ആദ്യത്തെ 200 വരികൾ.
Satu.
BUKTI ARKEOLOGIS MENUNJUKKAN PERMAINAN PAPAN TERTUA…
Dua.
…BERUSIA LEBIH DARI 1.000 TAHUN SM
Tiga.
KONON ITU DIGUNAKAN…
Empat.
…SEBAGAI AZIMAT PELINDUNG KE AKHIRAT
Lima.
2498 TAHUN BUDDHA 1955 MASEHI
Tujuh.
Delapan.
Sembilan.
Sepuluh.
Nak…
Aku datang.
Kau ada di aula pentahbisan, 'kan?
Nak,
keluarlah.
Kau yang terakhir.
Bagaimanapun juga…
Kau akan tetap mati.
Ibu… Jangan.
Tidak apa-apa, Nak.
Bertahanlah sebentar.
Jangan.
Sebentar lagi selesai.
MASA KINI
Langkahmu payah.
Bagaimana kita menang?
Kita sudah bermain selama tiga hari.
Permainan ini mahal dan sangat sulit.
Jangan banyak bicara.
Lihat, kita melawan bos terakhir.
Aku memercayaimu.
Maju.
Kau pasti bisa.
Hajar dia, Jord.
Aku mohon. Bantu kami menang.
- Menang! - Menang!
- Menang! - Menang!
- Menang! - Menang!
Apa kita menang?
- Tentu saja. - Sungguh?
Jauh sekali di sana.
Lemparanmu tak becus.
Astaga.
- Sial! - Sial!
Bolos kelas agama demi judi? Mau jadi apa kalian?
Itu hanya permainan papan, Bu. Kami tidak berjudi.
Ya, kami tidak pakai uang.
Kemejaku hampir sobek.
Kau juga.
Apa kelas agamaku begitu membosankan?
- Ya. - Ya.
Besok, pukul 06.00. Kalian semua temui aku di sekolah.
Kabari orang tua.
Masuk.
Poin kalian akan dikurangi.
Selesai. Jaga kebersihannya.
Jaga tetap kering maksimal dua hari.
Terima kasih, Dokter.
Sama-sama.
BESOK, PARA SISWA ADA KEMAH DARMA
KONTAK BU AU UNTUK BERTANYA
Sial, aku sampai memohon kepada Ibu agar bisa menginap.
Aku mau main seharian.
Au merusak semuanya.
Selesaikan saja dengan cepat, lalu kita pulang.
Kita main sampai pagi.
Sial. Pesta Empat Legenda kita gagal.
Kenapa Empat Legenda hanya bertiga?
Orang bodoh tak akan paham.
Ini rencana jangka panjang.
Karena kita hanya bertiga, pilihan permainan kita terbatas, 'kan?
Kau selalu membuatku bingung.
Ini dia, pemain utama.
Dia adalah penjaga lambang suci…
Yang merupakan simbol geng kita.
Sialan kau, Jord!
Jemput aku di wihara besok malam.
Kami dibawa ke sana untuk meditasi.
Kau berjudi di sekolah sekarang?
Beruntung yang lihat Bu Au.
Hukumanmu tak seberapa.
Dia menghubungimu?
Tidak penting aku tahu dari siapa.
Apa sulit fokus pada pelajaran?
Jangan kekanak-kanakan.
Jangan berlagak seperti ibuku.
Hanya melipir sebentar. Pas di belakang pasar.
Antar aku dulu, nanti ibuku marah.
Jangan pukul aku saat bawa motor, bisa celaka.
Jord, polisi di belakang.
Sersan, ambil kuncinya.
Kau lagi, ya?
Tangan ke atas.
Memeriksa apa, Pak? Kelaminku?
Kendalikan mulut kotormu.
Kakakmu sudah di penjara.
Kau bisa menyusul.
Apa?
Kunciku.
Bayar tilang dulu.
Baru ambil di kantor. Sana.
Ayo.
Jord, tasmu tertinggal.
Pak, dia hanya anak-anak. Kenapa begitu keras kepadanya?
Kau masih baru, Sersan. Tak tahu apa-apa.
Anak itu Jord si Penikam.
- Kau bisa kembali, Duan. - Baik, Bu.
Ayo.
Ikut aku.
Ton.
Ton.
Ton!
Sial.
Ton.
Bukankah kau tak percaya?
Ayolah.
Duduk tegak.
Bolos kelas agama Buddha demi judi.
Semangat, seperti saat kalian bermain.
Saat disuruh tidur malah tidak tidur.
Duduk tegak.
Duduk di sini sampai kalian sadar kesalahan kalian.
Sial, kakiku keram!
Pura-pura, ya?
Tidak, Bu. Sakit sekali.
Ayo, duduk.
Gosok sampai bersih.
Jangan berlebihan. Bekerja yang benar.
Lakukan yang benar.
Kalau ada yang nakal lagi, aku titip lagi, ya?
Mereka akan dijemput orang tuanya nanti malam.
Suruh mereka menunggu di depan aula pentahbisan.
Baik, Bante.
Aku akan pergi. Aku masih ada urusan.
Bante,
ada gergaji di wihara?
Untuk apa?
Menebang pepohonan.
Kita bisa mulai dengan yang ini.
Kalau kita tebang, daunnya akan berkurang.
Masalah selesai.
Aku akan minta bantuan yang lain.
Ide bagus, 'kan?
Maaf.
Astaga, aku lelah sekali!
Baru sehari sudah mau tepar.
Mustahil aku ikut pentahbisan nanti.
Kalau ibuku memaksa, sebaiknya, dia membelikan PS5.
Kasihan ibumu punya anak sepertimu.
Kalau ingin tiket ke surga, dia harus berinvestasi.
Apa urusanmu dengan ibuku?
Kau selalu membicarakan itu.
Ben, kau bilang pukul 18.00 ke kakakmu, 'kan?
Ini pukul 19.00.
Apa dia lupa?
Kenapa? Kau takut?
Coba saja sok jago.
Kalian tak tahu apa-apa.
Dulu, di wihara ini,
ada wanita yang jadi gila.
Dia menggantung putranya yang ditahbiskan sebagai biksu cilik.
Kabarnya, saat itu dia…
Kerasukan.
Sampai sekarang,
kata orang, mereka sering dengar langkah kaki dan jeritan biksu cilik itu.
- Astaga, Priktai! - Astaga, Priktai!
Aku lihat ada yang lari masuk, jadi aku periksa.
Biksu cilik itu.
Aku tahu dia nyata.
Hantu?
Kenapa bilang begitu?
Mereka tidak nyata.
Jangan bodoh.
Apa kita perlu mengikuti dia?
Kenapa?
Pernah menonton film horor?
Siapa pun yang mendengar suara aneh dan mengikutinya akan mati.
Lagi pula…
Priktai…
Memang dia manusia?
Aku dengar dari Kay, anak Kelas 6,
kalau Priktai tewas dalam kecelakaan mobil tahun lalu.
Tapi dia tak sadar.
Mengerikan.
Kau hanya mengarang.
Itu omong kosong.
Apa ada hantu yang sekolah sepanjang tahun?
Nilainya juga A dalam semua mapel.
Aku menyontek darinya.
Kau dapat apa?
Aku dapat D.
Itu buktinya. Ditipu hantu.
Bantu aku.
Teman-Teman, kita pergi saja.
Ton, jangan jadi pengecut.
Astaga, Ben. Ini tidak seharusnya kita buka.
No comments yet. Be the first to leave one.