ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
"Dream to You."
Yi Jae!
Apa?
Tadi berbahaya.
Sutradara Joo.
- Kak Seong Moo? - Anda tidak apa-apa?
Siapa itu? Siapa yang melakukannya?
Bukan, aku hanya...
Maafkan aku. Maafkan aku.
Hei, Berengsek! Sudah berapa kali kubilang
jangan berlarian! Kubilang untuk berhati-hati.
Kamu tidak apa-apa? Kamu berdarah.
Aku tidak apa-apa. Ya. Aku tidak apa-apa.
Sepertinya syuting tim "Gyeongseong Love Song" kita akan sukses besar.
Cepat pergi ke tim medis.
- Cepat. - Pergi ke pos medis dan periksakan.
Sudah kubilang hati-hati.
"Episode 9."
Untungnya hanya tergores. Itu tidak akan mengganggu syuting.
Terima kasih.
Terima kasih.
Jadwal panggilanmu masih lama, kenapa kamu datang sepagi ini?
Baru datang sudah terluka.
Sepertinya aku datang lebih awal untuk ini.
Bagaimana jadinya jika tidak ada aku?
- Benar, bukan? - Aktor harus menjaga tubuhnya dulu.
Sutradara Joo.
Bagaimana perasaanmu saat mendengar kabar aku datang?
Tentu saja aku terkejut. Kukira kamu tidak mau menemuiku lagi.
Kenapa aku harus begitu?
Aku bukan pacar yang baik untukmu.
- Astaga. - Berandal itu...
Sial.
Sutradara. Sutradara, semua sudah siap.
- Ya, aku akan segera ke sana. Ya. - Ya.
Ya. Siap.
Ya. Sutradara. Ya.
Sutradara Joo!
- Sutradara Joo! - Kenapa kamu terburu-buru?
Aku datang. Aku datang.
Maaf salamku terlambat, Sutradara Woo.
Kamu terlihat baik-baik saja.
Sekalian saja salamnya nanti. Aku harus mulai syuting sekarang.
- Ayo pergi, Yi Jae. - Kakak, sampai jumpa nanti.
Aduh.
Kakak?
Jadi, mantanmu yang seperti perang itu Geum Seong Moo?
- Bagaimana kamu tahu? - Bagaimana mungkin aku tidak tahu?
Tadinya aku mau memberitahumu sebelum dia datang. Sungguh.
Berhenti memanggilnya kakak. Memangnya kamu mau bilang apa?
Apa? Pria yang sudah mati hidup kembali?
Bukan, biasanya kalau sudah putus, kita anggap dia sudah meninggal.
Itu juga bentuk sopan santun terhadap pasangan saat ini, 'kan?
Astaga.
Ya ampun.
Apa?
- Apanya? - "Ya ampun", apa maksudnya itu?
- Mungkin karena kamu menggemaskan. - Apa maksudmu?
Apa maksudmu? Astaga.
Hei! Berhenti!
Gagak?
Berhenti!
Oke.
Oke.
- Oke. - Oke.
Kamu tidak apa-apa?
- Mu Gyeom. - Ya.
- Bagus, hasilnya bagus. - Terima kasih.
Kamu sudah jauh lebih baik.
Sutradara Woo.
Sungguh, kalau ambil satu adegan lagi, bahuku bisa copot.
Terima kasih, Penata Kamera. Berkat kamu, hasilnya sangat keren.
- Hei, Sim Yu Geon. - Kak!
Kamu sudah terlihat seperti aktor sungguhan.
- Sudah lama sekali. - Apa kabarmu?
- Tunggu sebentar. - Senang bertemu denganmu.
- Dasar kamu ini. - Apa mereka sedekat itu?
Kelihatannya bagus. Kenapa?
Semuanya, makan siang hari ini
ditraktir Gagak, pemimpin pasukan! Semua, kumpul di depan truk makanan.
- Bukan apa-apa. - Sungguh, bukan apa-apa.
- Seperti dugaan dari Kak Seong Moo. - Ini lokasi syuting Sutradara Joo.
Kak Seong Moo?
- Ya. - Apa? Kamu cemburu?
Apa? Cemburu?
Pada mereka berdua?
- Tidak. Aku tidak peduli. - Aktor Geum!
Sudah lama sekali.
Kak.
"Semangat, Gyeongseong Love Song! Selamat debut, Sutradara Joo Yi Jae."
Kamu terharu? Aku sudah sukses, jadi aku bisa melakukan ini untukmu.
Kenapa kamu sukses?
Apa-apaan ini? Sungguh, aku malu sekali.
Bagaimana ini, kamu makan tiga porsi sendirian.
Berkat Sutradara Joo, aku jadi hidup mewah begini.
Kamu punya koneksi emas. Aku makan, ya.
Bukan, ini Seong Moo emas. Bukankah begitu?
- Nona Namgung Se Ra. - Benar sekali, Pak Gu Seok Gi.
Bukan, aku bilang kita punya "tiki-taka" yang bagus. Ayo pergi.
Sutradara Joo kita sungguh beruntung dikelilingi orang-orang baik.
Teman sekelas SMA-nya adalah Sutradara Woo.
Alumni kampusnya adalah Aktor Geum kita. Sungguh.
"Tolong jaga Yi Jae dengan baik."
