ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Aku mau tanya sesuatu padamu. Apa kau senang dengan warna kulitmu?
Aku cinta warna kulitku. Cokelat kemerahan.
- Ya. Cokelat kemerahan. - Ya. Kau senang dengan warnamu?
- Tidak. - Tidak?
Warna apa ini?
Kau seperti bubur. Krim gandum. Farina. Semacam itu.
Begitu warna orang kulit putih. Hanya beragam jenis sereal panas.
- Benar. - Orang kulit hitam...
Warna kulit kalian tergantung jumlah susu yang dimasukkan ke dalam kopi.
Benar. Aku seperti Yoo-hoo. Aku mengocoknya. Itu mengocokku.
- Yoo-hoo warna yang bagus. - Ya, benar.
Ya, Yoo-hoo warna yang bagus.
- Apa? - Ini dia.
- Antara... - Apa ini?
Hei, Larry!
- Randi! - Benar.
- Aku teman Susie. - Aku tahu. Ya.
Selamat Tahun Baru!
Agak terlambat untuk ucapan "Selamat Tahun Baru".
Kenapa? Itu baru beberapa pekan lalu, 'kan?
Ya, itu terlalu lama. Batasnya sudah lewat untuk Tahun Baru.
- Tiga hari, maksimal. - Tiga hari?
Omong-omong, tak semuanya harus senang.
Kenapa semuanya harus senang?
- Hariku cukup baik. - Ya, lihatlah dirimu.
- Perutmu besar. - Ya, kandunganku sekitar 8 bulan.
Jika kau butuh saran nama, minta saja padaku.
- Apa saranmu? - Mungkin nama yang berciri Swedia?
Suamiku orang Amerika keturunan Afrika, jadi aku ragu itu cocok.
Kau suka mengatakan itu, ya?
Apa aku suka mengatakan dia orang Amerika keturunan Afrika?
- Kurasa kau mau aku tahu. - Apa itu mengubah opinimu tentangku?
Dalam beberapa hal, ya. Dalam beberapa hal, tidak.
- Baiklah. - Nikmati olahragamu.
Apa yang kau lakukan?
Apa?
Kenapa kau jogging?
Aku berolahraga.
- Olahraga? - Ya.
Kau mendesak janinmu. Kau tak boleh lari dalam kondisimu.
Ya, aku boleh. Aku disarankan oleh bidanku untuk terus berolahraga.
Mungkin kau mau berkonsultasi dengan pandai besimu, minta pendapatnya.
Aku tak mau berdebat denganmu, tapi janinku, masalahku. Paham?
Aku kasihan pada janin itu.
Astaga. Aku tak bisa melihat ini.
- Selamat Tahun Baru! - Ya, Selamat Tahun Baru.
Hei, sudahlah.
- Aku harus tetap kering. - Kau terlalu banyak mengoles bedak.
- Selamat Tahun Baru. - Ya, ya.
- Aku bahkan tak bisa bernapas. - Benar.
Dia menaruh bedak di ketiaknya, di alat kelaminnya. Itu menjijikkan.
- Siapa yang masih memakai itu? - Aku memakainya sepanjang waktu.
- Itu tak mungkin baik bagimu. - Jika kau alergi terhadap bedak.
Bibi Rey-ku memakai bedak tabur dan langsung mengalami syok anafilaksis.
- Sungguh? - Ya, dia gemetaran, dibawa ke IGD.
- Mereka harus memompa perutnya. - Itu luar biasa.
Ya, kawan.
- Lihat pria bertopi MAGA itu. - Apa?
Kau tak melihat banyak yang seperti itu di LA, ya?
Tidak. Tahu apa yang kuperhatikan?
Tak ada yang pernah pakai topi itu terbalik.
Jika kau akan dihajar, kau mau bersiap untuk itu.
- Aku suka itu. - Ya?
Mocha Joe's? Mocha Joe? Aku kenal orang bernama Mocha Joe.
- Kau mau kopi? - Tentu saja.
- Maka mari masuk. - Aku bisa beli latte.
