ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
THE TAI CHI MASTER
Lapor!
Jenderal, musuh mulai mendekat.
Kita sudah dikepung!
Berapa jumlah mereka?
Menurut Duke Chi, sekitar 10.000!
PANGERAN KLAN DI
Bersiap menyerang tembok kota!
Siapkan para pemanah.
Baik, Jenderal.
Pemanah, bersiap!
Apa itu?
Waspada!
Lepaskan!
Sekali lagi!
Lindungi kota ini!
Jenderal, gerbang telah jebol!
Musuh sudah masuk!
Pertahankan pusat kota!
Jangan mundur!
Ayah!
Angin tak punya bentuk.
Bayangan tak punya wujud.
Kekuatan bagai angin yang membelah.
Tenaga bagai guntur.
Arak yang enak.
Siapa itu? Bunuh dia!
Siapa pria mabuk ini?
Tangkap dia.
Junbao, aku datang.
Menunduklah.
Bocah kecil.
Kau terlambat.
Musuhku lebih banyak daripada kau.
Hati-hati, Linchuan!
Junbao?
Aku tak ingin bermain denganmu.
Cepatlah. Ikuti aku.
Pertempuran yang sangat besar.
Di mana Junbao?
Lihat itu.
Saatnya menjadi terkenal.
- Serang! - Serang!
Apa kau ingin kabur?
Junbao!
Jatuhlah sampai mati!
Kau takkan bisa lolos. Berhenti!
Junbao,
kau lebih cepat dariku lagi.
Tak seru sama sekali.
Yang Mulia, kami berhasil.
- Target ditemukan! - Busur silang, bidik timur laut!
Junbao,
kami sudah siap!
Tangkap dia.
Tembus awan dan mentari.
Hancurkan.
Lindungi pangeran!
Bendera pasukan telah jatuh!
Yang Mulia, mereka punya ahli bela diri.
Mereka penuh tipu daya.
Karena kita sudah dapatkan yang diinginkan,
kita tak perlu meladeni mereka.
Mundur!
Ambil sanderanya.
Mundur!
Junbao!
Wan Yao!
BAB SATU AWAL MULA YIN DAN YANG
Lepaskan aku!
Junbao takkan mengampunimu!
Diam!
AREA TERLARANG LEMBAH SERANGGA
Ada apa?
Suara apa itu?
Lepaskan aku, cepat.
Jika tidak, Junbao takkan mengampunimu.
Sepertinya ini jebakan.
Apa itu?
Lepaskan dia.
Junbao!
Kenapa lama sekali?
Jangan mendekat.
Jika tidak, aku akan membunuhnya.
Apa kau ingin bertarung?
Jangan salahkan aku jika aku kasar.
Sial! Cacing tanah besar sekali!
Wan Yao!
Wan Yao, sembunyi.
Biar aku lawan cacing ini. Pergilah.
Cacing besar,
aku akan bermain denganmu.
Junbao!
Hati-hati, Junbao!
Kau hebat juga!
YUE ER
Apa yang kau lihat?
Saat aku dewasa nanti,
aku akan lebih cantik darinya.
Kau memang cantik.
Beraninya kau menerobos
ke area terlarang Lembah Serangga
dan mengganggu ulat sutraku?
Nona, apa kau yakin
ini ulat sutra?
Cukup omong kosongnya.
Kalian tadi bersama Klan Di.
Apa kalian
kacung Klan Di?
Kau yang kacung Klan Di.
Soal siapa kami,
itu bukan urusanmu!
Cacing besar itu yang mencoba memakan kami.
Jangan menyela saat orang dewasa bicara.
Nona,
namaku takkan berubah kapan pun.
Aku Zhang Junbao.
Kami berdua datang ke sini
mengejar musuh.
Tak disangka,
ulat sutramu memakan mereka semua.
Kalian seharusnya dihukum
karena menerobos masuk.
Karena kalian tak sengaja,
kalian boleh pergi.
Jangan ulangi lagi.
Hei, Nona!
Aku belum tahu namamu.
Dunia ini luas.
Kita bertemu secara kebetulan.
Kita mungkin takkan bertemu lagi,
jadi kau tak perlu tahu.
Junbao,
apa kau menyukai wanita jelek itu?
Apa yang kau katakan?
Lagipula kau tak boleh menyukainya.
Kau harus menyukaiku.
Itu lagi?
Dengar ya.
Aku pasti, sungguh,
akan membicarakannya setelah kau dewasa.
Tidak.
Kau harus berjanji padaku sekarang.
Ada cacing besar datang!
Di mana? Di mana?
Tunggu aku, Junbao!
- Jenderal Wei, kau tak boleh masuk. - Biarkan aku masuk.
- Tuanku sedang makan. - Aku bawa laporan mendesak.
Jenderal Wei!
Tuanku, apa kabar
dari ibu kota?
Kapan bala bantuan tiba?
Bala bantuan takkan datang.
Tuanku, puluhan ribu pasukan musuh
mengincar kita.
Kota Yecheng saja
takkan bisa menahan mereka.
Ini mendesak. Tuanku, mohon!
Apa kau tak lihat aku sedang makan?
Jenderal, bala bantuan takkan datang.
Apa yang harus kita lakukan?
Aku akan tawarkan imbalan
bagi prajurit sukarela.
Jangan sampai bocor.
Jangan biarkan Klan Di tahu kita sendirian.
Baik.
Jangan malas.
Cepat bekerja.
Kenapa wajahmu tampak sedih?
Ayo. Minumlah.
Junbao, kau sudah kembali.
Ya.
Bagaimana Wan Yao?
Dia baik-baik saja. Gadis itu cerdas.
Junbao, berkat kau,
kita bisa mempertahankan Kota Yecheng.
Begitu Yecheng jatuh,
dinasti Song akan benar-benar bahaya.
Terlalu berlebihan.
Aku hanya bicara kenyataan.
Kau punya ilmu bela diri hebat.
Sayang sekali
jika kau tak meraih prestasi besar.
Kenapa kau tak tinggal
dan berjuang bersamaku?
Sudah sering kukatakan.
Kita tumbuh bersama.
Apa kau tak mengenalku?
Berjuang di medan perang
bukanlah takdirku.
Kau ini...
Musuh asing
telah menyerang Song selama bertahun-tahun.
Apa kau tak ingin membela negara?
Membela negara
adalah tugasmu, Jenderal.
Itu bukan urusanku.
Aku hanyalah orang biasa.
Terima kasih.
Selamat tinggal.
No comments yet. Be the first to leave one.