ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
DOKUMENTER ASLI NETFLIX
Di desa kami dulu, kami hidup bahagia. Aku bermain bersama teman-teman.
Kami dulu pagi-pagi sekali pergi ke ladang untuk memanen ubi.
Setelah selesai, kami pergi ke sungai.
Kami bermain air tanpa takut akan buaya.
Ketika hujan turun, kami berlarian di jalanan
Kami mengaduk-aduk pasir bercampur air hujan...
Kami mencucinya, lalu kami menemukan emas...
Di penghujung hari,
kami pulang sambil bernyanyi.
Waktunya anak-anak pulang! Waktunya anak-anak pulang!
Dan aku pergi tidur tanpa cemas.
Kami dulu hidup damai. Tak ada alasan untuk takut.
Tapi suatu hari semuanya berubah...
dan aku berada di tempat yang aku tak pernah sangka...
BUKAVU REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO BAGIAN TIMUR
Berkendara lewat jalan ini tiap hari...
adalah tantangan.
Ini tantangan akibat eksodus ke Bukavu.
Semua keluarga melarikan diri dari desa-desa
untuk tinggal di kota, mencari keamanan.
Populasi Bukavu telah meningkat dari sekitar 50.000
menjadi mungkin lebih dari satu juta orang saat ini.
Dan ini akibat perang. Orang-orang terpaksa meninggalkan desa.
Mereka semua pindah.
Mereka meninggalkan tempat terindah
karena di desa-desa itu mereka punya ladang dan segalanya.
Dan harus tinggal di sini dalam kemiskinan karena mereka tak punya lahan.
Itu berarti mereka tidak punya alternatif lain.
Jalan ini adalah pengingat bahwa perang belumlah berakhir.
Tapi yang paling menakjubkan dari jalan ini adalah
kemana ia membawa kami setiap hari.
SELAMAT DATANG DI KOTA SUKACITA
Kota Sukacita dibangun sebagai pusat untuk
korban perkosaan dan kekerasan gender di RDK.
Pembangunan ditujukan untuk menjadikan para wanita ini pemimpin.
Saat kami belajar tentang hukum terkait kekerasan seksual
kau akan sadar ada banyak hal yang dilarang
Ini berarti kau harus mempertahankan hak-hakmu sendiri!
aku adalah Pengurus Kota Sukacita.
Masalahku adalah aku berjalan terlalu cepat.
Bahkan jika lainnya memakai sepatu lari
dan aku memakai hak tinggi,
mereka tidak akan mampu bersaing.
Tetapi secepat apapun saya,
saya tak akan meninggalkan Kota Sukacita.
Aku akan tua di sini.
Banyak dari kami melahirkan anak akibat perkosaan.
Kami diundang untuk datang ke Kota Sukacita
dan kami sudah sampai sekarang.
Aku jelaskan dulu. Kami ingin kalian tinggal di sini untuk 6 bulan pelatihan.
Lalu kalian dapat kembali ke kehidupan biasa kalian.
Cukup jelas?
Mereka mengikat bibiku
dan mengeluarkan pisau
lalu mereka menusukya.
Setelah menusuknya, mereka menadahi darahnya.
Dan saat mereka sudah yakin dia meninggal dan mereka dapat darahnya...
mereka menyiramkan darahnya ke rumahnya.
Lalu enam prajurit mendatangiku.
Yang pertama memerkosaku, diikuti yang kedua,
lalu yang ketiga, dan juga yang keempat.
Setelah yang keempat selesai, aku tidak sadarkan diri.
Aku dibawa ke Rumah Sakit Panzi
dan sampai di sana, aku masih tidak bisa jalan.
Kukatakan pada ibuku kalau aku tidak gila tapi hanya ingin mati.
Aku berdoa meminta kematian, tapi tidak terkabul.
Tapi tidak bisa hidup juga.
Bapa, kami berterimakasih
dan mempercayakan yang sakit dalam tangan-Mu.
Pimpinlah kami agar apa yang kami perbuat untuk pasien kami,
kami lakukan dengan pertolongan-Mu...
-Amin. -Amin.
PENDIRI, KOTA SUKACITA DR. DENIS MUKWEGE
DR. MUKWEGE DOKTER KANDUNGAN-GINEKOLOG
RUMAH SAKIT PANZI, BUKAVU REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO
Aku mulai bekerja di sini pada 1983,
di sebuah rumah sakit 100 km dari sini
BUKAVU LEMERA
RUMAH SAKIT LEMERA, LEMERA REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO
Aku dulunya Direktur Kedokteran di rumah sakit di Lemera.
Tempatnya di pedesaan.
Sayangnya, pada tahun 1994,
kami mulai melihat prajurit dari Rwanda
mendaki gunung-gunung.
Dan pada tahun 1996,
rumah sakit itu diserang.
Pada saat penyerangan, 33 pasien terbunuh di ranjang mereka
dan banyak juga staf kami yang terbunuh.
Mereka tewas di rumah sakit.
Di ranjang mereka.
Aku mengevakuasi pasien lain, tapi di belakangku,
jalan diblokir dan aku tidak bisa kembali.
Dan pasien-pasien itu dibunuh.
Dan setiap kali aku bicara tentang apa yang terjadi di sini,
bayangan para wanita itu kembali.
Aku hanya ingat bisa melihat kemarahan
revolusi dalam pria ini
yang berdedikasi membantu dan membangun rumah sakit ini
menetap, kau tahu, ini tempat antah berantah.
Tempat itu dihancurkan.
Itu menyiksaku untuk waktu yang lama.
