ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
RUMAH DUKA & KREMATORIUMMU
ITU YANG DIA GERGAJI ALAT WANITA
PEMBUKAAN
PEMBUKAAN KEMBALI
PEMBASMI PENYEMBUH SERANGGA
PEMBUKAAN KEMBALI LAGI
BUKA KEMBALI LAGI LAGI
Halo, Semua. Tebak siapa dapat dua jempol dan flu?
Gadis ini! Raba dahiku.
Raba saja!
Ya, kau membara.
Dia separuh gadis, separuh panggangan. Polisi total.
Polisi yang sakit.
Tidak, Louise, kena flu? Itu buruk.
Ya, sial sekali.
Menarik bahwa kau ceria.
Mungkin karena tak mau sekolah?
Ayah, kurang ajar!
Namun, kini kau sebutkan, mungkin aku harus tak masuk.
Sayang sekali. Aku suka itu.
Louise, kau tak mau kena flu.
Aku pernah, dan mimpi demamku jadi aneh.
Aku mimpi di klub buku dengan sepupu Vanessa.
-Namun, dia werewolf. -Klasik.
Mungkin aku kena flu, tetapi segar.
-Gene, pelukan perayaan. -Tidak!
-Tina... -Aku mau itu.
-Ya. -Jangan, Tina!
Apa kabar sayang sakitku?
Pengaturanmu hebat.
Ya, ada temanku Bake Neko,
Akkorokamui,
Dodomeki, dan Mizuchi.
Semua akan kusebut Hello Kitty.
Ayo minum obat. Buka mulut.
Langsung telan.
Nanti kulihat lagi.
Seolah aku mau sembuh.
Tunggu, siapa yang tak ada?
Kuchi Kopi. Kuch!
Dia mainan favoritku di dunia.
Jika aku punya favorit.
Padahal tidak.
Kukira klakson anginnya sudah diambil.
-Kau sembunyikan di laci celana dalam? -Ya.
-Kami tahu soal laci itu. -Juga celana dalammu.
Tak terlalu ketat dan putih.
Sebentar!
Baik.
-Bagus, kau dengar. -Ya.
Bisa berbaik hati dan ambilkan Kuchi Kopi?
Aku mau ambil sendiri, tetapi sakit dan lemah.
-Tentu, di mana? -Di kamar mandi, di sebelah toilet.
Kenapa dia di situ?
Jika kau harus tahu, dia teman BAB-ku.
Baik, aku akan kembali.
Itu dia.
Gawat.
Kuchi Kopi jatuh ke toilet
dan kucoba membilasnya, dan jatuh lagi.
Kini berisi banyak air.
Louise tak akan suka itu.
Ibu, itu benda favoritnya.
Pikirmu aku tak tahu, Tina?
Astaga, bagaimana ini?
Kubur dalam beras dan taruh di oven.
-Enak. -Bukan, mungkin bisa kering.
Orang begitu dengan ponsel.
Sebaiknya tambahkan iga.
Jaga-jaga saja.
Ada yang merasa kedinginan
dan kembung?
Hanya aku?
Di mana Kuchi Kopi?
Sebentar!
Suhunya 100 derajat. Biasanya berapa lama?
-30 menit. -Apa? Itu setengah jam!
Kita bisa ketahuan oleh Louise.
Aku kenal oven ini.
Bualan oven.
Jika dijadikan 200 derajat beberapa menit, pasti bisa.
Aku tak bisa masuk sendiri. Kalian harus ikut.
-Kita akan bilang apa? -Harus mengulur.
Bisa kualihkan dengan tarian menarik.
-Hai, Manis. -Hai.
Hai. Di mana Kuchi Kopi?
-Benar. Kuchi Kopi. -Ya.
Lihat dia menari.
Bagus sekali.
Tunggu, itu obatmu?
Bukan.
Kau ludahkan?
-Kau harus minum, Nona. -Tidak.
Jangan sampai seluruh keluarga memegangimu.
Kalian tak akan berani.
Kenapa dia sakit tetapi sangat kuat?
Seperti ekonomi!
Baik, itu masalah.
Astaga, ovennya!
Astaga, ovennya juga padamu!
Gawat, ditinggal terlalu lama.
Mungkin akan baik-baik saja.
Tidak.
Bisa kutangani!
-Kuchi panas! -Kita tamat.
