ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Hadirin sekalian, tepuk tangan yang meriah
untuk Wanda Sykes!
Philadelphia, terima kasih banyak.
Terima kasih!
Astaga, aku senang sekali berada di sini, Philadelphia,
kau tahu, syuting komedi spesialku.
Komedi spesial terakhirku itu di tahun 2019.
Judulnya Not Normal.
Ya.
Sejak itu, ada pandemi,
pemberontakan,
Putusan pembatalan hak konstitusi lama dalam Roe v. Wade…
Ya.
Ya, mestinya spesial itu kusebut The Good Old Days.
Sial.
Apa-apaan ini?
Cacar monyet, lalat lentera,
banjir di California, Texas membeku…
Kanye memakai kaus "Nyawa Kulit Putih Penting"…
Kurasa aku akan menamai spesial ini Here Comes Jesus.
Kita hidup melewati masa pandemi. Apa-apaan?
COVID itu menakutkan
karena kau tak tahu apa yang akan terjadi sampai kau terpapar, 'kan?
Aku terpapar. Butuh dua tahun, lalu akhirnya aku terpapar.
Kau tahu, tapi aku divaksinasi penuh,
jadi, dua hari pertama agak berat.
Aku mengisolasi diri di kamar tamu,
jadi istriku tak bisa menggangguku.
Anak-anakku tak bisa menggangguku.
Jadi, di hari ketiga, aku bilang, "Astaga."
"Bagaimana aku bisa terkena COVID selama itu?"
"Aku setuju."
"Ini seperti waktu untuk pribadiku."
Selama isoman, aku hanya rebahan, menonton apa pun yang kumau.
Istriku meninggalkan makananku di pintu.
Dia bilang, "Sayang, kenapa ada handuk di bawah pintu?"
Aku mengisap ganja di kamar, kau tahu, aku…
"Karena kau tak mau ini!"
"Aku memikirkan kalian!"
Lalu beberapa hari kemudian, dia terpapar juga.
Ya, dia bilang, "Sayang, hasil tesku positif."
"Jadi, kau tahu, aku bisa isoman bersamamu."
Kubilang, "Tidak."
"virusmu masih baru. Aku sudah mau sembuh."
"Kau lebih aktif."
Dia bilang, "Bukan begitu caranya."
Kubilang, "Kau tak tahu. Kau bukan Sanjay Gupta."
"Isoman di kamar kita saja."
Lalu putraku kena. Ya.
Saudari kembarnya, dia tak terpapar.
Kenapa? Karena dia gadis 13 tahun dan dia tak mau berurusan dengan kami.
Kau harus lihat dia,
berjalan sekitar 15 meter di depan kami,
bergaya seolah dia Beyoncé dan kami Destiny's Child.
Ke kiri, ke kiri
Tapi kau tahu, ada beberapa hal yang kurindukan saat masa kuncitara.
Ingat kita tak mengizinkan siapa pun masuk ke rumah?
Kau tak biarkan siapa pun masuk ke rumah. Aku rindu itu
karena menyenangkan menyuruh teman kulit putihku masuk lewat belakang.
Aku suka itu.
"Carol, masuk lewat pintu belakang."
"Kau tahu lebih baik daripada kemari seperti itu."
"Pergilah ke belakang sekarang. Pergi! Ayo."
"Akan kutemui kau di dekat api unggun. Ayo."
Banyak minum di dekat api unggun.
Ada hal baik dari pandemi, bukan?
Kita bergereja daring.
Aku suka gereja daring! Bukankah itu yang terbaik?
Tapi entah kenapa aku masih telat.
Entah bagaimana itu terjadi.
Kau hanya perlu masuk, Wanda. Astaga!
Aku suka gereja daring.
Meski Minggu Komuni mulai tak terkendali.
Ya, kau tahu,
pastor akan berkata,
"Ambil anggurmu, atau jusmu."
Kubilang, "Kau bilang anggur. Jangan lanjutkan."
Jadi, aku akan duduk di sana dengan segelas anggur
dan biskuit Ritz-ku.
Ya, karena tubuh Kristus berwarna cokelat bagiku.
Aku tak suka Yesus Malibu, pria berambut pirang dan bermata biru itu.
Tidak.
Itu hanya melanggengkan supremasi kulit putih.
Apa pernah lihat salah satu lukisan awal Yesus?
Dia mirip Teddy Pendergrass.
Itulah Yesusku.
Aku tak suka Yesus dari Nebraska. Tidak, terima kasih.
Jadi, beberapa komuni pertama, aku senang, tapi pada bulan keenam,
aku duduk di sana dengan segelas penuh Cabernet
dan segala jenis bagel.
Pikirku, "Apa-apaan ini, Wanda? Apa yang kau lakukan?"
"Ini konyol."
Kau tahu, di akhir kebaktian, sepiring keju jadi bagian di dalamnya.
Ada bekas gelas anggur di Alkitab-ku. Aku bilang, "Baiklah…"
"Aku harus kembali ke gedung. Aku butuh pengawasan."
Aku punya teman yang masih belum divaksinasi.
Dia tak mau divaksinasi.
Dan dia menertawakanku. Dia bilang, "Lihat dirimu."
"Kau tak tahu yang ada di dalamnya."
"Kau menyuntikkan itu. Kau tak tahu isinya."
Kubilang, "Ya, aku tak tahu."
"Jika mereka memberitahuku isinya, aku tetap tak akan tahu isinya."
"Aku bukan ilmuwan, Bodoh."
Tapi mereka menertawakanku.
