ആദ്യത്തെ 183 വരികൾ.
Dulu kala, di sebuah hutan besar,
hiduplah seorang penebang kayu miskin dan istrinya.
Tidak, tidak, tenang saja, ini bukan "Hop o' My Thumb".
Tidak ada hubungannya dengan itu.
Lagipula, aku, sama sepertimu, membenci cerita konyol itu.
Memangnya ada orang tua yang meninggalkan anak-anaknya karena kekurangan makanan?
Ayolah...
Penebang kayu malang dan istrinya itu tidak pernah meninggalkan hutan.
Kedinginan, kelaparan, dan kesengsaraan membuat hidup mereka sangat sulit.
Terutama saat itu masa perang dunia.
Ya, ya, perang dunia, ya, ya.
Untungnya, setiap badai pasti berlalu.
Penebang kayu miskin dan istrinya itu
tidak punya anak yang harus diberi makan.
Tidak punya lagi hati untuk dihargai,
Istri penebang kayu yang malang itu mengeluh setiap hari.
Tapi, si penebang kayu yang malang itu, di sisi lain, menyesuaikan diri dengan cukup baik.
Tak ada anak yang mesti disayangi, tapi juga tak perlu ada lagi mulut yang mesti diberi makan.
Sedikit demi sedikit, seiring bertambahnya usianya,
Istri penebang kayu yang malang itu mulai memahami duniawi,
surgawi, dan kekuatan peri, semuanya bersekongkol
dengan suaminya yang seorang penebang kayu untuk merampas hak anaknya.
Dan dia menerima nasibnya, terbiasa dengan dingin,
kelaparan, kesengsaraan, dan kesendirian.
Kemudian, suatu hari...
Dewa kereta api, aku berterima kasih padamu sekarang dan selamanya
karena sudah datang ke dalam hidupku dan tidak meninggalkanku.
Aku memberkatimu karena datang dari kota, membawakanku kebisingan dan kehidupan.
Aku memberkatimu karena bersikap baik padaku.
Kau sudah mengubah hidupku.
Bebaskanlah aku dari kelaparan dan kesengsaraan.
Beri aku sesuatu, sesuatu untuk dimakan,
sesuatu yang pantas dibicarakan.
Muatan lebih yang kau miliki,
tidak banyak, hanya sedikit saja.
Kumohon kebaikanmu, dewa kereta api,
kau adalah cahayaku dan satu-satunya harapanku.
Tolong, dengarkan aku.
Apa ini?
Apa ini?
- Dewa kereta api memberikannya padaku. - Dewa kereta api?
Ya, agar ia bisa menjadi anak yang tidak pernah kita miliki.
Kau tidak tahu siapa anak ini?
Kalau dari kereta api, kau tidak tahu itu dari ras apa?
Itu salah satu ras yang tak berperasaan!
Tidak, tidak, itu hanya muatan kecil.
Dewa kereta memberikannya padaku.
Persetan dengan muatannya!
Persetan!
Persetan!
Keturunan ras yang terkutuk.
- Berhenti, berhenti! - Tidak, tidak, itu malaikat.
Itu malaikatku.
Malaikat, malaikat. Dengarkan teriakannya.
Kau mengoceh. Begitu dia dewasa, dia akan menjadi seperti mereka.
Tidak, jika kita yang membesarkannya.
Mereka membunuh Tuhan.
Mereka pencuri. Lihat pakaiannya.
Kau tahu berapa lama orang harus bekerja untuk membeli pakaian seperti itu?
Mereka pencuri, kubilang.
Sukurlah tidak ada yang bisa dicuri di sini.
Dan kelak, jika kau setuju, dia akan membantuku mengumpulkan kayu.
Jika mereka menemukannya bersama kita, mereka akan mengeksekusi kita.
Tapi...siapa yang tahu?
Penebang kayu lain.
Penebang kayu lain akan melaporkan kita.
Tidak, aku akan bilang anak ini anak kita,
aku akhirnya hamil lagi karena kau.
Dia tidak mungkin anak kita. Dia sudah ditandai.
- Apa maksudmu? - Ditandai, ditandai.
Jenis mereka tidak seperti kita.
Lihat, lihat tandanya.
Tapi tanda apa?
Aku tidak melihat tanda apa pun.
Dia tidak diciptakan sepertiku, tidakkah kau melihatnya?
Tidak.
Tapi dia diciptakan sepertiku.
Lihatlah betapa cantiknya dia.
Apa yang kau lakukan?
Kau mau ke mana?
Aku akan meninggalkannya di dekat rel kereta api.
Jika dewa menempatkannya di sana, mereka bisa membawanya kembali.
Lakukanlah itu, dan kau harus
melemparkanku ke bawah roda kereta bersamanya.
