh.
Nama keluargaku Loud dan aku Sesh.
Terserah kau saja, Loud Sesh.
Kau mungkin pernah lihat banyak barang dilelang!
Tapi di sini,
lelang diadakan untuk pemain sewaan!
Untuk pemain sewaan!
Harga dewa adalah 10 paise.
Rambujji dari Vizianagaram menawar satu rupee!
Seratus rupee.
- Seratus satu rupee! - Dua ratus.
Enam ratus!
- Bobbili! Enam ratus! - Saudara, tawaran kita terlalu tinggi.
Rambujji dari Vizianagaram menawar enam ratus satu rupee!
Sekali! Dua kali! Terjual!
Mereka mendapatkan pemain sewaan, Peddi, seharga 601 rupee!
Pemain sewaan kita Peddi dibeli oleh Vizianagaram.
Kenapa kita bertaruh pada Bobbili?
Kita pasang taruhan pada Vizianagaram.
Vizianagaram menang lemparan koin dan memilih untuk melempar.
Pemain cepat kita Rambujji kini melempar.
Sekarang kau akan merasakannya.
Wah! Kontes yang sengit dan mendebarkan!
Dulu, Vizianagaram dan Bobbili bentrok demi kerajaan.
Hari ini, mereka bertarung demi permainan.
109
Mengejar 125, Vizianagaram mulai memukul.
Ini waktu istirahat minum.
Jika mereka punya pemain sewaan yang bisa pukul enam angka enam kali,
kita punya pelempar baru, Talari Ambrose.
Sial!
Tak mampu menahan lemparan api Talari Ambrose,
para pemukul Vizianagaram keluar cedera
tanpa kehilangan gawang mereka.
Tembakan!
VIZIANAGARAM, 16, OVER: 2
Hei, Bujji!
Lemparan Ambrose membuat Dorabujji bingung.
Pertandingan berbalik arah ke Bobbili.
Dan Vizianagaram dalam masalah besar.
- Kita bisa kalah. - Kau buat kita kalah!
Di mana buruh sewaan itu?
Di mana juru masak Peddi?
Gula jawanya meluap.
Kenapa dia menghilang bukannya menjaganya?
Dia pergi ke pertandingan, Pak.
Seluruh masakannya akan hancur.
Boleh aku mengaduknya sementara ini?
Hei! Biarkan dia kembali.
Peddi!
Peddi! Peddi! Peddi!
Peddi! Peddi! Peddi!
Inilah maestro bola gabus,
pria yang bisa pukul enam angka enam kali dalam satu over.
No comments yet. Be the first to leave one.