Sepertinya dia sedikit menyindir.
Dia memang seperti itu. Ayo kita makan juga.
Sebelum itu, ayo ambil foto bukti.
- Foto bukti apa? Tidak usah. - Ayo.
Sudahlah.
Selamat. Yang manis.
Sudahlah. Untuk apa?
Benar, seperti ini.
Penampilan spesialmu akan dirahasiakan sampai filmnya rilis.
Aku juga tahu. Tepat untuk momen saat kita butuh promosi. Ya, 'kan?
Jangan khawatir. Ayo.
Aduh.
Itu sudut yang dibenci Yi Jae. Dia payah sekali mengambil swafoto.
Sudah kubilang.
Di antara mantan pacarnya, ada aktor yang sangat terkenal.
Kapan kamu mengatakannya?
Kakak saja yang tidak mendengarkan.
Astaga. Hei, penggemar nomor satu? Penggemar nomor satunya adalah aku.
Soal itu, meskipun Kak Seong Moo, aku tidak bisa mengakuinya.
Hei, benar, 'kan? Astaga.
Bukan, penggemar nomor satunya adalah aku sejak SMP.
Sudahlah.
Namun, kenapa kamu akrab dengan Geum Seong Moo?
Karena kami bertiga sering pergi bersama.
Aku juga pergi bertiga denganmu. Tapi kenapa hanya Geum Seong Moo?
Katamu jika Yi Jae tidak suka, kamu juga tidak suka?
Karena itu kamu terus-menerus bersikap menyebalkan padaku, bukan?
Sebab Kak Yi Jae tidak mungkin akan membenci Kak Seong Moo.
Kenapa?
Bahkan saat putus, Kak Seong Moo baik kepada Kak Yi Jae.
Tidak seperti orang lain.
Yu Geon!
Ya?
- Tolong fotokan aku dan Yi Jae. - Ya.
Pastikan posternya ini masuk semua ke dalam foto.
Orang itu juga sama saja.
Baik, bergayalah dengan alami.
- Coba lebih dekat secara alami. - Hati, seperti ini.
Satu, dua.
Sutradara.
- Kenapa? - Foto.
- Ya. - Sutradara, antreannya di sana.
- Ya. Silakan foto. - Baik, sekali lagi.
- Satu, dua. - Namun, aku sedikit kecewa.
Foto profilnya agak berlebihan.
Bagaimana jika mengambil foto profil yang baru?
Sedang apa kamu, Sutradara Woo?
Apa?
- Lihat. Bukankah sedikit berbeda? - Bukankah sedikit berbeda?
Lihat.
Kita bertiga seperti ini
sudah lama sekali tidak makan jajanan. Benar, bukan?
Benar juga. Saat membantu syuting Kak Yi Jae,
makanan larut malamnya pasti selalu kimbap.
Padahal Kak Seong Moo tidak suka kimbap.
Kamu tidak suka kimbap? Kamu tidak pernah bilang.
Bagaimana aku bisa bilang begitu pada orang yang membelikanku kimbap?
Benar juga.
- Namun, tempat itu sudah tutup. - Kenapa?
- Benarkah? - Padahal enak.
Benar.
Tempat donat kepang yang dahulu kita datangi
- masih ada. Benar, bukan? Ya? - Ya.
Di gang pasar itu, di sana enak.
Kita hanya pergi sekali, tapi ingatanmu bagus.
Pergi sekali saja sudah cukup. Sial. Joo Yi Jae, sial.
Bagaimana ini?
Hanya ada tiga kursi.
- Aku dan Sutradara Woo di luar. - Kenapa?
Makan bersama saja.
Sekalian untuk memberi salam yang terlambat.
- Permisi, boleh pinjam kursi? - Ya, Sutradara.
Terima kasih.
Duduklah, Yi Jae.
Sutradara Joo, kamu makan wortel? Sudah dewasa, ya.
Sepertinya dia tidak tahu kisah tentang wortel itu.
Kalau tahu, dia tidak akan bisa tertawa seperti itu.
Aku tidak boleh pilih-pilih makanan karena sudah lebih dari 30 tahun.
Kunyah yang benar, Sutradara Joo. Nanti tersedak.
Hei.
Aku merinding mendengarmu memanggil Kak Yi Jae "Sutradara Joo."
Kenapa? Memang dia Sutradara Joo. Apa dia harus memanggilnya "Yi Jae"?
Itu adalah nama panggilan sayang kami.
Tunggu. Jadi panggilan sayang kita sekarang menjadi panggilan resmi?
Apa kamu juga akan memanggilku "Aktor Geum" seperti dahulu?
Karena kamu bukan Aktor Kim. Aku harus memanggilmu Aktor Geum.
- Aku sudah makan, boleh pergi dulu? - Sutradara Joo.
Nomormu ganti, bukan? Tolong beri tahu aku nomormu.
Untuk apa bertukar nomor telepon
padahal kamu hanya tampil untuk tiga adegan?
Hubungi saja aku. 010...
Panggilanku "Sutradara Joo" barusan adalah panggilan sayang.
Ini permintaan pribadi.
Ini hanya nomor telepon. Baiklah, akan aku berikan.
Ini.
"Kak Geum Seong Moo."
Ternyata kamu sudah punya nomorku, Sutradara Joo.
No comments yet. Be the first to leave one.