ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
subtitle by ++++ SonOfGotham ++++
Selamat malam. Terima kasih.
Di sini, baris keenam. Kursi kedua.
Selamat menikmati.
Selamat malam, boleh lihat tiketnya? Terima kasih.
Permisi, sepertinya salah.
Ini, lihat.
- Perhatikan. Tempat duduknya salah. - Maafkan aku.
Ayo.
Tidak, aku ingin di sini.
- Kau gila? - Aku harus melihatnya.
- Apa yang spesial tentang Mengelen? - Mengelberg.
Sudah kubilang.
Ayo.
Ini toilet pria.
Aku...
Aku memeriksa sesuatu.
Apa yang kau periksa?
Kebersihan.
Toilet pria mudah kotor. Jadi perlu pemeriksaan tambahan.
Dan kau sudah selesai?
Segalanya bersih, Tuan.
- Kau ketinggalan konser. - Aku pernah beberapa kali menontonnya.
Kau melupakan sesuatu.
Kau perlu tangani ini.
- Dia harus keluar. - Apa? Siapa?
Dia kerja untukmu?
Tak usah mendorong, aku bisa jalan.
Orang sepertimu seharusnya disekap.
- Bisakah aku minta maaf? - Pada siapa? Seluruh penonton?
- Pada Maestro Mengelberg. - Jangan dekati dia.
Musisi hebat harus dihormati.
- Kau dipecat. - Kau bukan atasanku!
DIRIGEN
BERDASARKAN KISAH NYATA
Hari yang melelahkan?
- Tak apa-apa. - Willy...
Gajimu.
Aku akan dibayar minggu depan.
- Menggelikan. - Mereka mengadakan pesta.
Kau bisa memotong bawang?
Aku memasak sup.
Kau tahu itu membuatnya menangis.
Itu takkan membunuhnya.
Ayo. Ibumu sakit kepala.
Tuan Goldsmith?
Tuan.
Orang tuaku dan aku sudah menonton konser siang ini bertahun-tahun.
Karena ini gratis, tak heran.
Di ketukan terakhir, kukira bagian trombon salah nada...
sebelum pengulangan trio.
Mereka memainkan E Minor, tapi seharusnya E-Flat.
Tunggu.
Impresif. Kau hapal bagian trombon itu?
Tidak hanya bagian itu. Semua nada.
Kau masih memberi les piano di konservatori?
- Masih. - Aku mau masuk ke sana.
Semoga beruntung.
Aku ingin kau beri kesempatan bermain untukmu.
- Aku tak mau buang-buang waktu. - Aku juga.
Besok sore, kalau begitu. Jam 4.
Aku ada janji dengan Tn. Goldsmith.
Masuk.
Bisakah aku minta kopi?
Diam. Aku sedang bekerja.
- Kopinya harus digiling. - Dia bisa melakukannya.
Kau boleh masuk kalau kopinya siap.
Kau mendengarnya.
Jangan lari.
Di rumah ini sangat ribut.
Jangan hiraukan dia, dia dari mebel.
Frank, ini ... Siapa namamu?
Willy Wolters.
Mari langsung mulai.
Mainkan.
Kau bisa berhenti.
- Bagus sekali. - Menurutmu?
Grand piano ini.
Aku berlatih piano dengan rak pada senarnya.
Mengapa begitu?
Kalau tidak, tetangga akan mengeluh.
Tapi itu barang tua. Ayahku menemukannya di tempat sampah.
- Sampah? - Ayahku tukang sampah.
- Siapa yang mengajarimu? - Teman ibuku.
Apa yang kau ketahui tentang Bach?
Aku memainkan karyanya.
Kau takkan bisa memainkannya tanpa mempelajari orangnya.
Kau tahu pakar Bach terbaik di dunia?
Tentu dia tak tahu.
Albert Schweitzer.
Dia mempelajari Bach secara mendalam.
Sayangnya, dia meningggalkan karir cemerlangnya...
dan memilih menjadi dokter di rimba Afrika.
Itu membuktikan teoriku bahwa jenius itu dibatasi kegilaan.
Menurutmu dia gila?
Ya, dia membuang bakatnya dengan tidak menggunakannya.
Mungkin dia lebih berbakat menjadi dokter.
- Mengapa kau bermain seperti itu? - Seperti apa?
Seperti tanpa perasaan.
Karena tak ada yang tertarik dengan perasaanku.
Tidakkah kau menginterpretasi musiknya?
Interpretasi bisa salah, nada tak bisa salah.