Mereka bilang, "Aku hanya tak menaruh apa pun di tubuhku."
Aku bilang, "Kau minum pemanis buatan. Diamlah."
Aku tak takut pada vaksin
karena aku tumbuh dengan sesuatu yang disebut manusia nyamuk.
Ya. Aku tumbuh di Virginia, daerah pedesaan, dan ada pria nyamuk.
Pria nyamuk ada banyak sekarang,
tapi mereka menelepon rumahmu dan meninggalkan rekaman
dan bilang mereka akan datang dan merawat area ini,
dan tetap di dalam dan bawa hewan peliharaanmu ke dalam.
Ya. Dulu tidak begitu.
Di akhir tahun 60-an, mereka muncul begitu saja.
Ya, dan kami tinggal di hutan,
tanpa lampu jalan, hanya jalan tanah.
Nenekku tak punya pipa ledeng.
Jadi, saat pria nyamuk itu datang,
itu saat yang menyenangkan bagi kami. Itu seperti sirkus.
Paham? Itu seperti, lingkungan lain, mereka akan…
Kami tidak begitu. Suaranya begini…
Dan kami sangat bersemangat.
Anak-anak, dewasa, kami akan tinggalkan apa pun yang kami kerjakan…
"Itu pria nyamuk!"
"Ya, itu manusia nyamuk!"
Dan kami akan lari ke ujung jalan untuk menyambut pria nyamuk itu,
hanya untuk berada di belakang truknya
untuk bermain di kabut pestisida itu.
"Kau tak bisa melihatku!"
Kami main kejar-kejaran, bersenang-senang.
Pria nyamuk itu berengsek.
Karena bukannya bilang, "Anak-anak, pergi dari sini!"
"Masuklah. Ini racun!"
Dia menembaki kami seolah main video gim.
Si berengsek itu akan memperlambat dan menaikkannya agar kabutnya membesar.
Dan kami menyukainya.
Berlari di dalamnya, mulut terbuka lebar.
Lalu saat dia meninggalkan lingkungan, kami akan berterima kasih.
"Terima kasih, Pria Nyamuk! Terima kasih!"
"Cepat kembali, ya?"
Lalu kami pulang,
dengan pestisida yang mengepul dari kami.
Lalat akan mendarat di atas kami,
lalu mati.
Jadi, aku tak takut pada vaksin.
Aku sudah menikah, bahagia.
Menikahi wanita Prancis. Ya, dia orang Prancis.
Dan dia berkulit putih, dan…
Kami punya anak kembar, Lucas dan Olivia. Usia mereka 13 tahun.
Mereka juga putih. Ya, kau tahu.
Kupikir jika dia akan bawa mereka, mereka akan terlihat seperti dia.
Aku juga merasa, "Hei,
"Jika kita tak langgeng, akan lebih mudah bagiku untuk pergi."
"Rasanya aku bukan bagian."
Dia tak akan suka lelucon itu.
Dan dia tak akan suka jika aku memasukkan surat wasiatku
agar anak-anak mendapatkan uang,
mereka harus ganti nama secara legal
jadi Rashad dan Laquisha.
Anak-anak kini bersekolah di sekolah negeri.
Karena sejak PAUD, mereka bersekolah di Sekolah Prancis,
karena istriku berkata, "Baiklah, aku ibunya, dan, kau tahu,
anak-anak, mereka harus belajar bahasa Prancis dahulu,
karena itu bahasa ibu mereka."
"Jadi, mereka harus bersekolah di sekolah swasta Prancis, oke?"
Dan aku berkata, "Ya, itu keren. Prancis dulu, oke."
Teman-temanku bilang, "Apa, 'Prancis dulu'?"
Kubilang, "Bisakah kalian diam? Aku tahu yang kulakukan."
Omong-omong, aku merasa anak-anak akan membawakanku PR dan aku akan…
"Tanya ke ibumu."
Tapi kini anak-anak sudah fasih, jadi istriku…
Saat mereka masuk SMP, dia mendatangiku seperti,
"Baiklah, jadi kini anak-anak sudah fasih berbahasa Prancis,
dan kurasa sudah saatnya mereka masuk sekolah negeri."
"Kau tak keberatan?"
Aku bilang, "Sama sekali tidak, karena dengan melihat rapor ini,
aku bisa dapat nilai C secara gratis
"Melihat ini, kita tak membesarkan Dr. Faucis di sini."
"Kurasa kita punya beberapa TikToker."
"Itulah yang sedang kita kerjakan."
Tapi kami sudah berkeliling sekolah sebelum membuat keputusan.
Kami mengecek sekolah. Kami berjalan melewatinya,
sekolahnya memasang bendera pelangi,
ada bendera transgender,
ada tangan melintang di dunia, berpegangan tangan,
dan istriku melihatnya. Dia bilang, "Oh!"
"Ini bagus. Aku suka. Kurasa ini cocok dengan nilai-nilai kita…"
"Kurasa ini lingkungan yang bagus untuk anak-anak."
"Bagaimana, Sayang?"
Aku bilang, "Pertama-tama,
kau tahu kau tak boleh merokok di sini."
"Gedung umum. Apa yang kau lakukan?"
Aku bilang, "Aku tak percaya kau jatuh cinta pada ini."
"Mereka pasang ini karena mereka tahu kita akan datang."
"Kau turunkan bendera pelangi itu,
ada poster Trump 2024 di baliknya."
Tapi ternyata, aku salah.
Itu misi sekolahnya, inklusif. Ya.
Itu sangat menyentuhku.
No comments yet. Be the first to leave one.