ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
BERDASARKAN KISAH NYATA
Kita lahir di dunia ini ada alasannya.
Diciptakan untuk tujuan yang lebih mulia.
Aku yakin.
Aku yakin ada tujuan yang lebih mulia...
bagiku berada di pojok saat ini.
Melihat pintu itu lagi.
Takutnya kau sedekat itu.
- Ya, aku makin dekat. - Terlalu dekat dengan dunia itu.
Jangan bunuh siapa pun. Jangan tembak wajahnya, oke?
Mana uangnya?
Tapi aku masih terlalu dini dan tak terburu-buru...
mencari tahu apa tujuannya.
Kenapa bisa menunggu, tapi bagaimana pun,
SETAHUN SEBELUMNYA
itu cerita yang cukup bagus.
Kau bilang ke mereka kau seorang arsitek.
Kau bisa sebagai dokter atau pengacara jika kau mau,
tapi kuingatkan anak itu, bisa melacaknya.
Kenapa kau tak jujur saja sama mereka?
Jika kau bilang kau seorang polisi,
kau akan melihat roda hamster mulai berputar.
Mereka sudah melalui hal berat yang mereka sudah lakukan.
Mau tahu bagaimana cara bisa melawan mereka.
Jadi kau bilang ke mereka kau seorang arsitek.
Itu pekerjaan di belakang meja. Relevan, aman,
tapi cukup ternama. Bukan menakut-nakuti mereka.
Dan arsitek menghasilkan uang, jadi itu membantu.
Bagimana kalau mereka tahu kau berbohong?
Tidak akan tahu.
Kuakui...
memang bagus, tapi maksudku, kayak kencan dalam suasana ketakutan.
Memang. Kau pria yang beruntung.
Menikah dengan wanita hebat.
Ya...
Ada masalah di rumah?
Ya.
Tak mau kubahas.
Itulah pekerjaan. Kau harus membagi perhatian.
Aku biasa membelikannya bunga.
Dan itu pun hanya pada acara-acara khusus, kan?
Tapi itu masih sedikit jika dihitung,
dan barulah saat aku mengacaukannya,
dan aku sering mengacau.
Jadi kau tahu,
bunga tak berarti apa-apa lagi,
jadi aku berhenti.
Sepertinya kau memang mau membicarakannya.
Bobby, kembalilah ke rumah istrimu,
bawakan dia bunga dan kembalikan uangnya.
Hei.
Bobby.
Tutup mulutmu.
Hei, jangan bicara begitu padanya.
Bagaimana kalau kau diam juga?
Aku membelikanmu bunga.
Mungkin kau harus meninggalkannya.
Harusnya aku ikuti sarannya. Tapi malah...
Bobby, hentikan!
Aku mau renovasi dapurku.
Hentikan!
Hentikan! Bobby, tolong, hentikan!
Tolong!
Ada saatnya sebelum kau terbangun,
di mana ada kemungkinan kau masih bermimpi.
Lalu tibalah saatnya kau menyadari kalau kau tidak bermimpi.
Aku sudah menikah 10 tahun...
dan sebagai polisi hampir 12 tahun lamanya.
Kok bisa tahu....
dia tak punya SIM?
Tidak, itu karena kau berpikir begitu.
Kau pikir begitu. Tahu, kau tak bisa berandai-andai.
Ya.
Hei, ada secangkir kopi di sana jika kau mau.
Nanti aku telpon lagi. Oke. Daah.
Kau takkan lama disini,
kau harus manfaatkan sebaik mungkin.
Oh ya? Bagaimana caranya?
Mulailah mengetik. Lihat bagaimana nantinya.
Katakan persis apa yang terjadi.
Satu kesalahan ketik saja dan mesin tik ini...
akan langsung keluar dari jendela.
Mungkin. Kamu akan suka.
Siapa tahu, kau Ernest Hemingway berikutnya.
Ya, aku akan minum kopi dan membuka jendela itu.
Awal yang bagus.
Mereka membolehkanku menyimpan lencanaku, tapi menyita pistolku.
Kurasa itu ide bagus kalau tidak, otakku...
akan penuh dengan mesin kopi ini sekarang.
Hei, ada waktu sebentar?
Kubawa orang itu ke rumah sakit. Dan mereka menugaskanku dalam kantor.
- Pat ke kantor Baker. - Aku Rick.
- Apa kabar, Pam? - Baik, Rick dan kau?
-Ya, baik. - Bisa kubantu?
Kapol ada?
Ada. Tunggu sebentar ya.
Oke. Terima kasih.
Waktumu sampai aku berhenti menunggu.
Berikan sesuatu selain laporan keberatan...
agar aku sibuk. Maksudku, aku mau gila di dalam kantor ini.
