One of Those Days When Hemme Dies

One of Those Days When Hemme Dies (Hemme’nin Öldüğü Günlerden Biri)

Indonesian സബ്ടൈറ്റിൽ ഡൗൺലോഡ് ചെയ്യുക

റിലീസ് വിവരങ്ങൾ

One Of Those Days When Hemme Dies 2024 WEBRip id
കമന്ററി എഴുതിയത് Kudalumping
Durasi: 01:21:40

ടാഗുകൾ

webdl
പ്രസിദ്ധീകരിച്ചത്: 2025-05-28
ഡൗൺലോഡുകൾ: 35
ശ്രവണ വൈകല്യമുള്ളവർക്ക്: No

Indonesian സബ്ടൈറ്റിൽ പ്രിവ്യൂ

ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.

Hemme. Kau tampak lelah selama berhari-hari. Semuanya baik-baik saja?

Aku tidak bisa tidur. Nyamuk-nyamuk membuatku gila.

Jadi begitu.

Ali.

- Awasi para pekerja. - Oke.

Hey, Ali!

- Kenapa kau ada di sini? - Ada sedikit masalah.

- Tenang saja. - Hei, Izmir, kawan.

Kulitmu bisa terbakar matahari.

Kau tekun sekali, bung.

Hemme. Ada kabar tentang gajiku?

- Kami akan memeriksanya. - Kau mengatakannya minggu lalu!

- Kita lihat saja nanti. Kita lihat saja nanti. - Hemme!

Jalan.

Jalan.

Hey!

Hey!

Berhenti!

Setelah selesai di sini, lanjut ke penggaraman.

Tapi aku bicara dengan Fevzi.

- Aku tidak peduli. Kau akan menggaraminya. - Mana staf yang kau janjikan?

- Kalau sudah selesai, lanjut ke penggaraman. - Pekerjaan apa ini?

- Tidak ada yang bisa dilakukan. - Apa maksudmu?

- Selanjutnya kita ke penggaraman. - Bagaimana caranya, di cuaca panas begini?

- Aku juga di bawah matahari. - Eyüp, tenanglah!

- Fevzi, bukankah kau menjanjikan banyak staf? - Tenang saja, oke?

Ayolah, kawan. Mereka lelah.

Teruskan, teruskan!

Teruskan!

Suruh dia bekerja.

Dengar Ali, kau orang yang terpelajar. Kau seorang yang terpelajar.

Kau juga bekerja di bawah matahari.

Temanmu... dia sombong.

Dia harus mengerjakan pekerjaannya, jika tidak...

Sebaiknya dia pergi saja, kawan.

Hemme, dia miskin.

Sebulan lagi ya. Sabarlah dengannya.

Jika kau sudah bicara dengannya... Baiklah.

- Bagaimana kabar Miraç? Dia baik-baik saja? - Dia baik-baik saja. Anak itu sudah tumbuh.

Masya Allah.

- Izmir! - Ali.

Pergilah ke tempat yang teduh.

- Jadi, sudah selesai? - Ya.

Mehmet, kenapa kau tidak ke sini, menjauh dari bawah terik matahari?

- Topimu ada di belakangmu. - Oke.

Kau bicara dengan Hemme tentang upah kita?

Eyüp... kau tidak kenal Hemme?

Aku bisa memintanya, tapi dia tidak bisa membayar. Dia juga hanya karyawan.

Ali, kau tahu situasiku.

Aku tahu.

Eyüp...

Dia sangat pemarah hari ini, dia kurang tidur.

Itu sungguh fantastis. Demi Allah...

Pekerjaan macam apa ini?

Kita belum dibayar selama 15 hari.

- Kapan truk berikutnya tiba? - Jam setengah tiga, kata mereka.

- Ramazan bersama kita atau tidak? - Dia bersama kita.

- Dan yang berikutnya? - Jam empat, kurasa.

Bagaimana kita akan membongkar yang berikutnya?

Lelaki itu bilang cukup banyak orang, dan sekarang aku...

Demi Allah, dalam cuaca panas ini

apa pekerjaan ini sepadan dengan bayarannya?

Gaji yang tidak kita dapatkan!

Kita bergantung pada Hemme.