Dan para dewa, semua dewa, para dewa surga,
alam, matahari, dan kereta api
akan memburumu di mana pun kau berada, apa pun yang kau lakukan.
Kau akan dikutuk selama-lamanya.
Baiklah. Biar semua kemalangan yang terjadi jadi kemalanganmu.
Dia akan membawa kebahagiaan untukku, dan juga untukmu.
Simpanlah semua kebahagiaan itu untukmu, tak peduli apa, pergilah.
Tapi ketahuilah aku tidak mau mendengar atau melihatnya lagi, tidak akan pernah.
Diamkan dia
dan kau sudah diperingatkan.
Kasihan dia, dia butuh susu.
Dia tidak punya peluang.
Jika dewa kereta mempercayakanku dengan muatan kecil ini,
bukan untuk membiarkan dia mati.
Dia akan hidup, kau mendengarku?
Dia akan hidup.
Siapa di sana?
Istri seorang penebang kayu yang miskin.
Apa yang kau inginkan?
Susu, untuk anakku.
Oh ya? Kenapa kau tidak memberi susumu?
Sayang sekali, aku tidak punya.
Dan jika anak yang kau lihat ini tidak minum susu hari ini, dia akan mati.
Dia akan mati? Ya, biarlah.
Kau akan melahirkan lagi.
Aku terlalu tua.
Dan lagi pula, anak ini dipercayakan padaku oleh...
Dewa kereta barang yang melintas di rel kereta api.
Dewa kereta api mempercayakanmu dengan muatan yang sedikit?
Kenapa dia tidak memberimu susu juga?
Dia lupa.
Para dewa tidak bisa memikirkan semuanya.
Mereka punya banyak hal yang harus dilakukan.
Dan mereka melakukannya dengan sangat buruk.
Katakan, menurutmu dari mana aku mendapatkan susuku?
Dari kambing-kambingmu.
Kambingku?
Kau pikir aku punya kambing?
Aku mendengarnya mengembik saat aku mengumpulkan kayu di tepian tanahmu.
Dan apa yang akan kau berikan sebagai ganti susuku?
- Semua yang kupunya. - Apa yang kau punya?
- Tidak ada. - Itu tidak banyak.
Setiap hari para dewa menyediakan.
Aku akan membawakanmu seikat kayu untuk dua teguk susu.
Kau mau membayar susuku dengan kayuku sendiri?
Itu bukan kayumu.
Aku pun tidak punya kayumu.
Sama seperti susumu bukanlah susumu, itu adalah susu kambingmu.
Tapi kambing itu kambingku.
Tidak ada satu hal pun dalam hidup ini yang diberikan tanpa ada imbalan.
Tanpa susu, putriku akan mati.
Tanpa pertukaran.
Tolong aku.
Jika kau membantuku memberi makan, dia akan hidup.
Para dewa akan berterima kasih padamu.
Mereka akan melindungimu.
Mereka sudah cukup melindungiku.
Lihat.
Lihatlah, bagaimana dewa-dewamu melindungiku.
Aku membuatmu takut?
Tidak.
Lalu kau mengasihaniku?
Juga tidak.
Para dewa membuatmu tetap hidup.
Dan kambingmu juga.
Hidup, ya.
Ambillah selendang ini.
Lihatlah betapa indahnya.
Ini ditenun oleh para dewa dengan benang emas.
Kulihat kau tahu cara berbisnis.
Biar aku melihat bayi kecilmu.
Bayimu lapar, seperti anak manusia biasa.
Aku akan memberimu sedikit susu kambingku.
Terima kasih.
Bangun.
Bangun, kubilang.
Kau baik sekali!
Tidak. Kita sudah membuat persetujuan.
Ayo.
Aku akan memberimu apa yang menjadi hakmu.
Siapa yang melukai kepalamu, orang baik?
- Perang. - Perang ini?
Tidak.
Sebelumnya, yang sudah lama hilang.
Jangan pernah berlutut di hadapanku lagi, atau di hadapan siapa pun juga.
Jangan pernah bilang lagi aku baik,
dan jangan berani kau menyebarkan berita bahwa aku punya kambing,
dan aku memberimu susu.
Atau aku akan membunuhmu.
Jangan bergerak.
Suruh bocah nakal itu diam!
Aku tidak bisa tidur!
Diamlah. Kau membuatnya takut.
Aku, membuatnya takut? Kau sudah tertipu, perempuan malang.
Keturunan setan itu tidak takut pada apa pun dan siapa pun.
Dia tidak punya hati.
Kau mengerti? Tidak punya hati!
Bahkan orang yang tidak berperasaan pun punya hati, sama sepertimu dan aku.
Diam, kau tidak tahu apa-apa.
No comments yet. Be the first to leave one.