ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Kau menunggu seseorang?
Tidak.
Maaf, aku...
- Maaf. - Tenang, pelan-pelan saja.
Yang benar-benar kutangkap adalah gagasan kebebasan emosional.
Meninggalkan dirimu. Bebas.
Karena umumnya orang tidak berada di rumah sakit jiwa,...
...tapi kita semua terkurung.
- Benar, kan? - Jadi saat...
Sekolah adalah lembaga, bukan rumah sakit jiwa.
Namun, ini tetap tempat yang harus didatangi setiap hari...
...dan kau bisa merasa buntu.
Seolah kau dilarang menjadi dirimu setiap saat. Benar?
Apa tempat lain yang bisa terasa begitu?
- Maaf, Bu Stevens? - Ya, Margot.
- Bisa kembali ke akhirnya? - Tentu, akhirnya.
- Kau bilang saat McMurphy... - Apa pendapatmu?
Maaf?
- Apa pendapatmu dengan akhirnya? - Usaha bagus.
- Tenang, aku sudah baca. - Anak-anak.
Benarkah? Seperti kau membaca...
- ... The Great Gatsby? - Anak-anak!
Kenapa tak menonton filmnya saja?
Menonton film bukan cara aman untuk curang.
Hanya karena orang tak bicara setiap kali ingin bicara,...
- ...bukan berarti tak baca bukunya. - Anak-anak!
Selesai? Kita kembali ke bukunya.
Apa pendapatmu?
Tentang akhirnya?
Aku suka.
Ini yang mau kulakukan.
Sudah kutanyakan kepada pihak administrasi...
...dan mereka bilang dananya siap.
Mereka sudah periksa ulang dan semua surat izin kami diterima.
Kita siap untuk lomba dramanya.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Kita berangkat setelah periode ketiga?
- Itu rencananya. - Terima kasih mengajak kami.
Aku harus minta pada tiga guru lain sebelum kau sukarela ikut.
Billy?
- Hai, Margot. - Hai, Billy.
Billy, kapan ujian susulan Gatsby?
- Sial. - Margot?
- Benar, sampai bertemu... - Tengah hari?
Satu, dilarang memaki. Dua, kau sudah selesaikan bukunya?
Sudah.
Sudah dua minggu. Aku tak mau kau gagal. Ada apa?
Aku sedang kesulitan mengurus banyak hal.
Kau berkencan dengan seseorang?
- Seseorang? - Benarkah?
Hanya karena kau harus bicara dengan seseorang,...
...bukan berarti kita bisa bicara dengannya.
Beberapa hal sebelum kau pergi.
Pasti semua muridmu mengikuti kegiatan kelas, kan?
- Kenapa? - Mereka tak boleh pergi...
...jika melewatkan tugas. Kebijakan sekolah.
Aku sudah bicara pada guru lain.
- Aku hanya memeriksa... - Ya, tentu saja.
- Ya, tentu. - Bagus.
Kecemasan utama yaitu William Mitman.
- Billy? - Ya, Billy.
Entah apa kau tahu masalahnya.
Namun, kami tak mengizinkannya pergi kecuali dia aman.
Bagian Hukum hanya ingin memastikan aku membahasnya denganmu...
...agar kau tetap waspada.
Dia punya gangguan perilaku.
Dia akan membawa obatnya dalam perjalanan ini.
Dia boleh mengonsumsi obatnya sendiri.
Antara kita saja, kurasa ada ketegangan di rumah.
Mereka mau beri kepercayaan dengan mengizinkannya pergi.
Kau punya nomorku. Jika butuh, telepon aku.
- Hai, Sam. - Mobil keren, Bu S.
Hai. Ujiannya kubawa. Kau lakukan akhir pekan ini. Tak ada alasan.
- Ujian apa? - Urus dirimu sendiri, Margot.
Ujian Gatsby? Kenapa Billy tidak...
- Margot. - Maaf.
Baiklah.
Kalian siap?
Itu lampu apa?
Itu? Itu sudah lama menyala.
- Lampu peringatanmu menyala? - Bukan apa-apa.
Kalau bukan apa-apa, tak akan menyala.
Mobil ini sudah tua, terkadang suka aneh.
Terkadang suka aneh?
Kau mau kita berhenti dan membahasnya walau kita sudah terlambat?
Mewakili kami semua, aku ingin berkata kami berterima kasih...
...bahwa kau mengajak kami ke lomba.
Sejak sekolah memutus program seni...
...penting mendapat ekspos di mana pun bisa.
Ya, serius.
Tidakkah menarik, Bu Stevens...
...bahwa kita hampir setiap hari bersama...
...dan membahas beragam hal,...
...tapi kita kurang saling mengenal?
Tidak terlalu.
Aku ingin membahas soal hidup.
Terlalu sulit untuk hidup, dan mencoba untuk berfungsi.
