ആദ്യത്തെ 176 വരികൾ.
Telepon, cepat.
Ben, target sudah terlihat.
Lima menit lagi kami sampai di sana.
Tiga menit kugaransi.
- Jangan bergerak! -
Berengsek! Bajingan!
- -
- -
- -
Goblok!
Hobi itu melukis.
Memancing.
Hobi kok salah tangkap?
Lagi pula, kenapa kalian malah mengikuti orang ini?
Siap. Gerak-geriknya tampak mencurigakan, Ndan.
Dan dia bawa koper.
Helmi Yahya di Uang Kaget juga bawa koper!
Terus, kenapa? Saya sudah bilang,
gudang di sebelah tenggara.
Tenggara!
Kalian tahu tenggara di mana?
Siap! Yang ada gudangnya, Komandan!
Ya, tahu, yang ada gudang!
Maksud saya, misalnya saya di utara,
terus tenggara di mana?
- Tunjuk! - Siap! Di sana, Ndan!
- -
Semua arah kalian tunjuk kecuali tenggara.
Sudah!
Tidak perlu revisi! Turunkan!
Orang yang kalian pukuli,
itu Wiryawan.
Intel Polda yang sedang menyelidiki kasus narkoba.
Dan dia adalah keponakan Kapolres.
Keponakan langsung atau dari istrinya, Ndan?
Bukan itu intinya!
Izin. Maaf, Ndan,
tapi yang bersangkutan tidak bilang dia anggota, Ndan.
Ya, bagaimana mau beri tahu?
Baru mau bicara, sudah kalian pukuli!
Sudah hampir dua tahun.
Dua tahun saya tugaskan kalian untuk mencari pembunuh Fredy.
Tidak ada hasilnya!
Kalian tidak malu baca berita seperti ini?
Dengar, ya.
Saat ini, Kapolres sudah marah besar.
Kalian akan dilaporkan untuk pelanggaran etika yang ketiga kalinya.
Tahu, 'kan, artinya apa?
Untuk kali ini,
saya tidak bisa membantu.
Bagaimana ini?
Mau makan apa mamakku di kampung kalau aku dipecat?
- -
Bukan hanya kau yang pusing, Gel.
Aku pun bingung membayar biaya kuliah adikku kalau begini caranya.
Masih mendingan kau, Ben, cuma biaya kuliah.
Bisa ditunda.
Aku?
Bagaimana aku menunda persalinan istriku?
Masalahnya, adikku sudah mau lulus.
Kalau tidak ada ijazah, bagaimana dia akan cari pekerjaan?
Kau bagaimana, Bor?
Lancar sidang mediasimu minggu lalu?
Lancar.
- Alhamdulillah. - Puji Tuhan.
Berarti kau tidak jadi pisah dengan Gina?
Lanjut, Bor?
Maafkan aku, ya, Ki,
Gel, Ben.
Sepertinya aku akan lebih lama lagi menumpang di kontrakan kalian.
Tidak apa-apa, 'kan?
Kenapa kau bertanya begitu, Bor?
Ya, Bor.
Semua beban yang ada di pundakmu, itu beban kami juga.
Ya sudahlah.
Kita pikul bebannya bersama-sama.
Terserah kau mau tinggal di tempat kami sampai kapan.
Kalian memang sahabat sejati.
Jujur, awalnya aku merasa tidak enak
kalau harus menumpang gratis begini.
Terima kasih, ya.
Gratis?
Siapa yang bilang "gratis"?
Kubilang kita pikul bebannya bersama-sama.
Patungan.
Hei…
- Aman, 'kan, ini? - Gel!
Ayo cepat!
Sidang Boris sejam lagi. Kasihan dia sendiri.
Maaf, aku tidak bisa, Ki.
Ada yang mau lihat motorku.
Lo?
Kau jual motormu?
Iya. Kalau dipecat, mau kirim apa aku ke mamakku di kampung?
Terus, aku sama siapa?
Di pengadilan? Sendiri?
Tidak.
Di sana ada hakim, jaksa, pengacara.
- - Ramai di sana.
Duluan, ya.
Memang kau monyet, ya.
Sidang Pengadilan Negeri Kota Yamakarta
dalam perkara perceraian…
Terima kasih, Bang.
…antara saudari Gina Maharani dan saudara Boris Manullang
pada hari ini dinyatakan dibuka
dan terbuka untuk umum.
Halo, Aluna.
- Akan saya kabari nanti. - Terima kasih.
Kenapa bawa Aluna ke sini?
Dia yang memaksa ikut.
Dari kemarin jadwal sidang mundur terus.
Dia bosan menunggu di sekolah.
Kalau kena ini,
ularnya turun, kalau yang ini naik.
Papa dan Mama sudah selesai sekolahnya?
Sudah.
Dapat PR atau tidak?
Banyak.
Terus, kok Papa tidak pernah pulang?
Mengerjakan PR harus di rumah.
Aku mau main ular tangga lagi dengan Papa, ya?
Aluna…
Papa sekarang lagi mengejar penjahat dulu.
Nanti kalau penjahatnya sudah ditangkap,
baru Papa pulang ke rumah.
Terus, kita main ular tangga lagi.
Ya?
Kenapa bukan Om Oki saja yang mengejar? Om Oki seram mukanya.
Tajam juga moncong anakmu.
Bisa mengobrol sebentar?
Aluna.
Kita main dulu, yuk, ke sana.
Main apa, Om?
Kiu-kiu boleh.
Tidak pakai isi.
Ayo, kita main di sana.
Setelah semua ini selesai,
aku mau kerja lagi.
Ya, silakan saja.
- Jadi, nanti selagi kamu di kantor… - Di Malaysia.
Malaysia?
Maria buka restoran di sana.
Dia mau aku bantu dia.
Dan katanya aku boleh bawa Aluna ke sana.
Kamu tidak bisa, Gin, menghukumku seperti ini.
Siapa yang menghukum?
Aku kerja untuk Aluna.
Kesempatannya ada di sana. Jadi, aku kejar!
Ya, tapi kamu bisa saja cari kerja di sini.
Di sini itu di mana? Di mana aku bisa kerja sambil bawa Aluna? Di mana?
Ada aku.
Kamu ada,
tapi tidak pernah hadir.
Ya sudah. Begini.
Aku akan tetap memberikan semua gaji aku, seperti biasa.
Jadi, kamu tidak perlu lagi kerja. Ya, 'kan?
Gaji dari mana kalau kamu saja dipecat?
Aku sudah dengar semuanya.
Siap! Oke, siap, Bang!
Nanti ketemu di Polres, ya.
Siap, 86!
Aluna. Sayang.
Yuk, pulang.
Ojeknya sudah dekat.
Kalau penjahatnya sudah ditangkap, Papa pulang, ya?
Ya, Papa pulang.
Yuk.
Tasnya.
Terima kasih, Om.
Ini adalah biaya UKT yang harus dilunasi, Pak.
Maaf, Bu.
Bukannya ini bisa dicicil?
Mohon maaf, Pak.
Tapi ini ketentuan dan ketetapan di universitas.
Kalau UKT belum lunas sampai tanggal jatuh tempo,
No comments yet. Be the first to leave one.