ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
MEMPERSEMBAHKAN
SEBUAH FILM KARYA HADRAH DAENG RATU
- Di sini saja, Pak. - Oh, ya.
- Bu? - Ya, Neng?
- Buat sarapan. - Terima kasih, ya, Neng.
Semoga berkah, rezekinya lancar selalu.
- Terima kasih, Neng. - Amin. Ya.
Maaf!
Maaf, Mbak. Kau tidak apa-apa?
Tidak apa-apa, Mbak.
Pagi, Pak.
- Pagi, Gadis. - Pak.
Bu Sheila habis pulang dari Mesir,
lalu waktu tur sempat kecopetan.
Nah, Pak Heru sudah punya cucu perempuan.
Kemarin anaknya habis lahiran. Aku sudah kirim stroller.
Lalu, Bu Fifi habis operasi hidung dan kelopak mata di Korea.
Ada lagi?
Kenapa?
Bapak minum kopi ya, Pak?
Pak, 'kan sudah disampaikan oleh Ibu,
Bapak sudah tidak boleh minum kopi lagi, nanti gerdnya kambuh.
Kalau di dalam pernikahan tidak ada rahasia,
tidak akan ada pernikahan yang langgeng.
Kau sudah menikah?
Nanti kau akan paham.
PENGEMBANGAN SDM
Ya?
- Pagi, Pak. - Pagi.
Silakan, Dis, duduk.
Ya, seperti yang kau tahu,
di kantor ini kalau sudah dua tahun,
tidak akan ada perpanjangan kontrak.
Kalau mau jadi pegawai tetap, ya harus S1.
Tapi kau belum S1, 'kan?
Tapi tenang saja.
Yang namanya peraturan,
selalu bisa disesuaikan.
Sesuai dengan kebutuhan.
Makanya kau baik-baik sama aku.
Mungkin saja aku bisa bantu kariermu di perusahaan ini.
Itu juga kayaknya sudah harus ganti sepatu.
Berarti ini solusi yang menguntungkan buat kita, 'kan?
Aku mau menghabiskan waktu bersamamu sekalian membelikanmu sepatu,
dan kalau kau perlu liburan, kita bisa pergi ke luar negeri…
Pak,
kalau untuk beli sepatu baru, insyaallah aku bisa sendiri.
Kalau tidak ada yang lain, aku mau permisi, Pak.
- Terima kasih banyak. - Sudah, ini juga untuk kebaikan kariermu.
Pak, jangan sentuh aku.
Dis?
Mau pulang bersama?
Tidak bisa, aku hari ini mau lembur lagi
karena ada tamu penting besok pagi.
- Dah. - Oke, dah.
Allahu Akbar.
Assalamualaikum warahmatullah.
Assalamualaikum warahmatullah.
Hai, Cantik.
- Tenang. - Lepaskan, Pak.
Aku cuma mau menemanimu saja.
Tenang.
Tidak usah sok suci begitu.
Anak koruptor biasa makan uang haram tak usah belagu.
Jadi, tidak apa-apa, dong, kalau aku kini ambil hakku sebagai rakyat?
Tolong!
Sudah kubilang, aku cuma mau menemanimu.
Gadis, kau tidak apa-apa?
Aku Andhika.
Dulu kita satu kampus.
Terima kasih.
Ya, sama-sama.
Kau ambil manajemen, 'kan?
Menebak atau ingat?
Ingat.
Ya, siapa coba yang tidak ingat?
Gadis, mahasiswi baru yang datang ke kampus sudah pakai Mercy.
Kau parkir di mana?
Aku pakai ojol.
Oh, ya lagi suka macet.
Andhika, ini ojolku sudah sampai.
- Aku duluan ya? - Oke.
Aku mau mengucapkan terima kasih banyak.
Ya, sama-sama.
Oke.
- Dah. - Dah.
- Hati-hati. - Hati-hati.
- Hati-hati juga. - Ya kau juga.
- Pagi, Pak. - Pagi.
- Aku periksa dulu Mbak, ya. - Ya.