- Tenang saja, kawan-kawan! - Terima kasih, kawan.

- Tenang saja, kawan-kawan! - Terima kasih, kawan.

- Apa yang kau lihat? Dasar badut! - Apa?

- Urus saja urusanmu sendiri! Bajingan! - Melihat apa?

Siapa yang kau panggil bajingan?

- Tenang! - Urus saja urusanmu sendiri!

- Berani sekali kau bilang begitu! - Biarkan dia datang padaku!

- Biarkan dia datang, biarkan dia datang! - Eyüp, tenanglah, Bung!

- Biarkan dia datang, biarkan dia datang! - Minggir!

- Tenanglah! - Minggir!

Lepaskan dia! Biarkan dia datang! Biarkan dia datang!

Hemme, jatuhkan saja, kawan!

Biarkan dia menyerangku!

- Apa yang terjadi? - Itu terjadi dari waktu ke waktu.

- Taruh motornya di tempat yang teduh. - Aku terburu-buru mau ke suatu tempat.

Ayo, jangan keras hati.

- Selamat menikmati makananmu. - Terima kasih.

- Ini dia. - Terima kasih.

- Silakan makan. - Terima kasih, aku baru makan.

Ada apa?

Itu terjadi dari waktu ke waktu. Kurasa..

perlu pemantik percikan yang baru.

- Model apa itu? - '86.

Masya allah umurnya sama denganmu.

Kadang-kadang itu terjadi saat cuaca panas.

- Aku akan ambilkan secangkir teh. - Tidak perlu.

Aku sedang terburu-buru, nikmatilah makananmu.

- Halo. - Halo.

- Halo. - Assalamualaikum. Aku menelepon beberapa kali.

Waalaikumsalam, Nevzat. Aku tidak mendengarnya.

- Kudengar Hemme menghina ibumu. - Tidak, Bung. Kami hanya bertengkar.

Kudengar dia menamparmu dan menghina ibumu.

Memanggilmu bajingan. Tak tahu malu dia!

Baiklah, aku akan bicara lagi dengannya. Aku bisa menjemputmu.

Aku akan membawa motor itu ke Osman si tukang reparasi.

Mampirlah, aku menunggumu.

Baik, kawan. Aku akan meneleponmu.

- Halo. - Halo.

- Kau di rumah, Şükran? - Benar, Eyüp.

- Aku di Siverek. Aku akan mampir dan ganti pakaian. - Oke.

Tuang sedikit di situ. Berhentilah berputar-putar di sekitarku.

Awasi anak itu!

- Makanlah dulu sebelum pergi. - Aku sudah makan.

- Jangan lupa obat ibumu. - Oke.

Mereka membangunkan anak itu!

- Assalamualaikum, Osman. - Waalaikumsalam, Ayyub.

- Rusak lagi? - Ya, Bung. Rusak lagi.

- Punya cadangan? - Ya.

- Bisa kau membawanya malam ini? - Tentu saja.

Oke, ayo ambil itu.

- Oke, aku akan segera ke sana. - Oke.

- Apa kabar, Çetin? - Baik, terima kasih. Kau?

- Baik. - Bagaimana semuanya?

- Baik. Ada yang perlu kukatakan? - Kenapa terburu-buru?

- Aku terlambat ke kantor. Aku sungguh terlambat. - Tenangkan dirimu sebentar.

- Aku mau ditemani. - Aku sungguh terlambat.

Dua menit tidak masalah. Beristirahatlah sebentar.

Cuacanya sangat panas.

Kemarin, aku bermimpi sepanjang malam

tentang mendiang Mahmut.

Dia menanam anggur dan tanaman merambat indah.

Dia membawa anggur itu dan kami duduk.

Kami melahap buah anggur itu sampai pagi.

Aku bangun dan mengambil beberapa buah anggur. Tapi, buah anggur tua itu sudah tidak ada lagi.

Saat dia meninggal, anak-anaknya tidak mengurus kebun anggur itu.

Kebun anggur itu sudah tidak terawat. Kesenangan lama itu sudah tidak ada lagi.

Sekarang kita selalu merindukan masa lalu.

Ayo, kita duduk dan mencicipi anggur ini.

