ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Ini adalah kisah tentang pria bernama Damien.
Damien punya segalanya.
Harta, wanita, takhta.
Itu berkat kelakuannya yang bajingan.
Syukurlah, akhirnya bangun.
Aku bisa berpamitan.
Tadi malam luar biasa.
Setuju.
Aku pesankan sarapan.
Karena tak tahu seleramu, kupesan semuanya.
Gaunmu masih dicuci kering.
Jika kau mau pulang dengan pakaian sederhana,
kubelikan pakaian baru.
Setruknya ada di dalam.
Wah.
Apa pun kuberikan untuk wanita
yang mengambil keperjakaanku.
KEMINTAR
Seperti kita tahu, di dunia ini,
sering kali justru orang paling bejat yang punya segalanya.
Ternyata semewah ini hidup CEO Guinness.
Satu pulau ini miliknya?
Area yang indah saja.
Louis kawan lamaku dari Oxford. Beginilah caranya berbisnis.
Dikelilingi oleh keindahan. Paham maksudku?
Tapi tenang.
Damien akan segera menerima pembalasan setimpal.
Dewan direksi menekankan padaku
soal "perwakilan perempuan".
Saat mereka tahu bahwa Atlas tidak punya
satu pun direktur kreatif perempuan…
Apa pentingnya itu?
Gara-gara itu, aku diminta untuk mencari mitra lain.
Apa?
- Maaf, Fred. - Ayolah.
Kau mengundang kami jauh-jauh ke sini hanya untuk memecat kami?
Ya, karena urusan begini butuh tatap muka.
Maaf, ini di luar kendaliku.
- Louis, aku… - Aku tak tahu cara membujuk mereka.
Aku tahu.
Kalian ketinggalan berita.
Pekan lalu, kami baru saja mengangkat direktur kreatif wanita yang hebat.
Bukan pencitraan,
melainkan karena dialah yang paling kompeten.
Feminisme bukan soal memenuhi kuota bagi Atlas.
Katakan itu pada direksimu.
Jadi, siapa wanita yang baru ditunjuk pekan lalu itu?
Maaf. Kubilang pekan lalu?
Maksudku sore ini.
Perbedaan waktu selalu membuatku bingung.
Cerdik juga kau.
Dengar.
Antara kita saja. Aku berencana pensiun tahun depan,
tapi namamu sudah kuajukan ke direksi.
Jadi, sejauh pengetahuanku,
kaulah CEO Agensi Atlas selanjutnya.
Kau siap?
Pertanyaan konyol.
Halo, Agensi Atlas. Kantor Damien Sachs.
Ruby, ada proyek prioritas tinggi untukmu.
Aku sudah menanyai HR.
Kau tak berhak memintaku putus dengan salah satu pacarmu.
Tak mungkin kuminta itu. Terakhir kali hasilnya kacau.
Aku butuh daftar staf kreatif wanita
untuk dipromosikan.
Baik. Jadi, aku perlu memilah karyawan
yang akan dipromosikan berdasarkan gender dan/atau ras mereka?
Tidak. Gender saja.
Itu jangan dicatat.
KELAKUAN DAMIEN JAGA-JAGA AKU DIPECAT
Ada siapa saja?
- Ada Alexandra Fox. - Bagus.
Atur pertemuan. Aku akan mengangkatnya langsung.
Kau mengenalnya?
Aku tadi hanya urut abjad.
Ruby, tentu aku tahu.
Oh, pindahkan penerbanganku ke besok.
Aku baru menemukan tiga kandidat yang sangat kuat
untuk beberapa posisi lain.
Mudah tertebak arahnya ke mana.
Terima kasih.
- Alex. - Ya.
Staf kreatif junior
mau ke pub saat jam gembira nanti, jadi…
Terima kasih.
Tapi aku sudah terlalu tua untuk ikut minum-minum.
Aku tidak mengajakmu, tapi…
Jika kami pulang cepat, bisa unggah gambar untuk kampanye Morris?
Ya, bisa. Akan kuunggah.
Terima kasih.
Alex.
Ruby, kau menawan.
Damien ingin bertemu denganmu
pukul 09.00 besok.
Ada masalah?
Tidak, justru sebaliknya.
Promosi?
