ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Ambil beberapa persik ketika kau ambil air.
Kau tuli atau apa...?
Siapa kau?
Sungnyang.
Siapa yang mengirimmu?
Jangan pergi.
Jangan tinggalkan aku sendiri.
Lapor.
Seorang pembunuh. Di pemukiman kita.
- Temukan dia. - Siap.
Pangeran?
Aman
Kita akan melapor ke komandan.
Jangan. Aku akan tinggal di sini.
Kau bisa melaporkan.
Hah? Oh, baik.
Komandan.
Lapor.
Kami telah mencari di seluruh pulau.
Hanya nelayan tua dengan istri mereka.
Aku tahu, Aku telah melukai tangannya.
Kami telah memeriksa para lelaki. Tidak ada yang terluka.
Dia takkan bisa menghindar dari kita dalam waktu lama.
Dia pasti di suatu tempat di pulau ini.
Bagaimana pangeran?
Dia baru saja tidur.
Dia cukup terguncang. Mungkin ramu-ramuan?
Tentu saja.
Berjagalah di sini.
Siap.
Sungnyang.
Ikutlah denganku.
Baik, Tuan?
Kau sangat mirip ibumu.
Kenapa kau tidak bilang apa pun?
Sayangku...
Komandan.
Komandan? Dia adalah ayahmu.
Dengar sayangku, kau punya saudara.
Mereka ingin bertemu denganmu.
Tidak perlu.
Aku suka bagaimana keadaan di sini.
Sungnyang.
Pangeran akan mencariku.
Dengan izinmu.
Kau...
Tinggalkan dia.
Tidak heran dia marah.
Kehilangan ibunya, selama ini sendirian.
Sungnyang... Sungnyang!
Kau tahu betapa putus asanya dia mencarimu?
Setelah ibumu meninggal...
Jangan. Itu tidak penting lagi bagiku.
Aku dikirim untuk menjadi seorang selir.
Kuketahui bahwa jika aku menyamar menjadi seorang pria, seluruh keluarga akan menderita.
Dengan cara ini aku akan bisa dekat dengan komandan.
Berpura-puralah kalau kau tidak tahu. Tolong aku.
Tidak, Ayah... tidak...
Pangeran.
Apa kau baik-baik saja?
Ini.
Pindahkan. Uh.
Ajarkan aku menggunakan pedang.
Aku tidak bercanda.
Ajari aku dan aku takkan mengganggumu lagi.
Tugasku adalah menjagamu. Tidak lebih.
Hanya itu yang kau bisa lakukan, mengikuti perintah?
Baiklah, kita lihat siapa yang menang.
Apa yang kau lakukan?
Jika aku mati, kau juga mati.
Kau menunggu sampai pembunuh memotong tenggorokanmu?
Baiklah, aku akan menyerang.
Pembunuh akan menghargai pembukaan ini.
Jika itu adalah pedangku maka kau akan mati.
Kau baru saja kehilangan kaki.
Kau baru saja kehilangan leher.
Kau mati.
Aku takkan mati. Aku akan bertahan hidup.
Pangeran.
Apa?
Darah. Kau berdarah.
Darah... UUH!
Darah!
Yang Mulia, apa yang terjadi?
Sudah kubilang jangan meninggalkan dia sendiri.
Ini tidak bisa dibiarkan.
Sekarang tolong laporanmu.
Aku menerima seluruh kesalahan...
Kepalaku terantuk.
Dia tidak melakukan apa pun.
Jika kau harus menyalahkan seseorang, salahkan batu yang membuatkku terjatuh.
Batu-batu itu, sekarang...
mereka benar-benar membuatku terganggu.
Bagaimana aku bisa melayanimu?
Seorang pembunuh berada di pulau ini. Apa kau tahu ini?
Aku tidak tahu.
Aku adalah Raja. Kau adalah rakyat Koryo.
Kau duduk di singgasana sementara aku tetap berdiri.
Aku takkan punya rakyat yang mengkhianati negerinya.
Kau salah menilai diriku, Tuan.
Jika membuat Koryo menjadi bagian dari Yuan bukanlah pengkhianatan, lalu apa?
Tuan.
Koryo tidak semata ada untuk memberimu kekuasaan.
Apa?