Terima kasih. Aku menghargainya. Semoga harimu menyenangkan.
- Pria dari masa lalu! - Ya ampun!
- Larry David! - Mocha Joe!
Lama tak bertemu. Apa yang kau lakukan di sini?
- Siapa namamu? - Leon.
- Leon, senang bertemu denganmu. - Ini luar biasa!
- Kau percaya ini? Mau pesan apa? - Aku mau... Kau punya scone?
- Ya, di sana. Cantik sekali. - Bagus. Aku pesan scone dan kopi.
- Kopi dan scone. Kau, Leon? - Latte.
Baiklah. Satu scone, satu kopi, satu latte. Itu 11,5 dolar.
- Ini dia. Simpan kembaliannya. - Terima kasih atas tipnya.
Satu latte dan satu kopi. Terima kasih.
Ini agak lembut.
Apa? Scone itu?
Ya. Scone seharusnya keras. Ini seperti muffin.
Tidak juga. Itu seharusnya segar.
- Ya, keras dan segar. - Itu scone segar.
Aku ragu kau tahu apa itu scone, Mocha Joe.
- Aku tahu apa itu scone. - Benarkah?
Kau mungkin punya definisi scone yang lebih longgar daripada aku.
Namun kurasa itu tak terbuka untuk penafsiran.
Kau mau scone-nya atau tidak?
Ya, akan kumakan scone/muffin ini.
- Jadi, kau akan makan scone-nya? - Ya. Muffin.
- Nikmati scone-nya, Larry. - Kau punya Danish?
Tidak.
Kau mengacaukannya.
Berikutnya.
Astaga.
Lihat meja ini. Kau percaya ini?
- Hei, Mocha Joe. - Ya?
- Lihat meja ini. - Ya?
- Meja ini goyah. - Berhentilah menggoyangkannya.
Berhenti menggoyangkannya?
Setiap kali aku bersandar di sini, meja ini bergerak.
- Taruh kakimu di kaki meja. - Aku duduk dengan kakiku di meja?
Ya, begitu caramu menahannya. Lantainya goyah.
- Mocha Joe, boleh kuberi saran? - Ya.
Tak ada yang suka meja goyah. Cara tercepat kehilangan pelanggan...
Adalah meja goyah.
Aku punya paman dengan kaki goyah.
Aku tak tahan padanya. Dia selalu bersandar.
Cicipi kopimu.
- Dingin. - Ini dingin.
- Hei, kawan. - Mocha Joe.
Apa?
- Kopi ini dingin. - Tunggu. Kopi itu tidak dingin.
- Apa kopimu dingin? - Kopimu panas, 'kan?
Dengar, kami tak mau jadi pembenci, tapi kopi ini dingin.
- Boleh aku dapat kopi baru? - Tidak.
- Kau tak akan memberiku kopi baru? - Tidak. Karena kopi itu panas.
- Itu panas saat kuberikan padamu. - Kopi itu panas?
Kopi itu panas. Itu panas saat kuberikan padamu.
Maukah kau memasukkan hidungmu ke kopi panas?
- Kenapa kau mau melakukannya? - Karena aku mau membuktikan...
Bahwa kopi ini dingin! Lihat ini!
- Kopi ini dingin. - Itu tak membuktikan apa pun...
Kecuali bahwa kau pria tua botak gila!
- Kau bilang apa padaku? - Kau mendengarku.
- Keluarlah, pria botak tua! - Dengan senang hati!
Kau pikir aku mau duduk di sini dengan meja goyah...
Dan meminum kopi hitam dingin?
- Tidak, terima kasih! - Bagus. Keluar!
Larry mungkin 1 atau 2 dari hal itu, tapi tidak ketiganya sekaligus.
- Selamat Tahun Baru, Larry! - Selamat Tahun Baru, Mocha Joe!
Pagi, Larry. Apa kabar?
- Anjingmu? - Bogey!
Dia makan dari mangkukku.
Aku baru ambil dari dapur. Kukira itu mangkuk kantor.
