ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
DOKTER DI UJUNG TANDUK
INI ADALAH KARYA FIKSI BEBERAPA ADEGAN DIBUAT DENGAN AI
AKTOR ANAK DAN HEWAN DIFILMKAN DENGAN AMAN
Boleh aku tanya sesuatu?
Mm-hmm.
Kenapa kau pergi ke Madeokdo…
dengan Dokter Hyeon Chiyeon?
Kita seharusnya pergi bersama.
Ah…
Bagaimana aku bisa pergi bersamamu?
Itu bukan jarak yang bisa ditempuh.
Perlu sejam lebih naik perahu.
Ah…
Jadi kau menjagaku.
Aku bahkan tidak menyadarinya.
Tapi aku agak menyesal.
Mungkin seharusnya aku tidak menjagamu…
dan pergi saja bersamamu.
Lain kali…
apa kau mau pergi denganku?
Hmm?
Oh…
Hujan…
Apa yang kau lakukan? Lari!
Wah, hujannya deras sekali.
Perhatikan langkahmu.
- Kau tidak apa-apa? - Ya.
Lewat mana? Kiri atau kanan?
- Kanan. Tidak, kiri! - Kiri?
Berhenti. Ayo istirahat sebentar.
Baik.
Apa kita harus pergi sekarang?
Sekarang juga?
-Aku saja yang duluan? -Bagaimana kalau hitungan ketiga?
Satu, dua…
EPISODE 4 - WANITA TERKENAL, PRIA MENYEDIHKAN
Dokter Do.
-Hai. -Kau basah kuyup.
Ah…
Ya.
Ini menyenangkan.
Ya.
Dokter Do.
Ya?
-Oh, bukan apa-apa. -Baik.
APA KAU SAMPAI RUMAH DENGAN AMAN?
FOTO
Aku memotretmu. Hasilnya bagus.
KAMAR MANDI
NONA YUK HARI
WAH, KUNANG-KUNANG ITU BENAR-BENAR…
Kau tidak apa-apa?
Ya.
Apa kau pilek karena hujan tadi?
Hujan membuat kelembapan naik. Ini hanya alergi.
Hanya di pagi hari.
Oh… Ah!
Tentang foto yang kuambil kemarin…
Ini ada satu lagi yang bagus.
Kau yang melakukan semua ini?
Aku meniruskan rahang dan merapikan hidungmu. Bukankah terlihat bagus?
Ya, bagus.
Aku juga mendapat foto kunang-kunang dan wajahmu yang bagus.
Apa-apaan…
Ini membuatku gila. Maafkan aku.
Bagaimana bisa seorang dokter tidak bisa menahan bersin?
Bagaimana cara menahan bersin? Dokter juga manusia.
Hah?
Memangnya tidak diajarkan di fakultas?
Tidak ada hal seperti itu.
Oh… Rupanya tidak diajarkan.
Semua perawat tahu caranya.
Kami tidak boleh bersin saat mencari pembuluh darah atau di ruang operasi.
Kau pasti hanya membual.
Aku serius. Apa kau pernah lihat perawat bersin di rumah sakit?
Mau aku ajari caranya?
Mm-hmm.
Baik. Ikuti aku.
Pertama, tekan lidahmu ke langit-langit mulut.
Bukan, lebih ke belakang.
Lalu, tutup mulutmu.
Begitu saja.
Sekarang, yang penting kau harus melebarkan lubang hidungmu.
Agar sirkulasinya lancar.
Bukan. Lebarkan lagi.
Sedikit lagi…
Dokter macam apa yang percaya kebohongan seperti itu?
Aku tidak percaya.
Mana mungkin ada yang percaya.
Halo?
Baik, aku akan segera ke sana.
Baik.
-Ada apa? -Oh…
Ada yang minta kunjungan rumah.
Seseorang menelepon ponsel pribadimu untuk minta kunjungan rumah?
Ya. Mereka sedang kurang sehat.
Aku akan segera kembali.
Nyonya.
-Anda tidak apa-apa? -Oh, astaga.
Maaf menelepon Anda secara tiba-tiba seperti ini.
Tidak apa-apa. Biar saya periksa lukanya.
