ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Lisbon!
Jangan bergerak.
Apa dia menggigit?
Dia bisa membunuhku.
- CBI? - Ya, Pak. Lisbon. Jane.
Aku Mullery. Kenapa kalian begitu lama?
Sherif, aku mengerti ini situasi yang sulit untukmu.
Situasi yang sulit? Ini Deputi Nelson Capel.
15 tahun bekerja bersamaku. Punya tiga anak.
Semalam dia menjawab panggilan darurat pukul 22.23...
Dari gadis lokal, Keeley Farlowe, menelepon dari ponselnya.
Dia memberi tahu lokasinya di sini dan sambungan terputus.
Ini Deputi Lance Connor, sudah lima tahun bergabung.
Ayahnya satu SMA denganku.
Kalian lihat kapten tim medis di sana yang menangis histeris?
Dia keponakanku, Todd.
Penyebab dia menangis, Keeley. Itu tunangannya. Lehernya disayat.
Jadi, ini memang situasi yang sulit.
Silakan melihat apa pun yang kalian mau.
Beri tahu saat kalian selesai agar bisa bawa mereka ke tempat layak.
- Ini tak mudah. - Tapi menarik.
Tiga cara membunuh yang berbeda. Kenapa begitu?
Selalu buruk jika polisi setempat terlibat secara pribadi.
- FBI mau tangani ini? - Mayatnya juga telah diatur.
Bukan dengan cara berlebihan, tapi ada nilai estetika di sini.
Pelakunya tak terburu-buru.
Ya, kita sedang menghadapi maniak yang sangat rumit.
Ya, kurasa aku akan menghubungi FBI.
Tidak, jangan lakukan itu. Entah kenapa, tapi aku...
Aku menginginkan kasus ini, atau sebaliknya.
Baiklah. Aku punya firasat akan menyesal.
Kalian sudah selesai?
Sherif Mullery, agar kita sepemikiran...
Dalam kasus seperti ini, CBI punya yurisdiksi tunggal.
Departemen kalian akan berperan sebagai penasihat.
- Itu cara... - Kalian bisa dapat yurisdiksi.
Aku bersumpah yang melakukan ini akan mati sebelum ke ruang sidang.
Kalian tak mendengar itu.
Ya, aku sudah menyesal.
Kantor Sherif Vineland, California
- Apa kata sandi untuk wi-fi? - Apa?
- 1234. - Tentu saja.
Jadi, CBI.
- Yang terbaik. - Tidak juga.
- Aku Agen Grace van Pelt. - Bob Woolgar. Nomor dua di sini.
Itu Hoobs.
Pak, ada yang bisa kubantu?
Boleh bicara dengan siapa pun yang bertugas...
- Di investigasi pembunuhan? - Kenapa begitu?
Maaf, apa kau yang bertugas?
- Tidak, tapi aku... - Sudah kuduga bukan.
Pak, aku dari CBI. Kami bertugas dalam penyidikan ini.
Jika punya info tentang kasus ini, aku senang sekali jika itu membantu.
Jangan tersinggung, Nona.
Kau terlalu muda dan cantik untuk punya wewenang.
Sementara itu, aku akan menunggu atasanmu.
Jika kalian orang media, pergilah.
CBI. Polisi.
Jatuhkan senapan sekarang juga.
Baiklah, tak masalah. Tak perlu berteriak.
- Kau siapa? - Aku Joe Hunnicker.
Keeley cucuku. Aku tinggal di sini dengan dia dan Todd.
Masuklah.
Dia gadis baik.
Jika dia dan Todd tak menerimaku, atau andalkan cek veteranku...
Entah aku akan tinggal di mana.
- Todd. - Lisbon. Jane.
Ya, kita sudah bertemu.
Maaf karena aku emosi di sana.
Aku agak gila, kalian bisa bayangkan.
Kini aku sedikit lebih tenang.
Yakinlah, aku tak akan main hakim sendiri.
Kami turut berduka. Dan aku lega kau berpikir begitu.
Tak ada untungnya main hakim sendiri. Balas dendam itu sia-sia.
Itu pernyataan yang tak akurat, 'kan?
Aku yakin kita bisa memikirkan contoh saat balas dendam berhasil.
- Terima kasih atas masukannya. - Aku hanya menyatakan.
Ceritakan tentang Keeley.
Entah apa yang harus kukatakan.
Aku mencintainya. Kami akan menikah.
- Tadinya. - Orang tua?
Kecelakaan mobil sekitar lima tahun lalu.
Sopir mabuk. Keduanya tewas.
Kapan terakhir kali kau berbicara dengannya?
Sekitar satu jam sebelum dia pulang.
Aku menelepon dan memintanya membawakan bir dan keripik.
Aku dan Hunny bermain Gin Rummy. Aku bisa menjemputnya.
Biasanya aku begitu, di saat hujan atau tidak.
Tapi kemarin malam kurasa aku malas.
Pada dasarnya karena salahku dia tewas.
Jangan bicara begitu, Nak.
Jangan menyalahkan dirimu.
Tolong temukan pelakunya.
Aku hanya ingin tahu alasannya.
Kenapa?
Keeley bekerja malam selama setahun terakhir.
Pukul 16.00-22.00, selalu seperti itu.
Gadis yang baik. Semua orang menyukai dia.
Dia selalu tersenyum.
Ya, dia anggap semua orang baik. Agak lugu.
Apa ada seseorang yang khusus?
Tidak, hanya secara umum. Memercayai siapa pun.
Kemarin malam, pukul berapa dia pulang?
Seperti biasa, pukul 22.00. Dia naik sepeda.