Itu mangkuk kantor untuk manusia, bukan untuk anjing.
Aku mencucinya seusai bekerja dengan sabun, lalu kukeringkan...
Itu tak cukup. Itu harus disterilkan.
Aku tak bisa berbagi mangkuk dengan anjing.
Ada surat untukmu.
- Lalu ada hal lain. - Tunggu.
- Lihat ini. Apa itu baru? - Relatif baru.
Apa itu? Kenapa satu mata tertutup? Apa arti itu semua?
Itu personal. Aku tak membaginya dengan semua orang.
Itu sangat personal. Seluruh dunia bisa melihatnya, tapi itu personal.
- Itu ada di tubuhku. - Baiklah. Biar kutanya sesuatu.
Jika aku masuk dengan tanduk di kepalaku...
Kau bilang, "Kenapa ada tanduk?"...
Aku akan bilang, "Aku tak bisa memberitahumu, itu personal."
Kubuat tato ini karena satu peristiwa spesial dalam hidupku.
Tato ini pengingat akan momen itu bagiku. Itu hanya untukku.
Sungguh? Lalu kenapa kau tak membuatnya di bokongmu?
Ada sesuatu dari manajer bisnis yang perlu kau tanda tangani.
Baiklah.
- Baiklah. - Ini hanya...
Ada inisial, tanggal, dan kurasa tiga tanda tangan.
Boleh?
Apa yang kau lakukan? Itu bajuku.
Aku membersihkan kacamataku.
Kau tak boleh membersihkan kacamatamu...
Dengan baju yang sedang kupakai.
Itu tidak pantas. Itu melewati batas.
- Tidak baik? - Tidak baik.
Baiklah.
Aku tahu Susie lebih suka rumah ini daripada rumahnya yang terakhir.
- Rumahnya yang terakhir payah. - Itu terlalu besar.
Lalu dia memanggilku tua dan botak.
- Apa? - Sumpah!
Kuberi tahu sesuatu. Aku suka kopi. Aku suka kopinya.
Tapi kau salah satu... Kau teman tertuaku.
- Aku akan memboikot tempat itu. - Kau akan memboikot Mocha Joe's?
- Aku akan memboikot. - Bagus.
Aku memboikot Mocha Joe.
Dia tak boleh melakukan itu pada temanku.
- Lihat pria ini! - Kita di rumah sakit yang sama.
- Dia tak bisa menghina temanku. - Baiklah.
- Aku akan ambil kopi. - Baiklah. Nikmati kopimu.
- Dia memboikot. - Dia memboikot. Itu tindakan besar.
- Itu tindakan besar, boikot. - Astaga, siapa yang mengundangmu?
- Dasar babi! - Nancy, itu bukan Harvey Weinstein.
Maafkan aku, Jeff. Saudariku dari luar kota.
- Maafkan aku. - Aku tuan rumah pesta ini.
- Astaga. Maafkan aku. - Ya, aku bukan Harvey Weinstein.
- Maafkan aku, terima kasih. - Baiklah.
- Dia mirip Harvey Weinstein. - Mirip.
- Apa itu? - Baiklah. Sepanjang waktu.
Wanita, pria, siapa pun. Mendadak, aku jadi pria ini.
- Tak bisa dipercaya. - Tak bisa dipercaya.
Aku kelaparan.
- Babi dalam selimut. - Apa yang lebih baik?
Aku mengikutinya sepanjang malam, tapi dia selalu kehabisan.
Memang cepat habis.
Semewah apa pun makanan lain dan orang menyukainya...
- Ya. - Babi dalam selimut.
Larry, aku sangat tak senang dengan perilakumu.
Hadirin sekalian, presiden ke-16 Amerika Serikat...
- Ya. Baiklah. - Abraham Lincoln! Mari tepuk tangan!
- Seolah kau memahami fesyen. - Suatu kehormatan...
Berdiri di dekat Anda, Tn. Presiden.
Topi ini serupa dengan yang dipakai oleh Kate Middleton. Paham?
No comments yet. Be the first to leave one.