ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Ampun, Kanjeng.
Nyi Loro Pati… Nyi Loro Pati…
Bi Tari. Bi.
Kok kamu belum siap-siap sih?
Nanti kalau enggak kebagian nomor antrian, gimana?
Ayo.
Mas…
Apa enggak ada cara lain?
Aku ini enggak sreg kalau Ibu dibawa berobat ke dukun.
Ya, cara apa?
Semalam kita sudah bicarakan.
Kamu setuju, aku setuju.
Sudahlah, Tari.
Dari kecil, kamu tuh enggak pernah nurut, gitu lho.
Sudah.
Jangan lama-lama.
Bu.
Bu.
Bangun, Bu.
Mbak, yang ini juga harus diisi.
- Gimana, Pak? - Yang ini juga harus diisi.
Ya, terima kasih.
Ini kok kita harus isi tanggal lahir kita, ya?
'Kan yang berobat Ibu.
Ya sudahlah, Ri. Isi aja.
Kamu mau 'kan, Ibu cepat sembuh?
Mas.
Aku kok enggak yakin, ya?
Mas.
- Mas! - Apa?
Kamu dengar enggak, sih?
Ada apa, sih? Dari tadi main HP terus.
Itu…
Bosku nanya…
Kapan masuk kerja lagi.
Kamar dan ruang tamu.
Nah, itu untuk mempercepat proses penyembuhan.
Cepat sembuh, ya.
Terima kasih. Ini ya, Pak, ya.
Ya. Terima kasih. Sama-sama.
- Mari, Pak. - Ya, Mari.
Iya.
Ayo, Bu.
Bengkaknya tambah parah ya, Bu.
Iya, Pak.
Sudah berobat dua tahun, sama dokter.
Tapi enggak sembuh-sembuh.
Ibu jangan khawatir, ya.
Mari, sekarang kita mulai.
Nyi Loro Pati… Nyi Loro Pati…
- Mas. - Tari.
Ayo.
Cepat sembuh, ya.
Terima kasih, Pak, sudah sembuh.
Baguslah.
Sudah, Mbah?
Sudah.
Mari, silakan.
Bu, gimana, Bu?
Alhamdulillah, udah sembuh.
- Sudah bisa jalan sendiri ya, Bu. - Iya.
Ganti baju dulu, ya.
Silakan.
- Mas. - Iya, Mbah?
Ini untuk menetralkan energi negatif.
Dan tolak bala. Ya?
- Ya. Terima kasih ya, Mbah. - Iya.
Enggak bisa besok malam, Pak.
Mbah Narto ada acara rutin keluar kota.
Iya, maaf ya, Pak.
Iya… Iya.
Sudah kelar toh, Mas?
- Sudah, Pak. - Bu.
Gimana keadaannya?
Sehat, langsung sembuh.
Semoga tetap sehat ya, Bu.
Pak, ini bagaimana, ya?
Ini…
Jangan lupa ditaruh di depan rumah sama di dalam kamar Ibu.
- Ya. - Ya?
Baik.
Terima kasih, ya.
- Terima kasih ya, Pak. - Ya.
Mari, Pak.
Silakan.
- Di sini, Pak. - Ya.
Berhenti, Pak.
Sebentar, Ibu.
Terima kasih, Mas.
Sudah, tidak apa-apa.
- Ayo. - Ibu sudah sehat kok.
- Ayo, Ibu. - Iya.
- Hati-hati. - Pak.
- Iya. - Ini.
- Terima kasih. - Terima kasih.
- Mas. - Ya.
Ada paket.
Dari mana?
Tidak tahu.
Bu.
Ini palunya kecil sekali, ya.
Apa?
Langka.
Gimana menurutmu?
- Asli ini. Antik betul. - Asli, ya?
Nugie.
Kamu ambil yang…
Bali.
Iya, Pak.
Ini kurang, Pak, saya.
Enggak usah.
Ya, enggak bagus.
Kurang cocok. Gimana?
Ya soal…
Keris ini 'kan memang soal…
Selera, ya.
Di hati itu gimana.
Nah, ini.
Coba jelaskan ke Pak Agung, Nugie.
Jadi, begini Pak Agung…
Ini keris Nogotopo.
Umurnya hampir 300 tahun dengan pamor.
Singkirgeni.
Khasiatnya…
Konon katanya kalau
rumah sekitar itu lagi kebakaran,
kita tinggal…
Taruh ke luar rumah, kita aman. Begitu.
Nah, ini, Pak. Nih.
Tuh.
Silakan.
Ini…
- Ini bagus ini, Pak. - Ya bagus, Pak. Iya.
Ini…
Ya, tapi maaf ini, Pak.
Sayang keris jenis ini sudah banyak
di koleksi saya.
Yang bentuk seperti itu?
- Ya. - Begitu.
Tapi kalau ada
yang lebih baru, lebih unik,
langsung aja Mas Nugie
- datang ke rumah saya, anterin aja. - Boleh.
Ini maaf, Pak, saya harus pergi, ada urusan.
Pamit dulu, Pak.
- Terima kasih, Pak. - Iya, terima kasih.
Terima kasih ya.
- Hati-hati di jalan. - Iya, iya. Mari.
Nugie, Nugie.
Sudah telat terus setiap hari.
Terus gajimu itu, hampir habis tuh kepotong kasbon-kasbonmu itu.
Ya, Pak.
Jadi, ada apa?
- Enggak, Pak, anu… - Kenapa?
Keperluan rumah itu lagi banyak, Pak.
- Pokoknya repot lah, Pak. - Ya sudah, sudah.
Tapi mulai besok,
kamu harus masuk kerja sesuai jadwal.
Tepat!
- Ya? - Iya, Pak.
Kalau tidak,
aku terpaksa cari orang lain, ganti kamu.
Ya, jangan, Pak.
Nih.
Sisa gajimu bulan ini.
Silakan, Pak.
Itu orangnya.
- Mas. - Iya, Mas.
Jangan lari, Bangsat!
- Hei, lihat! - Hei, Bangsat!
Hei, Bangsat!
Hei, berhenti!
Bangsat!
- Sudah. - Berhenti!
Berhenti enggak?
Berhenti, hei!
- Hei, berhenti enggak kamu? - Hei, berhenti!
Mampus lu!
Mampus lu!
Masuk!
- Jawab! - Ampun, Pak!
- Ampun. - Banyak bacot.
Sini lu.
Ayo.
Ampun, Mas.
Ini, Bos.
Sebenarnya saya tidak suka lho kekerasan.
Saya ikhlas menolong orang-orang.
Tapi sayangnya keikhlasan saya itu suka disalahartikan.
Saya paham.
Mas Nugie minjam uang saya buat pengobatan Ibunya Mas Nugie.
- Saya tahu itu. - Iya, itu.
Saya respek lho sama Mas Nugie.
Terima kasih.
Tapi hutang, ya, tetap hutang.
Harus dibayar.
Saya mohon, Pak, ampun…
Waktu Mas Nugie tinggal dua hari lagi.
Saya akan datang ke rumah Mas Nugie untuk mengambil uang saya.
Atau Mas Nugie mau kayak gini? Mau kayak begini?
No comments yet. Be the first to leave one.