Berapa lama Koryo bisa bertahan dari perlawanannya dengan Yuan?
Sepuluh Tahun? Dua puluh?
Apa kau mempertimbangkan harga dari sakit dan penderitaan yang dikatakan rakyatmu?
Jangan mengatasnamakan rakyat untuk menyembunyikan ketamakanmu.
Rakyat Koryo mulai lemah.
Sudah lama mereka telah menjadi hanya kulit dan tulang.
Tak lama lagi tulang mereka akan penuh dengan lubang.
Sampai mereka jatuh bersama-sama. Seperti mayat yang membusuk.
Seperti kau tidak tahu siapa yang membuat hal itu terjadi?
Jangan pikir kau hanyalah satu-satunya yang cinta dengan rakyat kita.
Menggemukkan badan membutuhkan lebih dari sekedar kata-kata.
Dibutuhkan bahan pangan.
Sesuatu yang di luar jangkauanmu.
Aku dapat memaafkan perbuatanmu karena berpihak kepada Yuan.
Tapi tidak kumaaafkan kebencianmu terhadap Koryo.
Ingatlah negeri mana yang kau layani.
Ketidaksetiaan berhak untuk dihukum tanpa ampun.
Mengerti.
Hah! Bagaimana dengan ITU?
Kau jelas-jelas mengena.
Kau pikir ini mudah?
Sedikit bicara, lebih banyak pertempuran, mengerti?
Apa itu?
Hah. Pemukiman kumuh.
Tembakkan panah kecilmu, Prajurit kecil. Mungkin besok...
Sekidit membual, lebih banyak menembak, jika kau suka.
Argh!
Aku berjanji, pedang, panah, aku tidak bisa mengalahkannya.
Itu Sungnyang, jika kau mau memaafkanku.
Kenakan ini.
Ke mana kau pergi?
Di sini, sini. Cucilah.
Di sini.
Begitu, begitu.
Oh, ya. Sedikit lagi, begitu.
Aku bertaruh aku bisa mengalahkanmu menunggang kuda.
Pssh.
Kau tertawa?
Menertawakanku?
Aku tumbuh di atas kuda.
Diam.
Tidak ada yang menunggang kuda lebih baik dari orang Mongolia.
Kita punya darah keturunan Koguryo.
Tidak ada yang dapat mengalahkan kami menunggang kuda.
Oh.
Balapan, kalau begitu?
Dua kuda, hanya kau dan aku.
Jadi salah seorang dari kita bisa mati?
Takut?
Ya, ya. Aku kalah.
Tunggu.
Aku tidak memerintah.
Aku meminta.
Ambil kudanya.
Aku tidak bisa hidup seperti ini, semuanya telah direncanakan.
Aku ingin memacu kuda, merasakan angin menerpa wajahku.
Tidak bisakah kau mengeluarkan aku dari sini setidaknya untuk satu hari?
Kita belum menangkap pembunuhnya.
Ayolah.
Sekali saja.
Aku butuh udara segar.
Pegang sebilah pisau di leherku, itu masih...
Masih belum...
'Tidak, tidak, tidak!'
Apa kata 'ya' bagimu?
Apa pun yang bukan 'tidak'.
Baiklah kalau begitu, aku akan membunuh diriku sendiri!
Itu tadi nyaris.
Kau merencanakannya?
Yang sampai terlebih dulu ke kapal, dialah yang menang.
Sempurna.
Kau tahu kau tidak punya kesempatan.
Lihatlah sadelmu.
Trik di atas kemampuan, itukah?
Aku tidak bisa mengalahkanmu.
Apa yang bisa kubilang?
Kau bisa bilang, tidak ada lagi balapan.
Ayah.
Aku tidak ingin mati.
Aku ingin pulang.
Pulang dan membalas kematianmu.\
Dan mengakhiri pengasinganku.
Bagaimana kau bisa melakukan ini?
Bagaiman bisa kau meninggalkan aku?
Ayah.
Aku rindu padamu.
Ayah...
Ayah!
Ayah!
Ayah!
Selamat datang, Tuan.
Aku menghargai kerja kerasmu. Pangeran dan Sungnyang?
Tuan...
Apa ada sesuatu yang salah?
Kita kehilangan seekor kuda.
Kita harus kembali.
No comments yet. Be the first to leave one.