Kubilang itu bahaya, tapi katanya hemat dan membuatnya tetap kurus.
Ada yang janggal saat sif kerjanya? Apa pun itu?
Aku tak melihatnya.
Ada sopir truk yang coba mengajaknya pulang.
Dia datang beberapa kali. Selalu memberi uang tip 10 dolar.
Kemarin dia di sini saat akan tutup. Kau ingat dia, Rusty?
Keeley biasa menunjukkan cincin tunangannya pada para pria...
Untuk menghentikan mereka.
Tapi pria ini tak peduli dan tetap berusaha.
- Kau tahu namanya? - Di kausnya tertulis "Greg".
Kau ingat dia. Pria tua besar yang ramah.
Aku tak ingat.
Dia mengendarai truk dengan gambar jeruk tersenyum di sampingnya.
Dengan tangan, seperti mengatakan dirinya jeruk.
"Contoh saat balas dendam berhasil."
- Bagus sekali. - Aku hanya menggoda.
Kau munafik bila menceramahi tentang balas dendam, 'kan?
Kenapa begitu?
Selama ini kau telah membantuku berusaha membalas dendam.
- Itu berbeda. - Kenapa begitu?
- Aku mengendalikan keadaan. - Benarkah?
Dia pasti telah diculik di suatu tempat sepanjang jalan ini.
Aneh kita belum menemukan sepedanya.
Mungkin dia tak langsung pulang.
Apa maksudmu kau mengendalikan keadaan?
Jika saatnya tiba, saat kita menemukan Red John...
Aku akan ada untuk menghentikanmu bertindak bodoh.
Kita akan bawa ke hadapan hakim dan juri.
- Kau sungguh percaya itu? Benarkah? - Ya.
Aku menduga kau meragukan hakim dan juri.
Dugaanmu salah. Aku tak meragukannya.
Kau tahu kenyataannya akan berbeda.
Red John milikku dan aku akan membalas dendam kepadanya.
Kurasa jika saatnya tiba...
Kau akan sadar bahwa kekerasan bukanlah jawabannya.
Aku tak tahu idealisme-mu yang naif terasa dalam.
- Permisi. Kau Agen Teresa Lisbon? - Ya, benar.
Selamat malam, Bu. Namaku Ellis Mars.
Aku tahu kau memimpin penyelidikan pembunuhan Keeley Farlowe.
- Benar. - Gadis malang.
Aku sering melihatnya keliling kota. Begitu segar dan polos.
Lalu?
Aku punya informasi.
Pembunuhnya akan beraksi lagi. Tak lama lagi.
- Bagaimana kau tahu itu, Pak? - Itu sulit dijelaskan.
Beberapa menyebutnya mata batin atau indra keenam.
Kurasa itu bakatku.
- Tak tertarik. Tapi terima kasih. - Aku sudah menunggu beberapa jam.
Mungkin kau lebih berpikiran terbuka.
- Jangan sampai aku memulainya. - Kumaafkan kekasaranmu.
Aku bisa tahu kau telah mengalami tragedi hebat.
Benarkah?
Maaf, aku tak bermaksud menyinggung.
- Aku hanya melihatnya di matamu. - Selamat tinggal, Tn. Mars.
Jika butuh bantuanku lagi, silakan hubungi aku.
Aku akan senang datang lagi.
Cho dan Rigsby kembali ke Sacramento untuk menjemput Gregor Hobart...
Sopir truk Happy Citrus Farms.
Dia terlihat bicara pada Keeley setelah pulang.
- Bagaimana dengan forensik? - Mereka segera membuat laporan...
Akan selesai besok pagi.
Aku sudah pesan kamar di motel terdekat.
Harga yang terjangkau. Deputi Hobbs bilang bersih.
Bagus. Ini hari yang melelahkan.
- Kau tak apa-apa, Jane? - Motel di kota kecil, piza SPBU.
Apa lagi yang lebih baik?
Macan-macan menyala.
Di hutan malam hari.
Tangan atau mata abadi apa yang bisa menciptakan makhluk menakutkan itu?
- Gregor Hobart? - Ya.
- Jangan kabur. - Aku memang tak berniat kabur.
- Kami sedang mencarimu. - Tak ada yang memanggilku Gregor.
- Ada apa ini? - Keeley Farlowe.
Dia tewas. Dibunuh.
Tidak.
- Kau tertarik dengan Keeley, 'kan? - Benar.
- Kau pernah mengatakan kepadanya? - Tentu. Aku mengajaknya kencan.
- Apa tanggapannya? - Kurasa dia tertarik.
Dia akan segera menikah.
Kita semua pendosa, Kawan. Bahkan gadis baik-baik macam Keeley.
- Kapan terakhir bicara dengannya? - Kemarin, saat dia pulang kerja.
Kapan dia pulang kerja? Di mana?
Di luar kedai, di jalanan.
Dia sedang membuka kunci sepedanya.
Itu menjadikanmu orang terakhir yang melihatnya hidup.
- Selain pembunuhnya. - Benar. Kalian bertegur sapa?
Kami saling menyapa.
Dia sedang sedih, jadi aku coba menghiburnya.
Aku menceritakan sebuah lelucon. Kambing ini berjalan ke dalam bar...
Dia sedih tentang apa?
Koki di kedai mengganggunya dengan diam-diam, memegangnya.
Seorang pengagum rahasia.
Mereka bertengkar kecil sebelum aku bertemu dengannya.
Karena itu dia sedih.
Aku membuatnya tertawa, dia pergi dengan senang.
- Itu terakhir kau melihatnya? - Ya. Ada yang aneh.
No comments yet. Be the first to leave one.