ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Pergi dan sampaikan pada Han Gyeong-wook.
EPISODE TERAKHIR
- Suruh dia bersiap menebus dosanya. - Kau terlalu sombong.
Bukankah perkataan seperti itu baru boleh diucapkan
- setelah semuanya selesai? - Hei!
Hei.
Kau jangan ikut campur.
- Kau tak pandai berkelahi. Biar aku. - Hei, Bulgae.
Kau belum melupakan siapa guru yang mengajarimu Taekkyeon, bukan?
Kau menjadi banyak bicara sejak terakhir kita bertemu.
Hentikan omong kosongmu.
Cepat serang aku.
Satu.
Satu.
Dua.
Dua.
Satu.
Dua.
Satu, dua.
Satu.
Dua.
Ayo fokus.
Satu.
Dua.
Satu.
Dua.
Satu.
- Dua. - Satu.
Kamerad Mayor.
Gerakan kakimu sepertinya tidak sebagus dahulu.
Hei, dasar bedebah sialan.
Kamerad Mayor.
Untuk saat ini, mari kita mundur.
Tunggu. Biarkan mereka pergi.
Kau biarkan mereka pergi saat hampir dapat?
Mereka baru saja berangkat.
- Jangan kehilangan jejak, ikuti. - Baik, aku mengerti.
- Siapa itu? - Gong-bok.
- Dia sudah kembali? - Ya.
Dia bilang akan memutuskan sendiri apa yang harus dia lakukan.
Lalu bagaimana dengan Beom-ryong?
Untuk saat ini, kita selesaikan dulu urusan keponakanmu.
Nam-il!
Nam-il, kau tidak apa-apa?
Cepat.
- Hati-hati. - Awas.
Dia pergi terburu-buru karena ada kebocoran gas di rumah.
Kenapa Kepala Bong menggendong dia masuk?
Apa dia benar-benar menghirup gas?
Gas apa? Bukankah dia membuat masalah di suatu tempat dan pingsan?
Maaf.
Bisakah kalian berdua menjaga Nam-il?
Aku ada urusan mendesak, jadi aku akan pergi lebih dahulu.
Kau akan pergi begitu saja?
Pak Bong, tak kusangka kau seperti ini.
Belakangan ini, kau sering pergi tanpa pamit
dan sekarang kau menelantarkan keponakanmu.
Bagaimana kau bisa begitu tidak bertanggung jawab?
- Aku minta maaf. - Bukan, Manajer Bong. Tunggu.
Setidaknya kau harus melihat Nam-il sadar sebelum pergi.
Dia sangat khawatir karena tidak bisa menghubungimu.
Manajer Lee.
Tolong sampaikan pada Nam-il
mulai sekarang dia tidak perlu mengkhawatirkanku lagi.
- Apa? Tunggu. - Apa...
Hei, tunggu.
Dia menjadi sangat aneh. Ya?
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, bukan?
Kenapa kau begitu mengkhawatirkan anak yang sudah besar?
Sudah besar? Hanya penampilannya saja yang sudah besar.
Apa kau tahu betapa kekanak-kanakannya dia?
Anak itu, Nam-il.
Dia tidak mau makan jika tidak ada lauk sosis.
Dia juga sangat penakut.
Dia tidur dengan lampu menyala. Katanya takut hantu akan muncul.
Dia juga sangat ceroboh.
Dia masuk SMA yang mudah untuk lulus, tapi dia tidak naik kelas dua kali
karena salah menghitung hari kehadirannya.
Tahun ini, agar dia tidak lagi dijuluki
"siswa legendaris yang tidak naik kelas"
aku harus membuatnya lulus.
Bukankah kau bilang akan pergi tanpa menoleh ke belakang?
Kau bersikap seolah-olah tenang saja.
Aku tidak berpura-pura tenang, aku memang tenang.
Dia begitu karena sedang pubertas.
Saat kecil, dia sangat manja dan selalu memanggilku paman.
- Mana mungkin aku tak memikirkannya? - Astaga, Bulgae yang terkenal
ternyata bisa goyah karena perasaan.
Kenapa mobil ini lambat sekali? Percepat sedikit.
- Aku sudah mempercepatnya. - Kalau begitu, percepat lagi.
Kita harus cepat agar bisa menangkap Han Gyeong-wook atau Ri Chol Jin.
Hei, kalau begitu kau saja yang menyetir.
Sial, sudah menumpang, banyak bicara pula.
Jalan di depan kosong, kenapa tak kau percepat?
- Kau banyak sekali bicara. - Percepat saja.
Hei, tidak jalan?
Kau pergi dengan sangat percaya diri. Kenapa kembali lagi?
Saat itu, aku sedang banyak pikiran. Hal itu tidak akan terjadi lagi.
Yang penting kau sudah kembali.
- Ada juga yang tidak kembali. - Hei, kau sudah kembali.
Beom-ryong!
Maafkan aku, Gong-bok. Aku sedikit terlambat.
Apa? Kau tidak membawa Hwang Hwa-san?
Mulai lagi.
Gang Beom-ryong, kau sudah memutuskan?
Sudah.
Aku pemilik Toserba Baik.
Mustahil aku diam saja saat pelanggan dari Pulau Yeongseon dihajar.
Maafkan aku, Gong-bok. Kita tidak bisa kembali ke Sekte Hwasan.