Dia suka presentasi kampanye Guinness-ku, ya?
Memang bukan proyekku dan bukannya melangkahi,
tapi sudah kuduga dia akan cocok.
Ya, itu sebabnya.
Wah.
Ya Tuhan, maaf. Aku memang baru 20 tahun di sini.
Aku juga tidak menyesal cuti demi anakku,
tapi rasanya berat setelah kembali dan melihat banyak anak muda
yang penuh semangat. Jadi, aku bangga pada diriku.
Aku jadi antusias. Aku juga…
Bisa-bisanya aku menangis di kantor.
Ya, sebaiknya jangan menangis
di depan yang lain.
- Tidak akan. - Ya.
Mau acar?
Ya.
Hai, Bu.
Apa? Tentu saja aku belum lupa.
Selamat ulang tahun. Ya, aku sudah di mobil.
Ya, aku pulang demi Ibu.
Ya, aku sudah menyiapkan hadiah.
SAMA-SAMA! RUBY
Ruby, ingatkan aku apa isi kado untuk ibuku.
Dasar anak durhaka.
- Kena. - Tidak!
- Kena! - Mati kau!
- Kau yang mati. - Kau meleset!
Paman Damien!
Hai, Anak-Anak.
Mati kau.
Lihat tarianku.
Lihat tarianku.
Aku tidak mengenainya!
Kau menyenggolku!
- Tidak. - Chris!
Anak-anakmu butuh bantuan.
Sunny!
Sebentar.
- Kau apakan dia? - Sunny.
- Kau terlihat menawan. - Hati-hati.
Menggombal ke para wanita incaranmu saja.
Hei, Ayah.
Kau habis berjemur, ya?
Dia terlihat habis berjemur, ya, Chris?
Tidak. Dia masih seperti dulu.
- Di mana Ibu? - Menurutmu?
- Oke. - Ayah minta tolong.
Suruh dia membawakan bir lagi.
- Buatku juga. - Hai, Ibu.
Sayang. Kau jadi datang.
- Tentu saja. Selamat ulang tahun. - Terima kasih.
Terlihat istimewa. Terima kasih.
Kau terlihat sedih.
Tidak. Justru sedang kegirangan.
Benarkah?
Ada kabar baik, Bu.
- Putra Ibu… - Ya?
…akan menjadi CEO berikutnya di Agensi Atlas.
Tapi kau masih belum punya gandengan.
Aku punya banyak gandengan.
Akhir pekan lalu saja, gandenganku enam orang.
Dasar nakal.
Dua hari enam orang?
- Ya. - Tolong disajikan, ya.
- Biar kubantu. - Jangan. Kau pasti kelelahan.
- Memang. - Christopher.
Sunny, ibumu butuh bantuan di dapur!
"Guinness. Cinta perlu waktu, tapi itu sepadan."
Presentasi Ibu bagus juga.
Terima kasih, Sayang. Ibu harus terharu atau tersinggung?
Dirayakan dengan membelikanku iPhone?
iPhone? Ponsel baru itu urusan ayahmu.
Ya, tapi sekarang Ayah menghamburkan uangnya untuk Tina.
Tina? Rebecca ke mana?
Sudah berumur 30 tahun.
Wah, kasihan. Yah, namanya juga hidup.
Ibu akan dapat ruangan?
Ruangan? Tidak.
Ibu belum pantas. Ibu masih suka meja yang sekarang.
Ada enaknya duduk di tengah-tengah.
- Ibu selalu begitu. - Apa?
Selalu merasa tidak pantas.
Tidak begitu.
Ibu begitu. Ibu harus lebih menghargai diri sendiri.
Ibu menghargai diri sendiri.
Terserah.
Pokoknya, aku ikut senang.
Terima kasih.
Ibu tidak sabar.
Nanti saya kirim penawaran harganya. Sampai jumpa.
Hai.
Halo.
Silakan duluan.
Tidak. Wanita duluan.
Jadi, kau suka presentasiku?
- Ya. - Syukurlah.
Aku sudah berusaha keras.
Aku tahu.
Tak sabar dibawahi olehmu langsung.
Baiklah.
Aku siap melakukan apa pun kemauanmu.
Benarkah?
Atau jika mau,
No comments yet. Be the first to leave one.