Saya keluar kamar untuk minum obat
tapi tiba-tiba pusing dan jatuh.
Untungnya tidak dalam. Biar saya lihat.
-Bisa Anda duduk di sini? -Baik.
Pelan-pelan saja.
-Sakit, ya? -Ya.
CHAVOXIFEN
Ya ampun.
Bodohnya aku.
Aku meninggalkannya begitu saja.
Sepertinya obat itu untuk Anda.
Apa?
Ya.
Saya sedang kurang sehat.
Hmm…
Minum obat pereda nyeri tiap hari
membuat perut saya sakit.
Jadi saya berhenti meminumnya.
Dan lihat apa yang terjadi.
Tubuh manusia memang menyedihkan.
Apa Anda tidak berpikir begitu?
Tolong pastikan Anda meminumnya.
Pereda nyeri adalah resep yang perlu untuk seorang pasien.
Baik.
Mungkin tidak menyembuhkan penyakit, tapi bisa membuat Anda lupa sejenak.
Benar.
Mungkin Anda harus menyesuaikan resep dengan dokter Anda.
Saya akan cek di pusat kesehatan mungkin ada obat yang membantu.
Oh, jangan. Jangan lakukan itu.
Saya tidak ingin orang tahu.
Jika orang lain tahu, mereka akan memperlakukan saya seperti pasien.
Saya ingin hidup sebagai nenek Hari, Oh Mija,
bukan pasien.
Alasan saya minta Anda kemari tanpa memberi tahu Hari
karena dia akan sangat heboh jika tahu saya sakit atau terluka.
Jangan khawatir soal itu.
Dokter punya kewajiban menjaga rahasia pasiennya.
Tapi tahukah Anda?
Pasien juga punya kewajiban untuk jujur sepenuhnya pada dokternya.
Itu sebabnya Anda bisa cerita segalanya.
Ya.
Saya mengerti, Dokter.
Baik.
Nona Yuk.
Nenekku pasien daruratnya?
Nenek baik-baik saja? Aku mau masuk.
Tunggu.
Sepertinya kau jangan masuk dulu.
Sepertinya nenekmu merasa dokter yang baru ditemuinya sekali
lebih bisa dipercaya daripada cucunya sendiri.
Lagipula, kalau aku jadi dia,
aku juga tidak akan cerita padaku.
Karena aku akan menangis lebih dari nenekku.
Dan aku terus mencoba lupa bahwa dia sakit.
Memikirkannya terlalu menakutkan.
Aku pengecut, ya?
Tidak.
Sejujurnya, saat pertama bertemu…
Aku melihatnya di kopermu.
Obat antikanker itu…
Chavoxifen.
Mmm…
Awalnya, kupikir kau yang sedang sakit.
Tapi aku tidak sanggup bertanya tentang itu.
Meski aku tahu betapa sakitnya kau…
bukan berarti aku bisa melakukan apa pun.
Dan…
itu menakutkan.
Aku yakin ini belum seberapa…
…tapi maksudku…
Aku agak mengerti perasaanmu.
Kau bukan pengecut.
Siapa pun akan merasa begitu.
Ah…
Sepertinya kita sudah terlalu lama pergi.
Ah…
Ayo kita kembali?
Ya, tentu.
Bu, kenapa Ibu kirim banyak lauk?
Aku tidak bisa menghabiskannya sendiri.
Ibu bungkus banyak untuk berbagi .
Katamu orang-orang di sana sangat suka, tempat itu tak bisa jalan tanpamu.
Baik. Dah.
Ya ampun.
Kenapa dengannya sekarang?
Maaf sudah pergi sebentar.
Tidak apa-apa. Pasien kita tidak terlalu banyak.
Dokter Do.
Kita perlu bicara.
-Soal apa? -Cepat…
Apa…
Ada apa?
Ini tidak benar.
Ada apa ini?
Kau belum lihat grup obrolan dokter PH?
Mereka bicara terlalu banyak, jadi…
Ada yang salah?
Aku tidak nyaman mengatakannya, jadi cek sendiri saja sekarang.
Ayo!
No comments yet. Be the first to leave one.