ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
FILM KARYA PAUL URKIJO ALIJO
Takuti malam.
Malam, tempat penuh hujatan,
perlindungan bagi makhluk mengerikan
di luar jangkauan cahaya Tuhan.
Malam melindungi iblis keji,
penyihir jahat, kisah kelam,
yang akan kita dengarkan kini.
Di masa kegelapan,
umat Kristen yang baik tidur lelap.
Saat fajar menyingsing, sinar matahari akan tiba,
cahaya untuk mengikuti jalan lurus Tuhan.
Namun, bagaimanapun juga,
jika malam menangkapmu, jangan diam saja,
larilah secepat mungkin dan jangan menyimpang dari jalan pulang,
jika tidak kegelapan akan menelanmu...
selamanya.
Tapi siapa yang ingin menyimpang?
Siapa yang mau meninggalkan cahaya?
Karena, seperti kata pepatah:
"Siang untuk makhluk diurnal,"
dan, saat angin berbisik:
"Malam untuk makhluk nokturnal."
MALAM
Kau... yang bersalah...
Kau... yang bersalah...
Kattalin,
apa yang kau lihat di luar jendela?
-Malam akan masuk lewat matamu. -Apa kau dengar itu?
Mungkin rubah.
Tidak, suaranya seperti siulan.
Aku lapar.
Aku akan ke Urdazubi besok.
Membicarakan kebun apel dengan sekretaris Biarawan León.
Keberuntungan akhirnya berpihak pada kita.
Bagaimana dengan Pastor Mateo?
Apa kita tahu sesuatu?
Tak ada yang melihat pastor paroki setelah kejadian di gereja.
Sudah seminggu.
Aku harap dia menepati janjinya.
Menjijikkan! Kurang garam.
Masaklah sendiri kalau begitu.
Jaga bicaramu, Katalina. Hormati aku!
Kau sudah cukup memalukanku di depan orang-orang.
Aku yakin kau tak ingin...
tinggal di bawah jembatan.
Roti.
Apa kau tak makan?
Mengapa kau tak bicara padaku?
Kau adalah istriku!
Lihat?
Hambar.
Aku harus tampil rapi besok. Siapkan kemeja mingguku.
Aku akan tidur.
Dua minggu ini sangat berat.
Tapi, mulai sekarang, semua akan membaik.
Kau lihat saja.
Kau istriku.
Tidak!
Mengapa kau membenciku?
Karena aku cacat?
Lihat apa yang kau lakukan.
Katta.
Katta.
Kemejaku!
Aku butuh itu untuk besok!
Tenanglah.
Tidak apa-apa.
Bisa kau cuci?
Hah?
Perutku.
Katta!
Kembalilah!
Kattalin!
Baiklah, kisah pertama ini dimulai dengan seorang gadis malang
yang masuk jauh ke dalam hutan setelah matahari terbenam,
saat perjalanan dewa malam dimulai.
Karena dialah malam itu sendiri:
Gaueko.
Mereka yang berani masuk ke malam
akan tersesat,
kegelapan akan menelan mereka, selamanya.
Karena di sana Gaueko tinggal, penguasa mereka yang hidup dalam bayang.
Wilayahnya bukan tempat bagi manusia.
Nasib apa yang menunggu mereka yang berani masuk ke malam?
Malam...
Pello?
Pello, itukah kau?
Malam...
untuk makhluk nokturnal.
Malam...
untuk makhluk nokturnal.
Malam, untuk makhluk nokturnal.
Malam...
untuk makhluk nokturnal!
Siapa di sana?
Kemari!
Hei!
Mengapa kau di sini, bocah?
-Dia memata-matai kita. -Reme!
Biarkan dia bernapas.
Tak kau lihat dia ketakutan?
Graxi, apa yang harus kita lakukan?
Kasihan, dia tersesat.
Dia tak terlihat polos.
Biarkan dia bicara, kita lihat nanti.
Mengapa kau di sini?
-Jawab! -Reme!