Bukankah aku sudah bilang akan mengikutimu ke mana pun kau pergi?
Jika ini adalah jalan yang kau pilih, aku akan mengikutimu tanpa membantah.
Maafkan aku.
Mereka sedang bermain drama?
Kalau akhirnya akan seperti ini, kenapa kau pergi?
Setelah kalian pergi begitu saja, Jeong Ho...
Apa kau tahu betapa cemasnya Jeong Ho-myeong?
Benarkah?
Aku hampir merasa kecewa.
- Presdir Jeong, jadi begitu? - Ya, benar.
Aku khawatir operasi akan gagal.
Pokoknya, karena sudah begini, aku akan menghentikan Han Gyeong-wook
dan juga Bos kalian, jadi jangan membantah lagi.
Benar, aku harus mencegah Bos kami
menempuh jalan yang salah.
Apa yang harus kita lakukan dulu?
Haruskah kita membereskan mata-mata yang diikuti dia lebih dulu?
Mereka ada di pinggiran Pulau Yeongseon.
Mereka bersembunyi di hotel turis.
Baguslah. Pemukul andalan kita juga sudah datang.
Kita pergi sekarang?
- Ayo. - Tidak.
Pemilu sudah di depan mata.
Bahkan jika kita membereskan Ri Chol Jin
jika Han Gyeong-wook terpilih, semuanya akan berakhir.
Kita juga tidak tahu kapan sandi untuk barangnya akan terpecahkan.
Sebelum terlambat, kita harus mengambil langkah penentu.
Langkah penentu?
Untuk menangkap ikan besar, kita butuh umpan.
Kita akan menggunakan Ri Chol Jin sebagai umpan
untuk menangkap Han Gyeong-wook.
Ri Chol Jin sebagai umpan?
Aku juga sudah memanggil bala bantuan untuk kita.
TERMINAL FERI YEONGSEON
ZONA PENJEMPUTAN DAN PENGANTARAN SEMENTARA
Baik, jangan khawatir. Aku membuntutinya dengan baik.
Aku menyetujui cuti Jaksa Gang dengan sengaja.
Kau tahu masalah menjadi besar karena kalian kehilangannya
saat terakhir kali, bukan?
Kali ini bukan membuntuti, tapi melenyapkan. Melenyapkan.
Sama sekali tidak boleh ada kesalahan.
Baik, kali ini akan kupastikan berhasil.
Baik, Pak.
Orang tua itu sangat cerewet.
- Menyebalkan sekali. - Apa kita bisa melenyapkan jaksa?
Bukankah ini akan menimbulkan masalah?
Masalah apa? Kepala Jaksa Divisi Kriminal akan melindungi kita.
Jangan khawatirkan hal tidak penting dan mari kita lakukan dengan baik.
Aku sudah bosan membuntuti Jaksa Gang.
Dia sudah masuk mobil. Ayo cepat berangkat!
Baiklah, ayo. Ayo berangkat. Kali ini dia mau pergi ke mana lagi?
Astaga! Apa-apaan?
- Apa? - Apa ini?
Aneh.
- Kenapa? Apa bannya pecah? - Hei, ini.
- Kenapa? Kenapa bisa begini? - Sial.
Benar-benar membuatku gila.
Hei, Jaksa Gang pergi. Hei, coba lakukan sesuatu.
- Ban ini benar-benar bocor. - Sial!
Orang tua itu pasti akan mengamuk lagi.
Ini pertama kalinya kita bertemu langsung
tapi anehnya tidak terasa canggung.
Mungkin karena aku sudah beberapa kali berutang budi padamu.
Rasanya tidak perlu sampai disebut utang budi.
Aku hanya menunjukkan beberapa trik kecil saja.
Untuk disebut trik kecil, kemampuanmu sungguh luar biasa.
Kau sudah beberapa kali membantuku mengelabui mereka
dengan sangat alami.
- Aku berterima kasih. - Simpan saja untuk nanti.
Karena sepertinya aku harus meminta permintaan yang berlebihan darimu.
- Permintaan yang berlebihan? - Ya.
Aku jadi penasaran. Apa itu?
Kau akan tahu saat tiba di sana. Semua orang sedang menunggumu, Jaksa.
Jaksa Gang.
Apa kabarmu, Bong Je-sun?
Seperti yang sudah kalian dengar, situasi saat ini sedang tidak baik.
Para agen Korea Utara telah menyusup
dan dengan bergabungnya Hwang Hwa-san dengan Heaven Capital
pembangunannya menjadi semakin cepat.
Korban penagihan utang Heaven Capital
sedang mempersiapkan unjuk rasa untuk menanggapinya.
Yang terburuk dari semuanya adalah...
Kita tidak tahu kapan sandi barang itu akan terpecahkan.
Benar sekali.
Sambil menunggu sandi barang itu terpecahkan
kita tidak bisa hanya berdiam diri.
Kita harus menemukan cara lain sebelum Han Gyeong-wook terpilih.
Jaksa, apa kau masih dibuntuti?
Ya, para detektif terus menempel seperti lintah ke mana pun aku pergi.
Ternyata tidak mudah untuk bergerak leluasa.
Hei, Jeong Ho-myeong, Jaksa saja tidak bisa bergerak leluasa
No comments yet. Be the first to leave one.