ആദ്യത്തെ 168 വരികൾ.
Ini akhir periode kelas...
Kelulusan sebentar lagi.
Tapi masih ada waktu sebelum kelulusanmu, Nao.
Ini masalah besar.
Kau terlambat.
Senior lain menyatakan suka kepadaku lagi.
Aku tidak menginginkannya, tapi mereka tetap menyatakan suka kepadaku.
Bukankah itu egois?
Tapi orang yang ditolak bisa mengakhiri perasaannya,
bahkan bersikap menyedihkan.
Beberapa hari ini,
Yunyun juga menerima pernyataan suka. Melelahkan, bukan?
Aku hanya menyakiti perasaan mereka.
Sudah sepantasnya kau menanggungnya
karena menyakiti perasaan orang lain.
Ada apa, Cebol?
Kau iri pada ketenaran Yuki
karena tidak ada yang menyukaimu, Cebol?
Berhenti memanggilku "cebol"!
Aku pendek!
Bahkan kakakku lebih tinggi dariku!
Apa itu salah?
Apa orang pendek tidak punya hak?
Tunggu, aku tidak mengatakan apa pun.
Maksudmu pesona pria dinilai dari tinggi badannya?
Bukan begitu, Nao.
Bukan soal tinggi badan atau wajah.
Pesona pria sejati
adalah kekayaannya.
Benar sekali.
Aku orang normal yang tumbuh di keluarga normal.
Aku tidak bisa mengalahkan kekayaan Soma.
Tidak, itu uang keluarga Soma,
bukan uangku.
Aku mengerti!
Kau menyukai seseorang, bukan?
Gadis itu mungkin menyukai Yunyun,
jadi, kau cemburu!
Apa?
Benar juga. Kau pernah bilang bahwa Yunyun adalah sainganmu.
Kalau begitu...
Benar begitu, Nao?
Nao, benarkah?
Cukup! Di mana Kuragi?
Kau memang mencurigakan!
Kurasa Kuragi tidak akan segera datang.
Dia menata kapur yang dia buat berantakan.
Dia harus mengacau berapa kali sampai akhirnya berhenti?
Menyebalkan sekali.
Tunggu, sedang apa kalian di sini?
Kalian sekelas dengan Machi?
Ya!
Ketua Soma, biar kuberi tahu!
Kuragi baru saja menjatuhkan kapur baru.
Lagi-lagi.
Dia sangat menakutkan.
Kudengar dia diusir dari rumah
karena mencoba membunuh adiknya.
Gosip apa itu?
Aku tidak mendengarnya.
Itu hanya rumor yang beredar belakangan ini.
Kurasa itu sungguhan.
Tidak mungkin.
Aku akan selalu memercayai Machi.
Tidak, kata-katamu tidak bisa dipercaya.
Kuragi.
- Machi. - Dia kabur.
Lihat? Rumor itu benar.
Bagaimana bisa?
Sulit kupercaya aku begitu memercayainya.
Kau tidak memercayainya lagi?
Kepercayaan Kimi memang dangkal.
Sebenarnya, aku selalu mencurigainya.
Mari hidup terpisah untuk sementara.
Ini juga demi kebaikanmu.
Benar. Ini demi kebaikanmu.
Lagi pula, kau akan lebih bahagia sendirian.
Soal kejadian tadi...
Sebenarnya, rumor itu hampir benar.
Machi...
Dia memang saudari tiriku,
tapi dia juga punya adik laki-laki.
Perbedaan usia mereka jauh.
Kurasa sudah diputuskan
bahwa adiknya akan menjadi ahli waris keluarga.
Dia iri pada adiknya dan ingin membunuhnya.
Keluarganya mengetahuinya.
Mereka menjaga jarak karena takut dia akan berbahaya.
Jadi, dia pindah dan tinggal sendirian.
Ini memang sulit dipercaya.
Wajar.
Aku mendengarnya dari orang tuanya.
Siapa tahu mereka melebih-lebihkannya?
Kenapa kau tidak menanyai Machi?
Apa?
Mari langsung menanyai Machi.
Apa?
Bodoh. Bagaimana bisa?
Dia tinggal sendiri, bukan?
Tidak apa-apa.
Jika melihat rumahnya, kau tidak akan ingin melakukan apa pun.
Jangan salah paham!
Omong-omong,
kali terakhir salju menumpuk...
Jangan sembarangan mengalihkan topik.
Aku hanya terlintas soal itu.
Dahulu, kami mengadakan pertemuan keluarga.
[Aku melihatnya sambil mempertanyakan kegiatannya.]
Apa yang dia lakukan, ya?
Halo!
Maaf mengganggu.
- Tunggu. - Ayo, Yunyun.
Masuklah. Jangan malu-malu.
Hei, Kake... ru.
Rumahmu masih berantakan.
Pulanglah!
Aku jadi teringat.
Seperti hutan belantara.
Pulanglah!
Yunyun.
Ini.
Apa ini?
Memangnya itu salahku?
Ada benda lain yang seru di sini?
Aku akan membuang sampah.
Jangan nakal, Yunyun.
Tidak akan. Aku bukan kau.
Kau sengaja kemari untuk bersih-bersih?
Begini...
Tapi lihatlah.
Berbahaya membiarkan kaca di lantai.
Kau kemari untuk menanyakan ucapan teman sekelasku, bukan?
Berpikirlah sesukamu.
Kau bisa memilih untuk percaya atau tidak.
Tidak penting.
[sekalipun orang tuaku, mereka tidak memercayaiku.]
[Saat ini, aku tidak ingin menjelaskan apa pun.]
Machi,
kau tidak suka hal-hal yang rapi?
Seperti hamparan salju
atau ruangan yang bersih.
Kau benci kesempurnaan semacam itu?
Benar.
Karena aku takut.
Kau harus sempurna.
Kau harus selalu sempurna.
Kepribadian yang sempurna,
latar belakang akademis yang sempurna.
Jika tidak, kau tidak akan bisa mengalahkan putra wanita itu.
[Aku seperti disuruh berdiri di atas tali.]
Aku seolah diancam.
Aku tidak bisa bernapas sama sekali.
Namun,
aku berusaha keras memenuhi harapan mereka.
Tapi kini...
Kini ada adikku. Aku...
Akhirnya aku punya anak laki-laki, sesuai keinginanku!
Kini aku merasa sangat lega.
Sejujurnya, Machi agak... Benar, bukan?
Dia tidak punya kepribadian.
Dia hanya anak yang membosankan.
Belajar memang bukan segalanya, ya?
Kenapa?
Kenapa Ibu harus mengatakan itu?
Apa aku membosankan?
Tapi aku mematuhi perintah Ibu dengan patuh.
Aku bekerja keras demi Ibu.
Jangan bicara seolah itu salahku.
No comments yet. Be the first to leave one.