ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
SERIAL DOKUMENTER NETFLIX ORIGINAL
- Ini tempatmu? - Ya.
Aku selalu kemari sarapan taco.
Bagaimana sampai sini?
Aku biasa makan dua taco steik bertepung
dan Don Chago.
- Bagus. - Aku tak suka telur.
- Ya? - Aku pilih Don Chago.
- Jadi, ini tradisi Austin, sarapan taco? - Pasti.
Karena di LA disebut burrito?
Itu sebutan di tempat lain, tapi, Austin selalu beda.
Harus disebut taco.
Namanya memang taco. Kali ini kalian salah.
Truk makanan di sini beda dari di LA karena kebanyakan berupa trailer.
- Tidak jalan. - Truknya setop.
- Parkir. - Tak jalan.
Kalian buat banyak tapi...
Portland begitu?
Seperti Portland.
- Tapi Portland... - Di Portland banyak.
Aku suka. Itu impianku.
- Aku ambil makanan. - Terima kasih.
- Aku buat... - Trailer kecil itu milikmu?
- Yang di foto? - Ya, yang biru kecil.
Trailermu setengahnya ini.
Sangat kecil.
Kau menariknya di belakang mobil.
- Trailerku parkir. - Parkir seperti di sini?
Kami buka restoran di tempat parkir.
Awalnya dengan trailer, satu kompor.
Harus ada kompor lagi, beli kompor lagi.
Kami punya kompor seperti restoran dahulu di pekarangan.
Awalnya dari sana? Antrean mulai dari sana?
Dimulai di sana. Sekitar dua bulan. Kami buka pada awal Desember.
Lalu, kira-kira awal Februari
mulai sekitar sepuluh, 12, 15, 20 orang datang sebelum buka.
Ada gerbang geser besar yang harus kubuka.
Aku ingat aku masak iga. Kulihat dari jendela, "Astaga."
Atau sepuluh orang di luar bawa pendingin dan kursi taman.
Kupikir, "Astaga! Bagaimana kita melakukannya?"
Lalu bagaimana rasanya merintis membuka restoran daging asap
tanpa bisa masak di Austin?
Kau di Texas. Ada banyak...
Tapi pada saat itu di Austin tak ada apa-apa.
Ada restoran lokal
tapi hampir semua pakai Ole Hickories dan Southern Prides.
Barbeku itu tren aneh.
Dahulu tahun 1980-an,
orang-orang beralih ke panggangan listrik dengan bantuan gas dan semacamnya.
Uang lebih penting dari keterampilan.
Jadi, tak ada yang melakukannya serius.
Kenapa kau kembali ke cara masak kuno?
Entah. Aku tak memikirkannya. Kukira tak ada pilihan.
Kurasa itulah cara buat barbeku. Itu caraku, dan akan kulakukan.
Aku rindu masa itu. Kau rindu saat awal?
Saat lebih sederhana. Katamu tadi...
- Aku merindukannya. - Aku biasa berkeliling.
Aku beli blender dari toko obat CVS.
Aku serius cari stopkontak,
agar bisa buat saus sambil berkendara ke lokasi.
Itu gila.
- Tapi hebat. - Aku ke WC dan mencucinya di Chevron
lalu keluar.
Di dekat pompa ban, kusuruh orangku berjaga.
- Kami buat saus, lalu pergi. - Kita harus lakukan yang penting.
Kenapa kau harus ke SPBU? Air?
- Listrik? - Ya, cari stopkontak. Karena truk kami...
Generator?
Bukan, tak ada generator. Lebih kuno lagi.
Isi listriknya semalam. Listriknya nanti dari baterai.
Tak ada stopkontak, generator, tak ada apa-apa.
Itu semua truk makanan?
Yang lebih tua, Grummans tua. Dari awal tahun 1980-an, akhir 1970-an.
Aku suka itu. Ya, 'kan? Itu masalahnya. Kau tahu caramu melakukannya.
Tak banyak orang yang sungguh-sungguh menginginkannya.
"Ini yang aku bisa. Akan kulakukan."
- Untuk Kogi, kau masak di mana? Truk? - Di truk. Semua di truk.
Jika listriknya habis
kami memakai topi penambang dengan lampu menyala.
Itu saja.
- Kau masak di trailer atau di luar? - Di kompor itu.
Kurasa kau belajar mengasap sendiri, sebelum buka trailer.
Ya. Aku sudah lama masak di halaman belakang.
Kau masak lamur seperti yang di Franklin di pekaranganmu?
Tidak, tapi kami mengetahuinya cukup cepat.
Kau tahu setelah usaha berdiri?
Lamur pertamamu hasil usaha trailer.
Rasanya seperti sekarang...
Mungkin tidak, tapi mirip.
Resepnya tak... Kesulitannya tak berubah.
- Benar. - Itu sama...
Aku makin mahir memasak. Kita tak benar-benar...
Saat buka trailer, kupikir, "Aku cukup mahir buat ini."
- Aku lebih semangat, bukan ahli. - Benar.
Tapi, jika masak barbeku
cuacanya bagus, kau punya kayu yang bagus,
kau sudah istirahat
dan tidak hujan, kau pikir, "Aku siap."
Kau senang dan bisa menontonnya.
Tapi saat dilakukan tiap hari,
- satu hari salju, besok hujan, - Benar.
esoknya 26 derajat celsius.