- Itu sains. - Bach seorang komposer matematis.
- Bagaimana kalau itu bahasa Tuhan? - Yah...
Tak ada yang tahu kehendak Tuhan, bukan?
Teknikmu buruk.
Kau tak pandai menggunakan pedal.
Lupakan main di konservatori.
- Kesempatanmu kecil. - Bisakah kau mengajariku?
Aku akan belajar keras. Aku akan berusaha semampuku.
Ijinkan aku memberimu saran.
Menikahlah, punya anak.
Seperti istrimu?
Ya.
Kuharap kalian menikmati kopinya.
Wanita aneh.
Agak menarik.
Tunggu.
Tunggu. Aku bisa siapkan ujiannya.
Aku akan gila, bukan?
Tiga pelajaran seminggu, dua dollar per jam?
Yah?
Bagaimana menurutmu?
DIBUTUHKAN JURU KETIK
Waktu kalian sepuluh menit.
Kau, terlalu lambat, kuku terlalu panjang.
Banyak salah. Dan kau...
cepat, kuku pendek, tanpa salah.
- Kau bisa mulai kerja besok. - Benarkah? Terima kasih.
Hai, aku ke sini untuk melamar kerja.
Maaf, sudah tidak ada.
- Kau takkan diterima juga. - Mengapa tidak?
Kami kerja untup tip. Karena itu.
- Ditolak? - Kelima kalinya hari ini.
Kalau mau sukses di bisnis ini kau harus menonjol.
Aku akan dilanda masalah kalau tak bisa kerja.
Aku mau membantu tapi kami sedang tak merekrut.
Kecuali untuk pemain piano.
Kau bermain terlalu kaku. Geserlah.
Santai saja.
Mengapa mencari pemain piano kalau kau bisa bermain sendiri?
Karena aku memilih bermain bas.
Robin?
Punya rokok?
Apa dia mengganggumu? Banyak yang datang untuk menonton wanita itu.
Pria itu.
Kau bisa melihatnya seperti ini.
Kita semua terlahir telanjang.
Yang lain hanya samaran.
Kami panggilkan ke panggung, peniru wanita kita yang menakjubkan,
Nona Denise yang kondang.
Terima kasih.
Ada siapa di sini?
Peniru wanita bermain piano.
Kau mencoba membuatku tertarik? Atau...
apakah kau wanita sungguhan?
Susah ditebak, bukan?
Seseorang membahayakan lehernya untukmu.
Karena ini band para pria.
Katakan, siapa namamu?
Willy.
Karena kau tak punya "willy", orang tuamu menamaimu Willy.
Oke, mari kita lihat aksinya.
Kau bisa ikut jalan-jalan denganku akhir minggu ini.
Agak berlebihan dengan istriku sekarang.
Audisiku minggu depan, Pak.
Perkumpulan sosial yang menarik.
Akan ada beberapa musisi handal.
Mau pergi ke mana sepagi ini?
- Kerja. - Membawa koper?
Aku tak pulang malam ini. Menginap di tempat Marjorie.
- Siapa? - Kau tahu, teman kerja.
Kau terlihat cantik hari ini.
Terima kasih.
Halo, Mark. Kami baru saja ditelepon istrimu.
Dia sedang melahirkan.
- Oh, kalau begitu aku tak bisa tinggal. - Supir kami bisa mengantarmu pulang.
- Aku ikut denganmu. - Tidak, tinggallah.
Kau baru datang.
Kau belum dikenalkan.
Ini Willy Wolters, salah satu muridku.
Senang berjumpa denganmu, Nyonya ...
- Thomsen. Dan ini Tn. Thomsen. - Halo, Willy.
Pelayan bisa mengantarmu ke kamar. Kau bisa...
Menyegarkan diri.
Mau pergi ke mana?
Ke sana.
Tangganya di sini.
Apa yang kau lakukan di sini?
Sama denganmu, kukira.
Ini rumah orang tuaku. Aku besar di sini.
Dan aku tamu Tn. Goldsmith.
Dia tak bilang kau datang.
Aku tak bertanggung-jawab atas apa yang dia katakan.
Yang penting kau tak memaksa diri di hadapan para musisi di sin.
Itu hal terakhir yang akan kulakukan.
Kami semua tahu kemampuanmu.
Sekarang jelas kau seorang pria sejati...
atau berusaha jadi seperti itu?
Bisakah aku diantar ke stasiun?
No comments yet. Be the first to leave one.