Astaga, kita harus keluar kota.
Naik ke mobil dan pergi jauh.
Aku mau melihat Ann Arbor.
Baik, dia sudah mengantuk, bukan? Mungkin dia tak perhatikan.
-Hai. -Halo.
Kau bawa Kuchi Kopi?
Ini dia. Kuchi.
-Baik, selamat malam! -Selamat malam.
Selamat malam, Kuchi.
-Waduh. -Itu kecelakaan!
Jatuh ke toilet dan Tina bilang harus masukkan ke oven
dan Bob tak paham ovennya,
dan Gene melumatkan wajahnya, jadi salah kami semua. Benar?
Louise, kami menyesal.
Sayang, bicaralah.
Keluar.
Louise, kau sedang marah,
dan terlalu dini berpikir soal ini dan memaafkan kami...
Kalian tak akan pernah kumaafkan soal ini. Tak akan pernah!
Bagaimana kalau...
-Keluar! -Baik!
Tadi... lancar.
Aku tak percaya ini.
Dahulu aku percaya keluargaku
Kami menyesal, sangat menyesal
Kini mereka hanya penipu bagiku
Kami sudah bilang kami menyesal?
Merusak benda favoritku di dunia
Ini bukan hari terbaik kami
Membuat gadis cilik ini sedih
Kau boleh menampar kami
Tamparan tak akan bisa memperbaiki ini
Gawat, itu tak bagus
Kurasa aku memang sulit memaafkan
Wah, aku merasa kena flu, dan kamar ini serasa berputar.
Apa karpet itu selalu berputar? Aku jadi ingin muntah.
Halo.
Tunggu, kenapa kau menjerit?
Kukira itu yang kita lakukan.
-Sebaiknya jangan. -Baiklah.
Aku akan menempuh risiko
dan bilang mungkin ini mimpi demam.
Agak muram.
Apa itu karena aku, entahlah, marah pada keluargaku?
Apa mimpi demam begitu?
Kubilang nikmati saja.
Aku harus bilang. Agak sulit melihatmu.
-Apa buruk? -Ya.
Namun, tak di wajah, bukan?
Keluargaku menyiksamu.
-Ayo bunuh mereka. -Apa?
Berlebihan? Hei, aku baru ingat.
Aku punya tempat di sini. Bagi guna bersama.
Kau punya tempat di mimpi demamku?
Ya, bentengnya indah. Di sana!
-Terlihat. -Ya.
Kau melihat ke arah yang kutunjuk?
Ya, hanya ada benteng itu.
Benar, tetapi reaksimu bukan,
"Itu benteng yang hebat!"
Bagus sekali.
Omong-omong,
kita harus ke sana.
Kita bisa sendirian dan aman di sana.
-Aman dari apa? -Dari semuanya.
Tak akan ada yang mencelakai!
-Maaf. -Ya.
Baiklah, ayo berangkat.
Bagus juga.
Ini buruk!
Ya, Louise membenci kita!
Mungkin tak terlalu padaku, tetapi ya.
-Halo? -Bob, ini Teddy. Dari restoran.
-Kau menonton pertandingan hoki? -Tidak.
Andai kau tonton karena TV-ku rusak. Aku mau datang menonton.
Saatnya tak tepat. Kami sedang ada krisis.
Kami melelehkan lampu tidur Kuchi Kopi.
-Itu benda favoritnya! -Kami tahu.
Tunggu, Kuchi Kopi. Itu dari vinil, bukan?
Entahlah, kurasa.
Akan kubawa pemanasku dan kita coba perbaiki.
Kau punya?
Ya, kupakai untuk mengelas pipa PVC.
Aku sudah ceritakan.
Rasanya kau tak mendengarkan.
Bisa mengembalikan bentuk Kuchi Kopi.
Mungkin jika kau melihatnya,
kau akan ingat jika kuungkit lagi.
Baiklah, kami putus asa, datanglah.
-Bisa sambil menonton pertandingan. -Dah, Teddy.
Teddy akan kemari bawa pemancar panasnya.
Itu kiasan untuk alat kelaminnya?
Ada denah ruang lebar, alat rumah tangga baja.
Benteng yang hebat untuk menjauhi segalanya.
-Aku dengar sesuatu. -Jangan suruh diam.
No comments yet. Be the first to leave one.