Apa yang dilakukan saudaramu?

Dia baik-baik saja. Dia masih di Izmir.

Sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu.

Saat kau di sini, kau masih anak-anak. Tapi dia sudah lebih tua. Dia teman kami.

Dia pergi ke Izmir dan kami tinggal di sini.

Dulu aku jatuh cinta pada laut.

Tapi ayahku bilang aku tidak bisa pergi ke sana.

Aku anak tertua, jadi dia menyuruhku tinggal di sini.

Semoga jiwanya beristirahat dengan tenang.

Aku tinggal di sisi ayahku, dan saat dia meninggal,

aku pensiun kemudian berkesempatan pergi tapi tidak pernah datang.

Setelah itu, aku mengambil alih kebun anggur ini.

Aku sangat mengagumi laut, aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

Laut, mawar, semua bunga. Aku tak bisa hidup tanpanya.

Bayangkan jika tempat ini adalah lautan yang sangat luas.

Biru tua...

Akan ada cahaya bulan di malam hari. Di samping bunga mawar...

Lihatlah keanggunan mawar ini.

Aku menamainya mahkota pengantin. Menantuku yang memberikannya.

Ini merupakan tantangan dalam iklim seperti ini.

Aku menaruhnya di dalam ruangan pada musim dingin, dan di luar ruangan pada musim panas.

Aku terpesona oleh bunga mawar.

Bagiku, laut dan bunga mawar tak tergantikan.

Terkadang, aku memberikan hasil panenku pada kawan-kawanku.

Mereka bilang mereka tidak bisa menanamnya. Di sini kami punya air, udara bersih, semuanya.

Tapi, mawar mendambakan cinta. Tanpa cinta, mawar tidak akan tumbuh subur.

Aku menghabiskan sisa waktuku di taman.

Aku menanam semangka, timun, paprika, anggur.

Putriku mengirimkan radio. Kadang-kadang aku mendengarkannya.

Aku suka lagu-lagu yang indah.

Aku menghabiskan waktu seperti itu.

Anak-anakku...

- Ini putriku. - Çetin, aku pergi.

Tunggu sebentar. Halo.

Halo, apa kabar, sayang?

Apa yang kau lakukan? Ayo kita video call. Video call sayang.

Ayo kutunjukkan ladangnya. Tahun ini sayurannya bagus.

Ya, apelnya...

Buahnya tidak tumbuh dengan baik, kecuali melon ular.

Ayo, aku merindukan kalian.

Datanglah berkunjung jika kau berkesempatan.

Mehmet!

Ya, Eyüp?

Bisa kau mengantarku ke Osman?

Aku sibuk, tapi aku bisa mengantarmu ke Esmerçayır.

Itu bagus..

Bawalah semangka ini pulang!

Paman, tidak adakah orang lain yang bisa mengambilnya?

- Tidak seorang pun. - Siapa yang meninggalkanmu di sini?

Aku lelah.

- Siapa yang bawa jauh-jauh ke sini? - Portir yang membawa semangka.

- Dia tidak mengantarmu pulang? - Tidak.

- Bukankah rumahmu dekat? - Ya, di sini.

Ayo.

Paman, kenapa kau ada di luar saat cuaca panas begini?

- Apa? - Kenapa kau keluar di cuaca panas begini?

- Apa? - Kenapa kau keluar di cuaca panas begini?

Aku punya beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Porter membawaku ke sini.

- Paman, apa kabar? - Semoga Allah memberkati, aku baik-baik saja.

- Apa kabar? - Aku baik-baik saja. Semoga Allah memberkatimu.

- Sampaikan salamku pada Lehla. Semoga Allah menyertaimu. - Waalaikumsalam.

Apa yang kau lakukan di sini?

Aku sedang dalam perjalanan ke kantor. Motorku mogok.

Semoga Allah menolongmu.

- Terima kasih, paman. - Semoga Allah menolongmu.

- Kau dari keluarga mana? - Dari keluarga Ağaçhan, paman.

- Kau anak siapa? - Aku anak Ömer.

One of Those Days When Hemme Dies subtitles in other languages

അഭിപ്രായങ്ങൾ

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left