Biarkan dia bicara.
Kasihan.
Apa kau baik-baik saja?
Kau Kattalin.
Benar, kan?
Aku tahu kau dari gereja.
Mengapa kau di sini?
Aku meninggalkan rumah, dan sesuatu mengikutiku ke sini.
Jangan khawatir.
Kau aman bersama kami.
Mengapa kau keluar malam-malam? Ada masalah di rumah?
Aku sedang mencuci, dan mereka mulai mengikutiku.
Bahaya berjalan sendirian di hutan saat malam.
Banyak hama di sana.
Bagaimana dengan cucianmu?
Aku kehilangannya.
Aku tak percaya padamu!
Kattalin,
gadis yang menikahi Pello Goienetxea musim gugur lalu?
Dari mana asalmu?
Dari Landibar.
Kau jauh dari rumah.
Apa ini?
Apakah ini milikmu?
Itu kemeja suamiku.
Noda apa itu? Kecelakaan?
Berikan, biar kucuci.
Noda ini sulit dihilangkan.
"Merpati di luar, serigala di rumah."
Sudah terlalu malam untuk mencuci.
Siapa kalian, para wanita?
Mereka Beltra dan Remedios, dan aku Graxiana.
Atau Graxi.
Kami di sini bukan untuk mencuci,
tapi pura-pura saja.
Ini waktu kami.
-Tanpa pria. -Tak ada yang mengganggu.
Dan mereka tak tahu apa-apa?
Mereka tak punya petunjuk.
Dan sebaiknya tetap begitu.
Di sini, kami bebas melakukan apa saja.
Tua di siang hari, muda di malam hari.
Keadaan makin buruk belakangan ini.
Kepala biara di Urdazubi melarang pertemuan,
dan kami diawasi ketat oleh pastor dan petugas.
Para inkuisitor itu melihat penyihir di mana-mana.
Sekadar minum saja cukup untuk dituduh dan dipenjara.
Kau tak bisa percaya siapa pun.
-Ini. -Tidak, terima kasih.
Kami bertukar gosip tentang desa.
Dan kisah horor juga.
Aku baru saja bercerita saat kau datang.
Kau boleh bergabung
jika kau mau bercerita nanti.
Atau mungkin kau mau pulang saja.
Aku tak tahu cerita apa pun.
Aku yakin kau tahu kisah horor yang bisa kau ceritakan.
Kisah tentang hantu
atau penyihir.
Apa kau percaya penyihir?
Reme adalah penyihir.
Aku tak tahu.
Hati-hati, Nak.
Jangan mempercayai mereka, tapi jangan katakan mereka tak ada.
Baiklah. Sekarang giliranku.
Yang akan kukatakan bukan sekadar cerita.
Ini benar-benar terjadi sebulan lalu pada seseorang di desa ini.
Pada putri peternak unggas, Eugenia.
Eugenia sendiri yang menceritakannya, dan aku akan memberitahumu.
Ini giliranku.
Dengarkan baik-baik atau pergilah!
Konon ada penyihir yang mengutuk gadis itu
dan memanggil iblis dari masa lalu.
Makhluk kelam yang keji,
lahir dari dosa dan iri.
Roh jahat: Inguma.
Di setiap rumah kita, kita percaya pada "Etxejaun",
roh leluhur kita.
Mereka harus dipuja, karena mereka menjaga rumah,
serta keberuntungan penghuninya.
Begitulah,
selama keturunan tak mengganggu mereka,
dan tak ada yang berniat jahat mengganggu tidur mereka.
Berikan padaku, Nak.
Antton...
Jangan khawatir, Maritxu.
Kau akan membaik.
Berdoalah bersamaku, Nak.
Aku percaya pada Tuhan, Bapa yang mahakuasa,
pencipta Langit dan Bumi,
dan pada Yesus Kristus, putra-Nya yang tunggal,
Tuhan kita, yang dikandung oleh Roh Kudus,
No comments yet. Be the first to leave one.