Kayu ini hijau, kayu ini kering.
Daging ini tidak ada, kau harus beli yang lain,
kau belum pernah memasaknya, dan orang sudah antre, maka sangat...
Di situlah aku menemukan polanya.
Lalu kepalaku tertunduk, coba terus, dan...
Jadi konsistensi sepertinya...
Itu yang terpenting. Itu hal tersulit yang dilakukan.
Dalam skala dan situasi berbeda.
Tapi aku masih... Saat dengar Aaron, aku mengerti karena aku pun begitu.
Kadang hidupmu mengarah ke titik itu.
Saat dia merintis trailernya, aku merintis Kogi
walau belum pernah melakukannya dalam skala tertentu
- seakan kami disiapkan untuk itu. - Seakan itu karya hidupmu
- yang selama ini kaukejar. Aneh. - Hidup membawamu ke momen ini.
Aneh. Tak semua mengalaminya.
Kau paham. Kita bertiga di meja ini mengalaminya secara berbeda.
Saat ingat lagi, kaupikir
- "Bagaimana aku melakukannya?" - "Dari mana keberanian itu?"
Benar. Itu dari mana?
Syukurlah itu terjadi. Hanya perlu beberapa kali di hidup ini.
Momen yang bilang, "Lompat dari papan selam"
meski kau melihat ke bawah, dan kau takut.
Ya, seperti memikirkan perasaanmu saat ini atau saat itu.
Aneh, karena saat cerita, dan kita biasa cerita,
dan yang kau ceritakan lebih nyata dari sebenarnya.
- Karena terus diulang. Benar? - Ya.
Tiap kali ada yang tanya padamu
rasanya mulai tak terelakkan.
- Mulai terasa sangat... - Kau harus ingat lagi.
Dan pada saat itu, tak terasa seperti itu sama sekali.
Pada saat itu rasanya seperti
setirmu lepas, dan kau hanya...
Bertahan hidup.
Kau tak tahu ke mana arahnya.
Aku merindukan masa itu.
Itu sangat merepotkan.
Aku masak tiap malam dan berjualan tiap hari.
Dahulu hanya buat dua lamur sehari. Maksudku, tidak...
Sedangkan sekarang 110.
Itu masa yang lebih sederhana.
Masa itu lebih sederhana.
Cobalah steik taco. Ini kubagi.
Aku mengincar itu.
- Aku suka pakai saus sambal. - Mana?
Ini. Bukan begitu. Kita butuh lagi.
Aku takkan membantahnya. Aku terkesan menyesal
saat lihat yang kita makan, dan lihat itu.
Aku ingin mencicipinya.
Aku sadar saat pergi ke tempat yang kumau
misal truknya menepi. Truk Kogi sering begitu.
Atau dalam kota,
kau menuju ke tempatmu.
Ada banyak harapan soal apa yang akan kau dapatkan,
dan kau berharap banyak
hingga kau sangat fokus pada momen ini.
Padahal kau bisa makan itu juga, dan jika makan sambil mengemudi...
- Beda. - Jika kuberikan padamu...
pikiranmu tak terbuka.
- Ya. - Kurasa
mungkin sebab itu orang lebih suka pada tempat-tempat istimewa,
dimana kau bisa ke truk makanan yang kau tahu tempatnya di mana
- atau antre untuk makanan enak. - Pengalaman itu bagian dari makanan.
Saat memulai Kogi, aku tak tahu itu.
Karena sebagai koki, aku hanya ingin beri makan semua
dan terus menyajikannya.
Aku akan keluar tiap sepuluh menit, dan berteriak
Maaf. Maaf sudah menunggu lama! Kami akan sajikan."
Aku selalu hibur mereka. Setelah beberapa saat...
- "Ya! Tak apa. Tak masalah. " - Mereka bilang, "Tak apa."
Mereka pakai headphone, bilang, "Kami di sini.
- "Kami bersamamu, Chef. Tenang." - Keren sekali.
Akhirnya aku mengerti.
Karena bagiku, aku tak paham.
Karena aku di sisi sini melihat mereka,
- energi mereka menatapku. - Ya.
Tapi akhirnya aku mengerti. Mereka memilih untuk ada di sini.
Kita bicara dalam hati saat orang antre.
"Orang menunggu tiga sampai empat jam, datang pukul 06.00.
- Kami baru buka pukul 11.00." - Ya.
Aku sama saja. Aku bilang
"Maaf, kami belum buka."
Katanya, "Tidak apa." Sama saja.
"Kami senang. Kami semangat sekali."
Boleh saja antre menonton bioskop atau apa.
"Menonton apa?" "Keren." Orang berbincang.
Ada hubungan tak terucapkan.
Itu sering di bisnis hiburan.
Orang antre untuk menonton film yang sudah mereka tunggu.
- Mereka menonton Iron Man tengah malam. - Star Wars, Purple Rain.
Kau banyak dengar, berharap banyak dan bersiap-siap.
Jadi, begitu dimulai, semua merasakan yang sama.
Kita ini makhluk sosial. Energi kita saling memengaruhi.
- Tentu. - Energi itu makin bertambah.
Kurasa semua ini
terutama karena orang sibuk dengan ponsel dan urusannya,
saat berkumpul bersama untuk acara, konser, makan,
orang menghargainya
- karena itu jarang terjadi. - Benar.
No comments yet. Be the first to leave one.