Aku paham yang kau alami bersama Mary.
Membuatku sedih. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
Kau beruntung mereka mengizinkanmu kerja di kantor ini.
Beruntung. Rick, kau harus lakukan sesuatu.
Pertama, itu kapten.
Bukan Rick.
Kedua, aku sudah lakukan sesuatu.
Dan tahu tidak?
Makanya kau berada...
di kantorku dan kau...
tak berada di baris pengangguran.
Dia meniduri istriku, Rick.
Dan apa yang kau lakukan?
- Kau membuatnya cacat? - Aku mematahkan hidungnya.
Oke? Jangan terlalu dramatis di sini.
- Kapten Callahan? - Ya, Pam.
Bisa tunggu sebentar lagi?
Oke sayang. Waktumu tinggal sedikit lagi.
Dengar, aku tahu. Hanya saja,
terkadang aku bersikap sedikit pemarah.
Pemarah? Kau membuat nuklir.
Kau pasti sudah melihatnya, Rick. Maksudku...
Harusnya kau pergi saja..
seperti yang kusarankan untuk tinggalkan tempat ini sekarang.
Aku tak punya waktu menjaga tanggung jawabmu.
Aku sangat tertekan dengan departemen ini.
- Kapten Callahan? - Ya.
Akan kusambungkan sekarang.
Oke, terima kasih. Sebentar.
Tutup pintunya, oke?
Hei, Kapten Callahan. Hai pak. Apa kabar?
MENANGKAN HADIAH DAN BONUS MENARIK LAINNYA.
MAINKAN SEKARANG JUGA
Sudah kubilang, ini barang kelas-A.
Pria hebat, barang kelas-A.
Tahu tidak? Beli atau pergi.
Dalam situasi begini,
aku diminta untuk turun tangan dan mengawal.
Tapi aku terlalu mabuk untuk peduli.
Kuhajar kau...
Chris Rosenberg.
Dia mungkin terlihat seperti pengedar narkoba kelas teri,
karena memang begitulah dia.
Dia juga cukup ahli dalam hal itu.
Begitu jagonya, malah, sampai-sampai suatu hari ada orang yang menyadarinya.
Roy DeMeo.
Jika iblis memutuskan hidup di Bumi,
dia akan sebagai Roy DeMeo dan tidak ada yang akan tahu.
Roy sangat menyayangi kakaknya, Anthony.
Maksudku, dia sangat mengidolakannya.
Tapi hidup Roy berubah drastis saat musim semi tahun 1951...
saat Anthony balik dari Korea dengan membawa sekantong mayat.
Saat dia dikeluarkan dari SMA,
Roy menjadi rentenir dan menjalankannya dengan baik.
Bisnisnya berjalan lancar, karena semua orang...
tahu untuk tidak cari masalah dengan Roy.
Di akhir tahun 60-an,
Roy ikut bersama keluarga Gambino.
Anthony Gaggi.
Orang-orang memanggilnya Nino.
Dia seorang capo di keluarga Gambino.
Roy merambah semuanya mulai dari rentenir...
pencurian kendaraan bermotor, hingga pengedar narkoba.
Keluarga Gambinos tak menyukainya terakhir kali,
tapi Roy menjadi salah satu pemain terbaik mereka.
Jadi mereka menyimpannya sebagai rahasia kecil.
Roy membawa Chris sebagai kaki tangannya.
Dia berpotensi.
Chris menjadi tangan kanan Roy.
Tapi malam itu, aku tak tahu semua itu.
Yang kutahu hanyalah seorang bajingan akan dibunuh...
oleh bajingan lainnya.
Dan saat itu, ada sesuatu dalam diriku...
Kukeluarkan semua perlakuan tak adil yang kuhadapi dalam hidupku sampai saat itu.
Tepat ke wajah bajingan malang ini.
Sialan, aku tak bermaksud...
Terima kasih. Kau punya mobil?
Jadi, kerjaanmu apa, Bobby?
Arsitek.
Arsitek? Kau membangun rumah?
Ya.
Ya, aku tak percaya.
Kau tak cocok jadi arsitek.
Aku memang arsitek jelek.
- Terima kasih tumpangannya. - Oh ya.
Terima kasih atas bantuannya tadi.
Sama-sama.
Aku juga hargai jika kau tak bantu.
Aku tahu.
Kau tahu...
Chris.
...untuk ukuran seorang bajingan...
- Sampai ketemu lagi. - Ya.
...orang ini baik-baik saja.
Janji atas nama ibu.
Itu Cadillac. Emas.
Kami baru saja membelinya.
Saat kau bilang emas, maksudmu kuning?
Apa bedanya? Kulihat pria itu,
tingginya sekitar 1.76, 1.78m
No comments yet. Be the first to leave one.