Dan ketika aku tersadar...
Aku datang ke sini, ke Bukavu.
Aku melakukan renovasi pada dua rumah
yang kujadikan Rumah Sakit Panzi.
RUMAH SAKIT PANZI, BUKAVU REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO
Orang pertama yang mendapat perawatan medis di sini
adalah korban perkosaan.
Dia diperkosa oleh beberapa orang,
dan setelah itu, mereka menembaknya.
Kupikir itu insiden khusus.
Kupikir itu tindakan barbar orang gila,
tapi sayangnya, aku mulai menyadari bahwa bukan itu yang terjadi...
Aku menemukan bahwa perkosaan digunakan sebagai senjata perang.
Tubuh mereka dihancurkan dengan senjata api, pisau
dan berbagai barang.
Hingga saat ini, kami telah merawat lebih dari 40.000 wanita.
Beberapa wanita kehilangan kandung kemih, vagina, dan rektum mereka.
Dan kami mengoperasi pasien sebanyak mungkin setiap hari.
Ketika perang dimulai pada tahun 1996,
sangat sulit untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Pertama-tama, itu hanya perang ekonomi, yang mana
melibatkan semua negara besar di dunia.
Mereka ingin membuat kekacauan agar mereka bisa mengontrol pertambangan.
Dan kami punya banyak grup milisi
dan mereka bekerja untuk orang-orang penting
dan perusahaan multinasional dari seluruh penjuru dunia
Menurut Laporan PBB, korporasi multinasional
dari seluruh penjuru dunia terlibat
dalam eksploitasi sumber daya alam Republik Demokratik Kongo.
Perusahaan-perusahaan ini antara lain berasal dari:
Belgia, Kep. Virgin Britania Raya, Burundi, Kanada, Cina, RDK, Finlandia, Prancis,
Jerman, Ghana, Hong Kong, Israel, Kazakhstan, Malaysia, Belanda, Rwanda,
Afrika Selatan, Swiss, Thailand, Uganda, UEA, AS, Britania Raya, Zimbabwe
Dan beberapa korporasi menggunakan milisi
karena mereka mengenal hutan, tahu cara melindungi tambang.
Kami bahkan tidak tahu siapa berpihak pada siapa.
Mana tentara, mana bukan tentara?
Mana polisi, mana bukan polisi?
Dan grup-grup milisi ini sangat miskin.
Mereka tak punya apa-apa, jadi mereka seperti budak
Tapi aku punya senapan jadi aku bisa makan.
Aku bisa memerkosa, aku bisa kerjakan ini.
Aku ingat pernah melihat peta yang bagus,
perkosaan dan pertambangan.
Jadi kau bisa lihat sekitar area tambang ada banyak perkosaan.
Jadi mereka menggunakannya sebagai senjata perang.
Bayangkan saja semisal mereka menyerang desamu.
Mereka memerkosa anak-anakmu.
Memerkosa ibumu, nenekmu.
Jadi, para korban selamat, apa yang mereka lakukan?
Mereka pergi.
Dan milisi mengambil alih desa, sebagian besar dekat tambang.
Strategi mereka ini sangat matang.
Wanita-wanita ini seringkali diperkosa di depan mata suami mereka
dan di hadapan anak-anak mereka.
Mereka tidak bisa menerimanya.
Kenyataan bahwa seorang wanita diperkosa di hadapan suami
menyebabkan suami merasa malu,
yang membuatnya meninggalkan istri untuk mempertahankan harga dirinya.
Beban kesalahan seluruhnya jatuh pada korban.
Ini kehancuran total sebuah keluarga dalam suatu komunitas.
Ada banyak desa tak berpenghuni saat ini.
Jelas, ini adalah taktik perang.
Kiki!
Kirimi aku pulsa telepon!
Dia akan mengirimiku pulsa.
Ya ampun, aku berjanji membawa permen untuk anak-anak.
Aku punya kantong plastik khusus di tasku.
Kau mau lihat...
seperti apa uang Kongo?
Jadi, ini uang Kongo. Lihat?
Itulah kenapa kutaruh di kantong plastik. Ini uang Kongo.
Aku lahir di Kongo. Besar di sini, di Bukavu.
Selama hampir seluruh abad 20, Kongo menjadi jajahan Belgia
dan kisahku berkaitan erat dengan sejarah itu.
Ibuku berkulit hitam dan ayahku putih.
Mereka berasal dari dua dunia yang berbeda.
Ibuku tidak berpendidikan
Dia berasal dari keluarga yang sangat-- mungkin paling miskin di Kongo.
Ibu bekerja memanen teh dan kopi di perkebunan kakek dan nenek.
Dan ayahku berasal dari keluarga kaya raya dari Belgia.
Orang-orang congkak, penjajah,
tapi Ayah membangkang terhadap orang-orang kulit putih.
Dan mereka jatuh cinta dan itu adalah cinta terlarang.
Kakek dan nenek menolak Ayah.
Ayahku diusir dari rumah.
Dia harus tinggal bersama buruh.
Mereka menolak
menerima anak mereka kembali ke rumah bersama seorang wanita kulit gelap.
Itu sungguh memalukan dan...
mustahil.
Sementara itu aku, aku harus menemukan tempat di tengah-tengah
kedua budaya ini.
Dan karena aku melihat ibuku menderita hanya karena berkulit gelap,
karena tidak pernah bersekolah,
aku selalu merasa dekat dengan mereka yang paling menderita.
Jadi aku tahu tempatku di Kongo.
Terima kasih.
No comments yet. Be the first to leave one.