ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Suhunya dingin sekali...
pagi ini, sekitar 20-an derajat...
Hei, kau!
Ayah pasti datang.
Apa ayah pernah tak datang?
Jika kuberitahu, bukan kejutan lagi,
bukan? Sam, tanyakan ibumu,
apa perlu kubawakan dia...
anggur, bir, atau apalah.
Pastikan dia tahu ayah sudah tanyakan.
Petunjuk?
Mau petunjuk?
Oke, ini petunjuknya.
Siap?
Punya leher, tapi tak punya tangan atau kaki.
Ayah belikan ular. Ular berbisa lagi.
Gila kau?
Kau pasti suka, aku janji.
Pelan-pelan, Shaw.
Jangan sampai kita kena masalah lagi.
Barnett sudah ketangkap, kan?
Tak perlu surat perintah.
Dia sudah diamankan.
Sudah aman, tapi kita hampir kena imbasnya.
Karena itu sudah tugas kita. IA sialan.
Aku butuh pekerjaan ini...
cuma karena kau mau sok jagoan lagi.
Mungkin di situ.
Cicilan perahuku belum lunas.
Anak kembarku masuk BU musim gugur ini.
Tahu berapa biayanya?
Aku tahu, tenang.
Tahu? / Ya.
Kau belum tahu. / Aku tahu. Cuma...
Semoga Dent masih di situ.
Dia akan datang. Astaga!
Mandor tadi sudah bilang, kan?
Jangan sok jadi Polisi Jago. / Polisi Jago?
Sialan, 58 ribu dolar.
Itu baru uang kuliah. / Tidak ada...
- promo beli dua gratis satu? - Lucunya.
Kirim saja ke akademi.
Biayanya cuma $3.000.
Agar mereka punya karier bagus,
menangkap penjahat...
di tengah masyarakat yang tak suka mereka?
Jangan lupa arloji emasnya.
Lupa soal jam emasnya.
Kalau kau butuh bantuan, aku siap.
Kau kesulitan bayar tunjangan, bro. Kau mau...
jual koleksi piringan hitammu?
Persetan kau. Tapi aku serius.
Aku tahu.
Makasih, tapi kami baik-baik saja.
Mandor tak bilang kalau dia lagi istirahat.
Dia sudah bisa kita ringkus,
jika surat perintahnya tak lambat.
Mestinya bawa bantuan tadi.
Santai saja dulu.
Jimmy!
Itu dia.
Aku Frank Shaw. Ini Dougie Slater.
Dari satuan Pembunuhan. Apa kabar?
Bisa tinggalkan sandwichmu...
sebentar dan ke sini?
Maaf mengganggu waktu makan siang kalian.
Ini sebentar saja.
Aku lagi makan.
Ayo, Jimmy, cepatlah. Ke sini.
Senjata!
Mundur! Minggir. / Hei!
Kusuruh buang senjatanya dan mundur!
Glock 42, enam peluru.
Tenanglah! / Diam! Jatuhkan senjatanya!
Ayo, Frank, jatuhkan senjatanya. / Jatuhkan senjatanya!
- Jatuhkan. - Mundur!
Aku tembak.
- Frank... - Persetan kau, babi!
Awas!
- Frank! - Minggir!
Frank!
Sudah 4 tembakan, Jimmy!
Sialan. Lima tembakan.
Hei, Jimmy!
Tembakan bagus, Jimmy.
Tapi pelurumu habis, jadi berlutut.
Frank!
Frank!
Hei, kau!
Sam... Apa yang kau lakukan?
Dengar, kau tak usah...
Baiklah, oke, aku baca.
"Bodo...
amat." Oh, oke.
Ayah, lucunya.
- Aku tanya apa kau... - Aku tahu,
datang ke pertunjukan. Ya, aku tahu.
Coba tebak ini. Siap? / Oke.
"Mohon bersabar."
"Aku anjing tua yang lagi belajar trik baru."
Bagus, Ayah.
Kau suka? Kupelajari itu khusus buatmu.
Senang kau latihan. Bagus. Kau perlu itu.
Jadi?
Ayah datang, kan? Jumat depan.
Ayolah, Ayah. Kau selalu datang sebelumnya.
Jadi, Sam...
Ayah tak perlu duduk sama Ibu.
Tenang saja. Aku tak peduli lagi.
- Aku tak peduli lagi soal itu. - Tidak.
Bukan soal itu. Aku tidak...
suka tempat ramai, dan...
Aku tak yakin...
bisa benar-benar menikmati...
Sekolah bisa siapkan alat bantu dengar,
tak masalah.
Aku tidak...
- Aku tak mau itu. - Ayah!
Ini penting buatku. Kau yang berikan gitar itu.
Ayah harus lihat aku sudah hebat sekarang.
Sial!
Tunggu.
Kurang jelas kudengar.
Tadi ada konektor Wi-Fi...
yang longgar. Sudah kuperbaiki.
Aku tahu ada yang salah.
Tapi bukan cuma alat bantu dengarnya, Frank.
Kerusakan di kokleamu makin parah.
Waktu bulan Juli, kondisimu masih 50%,
dan sekarang turun 30%.
- 30? - Sudah berapa lama?
10 bulan sejak kecelakaanmu?
Sebelas.
Sebelas bulan ke depan, tak bisa kupastikan...
kemampuanmu masih berapa.
Bagus sekali.
Putriku memang keras kepala.
Dengarkan dia. Dia pintar.
Menurutku tak ada gunanya.
Dengar, aku sudah pernah bilang,
tapi karena kondisi cederamu,
implan mungkin bukan solusi.
Jika sering mendengar suara keras,
kerusakannya bisa makin parah.
Kau harus bersiap menghadapi....
kerusakan yang lebih parah nantinya.
Ya, aku mengerti.
"Mengerti." Artinya aku tidak tuli.
Terima kasih.
Frank!
Frank!
Senang kau kembali, kawan.
Sudah lama sekali.
Ada apa?
Dua pemasok...
Hei, tak perlu teriak.
Maaf.
Dua pengedar, usia 20-an akhir,
ditembak di kepala, eksekusi mati.
Sepertinya pembunuhan berencana.
Orang ini menemukannya sejam lalu,
tapi petugas otopsi memperkirakan pembunuhan...
terjadi semalam.
Permisi, Pak. Aku saja.
Baik.
Frank Shaw. Divisi Pembunuhan. Apa kabar?
Baik. / Bisa ceritakan kejadiannnya?
Aku lagi mencari tempat untuk tidur,
dan menemukan orang ini.
Maaf, Pak, bisa bicara agak keras sedikit?
Mereka di tempatku, orang-orang ini...
Apa?
Mereka di situ, tapi itu bukan tempatnya.
Ini bukan... Itu tempatku.
Frank! Frank?
Kau tak apa, kawan?
Hei.
Hei.
Ini kantor barumu?
Bagaimana kau menemukanku?
Aku detektif.
Apa?
Aku detektif. Bisa melacak. Pesan bir?
Jadi, bagaimana tugas barumu di unit narkoba?
Entahlah.
Sedikit korban, banyak narkoba.
Tak bisa ngeluh.
Tapi rindu juga pemandangan dari lantai enam.
Mampirlah kapan saja.
Atau kau bisa turun.
Gratis buatmu, Detektif.
Apa kabar?
Luar biasa.
Ayolah, Frank, banyak petugas yang punya kekurangan...
atau disabilitas...
Entahlah. Apa istilahnya... / Tuli.
Doug, cukup sebut tuli.
Kau paham maksudku.
Banyak yang sepertimu di kepolisian.
Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.