- Oke. - Maaf.
Mohon maaf, Mbak. Kita cek badan dulu ya.
Oke.
Oke.
Terima kasih.
Oke, sudah aman.
Saya stempel tangannya ya, Mbak.
Sori.
- Ya. - Terima kasih Pak.
Ya, silakan.
Makanannya tidak enak ya, Pa?
Gadis.
Papa mau minta maaf kepadamu.
Karena selama ini sudah menyusahkanmu.
Pa.
Papa tidak pernah menyusahkan Gadis.
Papa tak usah khawatir, Papa tenang saja.
Gadis juga selama ini rezekinya lancar-lancar saja kok, Pa.
Alhamdulillah.
Alhamdulillah.
Nak,
namanya dunia,
ada saja godaannya.
Rezeki yang Gadis dapatkan dengan mudah
bisa jadi itu juga sebuah ujian.
Gadis jaga diri baik-baik ya.
Jangan sampai salah langkah seperti Papa.
Lalu, selalu ingat sama Allah.
Gadis.
Tertukar.
Maaf.
- Ya. - Terima kasih lagi.
Ya.
Ya sudah, kalau begitu, aku balik ke kantor ya?
Ternyata kita selama ini satu gedung.
Kalau dulu satu fakultas.
Ya.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Cie, cie.
Cie.
Sebentar lagi ada yang besanan sama tetangga kantor.
Alhamdulillah.
Alhamdulillah.
Kau sendirian saja?
- Bagus. - Kau?
- Enak. - Ya.
Hai.
Allahu Akbar.
Lo, kok belum naik?
Kau menungguku?
Oh ya, Gadis.
Nanti pas pulangnya boleh aku antar tidak, sampai rumah?
Tapi aku tinggal di rumah kos.
Di kos?
Di kos.
Memangnya orang tuamu di mana sekarang?
Ini kalian jadinya menonton Papa makan.
- Tak apa. - Lain kali bawa lebih dari satu.
- Biar bisa makan bersama. - Ya, lain kali aku bawa banyak.
Kalian tahu tidak?
Dalam hidup ini,
seseorang itu bisa hadir ke kehidupan kita
untuk dua kemungkinan.
Yang pertama, untuk memberikan pengalaman hidup.
Lalu, yang kedua…
Untuk jadi teman hidup.
Dis, bagaimana presentasi buat proyek berikut?
Nah, karena ada revisi desain,
aku harus cek stok dulu, Pak, ke vendor.
Tapi nanti biar aku kirim sampelnya
sesuai dengan spek yang Bapak minta untuk disetujui.
Git?
Bagaimana?
Ya, Pak, nanti aku tindak lanjuti dari Gadis.
- Aman. - Yang lain?
- Aman, Pak. - Ya, Pak.
Aman, 'kan, ya?
Pak.
Halo?
…meninggal dunia pada pukul 15.46.
- Pa? - Pak.
- Pa, ini Gadis. - Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.
Lalu, kami nyatakan Pak Rekso sudah meninggal dunia.
Papa?
Tolong, Dok.
- Kami sudah berusaha. - Coba lagi, Dok.
- Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. - Belum.
- Pa? - Kami turut berduka cita.
Ini Gadis, Pa.
Pa, jawab.
Pa?
Pa.
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah dia.
Yang ikhlas ya, Gadis.
Kau kuat.
Kau bisa.
Ada aku di sini yang tidak akan meninggalkanmu.
Kau jago banget, Mas, masaknya.
Tidak jago, biasa saja.
Yah, namanya juga anak rantau.
Ya, rantau tapi di Amerika.
Kok bisa tahu?
Yah, kau pikir aku tidak cari tahu dulu soal calon suamiku?
Jadi, ada yang jadi menguntitku?
Terus kau cari tahu apa lagi?
Terus kau dapat beasiswa, 'kan, di NYU?
Ya.
Terus apa lagi?
Terus ininya jangan banyak-banyak.
- Nah. - Sudah.
No comments yet. Be the first to leave one.