Banyak orang harus dihadapi.
Seperti saat aku di swalayan mau membeli sekaleng tuna...
...dan ada orang di depan yang mau menjangkau...
...dan mengambil tunanya.
Kutunggu sebentar untuk melihat apa dia akan pindah, tapi tidak.
Mereka juga menatap tunanya, tapi lama sekali...
...dan mereka saling membacakan bahan seolah...
- Apa itu? - Sial, maaf.
- Serius. - Apa itu?
- Kurasa bannya. - Astaga.
Berengsek! Maaf. Sial.
- Astaga! - Maaf.
Sam, monolog-mu bagus sekali. Maafkan aku.
Christopher Durang, 'kan?
Kurasa kau tak tahu siapa Christopher...
Kita duduk di tepi jalan!
- Benar. - Lampu peringatan, 'kan?
- Bukan, Margot. - Astaga.
Ayolah, hentikan.
Kau membawa anak-anak orang lain dalam mobil yang tidak layak.
- Maaf, aku malu sekali. - Kenapa kau malu?
Karena aku si berengsek yang abaikan lampu oranye menyala.
- Kau sering memaki. - Aku tahu.
- Saat kita di sekolah... - Itu hanya tombol.
- Kenapa tidak menyala? - Karena kita tak di sekolah.
Namun, kita di sekolah.
Baiklah.
Kita akan terlambat. Aku harus menelepon hotel.
Akan kutelepon saja.
Hai, ini Margot Jensen dari SMA Franklin.
Ini resepsionisnya?
- Di mana aku... - Kolom tanda tangan.
Kau harus bawa ke bengkel secepatnya.
- Jika terlalu lama pakai cadangan... - Ya, baiklah.
- Terima kasih. - Bagus.
- Terima kasih. - Terima kasih.
- Semua musikmu tua. - Maaf.
- Akan kuganti salurannya. - Jangan! Aku suka lagu ini.
Bagaimana kau tahu lagu ini?
- Ayahku... - Tepat.
- Ini musik para ayah. - Ya.
- Musik guru tua. - Kau tidak tua.
- Aku tua. - Kau suka America?
- Ya... - America?
Band ini. America.
- Namanya America? - Ya.
- Itu saja? - Itu saja.
Entahlah, Margot. Aku suka dampaknya padaku.
Boleh kutanya berapa usiamu?
Menurut Sam kau 26 tahun, tapi kurasa lebih tua lagi.
Bukan karena kau terlihat tua, tapi kesannya lebih tua.
- Kakakku... - Aku 29 tahun.
Bagian terbaiknya.
Maukah kau menemuiku di tengah Maukah kau menemuiku di udara
Akankah kau mencintaiku sedikit Cukup untuk menunjukkan kau peduli
Kucoba berpura-pura Aku tak keberatan bilang
Aku tak akan bisa
Aku akan mendaftar masuk.
Segelas lagi?
Tentu, terima kasih.
Anggur lagi bagi sang nona, segera.
Apa peran favoritmu?
Astaga.
Kami memainkan The Glass Menagerie.
Aku suka drama itu.
- Kau menjadi siapa? - Aku Tom. Sering memerankan lelaki.
- Kenapa? - Entahlah.
Aku tinggi, tidak berpinggul.
- Silakan. - Terima kasih.
Pinot noir. Pilihan bagus.
Benar sekali.
Apa kita senang melihat siapa saja malam ini? Cukup menarik.
Pernah suatu kali...
Apa?
Sudah bertahun-tahun tak teringat.
Kami memainkan Taming of the Shrew dan aku memerankan Petruchio.
Pada adegan terakhir, di malam terakhir...
Petruchio tokoh utamanya.
- Benar. - Maaf.
Petruchio adalah pria ini yang mencintai gadis ini, Kate.
Pada adegan terakhir, gadis pemeran Kate, Gillian,...
...menciumku.
Kami melakukan dengan pelukan konyol.
Karena itu sekolah semacam itu.
Aku memeluknya dan dia berpaling...
...lalu menciumku.
Benar-benar menciumku.
Aku ingat berpikir kenapa tak dilakukan dari awal?
Kedua orang ini saling mencintai.
Lalu aku teringat guruku, ibuku, dan nenekku.
Juga pria yang kusukai, Thomas O'Toole,...
...semuanya menontonku berciuman dengan Gillian Cooke.
- Itu gila. - Apa yang terjadi?
Kami harus ke kantor Kepsek.
Kau tak bilang itu salahnya?
Tidak.
- Kenapa? - Entahlah.
Tidak terasa itu salahnya.
Aku paham.
Jika salah satu dari kami lelaki sungguhan,...
...kami takkan mendapat masalah.
Mereka takkan peduli.
Mereka akan bertepuk tangan dan mengira kalian berkencan.
No comments yet. Be the first to leave one.